3. Pengorbanan Pangeran Zean

2563 Kata
 Kuda berambut panjang itu meringkik menjunjung kedua kaki depannya setelah memasuki padepokan perempuan. Tepat tengah malam Yuri datang. Sepi hanya ada pelita yang menerangi setiap ruangan. Yuri segera menuju kamar guru Kahy yang paling luas di antara kamar lainnya. Lenteranya masih menyala. Yuri mengetuk pintu dan mengucap salam. Namun, tidak ada jawaban.  "Guru... Aku datang menjemputmu. Cincin biru sudah mulai memberontak, tetapi berhasil dikendalikan. Mohon, segera keluar dan kita akan berangkat. Guru Kahy... Buka pintunya!" Yuri tampak cemas tanpa ada sahutan.  Terpaksa dia mendobrak pintu membuat beberapa perempuan terbangun. Mereka menghampiri Yuri dan Yuri menerobos masuk mencari gurunya.  "Guru, kau di dalam? Ini aku Yuri!" seru Yuri mengitari seisi kamar.  "Yuri, kau datang tengah malam begini? Hoaamm, mengagetkanku saja!" salah satu temannya yang terbangun bersandar di pintu kamar yang terbuka.  Yuri menoleh, menghampiri perempuan itu. "Dimana Guru Kahy?"  "Hmm? Entahlah. Tadi ada di kamarnya," jawab perempuan itu masih mengantuk.  Yuri berdecak, "Tapi tidak ada! Aku harus membawanya sekarang juga!"  "Ada apa panik-panik?" tanya salah satu dari anggota padepokan perempuan yang baru terbangun. Yuri memberikan pertanyaan yang pada pada orang itu, "Sebelum aku tidur, aku lihat Guru Kahy menuju dapur. Mungkin dia lapar." menunjuk arah menuju dapur.  "Dapur? Tapi Guru Kahy tidak pernah lapar di tengah malam," gumam Yuri.  "Terima kasih!" Yuri langsung lari ke dapur.  "Ayo sambung tidur. Aku mengantuk sekali!"  "Apa pohon Savara akan tumbuh dalam sehari? Dia panik sekali!"  Teman-teman Yuri bingung dan kembali ke kamar mereka. Ketika Yuri memeriksa dapur, ternyata Guru Kahy sedang memasak beberapa bahan yang mengeluarkan aroma menyengat seperti akar busuk. Yuri sempat terbatuk sambil menutup mulutnya. Guru Kahy menoleh menyadari kedatangannya.  "Yuri, kau sudah datang. Tutup lagi pintunya. Baunya bisa mengganggu yang lain," suruh Guru Kahy masih fokus dengan masakannya.  Suara pintu berderit saat Yuri menutup pintu. Semakin menyengat, semakin dia batuk ketika mendekati gurunya. "Guru, apa yang sedang kau buat? Kenapa busuk sekali? Kau memakai buku?" herannya menunjuk buku panduan di depannya.  "Diamlah! Ini untuk melancarkan pembukaan mantra yang tersembunyi di buku mantra hati suci." kata Guru Kahy sambil mengaduk air yang mengental dalam kuali.  "Ada mantra tersembunyi dalam buku mantra?" Yuri tidak mengerti.  "Kau akan tau setelah kita kembali. Untunglah kau datang lebih cepat. Setelah ini selesai ayo kita berangkat. Aku sudah tau apa yang terjadi tadi siang," ujar Guru Kahy.  Yuri tersentak dan mengangguk, "Baik, Guru!"  Tak lama kemudian cairan kental itu menyusut menjadi lebih kental lagi dan Guru Kahy memasukkannya ke dalam kain pembungkus. Yuri mengajaknya pergi mengendarai kuda. Pagi hari saat matahari sedikit demi sedikit menampakkan dirinya mereka telah memasuki gerbang padepokan kelompok penjaga bukit Zill. Wajah Yuri yang kelelahan mungkin terlihat jelas, tetapi gadis itu tidak mau lelah.  Dia membantu Guru Kahy untuk turun dari kuda dan beberapa anggota kelompok penjaga menyambut memberi salam. Ramar dan Cen datang dengan santai, tetapi Cen langsung lari ke Yuri dengan wajah cemas.  "Astaga! Adik Yuri, kau pergi tanpa pamit? Aku risau sekali!" tanpa ragu lagi Cen menunjukkan simpatinya.  "Kak Cen, aku memang suka menghilang. Tenang saja." Yuri menepuk pundak Cen dua kali.  "Tapi...," Cen tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia melihat Guru Kahy yang tersenyum padanya, membuatnya malu lalu memberi salam, "Salam, Guru Kahy?"  Yuri menyikut Cen. "Dia memang Guru Kahy. Kau tidak perlu ragu. Ayo masuk!"  Cen meringis sebentar lalu menuntun mereka masuk ke ruang rapat. Pagi ini tidak ada satu pun dari penjaga bukit Zill yang tidur. Mereka berkumpul di ruangan besar itu melingkari meja yang hanya ada Guru Kahy dan buku mantra hati suci.  "Dimana pemuda bercincin biru itu?" tanya guru Kahy. Tangannya sibuk membuka bungkusan kain berisi cairan kental.  "Kenapa mencari Pangeran? Apa ada hubungannya dengan cincin biru milik Pangeran?" Ramar mendekat.  "Tidak dengan cincinnya, tapi dengan kekuatannya. Bisakah panggilkan dia kemari?" Guru Kahy tak menatap Ramar sama sekali.  Ramar mendesah dan menyuruh Cen untuk memanggil Zean. Biasanya saat pagi Zean berada di puncak bukit Zill. Mengawasi tunas pohon Savara seraya membawa buku riwayat. Setiap hari bertanya-tanya siapakah dirinya. Pohon Savara seperti rumah kedua baginya. Rumah yang menakutkan.  "Aku ikut!" Yuri menghentikan langkah Cen yang sudah di ambang pintu.  "Yuri, kemarilah," Guru Kahy menyuruh Yuri.  Terpaksa dia harus menurut. Cen tak membuang waktu lagi langsung lari ke atas bukit.  "Ada apa, Guru?" Yuri bertanya tanpa tenaga.  "Salurkan energi positifmu. Jika mantranya terlihat maka kita harus membuat cincin yang sama. Karena itu aku juga butuh cincin Pangeran Zaro untuk mengetahui seberapa kuat energi positif melawan energi negatif." Guru Kahy memberikan buku mantra hati suci untuk dipegang Yuri.  "Kenapa dari cincin Pangeran? Kita bisa lihat langsung dari tunasnya. Mungkin Pangeran juga ada di sana," Ramar berulang kali mencoba bicara dengan Guru Kahy, tetapi sang Guru enggan menatapnya.  Yuri menatap Guru Kahy dan ayahnya bergantian, 'Apa yang terjadi diantara mereka? Apa menyangkut soal ibu? Secara buku mantra hati suci milik ibu jatuh ke tangan guru Kahy. Pasti ada masalah di antara mereka,' batin Yuri.  "Baik, Guru." Yuri mengangguk dan mulai menyalurkan energinya.  Guru Kahy mengoleskan cairan kental itu pada halaman kosong yang terletak di tengah-tengah buku. Tanpa dia bantu, Yuri berhasil meresap cairan itu sampai halamannya kering kemudian memunculkan tulisan berwarna meras dan juga sebuah gambar cincin yang terlihat samar. Semua orang terkejut. Yuri membuka matanya dan meletakkan buku itu di meja.  "Apa ini, Guru?" tanya Yuri.  "Ini yang terjadi ketika mantra tersembunyi di buku ini menyatu dengan energi milikmu, Yuri. Sebagai pewaris kekuatan ibumu dan juga mewarisi semua ilmu dariku kau berhasil membuka jalan keluarnya. Bisakah kau kontrol emosimu seharian ini? Jangan marah, atau proses pembuatan bibit pohon yang akan menghancurkan pohon Savara sampai ke akarnya akan gagal." Guru Kahy menatap Yuri serius.  Semua anggota penjaga bukit Zill terkejut. Yuri menggeleng cepat, "Aku tidak marah. Dari barat sampai kembali ke timur aku tidak pernah marah. Kenapa kau menyuruhku tetap tenang?"  "Kemungkinan besar akan ada sesuatu yang membuatmu marah," jawab guru Kahy.  "Apa?" Yuri mengerutkan dahi.  Pintu kembali terbuka. Begitu cepat hanya untuk memanggil Zean. Cen dan Zean melangkah bersamaan mendekati Guru Kahy, tetapi yang dilihat adalah Yuri.  "Kakak, kalian cepat sekali datangnya!" Yuri kagum.  "Adik Yuri, aku hanya perlu berjalan ke atas bukit. Dia sedang duduk termenung di sana." Cen melirik Zean.  Zean tersenyum pada Yuri, tetapi hati Yuri rasanya bergemuruh. Ada ketakutan di sana.  'Apa yang akan terjadi? Aku tidak bisa tersenyum sama sekali,' batin Yuri.  "Kenapa dahimu berkerut?" tanya Zean polos.  Mengundang semua orang termasuk Ramar dan Guru Kahy menatap Yuri. Yuri segera menutupi dahinya. "Ah, hanya bingung biasa karena kalian datang cepat. Guru Kahy ingin bicara padamu," mengalihkan perhatian.  Cen mendekati Ramar, "Ketua, kenapa suasananya seperti ini? Yuri resah?" bisiknya.  "Entahlah," jawab Ramar yang terus menatap Guru Kahy.  Zean memberi salam pada Guru Kahy. "Aku Zean Pangeran dari negeri Zilla memberi salam. Ada apa memanggilku, Guru Kahy?"  "Pangeran, aku memberi hormat padamu. Namun, maafkan aku jika harus menyiksamu sebentar." Guru Kahy memegang tangan Zean, menarik paksa cicin biru itu membuat Zean berteriak kesakitan. Tubuh ya menggelinjang hebat.  "Aaargghh!!!"  "Kakak Zean!" Yuri berteriak panik. Dia hendak memisahkan Zean dari Guru Kahy.  "Lepaskan, Guru! Kenapa kau sakiti Kakakku?! Kakak, kau tidak apa-apa?" Yuri sangat ketakutan.  "Arghhh!" sementara Zean masih mengerang hebat. Rasanya jari manisnya akan putus tanpa darah.  Guru Kahy menyuruh para anggota penjaga bukit Zill untuk memegangi Yuri lewat kode mata. Yuri langsung ditarik dan dikunci empat orang. Dia meronta tak tega melihat Zean kesakitan. Cincin itu masih tak bisa dilepas dari jarinya.  "Ketua, apa ini?" Cen ikut kebingungan. Ramar hanya bisa diam.  'Sepertinya Guru Kahy ingin melakukan sesuatu pada cincin itu. Lalu, dia bilang hanya butuh kekuatan Pangeran, kenapa menarik cincinnya?' batin Ramar.  "Sudah!! Jangan siksa Kak Zean! Guru, apa maksudmu?! Aku tidak suka ini!" sorot mata Yuri berubah marah.  "Adik Yuri, tahan emosimu. Guru menyuruhmu untuk tidak marah," bisik salah satu orang yang memegangi tangannya.  Yuri masih meronta. Menatap nyalang pada orang itu, "Bagaimana aku tidak marah?!"  Orang itu langsung menunduk. Yuri tak tahan melihat penyiksaan itu. Dia menginjak kaki mereka yabg mencegahnya lalu ingin menghentikan Guru Kahy. Namun, Guru Kahy justru melepaskan Zean. Dia terdorong sampai mundur beberapa langkah, sedangkan Zean memegangi jarinya meringis kesakitan.  "Kakak!" seru Yuri membantu Zean berdiri dengan tegap. "Mana coba kulihat jarimu? Apa sakit?" terlalu panik sampai tangannya gemetar.  Zean mendesis menatap Yuri, "Sakit sekali!"  Yuri mengelus cincin dan jari Zean penuh kasih sayang. Lama-kelamaan sakit Zean menghilang.  "Jangan heran, aku pengendali emosi. Apapun yang kurasakan akan baik untuk luka ini walau tak bisa terlihat." gumam Yuri sambil terus mengelus jari manis Zean.  'Aku tidak tega. Aku merasakan sakit yang sama ketika kau kesakitan,' sambung Yuri dalam hati.  Zean tersenyum hangat. Kemudian, berdiri tegap menatap Guru Kahy dengan pandangan berbeda. "Masih ingin mencoba?" mengarahkan tangannya pada Guru Kahy.  Yuri menganga, "Kakak..,' sebelum Yuri bicara Guru Kahy terlebih dulu menjawab Zean. "Kau memang Pangeran yang baik. Maaf, Pangeran. Aku harus menggunakan cincin itu untuk disesuaikan pada cincin merah."  "Cincin merah?" Kompak semua orang di ruangan itu bertanya.  Yuri masih tak mau melepaskan jari manis Zean. Ramar segera mengambil buku mantra hati suci dan membaca mantra itu. "Ini... Mantra pembentukan cincin merah?" mengusap gambar cincin yang samar tersebut.  "Lebih tepatnya biar kujelaskan." Guru Kahy merebut buku itu kasar dari Ramar. Barulah mereka saling pandang dan Ramar bisa tahu jika Guru Kahy tidak suka padanya. Semua orang mulai mendengarkan Guru Kahy dengan serius.  "Sudah kupelajari sejak dulu ketika kematian ibunya Yuri hingga sekarang, aku juga sudah memberikan seluruh ilmu yang kupunya pada Yuri, dan sekarang saat yang tepat untuk menghentikan kekuatan jahat pohon Savara untuk selamanya. Energi negatif bisa dilawan dengan energi positif yang memiliki tingkat kekuatan yang setara. Hanya cincin merah yang bisa melawan cincin biru sebagai tunas. Dalam buku itu sudah tertera cara pembuatannya serta mantra khusus penyegel agar tak dipengaruhi cincin biru. Kenapa cincin energi positif itu berwarna merah? Karena didalamnya akan penuh dengan cinta. Semua hal baik dan ketulusan setiap hal. Cinta memiliki kekuatan terbesar dalam kebaikan. Cinta sampai rela mengorbankan nyawa contohnya ibunya Yuri sendiri. Karena kecintaannya pada semua penduduk negeri Zilla dia rela melawan pohon Savara mati-matian. Layaknya baik dan buruk berseteru. Cincin merah bisa dibuat dengan menggabungkan kekuatan energi positif dan cinta yang ditimbun dalam sebuah biji pohon, termasuk menyatukan dua manusia dalam cinta. Biji pohon akan berkembang menjadi cincin merah saat berhasil terisi penuh. Dalam hal ini aku perlu menyesuaikan kekuatan cincin merah saat pembuatannya terhadap cincin biru agar cincin merah setidaknya setara dengan cincin biru terlebih dahulu. Sebuah pohon harus tumbuh dari tunas bukan? Kita butuh biji pohon untuk menumbuhkan tunas. Jadi, sebelum membuat cincin merah kita harus bisa membuat biji pohon energi positif terlebih dahulu," jelas Guru Kahy.  Hanya sebagian dari mereka yang mengerti, kecuali Yuri, Ramar, dan Zean yang benar-benar mengerti. Yuri memegang lengan Zean erat membuat Zean menunduk menatapnya. Yuri nampak berpikir dan ragu ingin mengatakan pendapatnya.  "Guru, kalau membuat Kak Zean sakit bisa membuat wadah untuk energi positif, maka aku tidak masalah. Aku akan selalu bersama Kak Zean. Bagaimana caranya biji pohon itu bisa dibentuk?" kata Yuri setelah sedikit mendongak.  "Yuri..." panggil Zean.  Yuri menoleh, "Kakak, kau harus serahkan cincin itu." tatapan penuh binar menunjuk Zean dan cincin biru yang melingkar di jari manisnya.  Zean menghela napas panjang, "Kalau bisa dilepaskan, sudah dari dulu kulakukan." tersenyum hangat pada Yuri lalu kembali menatap Guru Kahy. "Aku akan mencoba semampuku," sambungnya.  "Bagus! Keluarkan semua tenagamu dan otomatis energi negatif cincin birumu akan muncul. Lalu, energi positif dalam dirimu sendiri akan melawannya. Kita bisa lihat proses selanjutnya. Semuanya... Ayo pergi ke ruang pengobatan!"  "Baik!" semua orang mengangguk.  "Tapi kenapa ruang pengobatan?" tanya Cen bingung.  "Kemungkinan besar Pangeran akan terluka parah. Kita butuh tim tabib untuk menyembuhkan luka dalam sesegera mungkin." Guru Kahy mendahului berjalan.  Mereka semua mengikuti guru Kahy dan tim pengobatan terbaik di padepokan itu segera bersiap siaga mendengarkan titah Guru Kahy.  Yuri tidak mau melepaskan genggamannya pada lengan Zean. Cen sampai pusing mencari segala cara untuk membujuk Yuri. Setibanya di ruang pengobatan, semua orang hanya diperbolehkan melihat prosesnya. Yuri memasang wajah tidak terima pada Guru Kahy. Zean menjadi bahan yang ditarik-ulur.  "Yuri, kalau kau memegangi Pangeran terus bagaimana dia bisa melakukan tugasnya?" Cen gemas.  "Lepaskan, Yuri! Di buku mantra hati suci tertulis jika biji pohon terbuat dari sifat baik Pangeran Zean yang dikeluarkan melalui berbagai proses di buku mantra hati suci. Hanya dia yang bisa melakukan pengorbanan itu karena memiliki kekuatan dari pohon Savara. Seperti yang kubilang sebelumnya. Kedua energi kekuatan Pangeran akan saling berseteru." Guru Kahy membaca buku mantra hati suci.  "Itu artinya Kak Zean akan kesurupan seperti sebelumnya, iya, 'kan?!" Yuri berteriak nyaring. Cen sampai menutup telinganya.  "Aduh! Adik Yuri, kau ini tidak rela sekali. Pangeran bisa disembuhkan lagi nanti. Kau kesini sebentar! Jangan bikin ulah!" Cen menarik tangan Yuri.  "Aaa, tidak mau!" Yuri menolak.  "Yuri, aku tidak bisa fokus mmebuat biji pohon kalau kau menyentuhku terus." bisik Zean halus.  Telinga Yuri seakan tersengat listrik. Dia menatap kesal pada Zean yang tersenyum. Seketika melepaskan genggamannya.  "Aku tidak menyentuhmu. Lakukan saja tugasmu!" elaknya lalu ikut Cen menjauh.  Zean menggeleng menahan kekehannya. Kemudian duduk di tengah-tengah ruangan itu dan mulai memfokuskan diri. Matanya tertutup, menghilangkan semua hawa manusia dan suara di sana dan hanya suara guru Kahy yang terdengar.  "Pangeran, mulai sekarang!"  Interupsi Guru Kahy langsung dilaksanakan Zean. Tubuh Zean mulai bercahaya. Sinar biru lebih dominan dan cincin biru di jarinya mulai bereaksi. Sampai otot di tangan Zean seolah ingin keluar. Terlihat jelas di balik kulitnya yang cerah.  'Kakak,' batin Yuri memanggil Zean sedari tadi.  Dahi Pangeran itu berkerut. Guru Kahy tersentak ketika Zean melawannya dengan kemampuan yang dimiliki. Cahaya terang semakin membuat sinar biru untuk redup. Namun, keduanya tidak bisa menyerah. Keringat Zean bercucuran. Yuri meremas lengan Cen kuat sampai Cen meringis menahan sakit.  'Kakak, bertahanlah. Kenapa Guru Kahy diam saja?' batin Yuri.  Kemudian, guru Kahy membaca mantra mengikuti petunjuk di buku mantra hati suci dan berdiri tepat di belakang Zean. Mendadak Zean mengerang kesakitan. Semakin lama erangannya semakin dahsyat. Yuri cemas, dia menatap ayahnya dan Cen bergantian. Dua orang itu memberi tatapan yang sama padanya. Artinya sama-sama tidak tahu apa yang terjadi.  "Pangeran, buka kedua tanganmu. Coba satukan kekuatanmu dengan energi negatif cincin biru. Tekan mereka dengan udara, lalu simpulkan menjadi satu sampai keduanya tercampur menjadi sebesar biji. Aku akan membantumu dari belakang." Guru Kahy sudah menghapal mantra pengikat energi khusus dan dia menyalurkan tenaganya serta masih membaca mantra tanpa suara.  "Aaargghh!!!" Zean semakin tak kuasa.  Dia tetap membuka tangannya walau rasanya seperti seluruh organ tubuhnya dipaksa keluar. Menyatukan kedua energi yang terpisah itu sampai membuat lingkaran yang berbeda. Guru Kahy berhasil dengan mantranya. Perlahan kedua kekuatan di tangan Zean itu lingkarannya mengecil. Terus mengecil sampai tangan Zean mengikutinya sampai hampir saling bertepuk. Tenaga Zean hampir melemah, tetapi rasa sakitnya semakin bertambah. Cincin itu seakan ingin menggerogotinya. Dia akan kesurupan lagi. Jika dibandingkan maka kekuatan asli Zean hanya tinggal tiga puluh persen dari energi negatif cincin biru.  Untunglah Guru Kahy segera menyelesaikan penyaluran proses pembentukan biji pohon. Zean masih harus berusaha sedikit lagi sampai kekuatannya mengecil dan terus mengecil sampai sinar biru pun berubah sangat redup. Ketika sudah redup sempurna Zean merasakan adanya daya kehidupan baru yang begitu besar, tetapi belum sempurna. Di sisi lain, dia kehilangan tenaga dan hampir merasa mati. Dia ambruk dan menutup bola kecil dari kekuatannya dengan kedua tangan setelah cincinnya berhenti bereaksi karena dia juga berhenti melawan.  "KAKAK ZEAN!!!" teriakan Yuri menggema di ruang pengobatan.  Guru Kahy masih belum berhenti menyalurkan mantra. Dia ingin memastikan proses itu benar-benar sempurna.  "Siapkan obatnya!"  Yuri melepaskan diri dari Cen dan langsung mengecek kondisi Zean tanpa mengganggu konsentrasi Guru Kahy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN