St Mark's square

861 Kata
Andine turun dari sepedanya, setelah sampai di sana mata Andine langsung berbinar-binar, Ardhan meletakkan sepedanya di dekat bangunan sana. Andine dengan tak sabar langsung menyambar tangan Ardhan. Andine berlarian kecil, Ardhan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Andine. "Sayang pelan-pelan nanti kamu jatuh," peringat Ardhan. Andine tidak peduli, ia mendekati merpati-merpati yang tengah bertengger di hadapannya, lalu Andine berjongkok tepat di sana,"Hello nama aku Andine Felya, kamu tau aku menjadi orang yang sangat menderita sekarang, tapi dengan menderita ini aku bisa bahagia." Ardhan hanya mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, kemudian tawa Andine pecah,"Aku nikah sama dia," bisin Andine. "Dia tampan-kan? Tapi apa kau tau kalau dia masih kekanak-kanakkan?" Ardhan menggelengkan kepalanya. Ardhan terkekeh,"Andine kamu ngomong sama burung, sakit?" Ledek Ardhan. Andine tak mendengarkan, Andine malah mencibir seraya memutar bola matanya malas,"Dia juga sering menghina aku, katanya aku datar! Kalau aku sejelek itu dia pasti gak akan mau kan? Pasti dia bohong?!" Ucap Andine pada merpati depannya, Ardhan hanya diam dengan senyum manisnya. Ia bahagia melihat Andine bahagia. Begitu menyenangkan bisa melihat orang yang kita sayangi bahagia karena kita dan bersama kita. Ardhan langsung mengeluarkan ponselnya, satu jepretan berhasil ia ambil diam-diam dari Andine, namun Andine sadar akan itu.  Andie langsung melotot, tangannya bergerak hendak merampas ponsel Ardhan, namun Ardhan mengelek sehingga Andine tak bisa merebutnya. "Hapus Dan jelek!" Gerutu Andine, Ardhan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri seraya menanyunkan bibirnya. "Oh no no no, ini cantik," tolak Ardhan mentah-mentah. Andine langsung melipatkan kedua tangannya di atas d**a,"Aku ngambek." Andine berbalik dan hendak pergi, namun karena tali sepatu Andine yang terlepas membuatnya menjadi tergelincir jatuh, awalnya Ardhan tertawa keras dulu, setelah melihat Andine meringis kesakitan ia menkadi berinisiatif untuk membantu Andine. Ardhan berjongkok di depan Andine, laki-laki tersebut langsung mengikatkan tali sepatu Andine yang terlepas,"Jangan ceroboh napa Din," celetuk Ardhan, sedangkan Andine hanya memasang wajah kesalnya. Mata Ardhan terfokus pada luka di lutut Andine, mana Andine memakaikan celana pendek di atas lutut, Ardhan langsung menghapus darah segar yang mengalir sedikit dari sana, kemudian menciumnya. Andine sontak kaget, ia sedikit malu pada para turis yang sudah memperhatokan mereka. "Ardhan ngapain sih!" Ardhan tidak menjawab, ia membungkukkan badannya,"Naik Din," perintah Ardhan. Andine menggeleng,"Enggak ah!" "Andine," perintah Ardhan sekali lagi, dengan tangannya yang sudah menepuk-nepuk pundaknya yang siap untuk di mengangkut tubuh Andine yang kurus Sedikit ragu, Andine akhirnya melingkarkan tangannya di leher Ardhan, diam-diam Andine mengukir senyum manisnya,"Dan gue berat gak?" Ardhan berjalan menyusuri ST Mark's Square,"Gak kok, kan badan kamu kek kertas, angin aja kuat buat kamu melayang." Tangan Andine langsung memboges kepala Ardhan, sehingga Ardhan meringis kesakitan,"Ih bukan angin yang bisa membuat aku melayang, tapi gombalan receh kamu," bantah Andine. Ardhan mengukir senyum jelasnya,"Minga di goda? Hem?" Sontak Andine mencubit punggung Ardhan,"Apaan sih!" Decak Andine sebal. Ardhan tidak ingin menghilangkan moment ini, ia langsung mengeluarkan ponselnya kemudian merekam vidio dirinya yang tengah menggendong Andine. "Hello aku lagi gendongin anak gajah," sapa Ardhan pada kamera-nya. "Ih bukannya kamu bilang aku kertas," celetuk Andine. "Oh iya, aku lagi gendongin kertas, dia manja banget tau gak? Suka marah-marah gak jelas, kalau di gombalin ngoceh-ngoceh, padahal hatinya udah denyat-denyut melebihi getaran jantung semestinya di sana, kalau aku berpaling sedikit saja, pasti dia udah semunyiin rona merah dan senyumnya karena tersipu," jelas Ardhan panjang lebar, yang di katakan hanya membulatkan bibir mungilnya. "Dia manja juga, tapi aku sayang. Dia ratu di hati aku dan enggak ada satupun yang bisa mengambil alih singgasananya di sana, dia jelek tapi secantik apapun orang di luar sana dia tetap satu-satunya yang aku pilih, dia pemarah tapi itu kelebihan dia yang tersisa." Andine tak tahan lagi,"Gak aku gak jelek, aku aja pernah jadi rebutan anak sekolah dulu," bela Andine terhadap dirinya. Ardhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. "Ardhan itu suka jahil, mau di mana aja pasti ada aja jahilnya, dia juga sering bikin aku kaget sama kelakuan dia, kayak honeymoon gini nih, ini kejutan dari dia, naik sepeda ke sini yang bahkan aku gak tau," Andine berujar. "Dia emang ganteng, tapi kepinteran dia sangat minim karena kadang dia sering gak nyambung kalau aku lagi mgomong," keluh Andine. Ardhan menaikkan sebelah alisnya,"Bukan kepinteran aku yang minim, tapi kecantikan kamu yang maksimal sampai aku sering gagal buat fokus." "Nah ini! Dia sering gombal receh ke aku, seneng sih dapet gombalan dari suami, tapi kalau tiap hari kan jadi enek," protes Andine. "Udah ah, yuk kita foto," ajak Ardhan. Ia menurunkan Andine, keduanyapun langsung mengambil pose untuk berfoto. Pertama Andine dengan posisi tersenyum dan dua jarinya membentuk huruf V, sedangkan Ardhan memasang wajahnya yang di jelek-jelekkan walaupun hasilnya dia bakaln tetal ganteng. Di foto kedua, Ardhan mengalungkan tangan kanannya di leher Andine, satu tangan lagi memegang ponsel, dan posisi Andine memeluk Ardhan seraya membenamkan kepalanya di d**a bidang Ardhan. Sampai mereka berganti pose berulang kali, walaupun terdapat gaya yang sama. "Banyak amat Dan potonya," tutur Andine. Ardhan tersenyum kecil,"Poto adalah salah satu keabadian setelah pengingatan," jawab Ardhan spontan. "Keabadian memori itu hanya ada di dalam kepala dan Hati Dan." Ardhan mengangguk,"Iya tapi gak bakal bisa di putar untuk menjadikannya suatu ungkapan nyata, beda sama foto, walaupun suatu saat nanti orang yang di dalam foto tersebut menghilang, dia bisa memeluk dan memperhatikan wajahnya sesukanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN