Siang yang tak begitu terik. Setidaknya sempurna untuk berhimpitan dengan orang-orang penting. Yuri langsung menyibak gerombolan perwakilan negeri dan langsung menemui tim penyegel.
"Kakak, bagaimana?" tanya Yuri membuat konsentrasi mereka hampir sirna.
"Diamlah kau, Yuri! Eh, Yuri sudah datang! Cepat ambil darahnya!" ujar salah satu tim penyegel yang tidak sadar kehadiran Yuri.
Beberapa anggota kelompok penjaga bukit Zill mulai membawa Yuri. Yuri kebingungan nan pasrah. "Eh-eh-eh, sembarangan kalau bicara! Tidak ada kalimat yang lebih bagus apa dari mengambil darah?! Awas kalau ambilnya banyak!"
"Ssttt! Jangan marah!" desis salah satu dari mereka yang membawa Yuri.
Yuri melotot, "Aku tidak marah, hanya kesal!"
Zean berdiam diri melihat Yuri. Mengeluarkan buku riwayat dan mencatat semua kejadian di depannya.
"Kak Cen, bantu aku catat semuanya." menyerahkan buku itu pada Cen dan segera mengejar Yuri.
"Loh-loh... Pangeran, mau ke mana?" Cen kebingungan.
Ramar memegang pundak Cen membuat Cen menoleh. "Catat saja," pandangannya mengarah pada Zean.
Cen berdecak pelan. 'Pasti sedang mendampingi Yuri. Kenapa jadi aku yang memegang buku ini?' batinnya.
Tanpa masuk padepokan Yuri disuruh duduk oleh kakak-kakak anggotanya. Lengan baju Yuri disingsingkan paksa.
"Tunggu-tunggu! Jangan sentuh aku!"
Mereka berhenti dan menatap Yuri polos.
"Huft, sedikit lega. Kalian mau apa, Hah?!" desah Yuri lalu berteriak marah.
"Mengambil darahmu," jawab salah satu dari mereka.
Yuri mengeluh, mengusap wajahnya. "Kakak, tidak bisakah beri aku penjelasan dulu? Atau paling tidak jangan buru-buru, aku jadi takut," rajuknya.
"Jika aku yang melakukannya kau tidak takut?" Zean datang sambil lari kecil. Mereka kompak menatap Zean.
Yuri tersenyum. "Kak Zean! Hah, itu lebih baik kalau kau yang mengambil darahku. Ambil saja semaumu, Kakakku!" membentangkan tangannya sambil menutup mata.
Zean heran setelah berhenti di depannya. "Tolong ambilkan jarumnya," kata Zean pada anggota kelompok penjaga bukit Zill.
Yuri membuka sebelah matanya mengintip jarum apa yang digunakan. Seketika dia terbelalak setelah melihat jarum itu. "Astaga! Kalian mau mengulitiku?!"
"Sstt! Ini tidak lebih sakit dari digigit semut." ucap Zean lembut sambil tersenyum memegang jarum sebesar benang karung.
Bibir Yuri melengkung ke bawah. Zean membungkukkan tubuhnya membuat wajah mereka berhadapan sama rata. "Tidak sakit. Kau jangan berulah bodoh lagi. Setelah ini bantu kakak-kakakmu memperkuat segel cincin biru. Mengerti?" terangnya sabar.
Yuri sampai tidak sadar jika jarum itu telah berhasil mengambil darahnya.
"Sudah dapat! Pangeran, Yuri, ayo cepat!" seru kakak anggota Yuri memegang botol kaca berisi darah Yuri.
Yuri terkejut, Zean menunjukkan deretan giginya lalu mengelus kepala Yuri. Tak terasa pipi Yuri menghangat. Tanpa bicara lagi mereka membawa darah itu kembali ke lokasi. Zean mengajak Yuri berlari sembari berpegangan tangan sampai Yuri tidak merasakan sakitnya lengan yang mengeluarkan darah.
'Kak Zean begitu lembut. Aku tak mau meninggalkannya lagi. Bagaimanapun caranya, setelah memanggil guru Kahy kemari aku tidak mau kembali ke padepokan perempuan,' kata hati Yuri.
Darah itu sudah menyebar ke perisai buatan kelompok penjaga. Yuri menggabungkan kekuatannya membuat perisai itu lebih kuat dan darahnya menyebar lebih luas. Keseriusan Yuri membuat kagum semua perwakilan negeri. Bahkan Ramar, Cen, dan kelompok penjaga bukit Zill dibuat tercengang olehnya. Dalam sekali hentakan kuasa di udara, bukan hanya perisai yang dia perkuat, melainkan semua hal buruk yang ada pada setiap orang di sana keluar dengan sendiri.
Berbagai benda melayang seperti buku mantra, senjata, perhiasan batu, emas, bahkan uang pun mereka melayang dan berkumpul di atas Yuri.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa dia bisa seperti itu?"
"Siapa gadis itu? Bukuku... Buku mantra untuk mengikat roh jahat juga melayang!"
"Belatiku dilindungi kekuatan jahat. Dia juga melayang!"
"Apa darah dan kekuatannya sehebat itu? Semua ada dalam kendalinya. Lihat, cincin biru tak lagi memberontak. Namun, sedikit lebih tumbuh berkembang dari sebelumnya. Hebat!"
Semua untaian tanda tanya yang berasal dari perwakilan negeri itu hanya bisa membuat Ramar tersenyum.
'Dia kuat seperti ibunya,' batin Ramar.
"Semua kekuatan jahat baik itu roh, sihir, atau mantra akan kumusnahkan saat ini juga!" lantang Yuri.
Semua orang tersentak.
"Darah pemecah mantra milikku tidak akan sia-sia hanya untuk cincin biru." Yuri mengambil darahnya yang meluber di lengannya, membuat darah itu menyebar ke semua benda itu. Seketika benda-benda itu bersinar seiring Yuri mengerahkan tenaganya. Lalu, semua benda itu jatuh dan sirnalah semua mantra. Para pemiliknya hanya melongo tak rela.
"Bukan hanya kekuatan jahat, semua mantranya... Hilang," kata Yuri menatap benda-benda itu seraya mengatur napas.
Tim penyegel mundur dari lingkaran perisai. Darah Yuri meresap bersama menghilangnya pelindung itu. Mereka mengamati Yuri dan berdecak kagum.
"Jika seperti ini kau bisa membantu juga merugikan." Zean mengambil buku mantra dan memberikannya pada pemiliknya.
"Ini, Tuan. Maaf, semua mantramu hilang. Kau harus bekerja keras untuk membuatnya kembali," Zean tersenyum ramah.
Yuri melengos, "Harusnya berterima kasih padaku. Aku sudah menunjukkan pertunjukan gratis."
"Anak konyol!" Ramar mulai tersulut.
Yuri tersentak begitu juga Cen yang ada di sampingnya.
"Eee, Ketua tenang saja. Adik Yuri hanya bermain-main. Ucapannya tidak serius. Malu jika marah dilihat banyak orang asing, Ketua," bisik Cen di akhir ucapannya.
"Benar kata Kak Cen. Aku tidak bermaksud begitu, 'kan?" Yuri berubah naif.
Cen mengacungkan ibu jarinya pada Yuri.
"Wah! Itu luar biasa! Kutukan di batu giok milikku menjadi hilang! Terima kasih, Nona muda. Usiamu masih muda, tapi keahlianmu patut diakui!"
Salah satu dari perwakilan negeri itu mengambil benda miliknya. Sangat bahagia seolah benda itu sembuh dari rasa sakit. Yuri tersenyum bangga. Perlahan mereka yang bersangkutan mengambil miliknya kembali. Berbagai macam pujian dilontarkan. Hingga dirasa cukup Ramar membawa Yuri kembali ke padepokan. Zean ingin mengejarnya, tetapi sang Raja menghentikannya.
"Setidaknya antar para tamu hingga ke gerbang perbatasan, Putraku," kata sang Raja.
Zean tidak bisa menolak. Dia terpaksa mengantar semua orang dari negeri lain itu pulang. Cen menyerahkan kembali buku catatan riwayat pohon Savara pada Zean sebelum Zean pergi. Buku itu masih kosong, Cen tidak menulis sepatah kata pun. Zean harus menulisnya sendiri dan tentunya akan kembali ke bukit. Sedikit tak ikhlas karena menunda waktu untuk mengikuti Yuri.
Tim penyegel menyoraki Yuri dan meminta Yuri untuk mengajarkan ilmu yang sama pada mereka. Yuri hanya tertawa dan mengelak jika dia hanya menyalurkan kekuatan memusnahkan energi jahat tingkat dasar dari padepokan miliknya.
"Benarkah? Kami tadi sampai tahap tiga tidak bisa sepertimu. Bagaimana bisa?" heran mereka.
"Karena Yuri berhati bersih, tidak kotor seperti kalian!" Cen menyela. Menaikkan kedua alisnya menggoda Yuri. Mereka mendesah membantah Cen. Yuri ikut menaikkan alisnya membenarkan Cen.
"Kakak, apa ayah marah saat aku tidak ada?" bisik Yuri.
"Jangankan marah, dia tidak bertanya tentangmu," balas Cen ikut berbisik.
"Ha? Tapi kenapa?" Yuri kaget.
"Sibuk membaca buku darimu. Haishhh, itu mungkin mengingatkan Ketua pada Nyonya besar." mengendikkan bahunya.
Yuri mengangguk pelan, "Ayah langsung masuk tanpa bicara denganku." menatap pintu yang terbuka.
Cen menepuk pundak Yuri dua kali. "Tenanglah... Ketua hanya lelah dan pusing. Kau juga harus istirahat, jangan main lagi. Kali ini harus menurut. Aku akan menjagamu tidur!" menarik tangan Yuri.
"Eh, kenapa kau ikut tidur?" Yuri menahannya.
"Aku tidak tidur. Aku hanya akan duduk di depanmu dan tidak akan lengah jika kau kabur," jawab Cen santai.
"Hahh, menyebalkan! Bantu aku latihan saja. Mau?" semangat Yuri.
"Tidak bisa! Kau harus istirahat!" Cen menggeleng lalu mendorong Yuri masuk padepokan.
"Aaa, tidak adil! Aku mau melakukan apa yang ingin kulakukan! Aku tidak mau istirahat!" tolak Yuri meskipun tetap berjalan.
"Ahaa... Sayangnya kau harus menurut padaku, Adik!" Cen terus mendorongnya. Yuri berdecak kesal.
'Kalau tidak kau akan bertemu Pangeran Zean lagi,' sambung Cen dalam hati.
Senyumnya terangkat karena berhasil membuat Yuri dalam kendalinya. Setidaknya bisa memandangi Yuri yang tertidur di depannya. Tidak ada lima menit Yuri langsung tidur setelah tiba di kamar. Cen benar-benar menjaganya dan mengunci pintu.
"Selelah itu dia masih mengelaknya...," Cen menggantung ucapannya seraya menunduk. "Demi Pangeran Zean," sambungnya.
"Sepuluh tahun sudah kau masih menaruhku di nomor dua dari dia?"
Cen melengkungkan bibirnya. Anak rambutnya mendadak berterbangan. Tidak ada angin yang masuk lewat celah-celah kamar. Cen memicing curiga. Sontak berdiri dan hendak memeriksa sesuatu di luar, akan tetapi tidak tega meninggalkan Yuri sendirian.
'Siapa yang meniupku? Bukan, ini bukan angin biasa,' batin Cen.
Mendekati Yuri seraya memasang pagar ranjang tak terlihat. Senyumnya puas mengembang, "Dengan begini tidak akan ada yang bisa mengganggunya."
Cen keluar kamar dan memeriksa angin tadi. Namun, bukan angin yang dia dapat, justru para temannya yang sedang bermain membersihkan halaman dengan sapu. Mereka membuat angin tiruan yang jaraknya tak cukup jauh. Sudut bibir Cen berkedut.
'Kenapa mainnya di sini? Pantas saja hanya rambutku yang bergerak. Mereka bermain sapi rupanya,' gerutunya dalam hati.
Menyingsingkan kedua lengan bajunya dan menghampiri mereka. Seketika tawa mereka berhenti, bukannya diam justru mengajak Cen ikut bermain.
"Sapu yang bersih atau aku akan menyapu wajah kalian!" suruh Cen marah.
"Kau yang benar saja? Tidak mau kami mengganggumu di kamar Yuri, 'kan?"
Siulan menggoda semakin keras dan Cen kelagapan.
"Hei, jaga bicara kalian. Dia sedang tidur. Bersihkan yang benar! Ada-ada saja." menggeleng kembali masuk ke kamar Yuri. Mereka berdecak melihat Cen.
"Dia sangat peduli dengan Yuri. Ada apa, ya?" heran salah satu dari mereka.
Cen terkejut ketika sudah di dalam kamar. Yuri menghilang bersama tas kecil miliknya. Cen panik meraba ranjang.
"Adik Yuri?! Isshh, terlewat lagi! Dia pasti ilmunya besar belum ditambah kelicikannya. Dari mana bisa menembus pagar milikku?" meninju udara kesal.
Segera keluar kamar mencari Ramar dengan tergesa-gesa untuk melapor jika Yuri berhasil lepas dari pandangan. Mereka yang masih menyapu menjadi heran dengan tingkah Cen. Sayangnya Ramar tidak marah ataupun terkejut. Dia masih asik meneliti buku mantra hati suci.
"Ketua, adik Yuri hilang dan kau tenang saja? Ini...," Cen bingung hendak bicara apa.
"Mau bagaimana lagi? Anak itu kakinya seperti kelinci. Kalau tidak kembali nanti sore berarti kembali besok bersama guru Kahy," kata Ramar tanpa memandang Cen.
Cen menganga. "Tapi, Ketua...," ucapannya dipotong Ramar. "Dia sudah besar. Orang jahat tidak bisa menyentuhnya. Apa yang kau khawatirkan?" barulah Ramar menutup buku itu dan menatap den penuh senyuman.
Cen mendesah, "Tidak ada. Kalau ketua berpemikiran demikian maka aku tidak bisa mencegahnya."
Mendadak lemas dan dapat kekehan dari Ramar.
'Sebenarnya aku tidak mau adik Yuri menemui Pangeran lagi,' batin Cen.
Dugaan Cen sepenuhnya benar. Yuri pergi mencari Zean, tetapi Zean sudah tidak ada di tempat cincin biru berada. Tas kecil dan perut kosongnya belum terisi. Yuri memilih turun bukit dan mencari makanan. Ada banyak orang yang menyapanya dan juga sebagian dari mereka tidak mengenal Yuri.
Perutnya lapar membuat jalannya sedikit malas. Dia menemukan banyak kedai di pinggir jalan dan mampir di tempat penjual kue isi.
"Tuan, beri aku dua kue isi!" seru Yuri setelah duduk tepat di samping kedainya.
"Siap, Nona!"
Murung dan termenung. Menyangga kepala sambil lirik sana-sini. Bisingnya jalanan dan sibuk semua orang tak lepas dari pandangannya, termasuk juga penagih hutang yang sedang mengepung wanita tua. Yuri merasa risih.
"Haishh! Kenapa mereka tak beri keringanan? Nenek itu sudah bilang tak punya uang, setidaknya berilah keringanan," gumam Yuri.
"Kue milikmu, Nona." penjual kue itu menaruh pesanan Yuri di meja.
"Tunggu, Tuan!" cegah Yuri dan penjual itu pun tak jadi kembali.
"Eee, kenapa tidak ada yang menolong wanita tua itu? Kau melihatnya? Kasihan dia." menunjuk tempat dimana penagihan hutang terjadi.
Penjual itu mengikuti arah telunjuk Yuri, "Dia? Dia memang sering tidak membayar hutang. Wajar saja kalau mereka marah. Memangnya siapa yang mau menolongnya?"
"Apa? Kau tidak kasihan sama sekali?" Yuri sedikit menggeleng.
"Untuk apa? Semua orang punya urusannya masing-masing. Kalau dia tua bukan berarti harus dapat empati semua orang, 'kan?" melenggang pergi membuat kue.
Yuri berdecak kecil. 'Dasar tak punya empati,' batinnya.
Mengambil satu kue-nya tanpa membayar langsung menghampiri wanita tua itu.
"Hei, Nona! Bayar dulu!" seru penjual kue tak dihiraukan.
Yuri meremas kue itu sambil jalan. Setibanya di sana langsung menjejalkan kue itu di mulut penagih hutang yang terus mengoceh marah. Wanita tua dan beberapa anak buah penagih hutang itu kaget. Yuri berdiri di depan wanita tua itu lalu tersenyum.
"Hehe, hai semuanya. Dewi penyelamat sudah datang. Ada yang bisa kubantu?" dengan sopan dia mengerlingkan matanya.
Wanita tua itu bingung meneliti Yuri dari atas sampai bawah. Yuri menengoknya. "Hai, Nenek. Kau tidak apa-apa? Apa hatimu terluka? Ah, mereka hanya anak-anak yang suka bercanda. Jangan dihiraukan, ya," kata Yuri lucu. Wanita tua itu jadi tersenyum.
Cih!!!
Yuri sedikit terkejut karena sang penagih hutang membuang kue itu dari mulutnya.
"Eh, itu belum kubayar sudah kau buang saja. Harusnya telan!" sewot Yuri menunjuk kue di tanah.
"Anak kecil jangan ikut campur! Beraninya kau menyumpali mulutku! Minggir!" penagih hutang marah.
Karena suara lantang penagih hutang beberapa orang menjadi berkumpul menyaksikan. Yuri menatap mereka semua tidak nyaman.
"Tuan, kau boleh saja mengambil hak-mu dari Nenek ini, tapi tidak perlu sekeras itu. Kalau kau dibentak seperi caramu tadi apa tidak sakit hati?" bantah Yuri tenang.
"Kau!...," penagih hutang menghentikan ucapannya karena banyak orang menilainya buruk dan membenarkan Yuri. Lalu, dia menatap pakaian Yuri lekat. "Gayamu berpakaian seperti dari penjaga bukit Zill. Kau salah satu dari mereka?"
Yuri mengangguk mantap, "Benar, tapi lepas dari identitasku aku tidak suka melihat orang ditindas. Cepat minta maaf dan bicarakan baik-baik." Yuri menunjuk wanita tua itu dengan dagunya.
Salah satu anak buah penagih hutang menyadari rantai akar biru di kepala Yuri. Dia memberi tahu penagih hutang jika Yuri tidak bisa diremehkan. Namun, penagih hutang itu tak percaya.
"Apanya yang hebat? Semua penjaga bukit Zill bukannya tak bisa mengatasi kehancuran selang dua puluh tahun bukan? Tidak ada hebatnya sama sekali termasuk gadis ini. Semua kosong kosong belaka!"
Yuri melempar sekantung uang koin pada penagih hutang itu. Dia heran menerimanya.
"Masih kurang?" Yuri melempar sekantung uang koin lagi. Orang itu merasa senang.
"Aku tak mau bertengkar. Pergilah! Tidak tau apa-apa tapi bicara sembarangan!" bentak Yuri.
"Tuan, aku dengar dia pengendali emosi. Kalau dia marah kau bisa tamat, Tuan," bisik salah satu anak buah penagih hutang.
Penagih hutang itu wajahnya merah dalam, "Eee, ini lebih dari cukup. Hehe, aku tidak tidak salah, Nona. Wanita tua ini harus membayar hutangnya. Jadi, seperti itulah. Aku permisi dulu." katanya sedikit terbata-bata lalu mengajak anak buahnya pergi. Semua orang yang melihatnya pun ikut pergi.
Yuri menepuk celah bajunya sambil tersenyum. Wanita tua itu memanggilnya.
"Terima kasih banyak, anak muda. Itu tidak seharusnya kau lakukan," katanya lirih.
Yuri meringis, "Ah, tidak masalah. Mereka harus belajar menghargai orang tua."
"Tapi yang kau berikan terlalu banyak. Aku hanya meminjam sepuluh koin saja." menunjukkan kesepuluh jarinya.
"Ha? Wah, berarti enak sekali mereka! Tidak masalah, aku anggap sedekah saja," Yuri sempat ternganga.
"Siapa namamu, Nak?" Wanita tua itu meneleng menatap lekat-lekat wajah Yuri.
Yuri jadi salah tingkah, "Aku Yuri. Kau tidak perlu menatapku seperti itu, aku jadi malu."
"Yuri? Rantai akar biru di kepalamu itu... Apa bagian dari pohon Savara?" tanya wanita tua mulai ketakutan.
"Ah, jangan takut! Ini tidak berbahaya. Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi aku permisi dulu. Kau harus hati-hati lagi ya, Nek. Jangan sampai dimarahi." Yuri melambaikan tangannya lalu kembali ke penjual kue isi. Membayar pesanannya kemudian pergi dengan malas.
Tidak bertemu pangerannya, tidak juga dapat makanan. Seharusnya dia tak perlu berlebihan memberikan uang pada penagih hutang. Yuri teramat malas untuk berjalan. Hingga tak sadar sore pun datang. Dia menyewa kuda untuk membawanya ke arah barat yaitu padepokan perempuan. Butuh sampai malam untuknya tiba.
Cen mondar-mandir tak tenang di gerbang padepokan bukit Zill. Dia menunggu kedatangan Yuri menjelang matahari terbenam. Lain dengan Zean yang disibukkan dengan tugasnya. Mencatat apa yang terjadi tadi siang sudah selesai, tetapi tugasnya menjadi Pangeran membuatnya harus selalu menunda langkahnya. Sang Raja terus menambah pekerjaannya sampai lupa waktu.
Yuri, Cen, dan Zean. Tiga orang dalam kegelisahan yang berbeda dan di tempat yang berbeda. Yuri berambisi seiring menerjang jalan dengan kudanya. Dia harus bisa menemukan cara dan sesegera mungkin membawa guru Kahy tanpa menunggu esok hari.