MANTAN ARDHAN

702 Kata
Ardhan menggeret kursi restoran mewah tersebut, lalu dengan sopannya menyuruh sang Ratu hatinya untuk duduk. Senyum Ardhan merekah lebar, bagaimana tidak. Pemandangan yang paling indah bagi Ardhan hanyalah tawa yang terukir pada bibir Andine. Ardhan mengambil posisi untuk duduk tepat di depan Andine, mata Andine hampir saja berair saat ini, ia tidak tau mau mengatakan apalagi. Ardhan adalah laki-laki yang bisanya cuma buat masalah dahulu di SMA, tapi sekarang Ardhan adalah salah satu penyebab bagaimana air matanya jatuh karena terharu. Tidak ada yang mengganggu mereka berdua makan, di Rofftop restoran. Di sana Andine dapat menyaksikan betapa indahnya Venice, Venice adalah impian Andine setelah London. Andine menyeka air matanya yang sedikit lagi pecah, baru saja Ardhan hendak duduk. Andine langsung berlari kecil dan memeluk erat tubuh laki-laki tersebut. "Thanks baby, love you," mendengarkan kalimat yang terlontar dari bibir Andine, Ardhan mengangguk lalu membalas pelukkannya. Ardhan mengusap pelan rambut Andine, kemudian menepuk pundaknya pelan. "Aku tau aku ganteng, tapi peluknya jangan lama banget sayang, lapar nih," akhirnya Andine melepaskan pelukkannya dengan rasa kesal. Baru saja Andine ingin merasakan hawa romantis, tapi narsisnya Ardhan membuat ia malah mencibir, bahwa sikap pecicilan Ardhan tidak bisa berubah. Ardhan menyengir, ia langsung duduk lalu menyantap beberapa makanan yang sudah tersdia di sana begitu juga dengan Andine. Mereka makan dengan lahap, asmara seorang Andine dan Ardhan tak akan lenyap, mereka adalah awalan dari abjad yang tak pernah mengenal akhir, mereka adalah dua insan yang sengaja di pertemukan untuk saling mencintai, di sakitin untuk saling menguatkan, di pisahkan untuk saling mencari dan di satukan kembali untuk saling melindungi, mereka Ardhan dan Andine. Andine menatap awan biru dengan bahagia,"Hari ini adalah hari terakhir kota di Venice," mata Andine terbelalak. Ardhan mengulum senyumnya, ia kemudian langsung megeluarkan dua tiket dari sakunya,"Besok kita lanjut liburan ke London!" Oke, mulut Andine langsung terbuka lebar, Ardhan memang petakilan tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Andine tidak bisa mengukur rasa bahagianya, ini lebih dari sekedar kata itu, bahagia Andine yang utuh adalah Ardhan. Selama Ardhan ada selama itulah Andine merasakan kebahagiaannya. Ia tak ingin kehilangan Ardhan lagi, ia tidak tau bagaimana caranya tertawa jika Ardhan tiada, ia bahkan akan lupa bagaimana caranua bernapas. Cinta menguatkan mereka untuk menjadi dua insan yang saling membutuhkan. "Kenapa gak bisa sih Dan?" Tanya Andine dengan ekspressi kagetnya. Ardhan mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman,"Gak jadi kejutan dong nanti?" Andine menghapus air matanya,"Dan, gue ...," Andine langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya, air matanya sudah berjatuhan saat ini. Ardhan langsung cemas, ia mengulurkan tangannya lalu mengelus pipi Andine lembut,"Hei? Kenapa sayang? Kamu gak seneng?" Andine menggeleng,"Makasih." Ia membuka matanya, tatapannya jatuh pada iris Ardhan. "Jangan pernah berhenti buat jatuh cinta sama aku yah?" Pinta Ardhan kepada Andine. Andine mengangguk mantap,"Justru kamu adalah orang yang bikin aku gak tau gimana caranya ngehilangin kamu dari hati aku." Ardhan bahagia,"Aku mau salju pertama di London bisa kita nikmatin berdua." Andine mengiyakan,"Aku pengen juga gitu Dan, aku pengen kita main salju bareng, pergi ke puncak, kemah pokoknya aku pengen semuanya Dan!" Pekik Andine histeris. Ardhan mengangguk,"Iya Din, makanya kamu makan yang banyak, biar gemuk hahaha," Ardhan meledek sehingga wajah Andine langsung berubah menjadi cemberut. Andine lagsung melipatkan kedua tangannya,"Ardhan jangan gitu ah," protes Andine tidak terima dengan ledekkan Ardhan. "Makanya gemukkin, tubuh kayak triplek gitu, tar orang nyangkanya gue bawa layang-layangagi Din," tawa Ardhan pecah. Dengan sigap Andine langsung mencubit kuat pipi kanan Ardhan,"Aww sakit Andine," ringis Ardhan, kemudian tangannya langsung mengusap pipi mulusnya yang sekarang sudah semerah tomat akibat cubitan dari Andine. "Syukurin!" Andine langsung memeletkan lidahnya. "Andine kalau main sinetron di indonesiar cocok yah, judulnya 'Aku yang telah menyiksa suami gantengku' hahaha." "Ardhan ngeselin ah!" Gadis itu menggerutu karena bertambah kesal. Andine langsung berdiri,"Dah ah aku mau pulang duluan!" Andine melangkah pergi, dengan sigap tangan Ardhan langsung meraih lengan Andine, Ardhan memeluk tubuh Andine erat,"Jangan pergi, karena kamu adalah tuan di mana aku harus kembali, kalau kamu pergi maka aku gak bakal punya rumah lagi," pinta Ardhan. Prankk!!! Keduanya langsung melihat ke asal suara dan sontak melepaskan pelukkan mereka. "Ma ... maaf," gadis itu langsung memungut serpihan kaca yang berhamburan karena kecerobohannya. Ardhan mendekati gadis tersebut untuk membantunya, sedangkan Andine hanya berdiri untuk melihat mereka dari jauh. "Rena?" Ardhan membelalakkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN