Afiya masih saling menatap dengan Alvaro. Sedangkan Ervin yang melihat hal tersebut mengepalkan ke 2 tangan nya menahan amarahnya kerana terbakar api cemburu.
Ervin tidak menyukai jika, ada pria lain yang menatap Afiya. Ia tidak menyukai nya karena Afiya adalah Milik nya.
Afiya memutuskan kontak matanya dengan Alvaro saat Miya menyenggol lengan Afiya.
"Afiya, lo kenapa sih ? Pertandingan nya udah mau di mulai. Semangatin kek pacar nya jangan melamun. Ervin liatin lo tuh" Afiya langsung menoleh ke arah Ervin dan meringis karena melihat tatapan tajam Ervin dan kepalan tangan Ervin.
"PRIIIT..." Peluit di bunyikan bertanda lomba tela di mulai.
Bola basket segara di lemparkan ke atas dan ke 2 team tersebut saling mencoba merebut bola.
Afiya menonton pertandingan tersebut. Terlihat jelas di mata Afiya bahwa Ervin sedikit bermain kasar terhadap Alvaro dalam permainan tersebut tetapi, tidak terlalu kentara di mata panitia. Sehingga mereka tidak melihat adanya pelanggaran.
Beberapa menit berlalu dan hasil babak pertama adalah team Alvaro memimpin dengan skors 7:5.
Team Ervin ketinggalan 2 poin dari team Alvaro.
"PRIIIT..." Peluit tanda istrahat sesi 1 berbunyi.
Masing - Masing team berbalik ke tempat istrahat mereka.
Sedangkan Ervin menghampiri Afiya dan dengan sigap Afiya memberikan Ervin sebotol air yang di terima oleh Ervin, Afiya juga melapkan keringat yang bercucuran di wajah Ervin yang membuat nya bertambah tampan.
Tetapi tatapan kesal dan tajam Ervin masih belum hilang yang dia arahkan kepada Afiya. Ervin yang tadi nya sudah sangat marah karena melihat Afiya dan Alvaro saling bertatap menjadi bertambah marah dan kesal karena ketinggalan poin dari team Alvaro.
Afiya mengetahui dari ketinggalan poin Team Ervin adalah karena tidak fokus nya Ervin dan emosi yang sedang mendominasi diri nya.
Setelah selesai melapkan keringat Ervin, Afiya balas menatap Ervin yang sedari tadi menatap diri nya.
"Vin, main dengan benar dan jangan bermain dengan kasar. Lupain emosi yang lagi mendominasi kamu sekarang" Afiya berusaha berbicara baik - baik.
"Cih. kenapa ? Kamu takut Alvaro kamu itu terluka ?" Ervin hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Afiya
"Vin, aku mohon jangan kayak gini. Sekarang kamu terlalu kekanak - kanakan." Afiya masih berusaha bersabar.
"Kekanakan ? Kamu bilang aku kekanakan ? Siapa yang nggak cemburu lihat pacarnya bertatapan dengan cowo lain." Ervin menaikan satu oktaf suara nya.
"Vin kita itu cuman tatapan aja, kita nggak bersentuhan seperti memeluk atau berciuman. Kamu itu sekarang jadi possesive banget." Afiya sudah mulai tersulut emosi .
"Kamu bilang aku possesive ? Aku itu cuman ngelindungin apa yang jadi milik aku sebelum orang lain mengambil nya dari aku !" Bentak Ervin
Ervin menjadi bertambah marah mendengar perkataan Afiya yang bilang pada nya bahwa ia sangat possesive.
Miya yang berada di dekat Afiya melihat Afiya dan Ervin berkelahi hanya diam tidak berniat menghentikan pertengkaran pasangan tersebut.
Sedangkan beberapa siswa dan siswi juga ikut berbisik - bisik melihat pasangan tersebut berkelahi.
"PRIIIT..." Afiya baru ingin membuka suara tetapi peluit sudah berbunyi. Bertanda bahwa babak ke 2 segera di mulai.
Ervin langsung berbalik masuk ke dalam lapangan meninggalkan Afiya. Mereka belum menyelesaikan masalah mereka. Tetapi, malah memperburuk nya.
Ervin semakin tidak fokus bermain basket . Team Ervin semakin ketinggalan dengan poin 10:7. Afiya yang melihat nya jujur menjadi sangat khawitir. Bukan khawir atas kekalahan tetapi, karena permainan kasar Ervin yang semakin menjadi - jadi yang akan memunculkan masalah.
"Miya, kita kayaknya bakalan kalah deh. Ervin juga main nya jadi tambah kasar" Lirih Afiya khawatir
"Lo sih buat masalah sama Ervin, udah tauh dia lagi lomba butuh semangat dari pacar nya. Malah berantem." sahut Miya kesal
"Jadi gue harus gimana ?" tanya Afiya bingung
"Baikan sana sama Ervin supaya dia bisa fokus main basket. Masa team sekolah kita kalah. Nggak mutuh banget. Ah payah" Protes Miya kesal
'Afiya fikir ayo fikir, pasti ada cara buat dia tenang. Ayo fikir fikir...' Afiya terus berusaha memikirkan cara membuat Ervin tenang.
"PRIIIT..." Peluit istrahat sesi 2 telah berbunyi sedangkan Afiya semakin gusar memikirkan cara menenangkan Ervin.
Ervin tidak menghampiri Afiya, Ervin langsung menuju ke team nya membicarakan strategi untuk babak selanjut nya.
Afiya hanya menghembuskan nafas nya melihat Ervin tidak menghampiri nya. Bagaimana caranya Afiya akan menenangkan Ervin jika, Ervin menghindari Afiya. Dengan terpaksa Afiya yang menghampiri Ervin
"Ervin, lo lagi ada masalah ya sama Afiya ? Lo nggak jadi fokus gini main basket nya ?" tanya Dirga di sela - sela diskusi mereka
"Iya. Lo kayak nya lagi ada masalah sama Afiya. lo juga main kasar ama Alvaro ketua team basket lawan kita. Untung nggak ketahuan bisa di diskualifikasi lo" sambung Bayu membenarkan ucapan Dirga
"Nggak gue nggak main kasar. Kalian aja yang nyimpulin nya gitu." balas Ervin ketus
"Lo benaran ada masalah deh. Baikan dulu sana sama Afiya" Bayu memberikan saran
"Ervin" panggil Afiya. Yang ternyata sudah di belakang Ervin
Ervin yang mendengar panggilan Afiya membalik kan badan nya menatap Afiya.
"Kita perlu bicara" sahut Afiya
"Nanti aja, aku lagi sibuk" Ervin tidak menatap Afiya
"Ervin, bener deh lo harus bicara dulu sama Afiya" Dirga menepuk bahu Ervin
"Iya. Selesain dulu masalah kalian. Yaudah kita tinggal dulu" Bayu ikut menimpali lalu berjalan pergi bersama Dirga dan yang lain nya
"Kamu mau ngomong apa ?" tanya Ervin to the point setelah Dirga dan Bayu pergi
"Vin, aku minta maaf soal yang tadi" Afiya berusaha menatap Ervin
"Yang mana ? Yang kamu belain dia? Alvaro itu" tanya Ervin sinis
"Aku nggak belain dia. Kamu aja yang nyimpulin nya kaya gitu" Bela Afiya menjelaskan sambil menggelengkan kepala nya
"Terus kalo nggak belain dia. Jadi apa ? Kamu minta maaf karena apa?" tuntut Ervin
"Aku cuma nggak mau kalo nanti dalam lomba ada yang terluka. Cuma itu doang." Afiya masih mencoba tanpa adanya emosi. Afiya sudah memikirkan bahwa Ervin harus di tenangkan dengan kelembutan
"Yaudah. Aku nggak bakalan main kasar. Udahkan ? Pergi sana aku mau diskusi dulu" usir Ervin dingin
"Vin, aku benaran minta maaf" Afiya masih berusaha membujuk Ervin
'Meski gue nggak tau atas dasar apa gue minta maaf.' sambung Afiya dalam hati nya
"Hm"Gumam Ervin. Afiya yang mendengar jawaban Ervin menghembuskan nafas nya.
'Masih juga marah. Seharus nya kan gue yang marah. Udah gue yang minta maaf masih aja marah. Terpaksa pake plan b' Pikir Afiya kesal
Afiya dengan keberanian nya menggengam tangan Ervin lalu mengusap - usap punggung tangan Ervin.
Ervin sempat kaget atas apa yang di lakukan oleh Afiya tetapi, Ervin tidak menolak nya. Ervin menyukai nya.
Afiya memberikan ketenangan pada Ervin yang memang sedang di butuhkan oleh Ervin sendiri.
"Vin, aku beneran minta maaf. Aku nggak akan buat kamu marah lagi, Jadi berhenti marah." lirih Afiya
Ervin yang di perlakukan seperti itu mulai melunak. Ervin langsung memeluk Afiya, Meletakan kepala nya di lekukan leher Afiya mencium Aroma Afiya yang sangat di sukai nya.
Afiya tidak menyangka bahwa Ervin akan memeluk nya di depan banyak orang.
Sedangkan siswa-siswi yang melihat adegan tersebut bersorak - sorak. Ada juga beberapa fans Ervin yang marah. Juga beberapa guru yang melihat hal tersebut tercengang atas apa yang di lakukan oleh Ervin.
Alvaro juga melihat Ervin memeluk Afiya dari jauh dan Alvaro cukup tercengang karena, Afiya mampu menenangkan seorang Ervin yang terkenal dengan kesan dingin dan tak tersentuh.
Alvaro kini menjadi sangat penasaran dengan hubungan Afiya dan Ervin. Juga bagaimana seorang Afiya mampu menenangkan Ervin.
Sedangkan Ervin masih belum melepaskan pelukan nya.
Afiya dengan terpaksa membalas pelukan Ervin lalu menepuk punggung Ervin.Dengan tujuan Ervin bertambah tenang dan melupakan emosi nya.
'Dasar Modus' Pikir Afiya
"Aku juga minta maaf sama kamu, karena tadi udah bentak kamu. Aku sayang sama Fiya" ucap Ervin
"Iya. Kamu nggak marah lagi kan ?" Ervin yang mendengar pertanyaan Afiya langsung mengangguk mengiyakan
"Kamu juga jangan liat - liat Alvaro lagi, aku kan cemburu. Cukup liat aku aja Alvaro itu cuma masa lalu kamu, kamu kan udah nggak suka sama dia lagi" Ucap Ervin dan Afiya hanya mengiyakan
'Dasar sok tauh. Labil. Cuma dia aja yang mau di perhatiin. Tapi nggak pernah perhatiin perasaan gue' Pikir Afiya Kesal.
"Udah kan ? Ervin lepasin, nggak enak di liatin orang. Bentar lagi waktu istrahat habis." bujuk Afiya. Lama - lama Afiya menjadi risih di tatap oleh siswa-siswi dan juga beberapa guru.
Dibilangin kan kalo Ervin itu nggak tau tempat. Raja Modus
"Bentar lagi. Aku masih kangen" ucap Ervin manja. Afiya hanya memutar matanya malas.
"Tapi, waktu nya udah mau habis. Nggak enak juga di liatin orang, Vin."
Ervin menghembuskan nafas nya lalu mencium pipi Afiya barulah melepaskan pelukan nya.
"PRIIT..."Peluit berbunyi bertanda bahwa waktu istrahat telah berakhir.Sesi 3 akan segera di mulai. Sesi 3 akan menjadi penentuan pemenang.
Team Ervin dan Team Alvaro segera masuk kedalam lapangan dan memulai kembali pertandingan.
Team Ervin mulai mengejar poin ketinggalan nya. Hingga taklama mereka bertanding selama 30 menit dan berakhir dengan kemenangan di peroleh oleh Team basket Ervin. SMA Cahaya di nyatakan menang.
Semua murid - murid juga guru - guru dari SMA Cahaya bersorak senang atas kemenangan yang di peroleh.
Lomba berakhir dengan Team Ervin dan Team Alvaro saling berjabat tangan.
Saat Ervin dan Alvaro berjabat tangan tiba - tiba Alvaro memulai membuka pembicaraan dengan Ervin setelah mereka melepas jabat tangan.
"Selamat atas kemenangan lo" Ervin hanya mengangguk cuek lalu beralih pergi.