Salah Paham

2132 Kata
Hana menangis sesenggukan memeluknya, Devano belum mau membalas itu. Gerak tangannya tertahan, walau ingin sekali dia berkata begitu banyak. “Siapa kamu?” Hana mulai menengadah menunjukkan wajah basahnya. “Kak Vano enggak inget aku lagi?” “Inget, kamu kan, punya hutang 620 juta. Masa lupa?” “Kak Vano, ini aku! Han—“ “Han? Handoko?” “Kak Vano ... iiihhhh!” Hana memukul d**a Devano, dia jadi gemas sendiri. “Hansip! Han Seo Jun! Hancing!” “Hana ... Hanaaaaa!” Devano sedikit menjaga jarak beberapa detik setelah Hana tidak berhenti bergerak ketika memeluknya, sebab sekarang ada sesuatu yang berbeda. Gadisnya yang dulu begitu kecil, rambut ikal, chubby dan lucu ini telah tumbuh menjadi remaja cantik dengan postur tubuh lebih tinggi. “Tapi tetep nggak kenal, Hanaku rambutnya kriwil kayak mie selera rakyat. Tapi rambutmu ....” “Rambutku? Rambutku perawatan, dong! Kan, sekarang udah bisa dandan.” Devano baru tersenyum lebar. “Sekarang udah jadi big baby rupanya.” Hana kembali merapatkan tubuhnya memeluk Devano, betapa dia sangat merindukan orang ini selama bertahun-tahun. Setiap hari menghitung waktu, menantikan detik-detik ini datang dalam hidupnya. Sekarang semuanya terkabul, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. “Aku kangen Kak Vano, kangen banget.” Hana berkata dengan suara pelan, dia ingin menangis lagi, apalagi ketika telapak tangan Devano kembali menyentuh puncak kepalanya seperti dulu. “Katanya tadi enggak suka karena aku jahat, kok beda lagi ceritanya pas ketemu, huh?” “Enggak jadi. Aku nggak bisa marah sama Orang Ganteng ....” Hana tersenyum jail. “Nakal,” kata Devano seraya mengacak rambut Hana. Dalam pertemuan mereka yang menyenangkan, terdapat luka tidak terlihat pada hati seorang wanita di belakang Devano. Dia yang mengikutinya ke mana pun, dan menanggung risiko seberat apa pun. “Baby, kamu itu jangan sembarangan peluk orang asing! Siapa tau dia nularin virus berbahaya, gimana?!” Devano tidak terkejut ketika Hana mendadak tertarik ke belakang oleh seorang pemuda di dekat mereka. Dia tahu orang itu juga sudah menunggu sejak tadi, wajahnya yang tersembunyi di balik masker kini terlihat jelas dari bawah cahaya lampu, itu adalah Aslan Leonard Wiranaldhy. “Dia bukan orang asing, dia itu Kak Vano. Kakaknya aku.” Hana cemberut menyambut sikap Aslan yang ketus. “Sejak kapan kamu punya kakak selain aku?” “Sejak delapan tahun lalu.” Hana tersenyum lebar, lalu menggandeng tangan Devano lagi, manja. “Ganteng, ya.” “Gantengan aku ke mana-mana.” Aslan jadi bergumam tidak jelas di hadapan mereka. Tidak lama kemudian, kedua orang tua Hana datang. Devano mengernyit, wajah-wajah itu terlihat asing. Walau sebenarnya mereka pernah bertemu. “Vano? Kamu ... Devano anaknya Dokter Nayla, ‘kan?” tanya Enzy. “Tante itu—“ “Alhamdulillah, sepertinya operasimu berjalan lancar. Kamu sudah bisa melihat lagi. Apa kamu ingat tante?” “Iya, Tante Enzy. Tapi ini pertama kalinya aku bisa melihat wajah Tante, Om dan ... Damian?” Devano melihat ke arah seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 sampai 12 tahun di dekat kedua orang dewasa itu. Seingatnya, Hana pernah bercerita bahwa dia punya adik laki-laki bernama Damian. “Sudah lama sekali, aku senang kita bisa ketemu lagi.” “Ah, iya. Kau juga semakin dewasa dan tumbuh menjadi begitu tampan. Pasti banyak wanita yang mengejarmu, hmh? Apa sekarang kau sudah menikah?” Devano menggaruk rambut belakang, pertanyaan itu sangat sensitif. Tidak satu atau dua orang lagi yang bertanya saat dia sudah memasuki usia dewasa. “Kami baru berencana untuk menikah, Tante. Devano adalah tunanganku.” Sophie yang menjawab pertanyaan tersebut, lalu berdiri di tengah-tengah antara Devano dan Hana sampai pegangan Hana terlepas. “Apa?” Devano dan Hana mengernyit bersamaan. Tidak menyangka kalimat itu yang keluar dari mulut Sophie. Bahkan kalimat itu seperti benda tajam yang tiba-tiba menyayat hati Hana, dan sayangnya gadis itu belum tahu penyebab kenapa dia begitu. Apa dia cemburu? *** Hana menghela napas, sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak dia mengeluh malam ini. Frustrasi, iya. Mengetahui fakta bahwa Devano akan menikah, dia jadi tidak bisa istirahat dengan tenang. Ini bahkan lebih parah dari saat menunggu selama delapan tahun. Hana tidak suka perasaan ini, kesal dengan alasan jelas. Namun, tidak bisa terlampiaskan. Siapa dirinya di mata Devano? “Dia cuma nganggep aku adik!” Hana menghela napas lagi, sebuah bantal guling menjadi sasaran empuk pukulan kekesalannya. “Ya, pasti cuma nganggep adiklah! Umur kalian beda berapa taun? Dia udah ketuaan buat jadi pacar kamu, Han,” kata Firda di layar ponsel. Telepon mereka sudah berlangsung 20 menit, dan itu semua membahas tentang kegalauan Hana bertemu sahabat masa kecilnya. “Kak Vano enggak tua, Fir. Cuma beda 7 tahun, enggak ada yang salah, ‘kan? Mama sama papa aku aja bedanya 7 tahun. Mereka fine, fine aja tuh sampe sekarang. Aku cuma kalah start sama cewek itu. Dia cantik banget, gimana aku bisa bersaing sama dia ... aaaahhh!” Hana gemas sendiri mengingat betapa cantik dan sexy Sophie di matanya. “Bersaing? Kayak dia mau nerima kamu aja, mereka udah mau nikah. Nyerah ajalah,” kata Firda seraya tertawa renyah di atas penderitaan Hana. “Si Bagas nggak kalah ganteng dan populer, dia juga suka sama kamu. Tinggal terima aja.” “Aku mau Kak Vano.” “Ah, kalau gitu si Feri! Dia lumayanlah buat jadiin ganjelan pintu lemari ....” “Aku maunya Kak Vano ... eh? Kok, ganjelan pintu lemari sih?!” Gadis berusia 18 tahun itu tertawa lagi menanggapi kepolosan Hana. “Kak Vanomu udah mau nikah, mau digimanain lagi, Han?” “Ya, dibikin supaya mereka batal nikah!” Kedua mata Firda melotot tidak percaya. “Apa kamu gila? Kamu mau jadi bibit pelakor?!” “Mereka belum nikah, jadi sah-sah aja dong,” jawab Hana. “Pokoknya, sebelum janur kuning melengkung, aku akan bikin Kak Vano suka sama aku sebagai cewek dewasa.” “Kalau janur kuningnya udah melengkung?” “Aku bawa setrikaan biar lurus lagi!” “Emang udah pasti Kak Vanonya suka sama kamu juga?” “Ya ... enggak.” Seketika hening. Hana terdiam, lalu tertunduk lesu. Benar juga, Devano belum tentu menyukainya sebagai wanita. Mereka berteman, itu pun cukup singkat. Perhatian pemuda itu sehangat sinar matahari pagi, tapi itu tidak menentukan masa depan mereka menjadi pasangan. “Yang kamu ucapin semuanya bener, Fir,” kata Hana bernada lesu. “Ya, emang bener, ‘kan?” “Iya, bener-bener jahat! Dari tadi jawabnya jatuhin mental terus, bukannya kasih semangat, kek! Sahabat model apa kayak begini?” Hana berkata untuk mengakhiri obrolan mereka malam ini. Dia mengempas tubuhnya ke kasur, menatap ke arah langit-langit. Tidak terasa sudah seminggu berlalu semenjak dia lolos dengan skor tertinggi, tapi entah kenapa tidak membuatnya senang. Latihannya bersama peserta lain di belakang panggung terasa hampa, tapi sisi lain hatinya bertentangan dan berkata bahwa dia harus melupakan Devano demi keseriusan mengikuti kompetisi ini. [ Baby kriwil! ] Hana terperanjat mendapat chat masuk dari Devano, apa dia harus membalasnya? [ Ya. Kenapa? ] Ya, sudah tentu dia membalasnya. Padahal dia ingin jual mahal dan terkesan marah, tapi dua hal itu akan membuatnya terlihat seperti orang bodo. [ Enggak, iseng aja. ] [ Udah waktunya buat tidur. ] [ Bocil. ] “Iseng? Bocil?!” Ingin sekali Hana berkata kasar. Dia tidak membalas lagi, dan melempar ponselnya ke samping. Kemudian diambilnya lagi karena penasaran saja ingin membalasnya. [ Iya ] Hana membalas singkat. “Hhh, dia benar-benar menganggapku anak kecil,” gumam Hana pelan. “Mungkin aku emang harus jaga jarak mulai sekarang. Dia udah mau nikah juga, ‘kan? Siapa tau kalau jauh nggak bakal sesakit ini.” Hana membuat kalimat sendiri untuk mematahkan perasaannya, itu terdengar aneh, tapi itu adalah fakta yang harus dilakukannya. *** Beberapa waktu kemudian, Devano datang lagi ke tempat Hana ingin meraih mimpinya. Di panggung besar dengan talenta miliknya yang sedang diasah, gadis cantik itu berdiri begitu anggun. Suaranya memikat mata dan pendengaran Devano yang hanya tertuju padanya. Kamu masih belum tahu Betapa istimewanya dirimu Aku harap dapat meraih hatimu Ini semakin dalam, semakin aku bersamamu Aku merindukanmu, hatiku tertuju padamu Aku merindukanmu, menunggumu Sekali lagi hari ini, aku menunggumu Aku banyak memiliki kekhawatiran sekarang Sepanjang hari, aku hanya memikirkanmu Aku merindukanmu, menunggumu Sekali lagi hari ini, aku menunggumu “Dia itu ... apa dia lagi patah hati?” gumam Devano, sebab di depan sana pandangan Hana seakan berbicara bahwa lagu ini memang tertuju untuk seseorang yang spesial. Apa itu untuk kekasihnya? Padahal sepertinya baru kemarin Hana berlari-lari di taman bersama Aksa, bernyanyi sambil memainkan piano dan biola miliknya di depan Devano. Benar sekali, semua itu ternyata sudah berlalu. Hananya tidak seperti dulu. ~~~ Delapan tahun lalu. “Kak Vano, kenapa? Ini minumannya, siapa tau haus. Bibir Kak Vano kering banget, tuh.” “Oh ... makasih, By.” Devano menerima pemberian gelas berisi air dingin yang diarahkan Hana kepadanya. Suasana hatinya masih belum mencair dan berubah tenang karena suasana rumah dan keadaan, tapi dia memaksa senyumnya muncul untuk membuat anak di sebelahnya senang. Sebab, sekarang dia tengah bertamu di rumah Hana setelah dipaksa untuk datang ke sana menemani anak itu bermain. Devano juga merasa dia tidak ada kerjaan di rumah, sendiri membuatnya suntuk. Namun, adanya Hana yang masih berusia 9 tahun, sedikit mengusik kesepian itu dengan celotehan-celotehan polosnya. Jarang sekali dia bertemu orang Indonesia yang menetap di London. “Mau lanjut lagi belajar pianonya?” “Ah, enggak. Kakak enggak ada bakat, mendingan dengerin kamu main. Kalau kakak yang main, entar kuping seisi rumah ini pada sakit,” kata Devano. Hana tertawa renyah. Kemudian jari-jari lentiknya memainkan setiap nada dari piano di hadapan mereka diiringi suara khasnya yang merdu. “Kamu cocok jadi penyanyi, By.” “Kalau aku jadi penyanyi, emang Kak Vano mau nonton konser aku?” tanya Hana. “Mau! Ntar kakak ada di barisan paling depan buat dukung kamu.” “Beneran?!” “Iya, dong. Tapi ada syaratnya,” kata Devano. “Apa?” “Kamu doain kakak supaya bisa sembuh, dan bisa ngeliat kamu berdiri di atas panggung yang besar itu.” “Amiin! Aku doain Kak Vano jadi jodohnya aku juga,” kata Hana disertai tawa tipisnya. “Ih, kecil-kecil udah ganjen!” Devano mengacak rambut Hana, kemudian menangkup kedua pipi gadis kecil itu. “Kenapa?” “Enggak, cuma pengen liat gimana wajah kamu.” “Emang bisa?!” “Diem, jangan gerak.” Devano mulai menggerakkan tangan, jemarinya mulai meraba rambut, hingga seputar wajah Hana. Menyimpan ingatan bagaimana bentuk wajah gadisnya yang polos. Hana memiliki pipi chubby, bulu mata lentik, hidung minimalis dan bibir kecil tipis. Begitulah apa yang dapat direkam Devano dalam ingatannya. “Rambut kamu keriting, ya? Pas dipegang kayak mie instan, tapi mie zaman old.” Devano tertawa renyah mendapat cubitan kecil Hana berikut luapan kekesalannya. “Iiiih ... Kak Vano jahat! Masa rambutku disamain sama mie instan.” ~~~ “Sekarang Baby Kriwilku udah gede ternyata,” gumam Devano lagi saat ingatan masa lalu mereka muncul. Dia tidak mengira waktu begitu serakah ingin menjadikan semuanya sebagai kenangan, sebuah memori yang hanya bisa tersimpan dalam ingatan, dan bahkan sebagian kecilnya sudah menghilang. Devano melangkah ke belakang panggung kembali setelah acara selesai seluruhnya. Ketika penonton mulai menyusut, dia mengambil sedikit kesempatan itu untuk bertemu dengan Hana. Dia juga sengaja menunggu sampai kedua orang tua gadis itu pulang, agar mereka bisa bicara. Sebab kesempatan ini hanya datang sesekali dalam sebulan, Hana tidak bisa ikut karena harus tinggal di asrama sampai kompetisi berakhir. “Minum?” Devano menawarkan perhatian seraya memberikan sekotak s**u cokelat yang sengaja dibawanya. “Makasih ....” “Seperti biasa, penampilan kamu malem ini bagus banget, By. Itu baru My Baby Kriwil!” Devano mengacak rambut Hana pelan sampai ikatannya sedikit berantakkan. Gadis itu tertunduk, tidak bersemangat. “Kenapa? Sedih amat keliatannya. Kan, udah lolos lagi ke babak selanjutnya.” “Enggak papa.” Hana belum mau menjawab jujur, dan memilih menundukkan wajah. “Oh, kalau gitu berarti kamu lagi nyari gula di bawah?” “Engh? Ngapain aku nyari gula?” “Ya, siapa tau s**u kotaknya kurang manis. Padahal cukup liatin kamu aja udah manis kebangetan.” “Oh ....” Hana tersipu, kedua pipinya yang kemerahan tersembunyi lagi karena dia terus menunduk. Dia baru mengangkat wajah beberapa detik kemudian. “Kalau gitu aku pamit dulu, mau ketemu sama yang lain di ruangan.” “Tunggu.” Devano menahan langkah Hana yang tiba-tiba saja ingin pergi. “Kamu lagi marah sama kakak?” Hana menggelengkan kepala. “Terus kenapa kamu menghindar terus belakangan ini? Kamu juga jadi jarang balas pesan kakak.” “Bukan apa-apa, aku cuma lagi pengen sendiri. Belakangan persaingan semakin ketat, aku harus fokus sama kompetisi ini,” jawab Hana. “Jadi maaf, aku harus pergi sekarang.” “Oh, kalau begitu—“ Gadis itu sudah melangkah pergi sebelum Devano sempat mengatakan niatnya untuk mengantarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN