5. Perjalanan Bermula

2588 Kata
 Dua kuda dari istana menjadi teman perjalanan yang paling setia. Rantai akar biru dan pakaian serba biru dari Yuri sangat kontras dengan kuda putih yang ditungganginya. Pesona Pangeran memang tidak bisa dibandingkan. Bukankah memang seperti itu seharusnya? Meskipun sudah sering melihat Zean menunggang kuda, para perempuan di padepokan penjaga bukit Zill masih saja termakan pesonanya. Cen jadi melengos iri.  Setelah mengantar Yuri dan Zean turun bukit, semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Berharap mengumpulkan energi positif itu cepat dan tidak sulit.  Matahari sudah hampir terbenam. Yuri dan Zean tidak ada yang membuka suara sampai mereka tiba di kaki bukit. Pemukiman mulai terlihat. Namun, sebelum masuk ke sebuah pemukiman mereka berhenti hanya untuk melihat matahari terbenam. Langit barat yang sangat jingga. Pemandangan yang hangat, tetapi udara dingin akan datang.  "Jika aku meninggalkan negeri Zilla, siapa yang akan menemani Raja?" gumam Zean sambil terus menatap barat.  "Jika aku meninggalkan ayahku sekali lagi dalam perjalanan, siapa yang akan menghiburnya?" Yuri juga ikut bergumam dengan alasan yang sama.  Kedua saling pandang. Terlihat jelas saling bicara jika tidak mengerti situasi yang dihadapi sekarang.  "Menurutmu biji ini benar-benar akan jadi cincin merah?" tanya Yuri seraya menunjuk tas selempang yang dia pakai. Tanda jika biji pohon ada di dalamnya.  "Aku lebih khawatir jika harapan kita tak bisa melawan pohon Savara," jawab Zean.  "Mau tidak mau, kita harus mencobanya dulu. Kakak, rambutku sedikit usang. Aku harus mencucinya." menarik rambut kepangnya ke depan.  Zean terkekeh, "Kenapa jadi rambut? Kalau begitu malak ini kita mencari penginapan dulu. Besok baru mencari energi positif."  Yuri mengangguk. Mereka membawa kudanya memasuki pemukiman. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan sebuah penginapan. Ada rumah makan yang sangat besar. Di dalamnya menyewakan kamar untuk para wisatawan dari negeri lain. Biasanya wisatawan akan melihat keindahan bukit Zill yang biru.  Yuri mengikat kudanya dan kuda Zean selagi Zean memesan kamar untuk mereka. Karena pemilik restoran itu mengenal Zean sebagai Pangeran, maka sengaja tidak menarik biaya per-kamar. Zean menghampiri Yuri dengan memasang wajah bingung.  "Tuan pemilik restoran ini tidak mau dibayar. Bagaimana kau kita pesan satu kamar saja?"  Yuri langsung mengikat tali kudanya kencang dan berdiri menatap Zean. "Tidak masalah. Asal aku boleh mandi sekarang, hehe," jujurnya.  Zean terkekeh, "Aku juga mau mandi. Kau nanti saja, ya." melenggang masuk ke restoran terlebih dahulu membuat Yuri menganga kesal.  "Kak Zean, aku duluan yang mandi. Kau curang!" sedikit berlari menyusul Zean.  Pakaian putih sederhana dan wajah yang nampak bercahaya, siapa yang tidak mengenalinya sebagai Pangeran? Sepanjang jalan melintasi orang-orang yang sedang menyantap makanan di sana, Zean selalu menjadi pusat perhatian. Banyak gadis bersorak memanggilnya Pangeran di hati mereka. Yuri mendelik seiring mengikuti Zean.  'Mereka kenapa? Bukan hanya perempuan, tapi yang laki-laki juga kagum dengan Kak Zean? Yang benar saja?!' batin Yuri.  Mereka naik ke lantai dua. Bangunan kayu itu cukup kokoh dan luas. Mereka bisa melihat ada jembatan kecil yang melengkung di kolam air samping restoran dari atas. Ketika pintu kamar terbuka, Yuri kagum sampai mulutnya terbuka. Melangkahkan kaki masuk dan mengitari ruangan itu. Kamar yang sederhana. Setidaknya ranjangnya cukup lebar untuk mereka berdua. Tentu saja Zean tidak akan membuat dirinya tidur seranjang dengan Yuri.  "Kau bisa tidur di ranjang. Aku akan di kursi panjang itu." Zean menunjuk kursi kayu di tepi kamar.  Yuri tidak menjawab, melainkan langsung lari mencari kamar mandi. Zean sadar telah dicurangi. Dia ingin mengejar Yuri, tetapi membatalkan niatnya. Menggeleng maklum karena Yuri sudah tidak tahan dengan penampilannya mungkin.  Makan malam yang tak begitu berselera. Meja di urutan pertama itu dikelilingi pengunjung. Siapa lagi kalau bukan mereka yang sangat menggemari Zean? Dua mangkuk sup hangat sudah menjadi dingin karena Yuri dan Zean tidak bisa menikmatinya karena selalu dipandang.  "Kakak, kenapa mereka semua menyukaimu, ha? Kapan kita bisa makan?" gumam Yuri dengan ekspresi malas.  "Ahaha, aku juga tidak tau. Bagaimana kalau kita lari saja?" Zean ikut berbisik tersenyum manis.  Mata Yuri berbinar. "Benar juga! Ayo kabur!" menarik tangan Zean dan meloloskan diri secepat mungkin dari kepungan orang-orang yang mengerumuninya.  "Hei, Pangeran Zean! Kau mau pergi kemana? Temani kami di sini!"  "Pangeran tampan!!! Jangan tinggalkan kami!!!"  "Gadis kecil, kau bawa kemana Pangeran tampanku?!"  Masih banyak lagi untaian para penggemar Zean yang membuat Yuri terkikik seraya keluar dari restoran. Zean sendiri juga tertawa. Mereka mulai berjalan santai dan melepaskan tangan yang bertaut satu sama lain.  "Hahaha, aku baru tau kalau Kakak punya banyak penggemar. Termasuk para bibi tadi," ejek Yuri seraya tergelak.  "Tentu saja. Aku Pangeran yang paling tampan di negeri Zilla. Seharusnya kau juga memujiku." Zean melirik Yuri masih tersenyum lebar.  "Apa? Kenapa percaya dirimu meningkatkan drastis? Jangan merengek kalau aku akan menghabiskan uangmu untuk makan malam, ya!" ancam Yuri menunjuk Zean.  "Silahkan saja. Sebagai gantinya rantai akar biru aku ambil kembali!" Zean mencabut rantai akar biru di rambut Yuri dan membawanya lari.  Yuri memegang kepalanya merasa kelepasan. "Kakak, awas kau, ya! Kembalikan rantai biruku!" mengejar Zean dengan riang.  Mereka bermain di jalanan panjang pemukiman yang masih ramai orang berkeliaran. Sesekali menyibak orang-orang agar tidak tertabrak. Zean terus saja berlari membuat Yuri senang dalam hati.  Tidak ada kedai yang buka di pinggir jalan malam-malam. Sampai lelah berjalan pun Yuri dan Zean tidak mendapatkan makanan. Perutnya berbunyi berkali-kali membuat wajah mereka jadi masam. Akhirnya mereka kembali ke restoran penginapan. Nasib baik para pelanggan sudah sedikit yang datang. Mereka bisa makan dengan tenang sampai menghabiskan tiga porsi sup hangat. Cuaca memang sangat dingin dan mereka sudah terlalu kedinginan karena keluar tadi.  Kamar itu membuat Yuri menatapnya nanar. Di ambang pintu dia menggaruk kepalanya yang sudah ada rantai akar biru lagi. Dia heran akan tidur di mana. Tidak mungkin membiarkan Zean tidur di kursi panjang selagi cuaca bisa membuatnya sakit di esok hari.  Zean datang setelah selesai dari kamar mandi. Dia mengerutkan dahi heran menatap Yuri dari belakang sambil melipat tangan di d**a. Menarik kepang Yuri pelan berhasil membuat Yuri terkejut dan menoleh ke belakang.  "Kenapa diam saja?" tanya Zean sedikit menaikkan dagunya.  Yuri nampak kebingungan menjawab. Terlihat dari caranya yang melihat Zean dan ranjang itu bergantian. "Eee, tidak apa-apa, hehe. Masuk dulu, Kak. Di luar dingin sekali. Kita bisa membeku nanti."  Mempersilahkan Zean masuk setelah itu menutup pintu. Zean masih heran menatap Yuri. Kemudian dia mengerti dengan sendirinya setelah mentap ranjang.  "Yuri," panggil Zean.  "Iya?" Yuri sedikit terbata-bata menjawabnya.  Zean berbalik. Ternyata Yuri masih memegang pintu. "Ranjang itu untukmu saja. Dingin tidak akan mempengaruhiku," senyum Zean.  Yuri hanya mengiyakan, tetapi dalam hatinya masih sedikit tidak menerima. Dia mengawasi Zean yang tengah mengambil bantal dan menaruhnya di kursi panjang. Kemudian, Zean mulai merebahkan dirinya di sana.  "Eee, kalau tulangmu sakit bagaimana? Nanti aku juga yang repot," mencari-cari alasan agar tidak terdengar buruk.  "Lalu, kau mau aku tidur denganmu begitu?" Zean menutup matanya dengan lengan.  "Apa? Ti-tidak begitu juga!" Yuri sedikit memekik.  "Jadi maksudmu apa? Sudah, tidur sana. Jangan sampai udara dingin mempengaruhi suasana hatimu. Aku takut kalau kau kesal. Siapa tau kesal pada dingin terus ingin memakanku." canda Zean diam-diam melirik Yuri yang ternganga dan bingung mencari alasan.  "Hahh, tidak lucu! Justru aku mengkhawatirkanmu. Kau itu baru sembuh, tubuhnya masih belum kuat seutuhnya. Dingin bisa menggerogoti seluruh yang kau punya kalau tidak menghindar dari dingin. Aku berbaik hati menawarkan ranjang. Kau saja yang tidur di ranjang dan aku di kursi panjang." jelas Yuri menunjuk sana-sini.  Zean membuka matanya dan menatap Yuri. Gadis itu cemberut membuat Zean ingin tertawa. "Panjang sekali bicaranya. Kalau kau kedinginan bagaimana?"  "Aku sudah biasa tidur di alam bebas. Saat di padepokan perempuan, Guru Kahy mengajari kita sangat keras. Diterjang hujan badai sudah biasa." berkacak pinggang menyombongkan diri.  "Oh, ya? Terima kasih kalau begitu. Silahkan, Nona. Kursi panjang itu milikmu." Zean berdiri menata pakaiannya sebentar dan menunjuk kursi panjang sopan.  Membiarkan Yuri menatapnya bingung saat dia membanting diri ke ranjang. "Wah, lumayan juga. Punggungku seketika hangat!"  Sengaja menarik selimut sampai leher demi membuat Yuri semkin kesal. Benar juga, Yuri menganga tidak terima. Menghentakkan kaki ketika akan duduk di kursi panjang itu.  "Selamat malam, Kakak!" ujarnya kesal sembari melipat tangan di d**a dan menutup mata.  "Selamat malam...," jawab Zean melirihkan suaranya.  Hanya sebagai tanda jika dia sudah mengantuk, tetapi nyatanya dia tetap terjaga sampai Yuri benar-benar tertidur. Kemudian, Zean mengamati Yuri yang sudah terlelap ke alam mimpi. Senyumnya terbit sehangat lentera di sudut kamar. Zean menggendongnya dan membiarkan Yuri tidur di ranjang. Dirinya sendiri juga ikut tidur di sampingnya. Namun, jarak antara tepian enjang yang memisahkan. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka sehingga mengurangi rasa dingin malam hari.  ~~~  Burung berkicau bising keluar dari sarangnya terbang bebas ke arah selatan. Yuri merasa lega sudah keluar dari restoran penginapan. Dia berdiri ceria di depan pintu, menutup mata sambil menghirup udara segar banyak-banyak. Sekaligus menanti Zean mengambil kuda.  Mengelus kepang rambutnya dari atas sampai ujung yang sudah harum dan tidak kusut seperti kemarin. Sedikit membenarkan rantai akar biru di kepalanya dan melihat bekal yang dia bawa sudah lengkap atau mungkin ada yang tertinggal di dalam tas-nya.  Uang, air, manisan gula dan biji pohon tentunya. Semuanya sudah lengkap. Senyum Yuri semakin lebar ketika Zean datang membawa di kuda. Penampilan Zean tak kalah menarik. Pakaian serba putih nan rambut rapi sedikit berponi itu menjadi sangat kontras jika berdampingan dengan Yuri.  "Berhenti tersenyum dan bawa kudamu. Kurasa kita berjalan kaki saja. Ayo mencari di sekitar pemukiman. Siapa tahu ada sisi kebaikan yang bisa kita dapatkan." Zean memberikan tali kuda Yuri lalu mengernyit memandang jauh ke hadapan.  Yuri menerimanya dengan senang hati, "Hari ini harus mendapat apa yang kita cari. Kuda baik, kita jalan saja, ya." mengelus kepala kudanya.  