Bab 14

1137 Kata
Dua tahun kemudian Alan lulus kuliah sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi satu angkatan wisuda. Menyelesaikan Smp, Sma, kuliah masing masing hanya dalam jangka enam tahun, ia mendapat penghargaan manusia jenius dari yayasan sekolahnya. "Masih mikirin gadis kecil itu, ck" "Kakek, setiap orang punya motivasi untuk kelangsungan hidupnya.. Dan bagiku gadis kecil itu yang buat aku semakin semangat mengejar karir, pada akhirnya kakek juga kan yang diuntungkan" "Alan, kamu serius dengan ucapan barusan? Teman kakek banyak yang miliki cucu lebih cantik dan keluarga berada, itu lebih menguntungkan perusahaan" "Kakek.. Berjanji lah jangan ikut campur urusan pribadi ku.. Satu bulan dari sekarang aku akan masuk perusahaan, atau kakek bisa ganti calon pewaris lain dari sekarang" "Baiklah terserah kamu, kakek hanya memberi saran, tapi gadis itu keliatan ngga menyukai kamu.. Apa itu sebabnya kamu merasa harga diri kamu terinjak? Dia nolak kamu?" "Saya akhiri pembicaraan, kakek.. Masih ada waktu buat saya untuk bermain main kan?" Alan pergi keluar dari kamar Direktur dengan raut kesal, berulang kali ia menghela nafas Aku lelah, ngga pernah ada waktu untuk diriku sendiri.. Enam tahun belajar, belajar dan belajar sampai muak.. Intan yang baru pulang dari Jepang langsung berlari ke kamar Alan. Ia tidak sabar untuk memukul habis muka Alan, yang membuatnya sekolah di tempat asing. Kesulitan bahasa, tidak ada kenalan dan tekanan ayahnya untuk melampaui Alan. T*i, An... G dan umpatan lain memenuhi pikiran Intan. Perlahan melangkah masuk ke dalam dan terlihat ruangan lain terbuka jadi seperti ruangan dalam ruangan. Ini beneran kamar Alan, kan?.. Seharusnya aku ngga masuk ke dalam.. Intan bergidik melihat isi kamar tersebut, pemilik kamar itu seperti terkena amnesia. Seluruh dindingnya dipenuhi dengan foto dan catatan kenangan tentang seseorang.. Seperti tengah merencanakan sesuatu yang jahat.. Obsesi terhadap nama Zelin! Hah! Intan menjerit dalam batin, mulutnya yang menganga ia tutup dengan tangannya sendiri untuk meredam suara yang keluar. "Ah, aku lupa menguncinya.. Ada tikus yang menginginkan hukuman lagi" Sial, padahal aku cuma mau menghajarnya sedikit, tapi malah liat rahasia yang ngga seharusnya aku lihat.. Rutuk Intan dalam hati menyesali kecerobohannya lagi "Laki laki ngga boleh mukul wanita bukan? Dan aku udah di kirim ke jepang karena kamu juga, anggap aja kita impas, ok? Aku akan tutup mata dengan semuanya" "Siapa yang akan memukul mu?" "Z.. Zelin.. Udah punya tunangan" balas Intan dengan gugup "Aku tahu, tapi aku ngga peduli dengan etika pertunangan" Anak ini, aku sudah mengiranya dia gila.. "Apa kamu orang yang ngga memiliki etika?" "Intuisi moralku sudah hilang sejak kecil, aku ngga bisa terlalu bersimpati terlalu dalam pada perasaan orang orang, bukankah kakek sering mengajarkan kalau kita tidak boleh melepaskan sesuatu sampai mendapatkannya" Haduh kenapa dia melangkah semakin dekat, wajah datarnya lebih menyeramkan dari para hantu di film.. huwee.. "Kamu di Jerman hanya enam tahun, aku masih harus kuliah 4 tahun lagi dan kalau ditotal jadi 9 tahun.. Sudah cukup kan hukumannya buatku" "Yang mutusin cukup engganya itu aku, sekarang keluar dari sini" Alan menarik Intan "Hiiy.. Aku juga mau keluar kalau wajahmu ngga seseram itu, dasar psikopat!" Intan langsung lari sejauh mungkin dari kamar Alan Dia gila! Bisa bisanya nyimpen foto sebanyak itu di kamar.. Apa aku laporin ke polisi? Tapi nanti kakek bakal marah cucu kesayangan kena masalah.. Hmmm? Pilihan terbaik adalah langsung ngomong ke korbannya, tapi aku ngga tau nomer hp nya dan rumahnya juga.. Kemudian Intan mencoba menghubungi beberapa teman yang sekolah di Heaven school dan semuanya bilang tidak tahu. "Kayanya siswa yang dulu temenan sama kak Alan ngga lanjut di Heaven deh, tan.. Iya aku inget dulu ada siswa imut yang buntuti kak Alan, dia ngga sekolah di Heaven sekarang" "Hey, bentar jangan ditutup dulu.. Kalau nomor Dika? Temen si ceweknya tau kan?" "Dika? Ngga mau ah minta nomer ke dia, Dika sering banget buat masalah di sekolah, aku ngga mau berurusan sama siswa bermasalah" "Yang bener aja.. Dika yang itu ngga mungkin anak nakal, potongan rambutnya juga rapi" "Dika di angkatanku cuma satu, tan.. Nih aku kirim fotonya, dia udah sering ketahuan ngerokok sama guru ketertiban, kemarin aja dia abis berantem sama kakak kelas" Drrt Drrt, foto yang dikirim teman Intan masuk. Wajah yang sama tapi terlihat lebih dewasa. Loh? Benar ini Dika, tapi kenapa dia jadi urakan gini? Bukannya dia harusnya sepenuh tenaga jagain tunangannya malah jadi berantakan gini? Intan hampir putus asa mencari kontak Zelin, kemudian teman lainnya tiba tiba mengirim pesan undangan pesta ulang tahun. Hmm, sebaiknya aku senang senang dulu, pasti bakal ketemu jalan keluarnya.. *** Tek, Zelin meletakkan cangkir kopi di atas meja. Saat ini ia sedang duduk berhadapan dengan Rose. Orang yang selama ini tidak ingin ditemuinya. "Kamu udah cerita semua, lalu kamu ingin aku bagaimana? Kalau dari dulu kalian cepat menjelaskannya padaku, saat aku masih sangat menyukai Dika tentu saja aku akan langsung mempercayainya. Sekarang kamu berkata jujur padaku, ngga bisa mengubah pemikiranku untuk membatalkan pertunangan.. Dari dulu hanya aku yang suka sampai buta, tapi sekarang aku udah ngga ada rasa apa-apa.. Aku ngga bisa memenuhi permintaan kamu, menemui Dika" Rose tiba-tiba berlutut pada Zelin sembari memegang tangannya, "Rose! Bangun! Banyak orang di sini! Seharusnya aku ngga nurutin permintaan untuk bertemu" "Setelah kalian putus tunangan, keadaan Dika kacau. Dia mulai merokok dan sering ketahuan guru. Beberapa kali berantem, dan sekarang dia jarang pulang.. Tolong temui Dika sekali aja, dia pasti mendengarkan mu, Zelin" Rose menangis sesenggukan Zelin mengibaskan pegangan tangan Rose, "Kamu bilang kamu mata mata bayaran kak Alan? Bukannya misi kamu udah tuntas buat aku putus hubungan sama dia? Terus tingkah konyol yang kamu lakukan sekarang ini maksudnya apa? Kamu baru merasa menyesal sekarang? Udah misahin hubungan harmonis seseorang? Tapi sekarang aku dan Dika udah ngga ada urusan, mau Dika kaya apa juga bukan tanggung jawabku.. Atau setelah menjadi mata mata kamu jadi tertarik sama Dika? Lalu kamu tertekan setelah melihat Dika frustrasi?" " Iya benar! Semua ucapanmu ngga ada yang salah! Aku menyukai Dika! Karena itu aku mohon padamu untuk menemuinya sekali dan minta dia untuk pulang " Rose dengan lantang tidak menyangkalnya Zelin langsung berdiri dari kursinya," Aku hanya ngga ngerti kenapa Dika harus membuat cara yang sulit untuk menyadarkanku, papa sibuk kerja, mama sakit sakitan, kemanjaanku saat itu hanya bentuk tingkah laku diriku untuk cari perhatian.. Aku tahu Dika merasa risih setiap aku bergelayutan padanya, baginya aku hanya beban.. Kita ngga cocok, Rose yang dewasa pasti tau gimana caranya bujuk Dika" Zelin menyunggingkan senyum, Rose terkejut melihat sosok wanita didepannya yang dulu kekanakan sekarang terlihat tenang setelah mendengar semua penjelasannya tentang Alan, bagaimana dia memanipulasi dan memberi bayaran atas pekerjaannya "Berhenti menemuiku mulai sekarang " Lanjut Zelin dan berlalu pergi Ngga ada bukti, aku ngga bisa asal menuduh.. Dika yang dewasa sekarang sedang masa pubertas yah, main kabur dari rumah segala.. Om dan tante pasti khawatir, aku ngga bisa mbujuk Dika setelah melihat wajah kecewa mereka saat hari pembatalan pertunangan.. Dika minta aku buat dewasa, dianya sendiri lebih kekanakan saat bertambahnya umur..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN