Hari ini adalah hari pertandingam basket yang di adakan di sekolah Afiya yaitu SMA Cahaya.
Semua mata pelajaran di kosongkan karena adanya perlombaan basket antar sekolah.
Afiya terlihat sudah memakai seragam sekolah nya tetapi belum berniat untuk berangkat ke sekolah. Afiya terus berjalan bolak balik di dalam kamar nya sambil menggigit ujung kuku jari jempol nya menimang apakah dia harus pergi atau tidak.
Jika dia pergi maka kemungkinan dia akan bertemu dengan Alvaro yang akan membuat nya kehilangan wajah karena, kejadian yang membuat nya malu. Tetapi, jika Afiya tidak pergi maka di pastikan Afiya akan mendapat amukan dari Ervin yang sangat di hindari oleh Afiya.
Jam sudah menunjukan pukul 06.30. Afiya semakin memikirkan keputusan nya dan pada akhir nya Afiya telah memutuskan sesuatu yang memungkin kan nya mendapat kan masalah.
Hari ini Afiya tidak berangkat bersama Ervin dikarenakan, Ervin masih harus latihan sebelum memulai lomba.
"oke, tenang Fiya" Afiya berusaha menenangkan diri nya sendiri lalu mengambil hp mengirim pesan ke pada Ervin. Ya. Afiya memutuskan untuk tidak datang ke sekolah, sepertinya Afiya lebih memilih membangkitkan harimau yang tertidur pulas.
Afiya :
Vin kayak nya aku nggak bisa nonton kamu tanding basket deh. Maaf ya
Setelah mengirim pesan tersebut. Jantung Afiya menjadi semakin berdegup cepat saat melihat pesan nya telah di baca oleh Ervin. Dan...
Ervin is Calling...
Taklama telfon masuk ke dalam hp Afiya yang membuat jantung Afiya yang tadi nya sudah berdegup sangat cepat bertambah menjadi 2 kali lebih cepat.
'Seharus nya gue nggak bikin Ervin nelfon sekarang' Afiya menyesal membuat Ervin menelfon nya pagi ini yang lebih jelas nya menyesali keputusan nya.
Sudah dapat di tebak jika Ervin akan marah pada Afiya pagi ini dan menanyakan alasan Afiya. Dan pada akhirnya Afiya tetap akan menjadi orang yang bersalah.
Takut membuat Ervin semakin marah Afiya langsung mengangkat telfon dari Ervin.
'Ha-alo' Afiya menempelkan hp nya ke telinga nya menunggu respon dari Ervin.
'Kamu kenapa nggak bisa nonton aku hari ini ?' Ervin langsung berbicara dengan nada ketus dan dingin yang membuat Afiya semakin ketakutan dan menyesali keputisan nya untuk membangunkan singa yang tertidur di dalam diri Ervin.
'Eh. It-u itu ak-aku--' Afiya bingung harus menjelaskan nya sepeti apa. Jika dia berbicara tentang Alvaro, Ervin akan semakin marah
'owh. atau jangan - jangan kamu nggak mau datang karena Alvaro itu ? Kenapa??? kamu nggak mau kalo Alvaro tauh kalo kamu udah punya pacar biar kamu bisa deketin dia lagi. Gitu ?' Ervin langsung memotong ucapan Afiya yang belum selesai.
Afiya yang mendengar tuduhan dari Ervin hanya bisa diam sambil memejamkan matanya.
'Nggak gitu' Afiya juga pasti akan kesal jika di tuduh yang tidak - tidak dan melukai harga diri nya. Afiya yang tadi nya takut sudah mulai kembali berani.
'JADI APA ?' Ervin yang sudah kehilangan kesabaran nya berteriak di telfon membuat nyali Afiya menjadi menciut seketika.
'Ak-aku ber-berangkat ke se-sekolah sekarang.' Afiya yang mendengar teriakan Ervin semakin ketakutan di tambah suara nafas Ervin yang memburu.
'Nggak usah. Kalo kamu emang nggak niat nonton aku, kamu nggak perlu datang !. Mood aku udah rusak sekarang.' Ervin langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
Sedangkan Afiya yang melihat Ervin telah mematikan panggilan telfon tersebut menjadi sangat panik. Takut jika Ervin semakin marah pada nya.
Afiya langsung mengambil tas nya lalu berlari turun ke bawah. Menghampiri ibu nya yang sedang duduk di meja makan.
"Ma, aku berangkat dulu ya" Afiya langsung menyalam tangan Ibu nya.
"Nggak sarapan dulu, Fiya? Minum s**u dulu. Nak Ervin mana ? Kamu nggak pergi sama dia ?" Ibu Afiya menyodorkan segelas s**u ke pada Afiya yang langsung di minum oleh Afiya.
"Ervin udah ada di sekolah. Dia duluan soalnya dia tanding basket hari ini. Aku berangkat dulu" Ibu Afiya hanya mengangguk mengerti
Afiya langsung berlari keluar rumah mencari Taxi, dan s**l nya tidak ada Taxi yang lewat begitu juga dengan angkutan umum lain nya.
Afiya semakin takut setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya menunjukan pukul 07.10 yang berarti sebentar lagi pertandingan basket akan segera di mulai pukul 07.30. Bukan keterlambatan yang di takutkan Afiya tetapi, amukan dari Ervin yang tidak mengenal batas.
Afiya menjadi Frustasi mencari angkutan yang dapat membawa nya ke sekolah.
Tiba - Tiba ada sebuah Taxi berhenti tidak jauh dari nya, sepertinya Taxi tersebut Taxi pesanan seseorang tetapi, karena ketakutan Afiya lebih mendominasi Afiya memutuskan menyingkirkan sopan santun nya dan segera berlari menuju Taxi tersebut.
"Tunggu ! Itu Taxi pesanan gue" Afiya mendengar suara seorang wanita yang meneriaki nya saat Afiya akan masuk ke dalam Taxi tersebut.
"Maaf ya" Afiya balas meneriaki wanita tersebut dan langsung segera masuk ke dalam Taxi.
Sedangkan wanita yang di ambil Taxi pesanan nya menggerutu kesal ke pada Afiya.
Selama di perjalanan Afiya sangat gelisah, apalagi saat membayangkan Ervin yang marah besar pada nya.
Dan sialnya sekarang sudah jam yang menunjukan kemacetan pada kota jakarta.
"Pak, cepetan dong bawa mobil nya" Desak Afiya.
"Neng jalan nya sekarang macet, gimana saya mau cepatan bawa mobil nya. Kiri, kanan, belakang dan depan banyak kendaraan" jelas sopir tersebut yang membuat Afiya membuang nafas nya kasar.
Sudah lebih dari 5 menit Afiya terjebak dalam kemacetan padahal sekolah nya sudah cukup dekat.
Hanya perlu melewati beberapa persimpangan lagi, tapi sepertinya Dewi Fortune sedang tidak memihak pada nya.
"Pak saya turun di sini aja deh" Afiya langsung membayar Taxi tersebut lalu berlari menembus kemacetan kota jakarta.
Afiya memutuskan utuk berlari ke sekolah nya karena, waktu yang semakin menyempit dan amukan Ervin yang sudah terngiang - ngiang di kepala nya.
Ervin masih terus menunggu Afiya. Sangat berharap bahwa gadis nya tersebut akan datang melihat nya.
"Eh lo, jam berapa sekarang ?"
Ervin bertanya kepada salah satu siswi yang sedang lewat.
Karena Ervin sedang tidak memakai jam nya dan hp nya sudah ia simpan di dalam tas nya.
"kakak nanya saya ?" tanyak siswi tersebut antusias karena dapat berbicara dengan Ervin seorang Most Wanted.
"Lo nggak dengar apa ? Iya elo" Ervin kesal dengan siswi tersebut yang memandang diri nya kagum bercampur gugup .
"Udah jam 07.28 kak" Ervin hanya mengangguk mendengar jawaban sisiwi tersebut tanpa berniat mengucapkan terimahkasih .
Ervin menaikan sebelah alis nya melihat siswi tersebut yang masih berdiri di depan nya dan terus memandangi diri nya.
"Lo masih ngapain berdiri sini ?. Sana pergi !" usir Ervin kasar dan dingin. Siswi terbut langsung menunduk dan pergi.
Ervin tidak suka berdekatan dengan gadis lain selain Afiya. Ervin memang memiliki banyak penggemar tetapi, Ervin hanya menanggapi penggemar nya tersebut dengan dingin atau terkesan cuek.
Ervin menghembuskan nafas nya kasar berfikir bahwa Afiya tidak akan datang.
Tinggal 2 menit lagi pertandingan di mulai dan dengan perasaan kecewa Ervin melangkah menuju lapangan sekolah menemui anggota team nya yang sudah pasti menunggu ketua team basket nya.
Akhirnya, pertandingan basket telah di mulai semua anggota team basket Ervin dan team basket lawan nya yaitu Alvaro masuk ke dalam lapangan.
Mereka saling berhadap - hadapan memperkenalkan diri satu sama lain dan di situlah Ervin mengetahui yang mempunyai nama Alvaro. Selesai perkenalan, panitia menjelaskan aturan dalam bermain basket.
"AFIYA!!!" Terdengar suara teriakan Miya sahabat Afiya.
Ervin yang mendengar suara tersebut langsung berbalik ke arah Miya dan mendapati Afiya sudah berdiri di samping Miya dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan dan juga keringat yang bercucuran.
Sedangkan Alvaro yang juga mendengar suara teriakan tersebut ikut menatap arah sumber suara tersebut. Bukan karena suara Miya yang besar tetapi, karena nama yang tidak asing di telinga Alvaro.
Afiya masih mencoba mengatur nafas nya.
Ervin tersenyum senang melihat seseorang yang dari tadi di tunggu nya telah tiba di lapangan sebelum benar - benar pertandingan basket di mulai.
"Afiya, gue kira lo ngga bakalan dateng ?" tanta Miya
"Hosh..Hosh...Hosh... Ma-hah Mau nya sih gitu tadi nya ta-hah tapi, Ervin marah - marah jadi gue dateng" Afiya masih berusaha mengatur nafas nya yang memburu karena lari.
"Ow gitu. Ervin liatin lo tu" Afiya mengikuti arah pandangan Miya dan melihat Ervin yang sedang terseyum kepada nya.
Dalam hati Afiya bersyukur datang tepat waktu. Afiya kembali membalas snyuman ke arah Ervin.
Hingga taklama Afiya mematung melihat seorang yang juga di kenal nya yaitu Alvaro yang juga sedang menatap dirinya.