Devano duduk manis di sofa depan televisi ditemani makanan ringan dan sekotak besar s**u rasa cokelat di mejanya. Sebuah acara gosip yang tidak sengaja terlihat malah menjadi titik fokusnya sekarang, karena dalam acara tersebut sedang menyiarkan berita tentang kompetisi yang diikuti Hana.
Kebetulan sekali gadis itu yang menjadi berita utamanya. Namun, Devano sadar tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada hanya takdir telah menggariskan semuanya dengan jelas bahwa Devano membutuhkan berita ini. Sudah berhari-hari sejak pertemuan terakhirnya bersama Hana, gadis itu seakan menghindarinya.
Setiap pesan yang dikirim Devano lewat w******p hanya berakhir dengan dua centang biru tanpa ada balasan. Panggilannya diabaikan, bahkan Hana selalu mengatakan tidak ada waktu baginya bertemu orang lain.
Beruntungnya, dalam acara tersebut menyatakan bahwa Hana sedang berbahagia karena dia selalu mendapatkan nilai tertinggi juga dapat dukungan dari aktor sekaligus saudaranya—Aslan. Senyumnya merekah, gaya bicaranya yang khas manja kekanak-kanakan muncul seperti biasa.
Tidak terasa karena wajah cantik yang seceria itu, Devano menghabiskan bermenit-menit waktunya dengan percuma.
“Ya, ampun. Kesian bener punya abang satu, jomlonya kelamaan, akhirnya pacaran sama kacang tanah ditemenin s**u kuda liar. Sambil nonton acara emak-emak pula,” celetuk Aksa yang tiba-tiba datang mengganggu ketenangan kakaknya. “Kehabisan stok kegiatan, ya?”
Devano melempar cangkang kacangnya ke arah Aksa, kesal. “Aksayton kamvreto—“
“Mama! Kakak manggil Aksa—“
Aksa mencoba berteriak memanggil Nayla, tapi tentu saja Devano lebih gesit melingkarkan lengan di tengkuk adiknya, kemudian menggunakan satu tangan lain untuk menjitak kepalanya cukup keras.
“Hayo, ngadu lagi. Mau dirontokin berapa biji ini rambut? Apa mau dibotakin sekalian, huh?”
“Eh, iya, maaf, maaf! Aksa enggak ngadu lagi, tapi lepasin dulu ... ini sakit, Kak!” Aksa merintih, sekaligus meminta belas kasih sang kakak padanya.
Devano pun segera melepas kunciannya, kemudian duduk kembali di sofa. Tidak peduli adiknya menggerutu bahkan memaki di belakangnya.
“Kutil ....” Aksa menahan kalimatnya yang ingin menyebut Devano kutil kuda karena orang itu sudah melotot lebih dulu. “Eh, maksudnya, Kakak lagi ngapain si nonton beginian? Kayak yang kehabisan acara aja, mending main game bareng. Aksa lagi kuker, nih.”
“Apaan tuh, kuker?”
“Nah, begini ini. Enggak tahu bahasa gaul, kuker itu kurang kerjaan tau.”
Devano tertawa. “Nah, yang begitu itu namanya anak muda kelewat males. Tinggal ngomong kurang kerjaan aja pake disingkat-singkat. Pantesan nilai B. Indonesianya 10 dari 100.”
Remaja berusia tujuh belas tahun itu mengempas kasar tubuhnya ke sofa, sepertinya dia penasaran ingin menghujat balik perkataan Devano, dan memang bukan keanehan lagi pertengkaran mereka setiap hari.
“Susah emang ngomong sama kutil kuda.” Umpatan Aksa masih berseliweran di telinga Devano.
“Awas lo kalau minta jajan, enggak bakal kakak kasih!”
Aksa langsung terperanjat, sadar kalau Devano adalah sumber tambang emas berjalannya setelah Yasa. Saling memanfaatkan satu sama lain mereka kerap kali terjadi, satu-satunya yang membuat si makhluk penggila game Aksa tunduk dan jadi penurut adalah dengan ancaman potong uang jajan. Agak jahat, tapi entah kenapa itu jadi kesenangan tersendiri bagi Devano khususnya.
“Pijitin ....” Perintah Devano begitu jelas, Aksa langsung menurut walau bibirnya mengerucut. Pijatan di pundaknya membuat senyum Devano melebar. “Nah, dari tadi kek, begini. Biar agak kalem sedikit makhluk astralnya.”
“Kenapa Aksa jadi kayak babu gini, si? Perasaan liat orang lain kakak beradik enggak begini-begini amat,” gerutu Aksa pelan.
“Kakak tuh, orang paling dirugikan di sini. Sekali pijit bayarannya 500 rebu, babu macam apa kayak begitu?” Devano mengomel, tapi makhluk di belakangnya tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
“Kakak emang paling TOP, mau Aksa ambilin apel, nggak? Tadi pagi mama baru beli banyak buah-buahan.”
“Boleh, sekalian kupasin sama potong kecil-kecil.”
“Tapi tambah 500 rebu lagi, ya? Aksa pengin ajak jalan gebetan baru, 500 rebu mana cukup?”
“Heh? Asem!” Kedua mata Devano melotot, Aksa langsung kocar-kacir pergi dengan tawa jahatnya. “Orang sibuk belajar buat ujian, ini sibuk pacaran!”
Devano mengelus d**a, menekan amarahnya. Namun, perilaku Aksa seolah menampar dirinya sendiri sewaktu masih seusia anak itu. Di mana dia sering membuat Yasa naik darah mendadak. Sekarang ayahnya ada di Jerman, dia yang diminta bertanggung jawab penuh terhadap Nayla dan Aksa, tapi anak itu selalu saja begitu. Apa ini yang disebut karma dibayar tunai?
Langit berwarna gelap, malam yang lebih dingin dari angin, sepi
Teringat kenangan yang akrab di hatiku, malam ini penuh denganmu lagi
Hanya kenangan indah yang tersisa, kamu dan aku yang tertawa bersama
Jika kau jadi bintang dan menghilang, aku akan menyimpannya di tempat kosong ini
Pandangan dan pendengaran Devano tertarik pada sebuah suara di televisi, itu jelas suara Hana. Dia menyanyikan lagu yang diminta oleh seorang host. Namun, yang menjadi pusat perhatian dia adalah lirik lagu yang dipromosikan Hana.
Kalimat-kalimat itu ....
***
Hana kembali berdiri di panggung besarnya dengan ketegangan yang dibawanya sejak beberapa bulan sebelum kompetisinya dimulai. Malam ini adalah penentuan dari perjuangannya, penentuan dari bagaimana kemampuan terbaiknya ditonjolkan untuk semua orang.
Alunan musiknya mulai dimainkan, Hana berusaha mengendalikan debar di jantungnya yang mulai cepat perlahan. Dalam situasi ini, pandangannya hanya terpusat pada keluarga dan teman yang datang dan duduk di barisan terdepan, untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan ini tidak akan ada artinya tanpa mereka.
Langit berwarna gelap, malam yang lebih dingin dari angin, sepi
Teringat kenangan yang akrab di hatiku, malam ini penuh denganmu lagi
Hanya kenangan indah yang tersisa, kamu dan aku yang tertawa bersama
Jika kau jadi bintang dan menghilang, aku akan menyimpannya di tempat kosong ini
Saat aku menutup mata, kamu terlihat dengan jelas
Karena aku semakin merindukanmu
Di tempatmu menghabiskan malam yang panjang, aku akan istirahat dan tetap bersamamu
Dengan hati yang lelah dan air mata, saat laguku mencapai langit
Kamu datang perlahan seperti mimpi abadi
Jadilah bintang dan berada di sisiku
Saat hatimu menyentuhku
Cahaya bintang di langit yang terkadang menerangiku
Dengan hangat menyelimuti hatiku, terima kasih atas jawabanmu
Hana menyelesaikan lagunya dengan sempurna, riuh sorak-sorai ratusan penonton mengiringi nada terakhir. Di antara keramaian ini, dia kembali melihat Devano. Laki-laki yang berdiri di tempat sama ketika pertama kali dia datang di awal kompetisi.
Laki-laki dengan setelan jas abu itu terlihat semakin berkarisma di mata Hana sampai kegugupan kembali datang dan Hana tidak mampu mengendalikannya seperti tadi. Namun, kenapa tidak ada teriakan lagi darinya? Biasanya Devano akan berteriak paling keras di setiap malam penampilan Hana. Apa dia marah? Hana berpikir begitu karena belakangan ini memang merasa mengabaikannya.
Baiklah, bukan sekali ini saja dia mengabaikannya, bukan? Semuanya pasti baik-baik saja.
***
Hana berlari kecil menyusuri koridor ke tempat keluarganya menunggu. Sebuah penghargaan serta simbol hadiah juara satu kompetisi yang cukup bergengsi dipegangnya erat, dia tidak sabar ingin menunjukkan pencapaiannya ini kepada mereka.
“Mama ....” Hana menangis, memeluk erat ibunya setelah sampai. Tangis kebahagiaan yang datang malam ini tidak akan pernah Hana lupakan seumur hidupnya.
“Mama bangga sama kamu, By. Kami semua bangga sama kamu ....”
Pelukan mereka terlepas, Hana bisa melihat ibunya juga turut menitikan air mata. Sebuah pemandangan yang jarang sekali terjadi jika bukan karena kenaikan sekolah anak-anaknya, atau ketika Hana mendapat penghargaan di sekolahnya dulu.
“Aku juga enggak akan berhasil tanpa doa Mama. Aku bingung mau bilang apa lagi, tapi yang jelas aku seneng banget bisa bikin Mama sama Papa bangga ... makasih banyak buat semuanya.”
Tidak lupa Hana juga memeluk ayahnya, pria yang cenderung lebih irit bicara, tapi memiliki kepribadian tegas itu sekarang membalas pelukan Hana padanya.
“Jangan menangis lagi, ini adalah hari bahagiamu, Hana.”
“Sebenernya aku enggak pengen nangis, tapi enggak tau kenapa ini susah berhenti. Aku kelewat seneng, Pa,” jawab Hana sangat jujur.
“Asik, kayaknya aku bakal dapet traktiran besar dari Kak Hana!”
“Iya, iya, kakak akan traktir kamu kali ini. Tapi jangan yang mahal-mahal, soalnya kakak mau kasih uang itu ke Mama semua.”
Damian sedikit cemberut. “Semuanya? Yakin?”
“Iya, dong. Kakak kan, mau daftarin Mama umroh. Kalau bisa kita pergi bareng!” jawab Hana. Dia tersenyum ke arah Enzy sebab teringat hadiah kemenangannya ini sebesar 100juta, dengan uang sebanyak itu dia bisa memenuhi nazar yang sempat diucapkannya sebelum ikut kompetisi ini.
“MasyaAllah. Mama bahagia mendengar itu, ternyata sekarang anak mama udah menuju dewasa, hmh?” ucap Enzy.
“Aku juga bahagia kalau Mama bahagia,” kata Hana bernada manja seraya bergelayut di bahu iibunya. “Oh, ya. Kak Aslan mana? Katanya mau datang, tapi kok enggak ada.”
Hana melihat ke sana-kemari, mencari salah satu orang yang katanya akan datang malam ini. Namun, Aslan tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun.
“Kak Aslan lagi ada job di Negeri Wakanda Land buat ketemu sama fansnya. Jadi enggak ada waktu dia.” Damian tertawa jahil.
“Mian! Kakak tanya bener-bener ih, iseng terus deh.”
“Dia lagi ada kerjaan di luar kota, Han. Katanya besok dia baru pulang,” jawab Atha.
Hana sedikit kecewa, padahal orang itu yang cerewet sekali ingin mendaftarkannya ke kompetisi ini. Namun, segudang pekerjaannya membuat Hana hilang harapan untuk bertemu.
“Tapi sebagai gantinya, ada orang lain yang ingin ketemu sama kamu, By. Kamu pasti senang kalau tahu siapa orangnya,” kata Enzy.
Hana mengernyit. “Hmh? Siapa?”
“Itu ....” Enzy menunjuk ke arah seorang pemuda yang baru saja datang ke tempat mereka.
Hana terpaku, lagi-lagi debar jantungnya tidak bisa diajak kompromi dalam hal ini melihat orang yang begitu dikaguminya sejak kecil itu melangkah dengan pasti ke arahnya.
***
“Kenapa kita harus bicara di sini? Kenapa enggak di luar aja? Nanti papa bisa marah.” Hana bertanya sekaligus mengedarkan pandangan. Ini adalah ruangan khusus yang biasa digunakan artis sebelum tampil. Cukup sepi, dan hanya ada mereka berdua di sini.
“Kakak udah minta izin,” jawab Devano seraya melihat jam di tangannya. “Di kasih waktu lima menit sama Om Atha. Ada yang pengen kakak tanyakan ke kamu.”
“Tanyain apa?”
Hana mundur selangkah, wajahnya tertunduk sebab menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Entah kenapa kebiasaan itu cukup sulit terkendali, di mana jika melihat Devano, Hana selalu bersikap manja dan selalu ingin menempel padanya. Bukankah itu aneh saat usia mereka sekarang? Devano sudah punya calon istri, Hana juga sudah bukan anak-anaknya lagi. Hana berusaha menghindari akibat buruk dari kebiasaannya itu.
“Ini untukmu ... bukalah,” kata Devano seraya memberikan sebuah paper bag berwarna pink berukuran agak besar.
“A-apa? Apa ini?” Hana terkejut, ternyata ini di luar pemikirannya. Namun ... ah, apa yang dipikirkannya?!
“Hadiah spesial pemenang utama.”
Hana menerima pemberian itu sedikit ragu. Kemudian melihat isinya langsung detik itu juga. Terdapat sebuah kotak merah dengan pita berwarna pink di dalamnya, sangat indah.
Sekali lagi Hana menatap Devano, Laki-laki itu tersenyum.
“Ini .... wah!” Mata Hana terbelalak, dia hampir saja meloncat senang, tapi tertahan dan berakhir memeluk hadiah miliknya. Hadiah berupa ratusan bunga kertas lupa kecil berwarna-warni yang dikumpulkan dalam stoples transparan. Hadiah sederhana, tapi Devano sepertinya ingat bahwa dia sangat menyukai bunga kertas lipat.
“Kakak bikin semua ini?”
“Suka?”
“Suka banget!” jawab Hana polosnya, dalam sesaat dia bahkan lupa sedang mengabaikan laki-laki ini. Namun, Hana kembali teringat lagi ketika melihat senyum memikat itu. “Sekali lagi, makasih buat hadiahnya. Aku akan simpen ini di kamar.”
“Terus?”
“Terus ... udah. Papa sama mama pasti udah nunggu di luar, aku mau ke tempat mereka lagi.”
“Mau menghindar lagi, uh?” Devano segera meraih lengan Hana sebelum gadis itu pergi lagi untuk ke sekian kali pertemuan mereka.
“Siapa yang menghindar?”
“Kamu.”
Hana melepaskan pegangan Devano. “Aku enggak pernah menghindari Kakak. Itu cuma perasaan Kakak aja,” jawabnya.
“Kalau gitu, apa kamu mau menerima ajakan kakak? Kita pergi jalan minggu depan, dulu kakak pernah janji akan bawa kamu ke tempat yang paling kamu suka. Kakak mau menepati janji itu.”
Hana membisu, dia ingin sekali menerima dengan lantang ajakan itu, tapi hatinya masih tidak enak. “Maaf, aku enggak bisa.”
“Kenapa? Apa alasannya?”
“Emang harus ada alasannya?”
“Iya, kecuali kamu emang merasa terganggu sama kedatangan kakak, itu jadi hak kamu buat menolaknya.”
“Aku enggak benci Kak Vano!” Hana mulai kesal, Devano terus saja membrondongnya dengan pertanyaan yang sama.
“Terus, alasannya apa, dong?”
“Iya masa aku harus bilang kalau aku cemburu sama calon istri Kakak?! Aku enggak suka liat Kakak sama cewek lain, aku enggak pernah mau liat Kakak nikah sama orang lain—“
“Hah?”
Hana langsung menutup mulut, mengutuk dirinya yang tidak bisa mengontrol mulut. Apalagi melihat kernyit di kening Devano muncul, Hana benar-mati kutu.