Hari kelulusan tiba, tidak ada yang mengambil ijazah Zelin sehingga orang tua Dika yang menjadi wakil walinya. Selama acara baik Dika maupun Zelin tidak ada yang memulai pembicaraan. Setelah acara usai Dika meminta ke orang tuanya untuk memberi waktu mereka berdua untuk pulang secara terpisah.
Di kedai es krim depan sekolah, "Kalau ngga ada yang mau diobrolin, aku mau pulang" Ucap Zelin dingin
"Zelin, tentang obrolan dengan Rose yang waktu itu timingnya lagi pas aja, aku ngga ada pikiran buat ngelakuin itu.. Aku minta maaf" Ucap Dika dengan nada hati hati
"Aku udah lama maafin kalian.. Ini juga bukan kesalahan pertama, kenapa kamu bersikap kaku? Bersikap pura-pura ngga bersalah aja seperti waktu itu"
Grep, Dika memegang erat lengan Zelin, "Setelah aku ngelaporin kamu ke wali kelas, menurut kamu aku ngga merasa bersalah? Tiap ketemu aku juga gelisah.. Tapi liat perubahan kamu sekarang! Kamu jadi mandiri, kuat dan tegar! Sifat manja kamu perlahan menghilang"
Zelin mengibaskan lengan Dika yang memegangnya, "Makasih banyak udah membuat aku jadi orang yang mandiri, kuat dan tangguh, ok? Puas? Setelah hari ini semoga ngga ada hari lain untuk kita bertemu"
"Zelin, kamu boleh pacaran sama laki laki lain, tapi ngga untuk kak Alan"
"Dari dulu kamu terobsesi terus sama kak Alan.. Kalau kamu iri, harusnya kamu berusaha untuk bisa menyamai setengah kemampuan dia, bukan malah memusuhi.. Aku sengaja mengganti sim card untuk menjauhinya demi kamu, Dika.. Tapi kamu terus terusan memusuhiku.. Inferiormu itu udah cukup keterlaluan, Dika "
Zelin meninggalkan Dika sendiri setelah membayar es krim yang dimakannya sekaligus membayar milik Dika juga.
"Aku yang traktir, anggap sebagai salam perpisahan"
Aku ngga bisa nyalahin Dika ketika yang dia ucapkan benar semua, tapi aku sendiri juga merasa ngga bisa untuk menjalin hubungan yang sama seperti sebelum kejadian saat itu..
**
"Heh, Zelin? Kenapa bisa ada di sini? Kamu ngikutin aku juga?" Tanya Angel diluar dugaan ia satu sekolah dengan Zelin tapi beda kelas
"Gila kali yah, ngapain juga aku mbuntuti kamu.. Sekolah yang setara dengan Heaven school cuma sekolah ini, aku sekolah di sini karena sekarang aku jatuh miskin" Seloroh Zelin
"Di sini ngga seambisi siswa Heaven, mari nikmati masa muda kita" Kata Angel
"Tapi karena kita jadi siswa biasa usahain jangan pake sesuatu yang bermerk, trus kalo ada yang berani buli kamu, laporin ke aku.. Cowok ku penguasa di kelas VII" Ucap Anggel lagi dengan menyeringai
Ngga heran sih apa tipe cowok yang disukai Anggel, haha.. Rasanya sedikit merasa aman karena ternyata bisa satu sekolah sama Anggel..
"Pas acara perpisahan aku lihat kamu ngobrol berdua sama Dika, endingnya gimana? Kamu lempar es krim ke muka Dika?"
"Heh? Emang sinetron.. Ngga mungkinlah aku kan bukan cewek barbar" Zelin terkikik mendengar celoteh Angel
"Bagus, kamu sekolah di sini.. Aku bisa bantu cari cowok yang ngga kalah cakep dari Dika, cepet move on, ok? Tapi kalau secakep kak Alan, akan sulit.. Tolong rendahkan standarnya" Ucap Angel lagi
"Kapan aku bilang suka kak Alan? Dia itu wujud ngga nyata manusia, aku suka yang sangat biasa tapi hangat orangnya.. Hmmm? Gimana bisa cariin?"
"Siap.. Aku cariin nanti, cowok terbaik"
Tapi setelah ketiga kalinya Zelin kenalan dengan cowok yang Angel kenalin, tidak ada satupun yang menyukai Zelin. Ketiganya setelah acara perkenalan esoknya pasti menghindar atau pura-pura ngga terjadi apa-apa.
"Dih, sayang! Kamu kok kenalin cowo pengecut semua ke Zelin?" Omel Angel ke pacarnya dengan raut kesal
"Kayaknya aku jauh dari standar mereka, haha.. Udah deh, aku fokus belajar aja, lagian aku yang kena tolak kenapa kamu marah ke Reino? Dia udah berlutut lama dari tadi, kasian.. Sini duduk Ren, minum es tehnya"
"Zelin terbaik.. Aku bakal berusaha cari cowok jentel buat kamu, makasih es nya" kata Reino
"Mata mereka pada kemana, nolak cewek berbie kaya Zelin.. Awas aja kalau ketemu, aku pites mereka"
Zelin tidak berhenti tertawa melihat Angel yang sedang kesal, "Anak lain yang liat, mereka bakal ngira kalau kamu premannya bukan Reino.. Udah stop cariin cowok, oke?"
"Tapi kita jadi ngga bisa couple date, huwee" rengek Angel dan Reino hanya menepuk bahu pacarnya tersebut
***
"Ada cowok cakep di depan gerbang"
"Seragamnya dari Heaven school gila"
"Mau jemput siapa kira kira" bisik bisik siswa
Angel berlari kencang saat melihat laki-laki yang berdiri di depan gerbang, ia tanpa basa basi mendorongnya dengan keras. "Ngapain disini? Jangan ganggu Zelin"
Dika menatap dengan tatapan kosong, "Tante Amel, mama Zelin.. Meninggal"
"Loh, Dika? Ngapain di sini?" Tanya Zelin yang sudah berdiri di belakang
"Dika nangis? Angel kamu mukul Dika? Loh, Angel juga nangis.. Kalian saling pukul yah"
Angel memeluk Zelin dan membisikkan sesuatu, "Ngga papa Angel, aku udah nyiapin diri jauh jauh hari buat dengerin berita ini.. Aku udah sering bayangin harus bersikap kaya gimana, tapi ternyata aku.. Aku sekarang menunjukkan reaksi ngga bisa nahan air mata ku.." Zelin tidak dapat membendung air matanya
Setelah melalui semua proses penguburan, para peziarah mulai meninggalkan kuburan. Sedangkan Zelin dan ayahnya masih berdiri dengan tatapan kosong.
Sekarang hanya kita berdua, sudah cukup mama menahan segala rasa sakit, suntikan demi suntikan yang menusuki kulit rapuhnya udah ngga mama rasakan lagi, dengan segala kesabaran mama menahan penyakit pasti di sana mama mendapatkan perlakuan yang sangat baik, sekarang Zelin yang bertugas mengganti posisi mama menguatkan ayah..
"Zelin, mari pulang" Ajak ayah Zelin
Beberapa saat setelah Zelin pergi, Alan memasuki tanah pekuburan dengan bunga ditangannya. "Masakan tante sangat enak, terima kasih udah kasih kesempatan untuk menikmatinya. Sekarang Tenang lah disana, aku yang akan menjaga Zelin"
***
Zelin melebarkan kedua kelopak matanya, seakan tidak percaya dengan seseorang yang sedang berdiri di depannya sekarang. "Kenapa kak Alan ada di sini?" Tanya Zelin terkejut, karena ia tidak memberitahukan kalau ibunya meninggal dan sudah sejak lama ia pindah rumah.
"Zelin, aku sedih kamu ngga pernah kasih kabar padaku.. Kamu bahkan mengganti nomor tanpa pemberitahuan terlebih dahulu"
"Kak Alan kenapa sudah setinggi ini? Aktor menangis nih, liat fisik sempurna kakak"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Zelin belum kasih jawaban kenapa menjauhi aku"
"Aku cuma mau hidup bebas ngga dibawah bayang bayang kak Alan.. Ini murni bukan karena Zelin membenci kakak, tapi karena Zelin benci diri Zelin sendiri. Zelin mau temenan sama kakak karena Zelin pikir akan baik berteman sama anak bos tempat paman bekerja. Karena sekarang Dika ngga mau temenan sama kakak, jadi udah ngga ada alasan aku berteman dengan kakak"
"Bukankah kamu terlalu jujur, Zelin.." Alan perlahan berjalan mendekat dan Zelin melangkah mundur sampai terpept tembok. Ia menahan nafas karena hidung mereka beradu memperebutkan oksigen.
Aroma parfum kak Alan buat aku sesak.. Bisik Zelin, kepalanya menoleh ke kiri mencari udara lain
Terlalu sulit dapetinnya, kalau saja dia menyukai barang bermerk, perhiasan atau uang..
Alan mencium punggung tangan Zelin, "Turut berduka cita untuk tante, dia orang baik pasti akan bahagia di sana.. Aku udah cukup liat kamu, rasanya perjuangan mendapat nilai tertinggi sebagai hadiah pulang ketemu kamu sangat sepadan.. Dua tahun lagi aku lulus kuliah dan pulang, tunggu aku sampai saat itu "
Zelin bengong sejenak setelah kepergian Alan, ia tidak percaya Alan tidak memutuskan pertemanan setelah ucapan jujurnya.