Tim tabib sudah menyiapkan ramuan penyembuh luka tenaga dalam sebelumnya. Ketika Guru Kahy meminta, mereka segera memberikan obat itu. Namun, tubuh Zean menolaknya. Denyut nadinya semakin melemah. Yuri panik. Ingin membantu, tetapi Guru Kahy melarangnya karena berdasarkan buku mantra hati suci sudah ada obat khusus yang bisa memulihkan Zean kembali. Dari arahan Guru Kahy semua tim tabib membuat ramuan obat secara mendadak. Memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk membuat ramuan itu. Yuri terus saja menompang tubuh Zean dan tidak mau digantikan orang lain. Ramar sampai mendesah pasrah, putrinya lebih memilih Zean daripada dirinya.
Cen ikut membantu membuat obat meskipun sering melirik Yuri yang sangat cemas akan Zean. Dia mengesampingkan iri dihatinya. Keselamatan Pangeran jauh lebih sekarang. Setelah ramuan obat itu selesai dibuat, masih tak berpengaruh di tubuh Zean. Hanya untuk membuat ruhnya sedikit kuat, tetapi tidak bisa mengembalikan daya tahan Zean yang semakin lama semakin melemah.
"Guru, izinkan aku mencoba menyembuhkannya. Kekuatanku yang paling tinggi di sini, 'kan? Aku mohon!" Yuri sudah tak tahan. Dia meneteskan air matanya.
Ramar, Guru Kahy, Cen dan semua anggota penjaga bukit Zill terkejut melihatnya. Air mata Yuri terus mengalir dan Guru Kahy tetap bungkam lantaran ingin melihat reaksi Yuri ketika emosinya sedang sedih. Seketika Yuri lemas. Rasanya seperti orang biasa tanpa memiliki kekuatan. Dia sendiri bingung dengan kondisinya yang menurun drastis.
"Kau lihat? Kau seperti orang lumpuh tanpa kekuatan bagaimana bisa menyembuhkan Pangeran?" Guru Kahy bicara sedikit lantang.
Yuri langsung mengusap air matanya. Mengontrol emosinya sambil menatap Zean penuh keyakinan. Mendadak emosinya kembali stabil dan bersinergi. Dalam hatinya ada keyakinan, maka air mata dan kesedihan itu mengering seketika. Semua kakak anggotanya terheran-heran. Untuk pertama kalinya mereka melihat perubahan emosi Yuri yang menyatu dengan kekuatannya.
"Dia benar-benar pengendali emosi," gumam Cen.
'Meskipun Yuri pengendali emosi, dia tidak bisa ilmu pengobatan. Apakah berhasil membuat Pangeran Zean pulih?' batin Ramar kurang yakin dengan kemampuan Yuri.
Yuri membuat tubuh Zean duduk dengan benar selagi guru Kahy membuka telapak tangan Zean. Semua orang terkejut kecuali Guru Kahy yang tersenyum mengambil butiran kecil di tangan Zean. Ketika benda itu mulai diangkat, warna biru masih mendominasi.
"Biji pohon sudah terbentuk," ucap Guru Kahy.
Semua orang menghela napas lega. Harapan mereka tak sia-sia. Sing bertukar senyuman dan ungkapan syukur.
"Namun, ini belum sempurna. Kita butuh energi positif Yuri untuk membuat biji pohon menjadi suci. Tidak akan bisa terpengaruh energi jahat dan sisi dari kekuatan cincin biru Pangeran Zean di biji ini akan hilang." Guru Kahy menatap Yuri meminta kepastian.
"Tapi aku harus menyembuhkan Kak Zean." tanpa menunggu jawaban lagi Yuri segera menyalurkan tenaganya pada Zean.
"Yuri!" Cen memanggilnya.
Yuri tidak mau mendengar siapapun. Bukan maksud Cen dan Guru Kahy untuk melarang Yuri menyembuhkan Zean, tetapi membentuk biji pohon menjadi sempurna itu lebih penting. Jika Yuri kehabisan tenaga setelah mengobati, takutnya biji pohon terpengaruh kekuatan jahat cincin Zean.
Namun, apa yang dilakukan Yuri di luar dugaan semua orang. Yuri memanfaatkan satu waktu untuk menyempurnakan biji pohon sekaligus menyembuhkan Zean. Guru Kahy sampai tersentak ke belakang.
"Emosi apa yang dia pakai? Kenapa bisa sempurna tanpa cacat? Jika membagi kekuatan menjadi dua nan berbeda dia pasti sudah lemah, kemungkinan juga tidak akan sempurna. Kenapa bisa terjadi?"
Perlahan dan pasti biji itu kehilangan warna birunya dan mendadak berubah jadi cokelat kemerahan. Merah yang masih sangat muda bahkan hampir tak terlihat. Di sisi yang sama Zean terbatuk mengeluarkan darah kental.
"Pangeran!" beberapa anggota kelompok penjaga bukit Zill berseru. Seketika tim tabib membuat obat mempercepat pemulihan secara fisik. Sedangkan Yuri telah berhasil membuat Zean merasakan hawa murni dari kekuatannya yang mulai pulih kembali. Namun, Yuri tidak bisa sepenuhnya membuat Zean pulih. Setidaknya Zean bisa sadar dan denyut nadinya mulai normal.
"Anak itu... Tekadnya terlalu kuat. Bahkan Pangeran dan biji pohon berhasil dia genggam bersamaan. Tidak diragukan lagi jika Yuri memang harus melawan pohon Savara seperti ibunya, tetapi dengan cara yang berbeda," gumam Ramar.
Yuri menghentikan kebolehannya. Tim tabib segera mengambil alih Zean dan membawanya berbaring ke kursi panjang dekat tungku. Yuri lemas, dia menatap Guru Kahy yang juga menatapnya tanpa menutup tangan yang memegang biji pohon.
"Guru, aku berhasil...." ujarnya lemas.
Guru Kahy tersenyum lalu mengangguk. Membantu Yuri berdiri sebelum Ramar membantu Yuri.
'Guru Kahy tidak membiarkanku memegang anakku sendiri. Apa maksudnya?' batin Ramar sudah tak tahan.
"Bijinya akankah menjadi cincin merah saat tunas nanti?" tanya Yuri lemah.
"Sudah dipastikan. Kau berhasil, Yuri. Kalau boleh aku tau, bagaimana suasana hatinya yang mulanya sedih menjadi menara penuh semangat?" tanya Guru Kahy.
"Karena aku hanya ingin Kak Zean selamat dan pohon Savara musnah. Harapan satu-satunya yang kita miliki adalah biji itu, 'kan? Jadinya aku semangat saja. Sekarang bagaimana kondisi Kak Zean?" Yuri berjalan tertatih mendekati Zean yang sedang menerima perawatan.
"Pangeran Zean mengalami luka dalam. Hanya bisa diobati dengan mengontrol sisi jahat saat cincin di jari Zean bereaksi. Kekuatan yang kau salurkan sangat efektif. Kemungkinan Pangeran akan segera sadar, akan tetapi tubuhnya sangat lemah. Dia membutuhkan kekuatanmu dan dirimu." kata salah satu tabib.
"Kelelahan? Sakit?" gumam Yuri seraya menunduk.
"Biji ini juga harus masih diuji, Yuri. Kita hanya membutuhkan cincin biru Pangeran walaupun dia tidak sadar. Kemungkinan sampai tiga hari lamanya," sahut Guru Kahy.
"Tiga hari? Lama sekali!" gumam Yuri.
Yuri menatap Guru Kahy dan Zean bergantian. "Baiklah! Aku akan menemani Kak Zean dalam tiga hari sekaligus tahap terakhir pengujian biji pohon!" berseru penuh keyakinan.
~~~
Sudah berjam-jam lamanya Zean dan Yuri tertidur dalam satu ruang berbeda ranjang. Yuri kelelahan, tetapi Zean belum sadar. Siang yang terik ini Cen sedang asik mengamati biji pohon bersama penjaga bukit Zill yang lain. Ruang pelatihan penuh dengan penjaga bukit. Biji itu seolah mainan yang berhasil membuat mereka kagum.
"Kalian lihat? Woaahh, ini keajaiban bukan? Hanya adik Yuri yang bisa melakukannya!" Cen menunjuk biji pohon di tangannya.
"Lebih tepatnya Pangeran yang membuatnya. Berikan padaku! Aku juga mau lihat bagaimana teksturnya. Wah, ini seperti batu!" salah satu dari mereka merebut biji pohon dari Cen.
"Batu apanya? Jelas-jelas terlihat seperti kacang merah. Matamu buta, ya?" dia yang perempuan paling muda di sana merebut biji itu.
"Hei, serahkan padaku! Jangan pelit-pelit! Kita juga mau melihatnya dengan jelas." gadis di sebelah gadis itu merebutnya.
Lalu, jadi bahan rebutan yang tak berkesudahan. Lain dengan Guru Kahy yang dibawa Ramar paksa ke halaman belakang padepokan. Buku mantra hati suci selalu dibawa Guru Kahy.
"Sudahi wajah masammu padaku. Katakan yang sebenarnya!" paksa Ramar setelah melepaskan tangan Guru Kahy.
"Sudahi? Masa lalu terlalu pahit untukku tersenyum sekarang." Guru Kahy membalas tatapan tajam Ramar tanpa takut.
"Apa masalahmu? Dengan tanganku sendiri kuserahkan Yuri berguru di padepokan bersamamu. Sekarang kau marah padaku? Teman lama, tidak baik bersikap seperti ini di saat semua orang mempunyai harapan baru," jelas Ramar.
"Harapan bisa saja terus berlanjut. Biarkan mereka yang muda meneruskan perjuangan yang besar, tapi hati dan ingatan ini tidak akan lenyap. Aku masih tidak terima akan kematian kakak seperguruanku! Itu karena kebodohan dan kecerobohanmu!" Guru Kahy menunjuk wajah Ramar marah.
Ramar tidak terkejut ataupun terluka. Dia sudah menduga jika karena kematian istrinya yang juga merupakan kakak seperguruan Guru Kahy yang membuat guru itu menyimpan dendam padanya.
"Istriku sudah tenang di alam sana. Kalaupun dia masih hidup dia akan melakukan pengorbanan yang sama demi musnahnya pohon Savara!" Ramar sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Jadi, kau mengelak kalau kematiannya bukan karena kebodohanmu yang tak mau menahannya?!" Guru Kahy tak mau kalah.
Ramar mengusap wajahnya frustasi. "Terserah apa katamu. Bagaimanapun juga kita harus melupakan masa lalu demi keberhasilan Yuri. Anakku masih terlalu muda. Dia tidak bisa membentuk biji pohon itu menjadi cincin merah dalam waktu dekat apalagi berkelana di luar sana mengumpulkan banyak cinta," menjadi memelan.
Guru Kahy mendesah, "Pangeran harus ikut dengannya."
"Tidak bisa," Ramar menolak. "Tidak ada hubungannya dengan Pangeran. Lagipula Pangeran harus setia di dekat pohon Savara dan istana. Sewaktu-waktu rakyat negeri Zilla membutuhkannya," sambung Ramar.
"Bodoh!" maki Guru Kahy tanpa takut. Ramar melotot tidak terima. "Kau tidak lihat bagaimana perasaan mereka, Hah?! Sudah jelas hanya Yuri yang diinginkan Pangeran sampai bisa pulih cepat. Mereka sejak kecil sampai sekarang masih menyimpan perasaan yang sama. Mungkin saja mereka tidak menyadari, tapi itulah yang terjadi. Yuri juga hanya menginginkan Pangeran. Siapa orang pertama yang dia cari setelah tiba di bukit Zill? Apakah kau? Bukan, tapi Pangeran Zean! Masih tidak sadar juga?!"
Guru Kahy marah besar dan Ramar hanya terdiam. Kemudian dia pergi untuk mengambil biji pohon yang dibuat main Cen bersama teman-temannya. Ramar menggeleng pusing dan menuju ke kamar Yuri menemani tabib yang keluar-masuk mengecek kondisi Zean.
Dimulai dari hari ini percobaan biji pohon pada cincin biru di jari Zean membuat biji pohon kembali berwarna biru. Tentu saja Guru Kahy kaget. Tepat di sore hari ketika Yuri sudah bangun dan segar, Zean ikut tersadar. Bagaimanapun juga Yuri senang, akan tetapi seperti yang dikatakan tabib. Kondisi Zean melemah. Dia dipaksa untuk menguji biji pohon dan cincinnya. Akibatnya Zean terluka lagi dan kagi.
Seperti itu terus sampai tiga hari lamanya. Yuri selalu menemani Zean dalam tiga hari dalam tahap membuat biji pohon. Menyalurkan tenaga dalam agar Zean lebih kuat saat sudah kelelahan. Hanya Yuri yang bisa meredakan kekuatan jahat Zean dengan cara menyentuh d**a Zean. Seakan Zean hanya menginginkan Yuri untuk mengontrol emosinya. Kekuatan emosi Yuri mengalir ke tubuh Zean dan membuat cincin biru Zean kembali tenang. Jika sudah tenang maka biji pohon bisa menghilangkan pengaruh cincin itu padanya.
Tiga hari kemudian...
Sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda mengubah biji pohon menjadi tunas atau cincin merah. Sore ini Yuri terbangun dan disampingnya sudah tidak Zean. Yuri memang menemani Zean tidur dalam satu ruangan. Sekarang tidak melihatnya membuat Yuri panik mencari Zean sampai teriak-teriak mengitari padepokan. Hanya ada Cen yang berjaga di gerbang. Yuri berlari menghampiri Cen sampai membuat Cen kaget.
"Eh, kau sudah bangun? Syukurlah kalau begitu. Masih ada yang tidak nyaman? Kau mau apa? Aku akan membuatkan makanan lezat untukmu!" Cen bersemangat menawarkan ini-itu.
"Kakak, kenapa semua orang tidak ada?" tanya Yuri setelah menggeleng menolak tawaran Cen.
Cen menggaruk pelipisnya sebentar, "Adik Yuri, mereka sedang menunggu kita di sana. Mereka hanya mengamati tunas itu saja. Karen kau tadi masih tidur, jadi aku menunggumu. Tidak mungkin kau kubiarkan sendirian, bukan?" tersenyum manis.
"Kak Cen... Terima kasih." Yuri tersenyum tulus.
"Ahaha, sama-sama. Aku siap menunggumu kapan saja kalau sedang tertidur," canda Cen membuat Yuri terkekeh.
"Oh, iya. Bukannya sekarang waktunya untuk membentuk cincin merah?" Yuri menyeka anak rambut yang menutupi matanya.
"Tepatnya mengumpulkan cinta dan semua kebaikan di dunia dan memasukkannya ke biji pohon." Cen menjentikkan jarinya.
"Iya, benar!" Yuri mengangguk cepat.
"Mungkin karena itu mereka semua menunggu kita di atas bukit. Untuk mengantarmu melakukan perjalanan itu," jelas Cen menatap Yuri dengan seribu arti.
"Begitu, ya?" Yuri berpikir sambil menatap jalanan.
"Jadi, sebelum kita menyusul mereka, harus mengisi perut dulu. Ayo ke dapur. Kita lihat apa yang bisa dimakan. Atau aku akan memasak apapun yang kau minta. Bagaimana? Kau tidak rindu masakanku? Kejam sekali! Apa makanan di padepokan perempuan enak? Pasti rasanya hambar kalau tidak asin Karena yang memasak gadis jelek sepertimu, haha." Cen mengetuk dahi Yuri pelan lalu melenggang pergi dengan santainya menuju dapur.
Yuri mengikutinya dan mengomel tidak terima. Cen terus menggoda dan menjelek-jelekkan padepokan perempuan dalam bidang masakan. Cen memang handal dalam urusan dapur. Tangannya seperti bumbu ajaib yang bisa melewatkan segala masakan. Yuri tertawa bermain dengannya di dapur. Cen juga sangat terhibur. Mereka memasak bersama. Setidaknya ada waktu yang mereka habiskan bersama sebelum Yuri pergi berkelana.
"Kakak, kau salah memasukkan garam! Itu harusnya gula, hahaha!" tawa Yuri sangat keras.
"Ahh, tidaaaakkk! Yuri, gara-gara kau aku jadi tidak fokus, 'kan? Sekarang kau harus merasakan akibatnya!" Cen mengoleskan tepung di wajah Yuri.
Yuri tertawa terus dan membalas Cen. Alhasil wajah mereka penuh tepung dan kotor. Ketika perut sudah kenyang mereka mendaki bukit hingga berkumpul bersama orang-orang yang Yuri cari.
Mereka terkejut ternyata sang Raja ada di sana. Semua orang tersenyum menyambut Yuri yang begitu bahagianya berlari ke Zean dan memeluk Zean.
"Kakak Zean! Akhirnya aku menemukanmu juga! Kau sudah makan? Kak Cen membawakanku bekal. Kalau kau mau makan saja!" Yuri melepaskan pelukannya.
Zean sampai mundur selangkah dan orang-orang menahan tawa karena tingkah Yuri.
"Adik Yuri, kau tidak boleh memberikannya pada Pangeran! Aku membuatnya khusus untukmu. Kau tau itu, 'kan?" Cen mendekatinya.
"Ah, santai saja." Yuri mengibaskan tangannya pada Cen.
Setelah sampai di dekat Yuri dan Zean, Cen menepuk pundak Yuri. "Kau ini tidak tahu sopan santun atau apa? Ada Raja, beri salam dulu sebelum memeluk Pangeran!" desisnya berbisik.
Yuri terbelalak. "Kau benar!"
Yuri langsung berlari pada Raja negeri Zilla dan memberi salam sopan. Cen dan Zean beradu pandang.
"Cen Dama, berapa banyak makanan yang kau berikan pada Yuri?" tanya Zean sedikit berbisik. Pembicaraan mereka tidak boleh terdengar keras.
"Sebanyak perasaanku sekarang padanya. Menurutmu bagaimana, Pangeran?" tanya Cen seraya menatap Yuri sekilas.
"Sebanyak itu?" Zean mengerutkan dahi.
"Iya, sebanyak itu. Kau sendiri apa yang bisa kau berikan?" Cen sedikit berbangga diri bisa naik satu tingkat dari Zean.
"Aku... Entahlah. Hanya bisa merepotkan Yuri yang terus saja menyembuhkanku hanya dengan menyentuh dadaku. Itu aneh, 'kan?" Zean meneleng.
"Sshhh, kau ini polos atau apa, Pangeran? Itu artinya kau hanya menginginkan Yuri untuk membuatmu sembuh. Tiap kali kau kerasukan siapa yang menyembuhkan? Sejak kecil Yuri, 'kan?" jawab Cen sedikit malas.
"Lalu, aku harus bagaimana? Aku tidka mau dia pergi lama lagi hanya demi menumbuhkan tunas cincin merah." Zean tidak merasa disinggung. Menatap Yuri yang sudah beralih pada Ramar.
"Menurutku kau harus ikut dengannya, Pangeran."
Bukan Cen yang menjawab, melainkan Guru Kahy yang datang dari belakang Cen.
"Guru Kahy? Kenapa begitu? Kalau Pangeran boleh ikut maka aku juga harus ikut!" Cen tidak terima.
Guru Kahy memberi senyuman terbaik pada Zean dan Cen. "Karena Pangeran hanya bisa dikontrol oleh Yuri dan Yuri akan lebih terjaga emosinya jika Pangeran ikut. Mereka seperti bunga dan serangga yang saling membutuhkan. Cen Dama, kau mengertilah," jelasnya.
"Apa?" Cen dan Zean bertanya kompak.
"Sebagai gantinya, Cen Dama yang akan menggantikan tugas Pangeran untuk mencatat setiap perkembangan tunas pohon Savara. Pangeran, berikan buku riwayat pada Cen Dama. Percayalah, dia teman yang paling bisa dipercaya." Guru Kahy mengangguk.
Yuri, Ramar, sang Raja, dan juga para anggota penjaga bukit Zill mendengarnya. Ramar masih menggenggam tangan Yuri agar Yuri tidak lari ke Zean.
Zean dan Cen saling pandang. Kemudian, Zean meminta kebenaran dari ayahnya dan ternyata sang Raja mengangguk setuju.
"Apa harus seperti ini, Guru?" Zean bertanya sekali lagi.
"Kenapa aku tidak ikut saja?" Cen masih menawar.
"Karena kami jauh membutuhkanmu di sini, Cen Dama. Peranmu tak kalah penting. Kau orang ke dua yang mengerti riwayat pohon Savara dengan baik selain Pangeran. Lagipula dengan adanya Pangeran ikut bersama Yuri, dia akan menjaga Yuri dengan baik." Guru Kahy masih setia tersenyum.
"Aku juga bisa melindungi Yuri!" Cen masih protes dan Zean hanya menatap dia polos.
"Bilang saja kau cemburu, anak muda," bisik Guru Kahy membuat Cen terbelalak.
"Aku... Aku tidak...," Cen bingung membantahnya.
"Jadi, Yuri kau tidak keberatan, 'kan jika Pangeran ikut denganmu? Tenaganya masih perlu dipantau. Hanya kau yang bisa melakukannya." teriak Guru Kahy melirik Yuri.
Yuri langsung berlari menghampiri Guru Kahy. "Aku mau! Kak Zean, ini akan seru! Tenang saja... Kalau kau kerasukan kekuatan jahat lagi akan memukul dadamu keras!" menunjukkan kepalan tangannya.
Zean terkekeh, "Baiklah. Ini buku riwayat sekaligus catatan perkembangan pohon Savara. Cen Dama, aku percayakan ini padamu, ya. Jika terjadi sesuatu segera beri tahu aku." mengeluarkan buku riwayat pohon Savara dan memberikannya pada Cen.
Cen menerimanya tanpa menjawab. Dia menatap Yuri yang juga mengangguk penuh percaya padanya.
'Lagi-lagi Pangeran Zean. Aku hanya pelengkap bagi Yuri saja. Apa begitu tidak pantasnya aku untuk Yuri?' batin Cen kehilangan semangat.
"Ayolah, Kakak. Aku harus bekerja keras demi cincin merah. Kalau kau merajuk sebelum aku pergi, bagaimana emosiku bisa stabil? Aku akan terus memikirkanmu dan merasa bersalah. Kalau sudah begitu bagaimana cinta bisa kumpulkan?" Yuri membujuk Cen hangat.
Cen mengerjap, "Benarkah? Kau akan memikirkanku?"
"Tentu saja. Kau kakakku yang paling pengertian!" Yuri menepuk pundak Cen kuat sampai Cen menatap pundaknya. Perlahan senyumnya mulai terbit lagi. Dia mengangguk kuat. "Kalau kau yang meminta pasti akan kulakan!"
"Nah, itu baru Kakak Cen!" seru Yuri semangat.
Mereka tertawa mengundang yang lain untuk tertawa. Kisah remaja tak luput dari kisah romansa dan masalah hati. Namun, beban berat demi melindungi alam dan manusia menjadi tolak ukur bagaimana sudut pandang orang tersebut. Cen Dama memang Kakak seperguruan paling perhatian bagi Yuri, tetapi Zean adalah Kakak yang selalu ada di hati Yuri dan selalu menjadi teman utama yang bisa membuat Yuri melewati hari-hari dengan sempurna.