Dan, benar saja, dengan pancingan kaleng sarden bekas sambil pura-pura lari kencang, menimbulkan suara derapan, si perampok melesatkan tembakan demi tembakan ke arah ruangan kosong. Dyar! Dyar! Dyar! Tombak rompal karena shotgun si perampok. Suara tembakan itu sangat keras sampai terdengar lima puluh meter jauhnya. Kavin, yang memanfaatkan kesempatan itu, naik ke dinding atas kamar mandi, loncat jauh agar bisa memukul kepala perampok tersebut dengan pinggiran telapak tangannya. Ptak! Perampok itu tidak langsung tumbang. Kavin meneguk ludah, dia bisa terbunuh dalam hitungan detik. Tembakan si perampok makin acak-acakan karena dia menderita rasa sakit di leher kiri. Usai menenangkan semua warga sipil, mereka meminta manager dan penjaga resto duduk menenangkan diri di ruang dapur. S