Zean tersenyum, "Ayo!"  Semua orang mulai melakukan aktivitasnya. Suara bising hewan ternak dan mereka yang beradu mulut menjadi irama di sepanjang jalan. Yuri tidak mengerti kenapa kebanyakan perempuan yang melakukan pekerjaan berat seperti memotong kayu bakar. Hanya ada beberapa laki-laki yang melakukan pekerjaan berat. Banyak juga kedai pinggir jalan yang mulai di buka.  "Kak Zean, kenapa perempuan-perempuan di sini melakukan pekerjaan laki-laki? Di mana yang laki-laki?" tanya Yuri sembari menuntun kudanya dan celingukan menatap sekeliling.  "Karena yang laki-laki melakukan perdagangan besar. Mungkin mayoritas dari mereka meninggalkan anak dan istrinya demi berniaga." jawab Zean berkedip satu kali.  "Kasihan mereka. Kemarin aku bertemu wanita tua dan beberapa preman. Lalu, penjual kue yang tidak peduli dengan nasib wanita tua itu. Rasanya laki-laki di sini punya penyakit hati, ya?" Yuri mengernyit.  Zean tergelak, "Apa maksudnya penyakit hati?"  "Yaa... Semacam tidak berperasaan, egois, dan tidak mau tau dengan lingkungan sekitar. Kalau ada yang tertindas atau merasa disakiti, mereka tidak peduli. Aku tidak suka dengan laki-laki seperti itu," balas Yuri cerewet.  Zean semakin terkekeh, "Lalu mau seperti apa lagi? Mereka terbiasa hidup seperti ini. Meskipun Raja yang turun tangan, sifat dan kebiasaan mereka tidak akan berubah."  "Ini tidak benar, Kakak. Sesibuk apapun laki-laki mereka harus tetap mengenal perasaan. Kasihan semua perempuan ini." Yuri menunjuk rumah-rumah yang terdapat perempuan di halaman rumah mereka sedang bekerja keras.  "Apa yang itu juga kasihan?" Zean menunjuk seorang wanita muda yang memakai perhiasan berlebihan dan pakaian terang. Sangat mencolok dari yang lainnya. Dia duduk di teras rumahnya sambil menghitung uang. Ada tiga orang lelaki muda yang berdiri di depannya seolah sedang menanti wanita itu memberinya uang.  "Dia seperti bos. Wah-wah, wanita yang muda. Dia cantik, 'kan?" Yuri sampai menatap wanita itu jeli.  "Apa seperti dia termasuk perempuan yang perlu dikasihani? Tidak, 'kan?" Zean justru bertanya lagi.  "Hmm, tentu saja tidak. Tapi tetap saja aku tidak suka dengan sikap lelaki yang masa bodoh dengan penderitaan perempuan," elak Yuri menggeleng.  "Kalau aku bagaimana menurutmu?"  Yuri melirik Zean, "Kau? Kau itu Kakak tercerewet yang pernah ada! Membuatku rindu setiap saat! Kakak, peluk aku! Sepuluh tahun sudah aku merindukanmu!!!" Yuri melebarkan tangannya.  Zean berhenti dan mendorong dahi Yuri kecil. "Gadis kecil! Tidak heran Cen selalu memasang raut permusuhan denganku. Tingkahmu seperti ini padaku," kekehnya.  Yuri mengaduh mengelus dahinya, "Memangnya aku seperti apa? Aku memperlakukan kalian sama."  Sebelum Zean menjawab, terdengar suara bising dari salah satu rumah yang cukup besar dan kayunya penuh ukiran. Orang-orang yang berada di dekat rumah itu hanya menggeleng maklum dan tidak mau tahu. Yuri mengerutkan keningnya saling pandang dengan Zean. Suara bising itu semakin menjadi.  "Marah yang besar. Ayo kita lihat!" Yuri antusias.  "Jangan! Nanti mencampuri urusan rumah tangga orang." Zean mencegah tangan Yuri.  "Tapi ada keributan di sana. Aku tidak bisa tinggal diam." Yuri melepaskan cekalan tangan Zean dan membawa kudanya ke rumah itu.  Zean mendesah, "Suasana hatinya berubah lagi. Pengendali emosi memang sulit diartikan. Orang lain marah dia malah ingin ikut campur."  Menggeleng pasrah mengikuti Yuri. Berdiri di ambang pintu yang dibiarkan terbuka oleh pemilik rumah. Zean mendadak ikut penasaran. Dia bertanya pad wanita paruh baya yang sedang menyusun batu untuk dijadikan pagar rumahnya.  "Permisi, Nyonya. Boleh aku bertanya apa yang terjadi di dalam?" tanya Zean ramah.  Orang itu menatap Zean dari atas sampai bawah. "Kau sepertinya familiar. Apa kita pernah bertemu?"  Yuri menoleh dan ikut bertanya, "Nyonya, kami pengembara. Apakah kau tau siapa yang marah-marah di sana?" Yuri menunjuk rumah besar itu.  'Dia Pangeran di negeri ini, Payah! Segera minum obat kalau punya sakit pelupa,' batin Yuri.  "Ah, itu hal biasa. Setiap hari juga bertengkar meributkan hal yang sama. Itu rumah pejabat tanah. Kami sudah terbiasa dengan amarahnya. Sebentar lagi juga reda sendiri." kata orang itu sambil terus menyusun batu.  "Bertengkar karena apa?" tanya Yuri sekali lagi.  "Karena anak. Kalau kalian penasaran kenapa tidak tanyakan langsung pada orangnya? Kami sudah muak mendengar ocehannya," usir orang itu.  Yuri dan Zean saling pandang lagi. Mengucap terima kasih dan membiarkan kudanya berdiri di depan rumah itu. Mereka nekad masuk dan seketika dua orang yang marah itu terdiam memandang mereka.  "Siapa kalian? Lancang sekali masuk ke rumahku?" ujar lelaki paruh baya yang Yuri yakin sebagai pejabat tanah.  Kemudian, keduanya menyadari setelah melihat Zean baik-baik. Mereka langsung menunduk memberi salam.  "Maafkan kami, Pangeran. Kami tidak menyadari kedatanganmu. Mari-mari, silahkan masuk dulu. Kami akan siapkan jamuan makan siang," kata pejabat tanah sedikit gugup.  "Tidak perlu, Tuan. Aku kemari hanya sebentar," ucap Zean membuat kedua orang itu berdiri tegap.  Wanita itu tersenyum ramah dan menatap Yuri bingung. "Eee, siapa gadis cantik ini, Pangeran? Kemarilah duduk dulu. Suatu kehormatan bisa dikunjungi Pangeran langsung!" mempersilahkan Zean dan Yuri untuk duduk di kursi tamu.  'Ck, mudah sekali dia berubah ekspresi? Seperti aku?' batin Yuri.  Kemudian mereka terlambat menyadari lagi. Pakaian khas penjaga bukit Zill yang Yuri kenakan serta rantai akar biru di kepala Yuri berhasil membuat dua orang itu ternganga.  "Astaga! Dia anak dari ketua kelompok penjaga bukit Zill! Bukankah gadis kecil yang selalu menemani Pangeran saat kerasukan kekuatan jahat cincin biru? Maafkan kami, Nona. Kemarahan tadi membuat kami tidak mengenalimu." wanita itu menangkupkan tangan meminta maaf berkali-kali.  "Tidak perlu, Nyonya. Begitu lama aku tidak di sini, sudah sewajarnya kalian tidak mengenaliku. Kalau boleh tau apa yang membuat kalian bertengkar?" Yuri terus terang.  Pejabat tanah itu mendesah panjang dan wanita di sampingnya merengut menahan marah. "Sudah lama sekali kami menikah, tapi tidak juga punya anak. Aku tidak ingin menceraikannya karena dia sudah sangat baik pada keluargaku. Masalahnya, aku sudah tua. Aku ingin pewaris yang bisa meneruskan keluarga ini. Tapi wanita ini tidak bisa hamil. Setiap hari membuatku jengkel saja. Pangeran, jika kau memang bijak seperti apa yang kita dengar maka aku mohon selesaikanlah masalah kami, Pangeran," pintanya.  "Apa?" Yuri dan Zean bertanya kompak.  "Tidak punya keturunan itu sangat memalukan, 'kan, Pangeran?" sambung pejabat tanah.  "Apa itu salahku yang tidak bisa hamil? Bisa jadi dia yang punya kelainan sampai tidak bisa punya anak!" istrinya pejabat tanah naik pitam lagi.  "Lihatlah, Pangeran. Dia justru menyalahkanku. Apa ini?" pejabat tanah berlagak frustasi.  "Kau yang menyalahkanku!" istrinya tidak mau kalah.  Yuri dan Zean kebingungan melihatnya.  "Kakak, bagaimana ini?" bisik Yuri.  "Kita coba cari solusinya. Siapa tau bisa jadi sumber dari energi positif," bisik Zean dan Yuri mengangguk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN