“Iya masa aku harus bilang kalau aku cemburu sama calon istri Kakak?! Aku enggak suka liat Kakak sama cewek lain, aku enggak pernah mau liat Kakak nikah sama orang lain—
“Hah?” Devano mengernyit sebentar, dia ingat dulu Hana selalu mengatakan ingin menjadi jodohnya. “Kamu masih berdoa supaya jadi jodohnya kakak, hmh?”
“I—iya itu maksudnya, tapi tadi aku keceplosan. Aku sadar kita bukan anak-anak lagi. Maaf ....”
Gadis itu tertunduk, kesedihan di wajahnya tidak sedikit. Devano masih belum mengerti, apa alasan itu yang membuat Hana menghindarinya? Dalam beberapa kasus yang sering ditemuinya, kalimat pertama yang muncul dari seseorang bisa jadi sebuah kejujuran.
“Kenapa minta maaf? Kamu tetep Baby, masih imut kayak bayi bagi kakak.” Devano tersenyum, seraya mengusap puncak kepala Hana pelan. “Kamu bikin lagu lagi pakai puisi yang kakak buat dulu, apa itu artinya kamu udah punya pacar, huh?”
Mereka berdua ingat, saat Devano menuliskan puisi itu, Hana berkata bahwa dia akan membuat lagunya jika sudah besar dan memiliki kekasih yang ditunggu.
“Enggak.”
“Terus? Kamu lagi patah hati?”
Gadis itu masih tertunduk, lalu mempererat pelukan pada stoples hadiah miliknya. Garis kekecewaan semakin terlihat jelas walau laki-laki di hadapannya masih belum juga peka kenapa Hana seperti itu.
“Enggak juga....” Hana sudah tidak berselera bicara lagi. “Udah enggak ada yang mau Kakak ucapin, ‘kan? Aku mau pergi ke tempat mama sama yang lain,” katanya kemudian, dia memasukkan kembali stoplesnya ke paper bag.
“Tapi kakak ngajak kamu ke sini karena mau meluruskan sesuatu, bukan cuma mau ngasih hadiah.”
“Nanti aja, aku cape banget. Pengen cepet pulang.”
Hana hendak melangkah pergi, tapi lagi-lagi niatnya tertahan oleh Devano. “Kalau mau pulang, jangan sambil marah dong.”
“Udah dibilang aku nggak marah!”
Devano menahan genggamannya agar tidak terlepas, suara Hana meninggi berikut helaan napas kasar menandakan dia benar-benar marah. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sikap tenang Devano yang menunggu kemarahan Hana mereda membuat gadis tersebut luluh perlahan.
“Maaf ... aku enggak bermaksud teriak. Aku juga mau meluruskan kenapa aku bersikapkayak kemarin,” kata Hana memulai lebih dulu. “Aku bukan anak kecil lagi. Usiaku udah 18 tahun lebih sedikit, kedekatan kita walaupun mengatasnamakan kakak dan adik, kenyataannya kita bukan siapa-siapa. Karena itu aku enggak mau bikin calon istri Kakak salah paham kalau kita terlalu deket.”
“Emang siapa calon istri kakak?”
“Yang selalu Kakak bawa itu, Kak Sophie!”
Devano terkekeh kecil.
“Kenapa Kakak ketawa? Aku ini lagi serius tau, malah diketawain!”
Tawa Devano menyusut, di depannya, bibir Hana cemberut kesal. “Enggak ... tapi Sophie bukan calon istri kakak, By. Dia itu emang selalu iseng orangnya.”
“Hah? Beneran? Terus Kak Sophie siapa? Kenapa selalu ikutin Kakak terus?” Mata Hana terbulat sempurna, raut wajahnya mendadak cerah lagi seperti sedia kala.
“Sophie itu sahabat kakak, dia juga ikut kerja sama kakak makanya selalu ikut ke sini,” jawab Devano. Sejenak dia memperhatikan senyum semringah Hana, rasanya sudah lama sekali tidak dilihatnya. “Seneng banget kayaknya.”
Hana mengangguk. “Iya, seneng karena udah bebas deketin Orang Gantengnya aku lagi,” jawabnya malu-malu seraya menyentuh bagian d**a jas milik laki-laki itu.
“Apa kamu selalu manja kayak gini sama cowok lain, huh?” tanya Devano.
“Enggak! Aku manja cuma ke Kakak, ke mama papa, sama Kak Aslan aja.”
“Bagus, jangan manja ke orang lain lagi.”
Hana mengangguk. “Takut cemburu ya, kalau aku manja sama cowok lain?” tanyanya memancing.
“Dih, masih tetep aja geernya.”
Pertanyaan Devano ini bukan tanpa sebab. Sifat manja Hana sejak kecil masih melekat, didukung wajah cantik dengan gaya pakaian khas remaja yang segar dipandang. Tidak menutup kemungkinan ada banyak laki-laki akan langsung terpikat bahkan memanfaatkannya. Termasuk Devano.
Dia memang mengakui Hana nya bertransformasi menjadi gadis yang sangat cantik di matanya, apalagi sifatnya itu ... entah kenapa kemanjaan Hana sanggup menarik perhatiannya.
“Udah lima menit, orang tua kamu pasti nunggu. Ayo, keluar,” ajak Devano setelah memeriksa jam tangan.
Hana sedikit cemberut. “Kenapa waktu cepet banget sih, kalau deket Kak Vano?” gumamnya dalam hati. Dia pun melangkah lebih dulu, tapi belum ada selangkah dia bergerak. Pijakan high heels miliknya tidak seimbang.
“Hati-hati—“ Saat hampir terjatuh itu, Devano spontan meraih tubuh Hana dan memegang tengkuk gadis itu agar kepala belakangnya tidak membentur lantai. Namun, Devano sadar risikonya dia juga harus ikut terjatuh.
Bug!
Mereka berdua terjerembab di lantai, kedua mata Devano terbelalak, dan waktu seakan berhenti berdenting baginya ketika merasakan lembut biblr Hana yang ranum. Sekian detik berlalu, Hana tidak bergerak. Devano memilih beranjak lebih dulu dengan cepat.
“Ma—maaf, kakak enggak bermaksud sampai selancang itu. Apa kamu baik-baik aja?” Devano bertanya seraya mengulurkan tangan kepada Hana. “By?”
Hana masih tidak berkedip, tangannya memegang d**a dengan napas yang hampir tidak bisa terkendali. Jelas saja Devano jadi panik sendiri melihatnya begitu.
“Kenapa? Ada yang sakit, huh?” tanya Devano sekali lagi. “Mana yang sakit?”
“Surganya dunia ....” Hana bergumam sangat pelan sekali dengan senyum mengembang.
“Apa? Tadi kamu bilang apa?”
“Eh, enggak. A—aku nggak apa-apa, Kak.” Hana buru-buru beranjak dari lantai, tidak lupa mengambil hadiah miliknya di sana. “Kayaknya aku harus pergi duluan, nanti mama bisa marah ... dah, Kakak!” Dia berlari menjauh sampai tidak terlihat lagi dari pandangan Devano.
“Itu ....” Devano memegang bibirnya, kecelakaan macam apa ini? Dia merasa bersalah, karena mungkin ini ciuman pertama bagi Hana.
***
Beberapa waktu berlalu, komunikasi antara Devanon dan Hana berjalan sangat lancar. Di sela kesibukannya bekerja, Devano terkadang menjemput Hana di kampus untuk sekedar mengajaknya pergi makan siang. Selebihnya Devano juga tidak pernah alpa untuk menghadiri setiap kegiatan Hana di atas panggung.
Terkadang Devano berpikir, kenapa hidup selalu dan tidak pernah konsisten menyenangkan seperti ini? Mungkin jika begitu, dirinya tidak akan pernah merasakan sakit karena luka hati.
Tentu saja pemikiran itu selalu ada di usianya sekarang, usia di mana orang-orang selalu bertanya, “Kapan kamu akan menemukan pasangan untuk mengisi kekosongan hatimu?” Pertanyaan paling menyebalkan baginya untuk saat ini.
“Kak, berhenti dulu. Aksa nyerah deh, cape banget nih!”
Ucapan Aksa membuyarkan konsentrasi Devano ketika mereka sedang berlari pagi di sekitar jalan perumahan tempat tinggal mereka. Anak itu terengah-engah, lalu berhenti berlari dan kedua tangannya bertopang pada lutut.
“Lemah ....”
“Enak aja kalau ngomong! Ini bukan lemah, tapi sebagai manusia yang punya tenaga terbatas, Aksa juga bisa cape!” sahut Aksa sewot. “Minum siniin!” perintahnya pada Emily yang membawakan air minum untuknya.
Anak perempuan keturunan Jerman asli berusia 14 tahun itu menurut saja, dia sigap sekali memberikan botol air minumnya pada Aksa tanpa protes lagi.
Devano menggelengkan kepala. “Punya tangan yang masih berfungsi dengan baik, tapi mubazir karena kelakuan kamu, Sa. Kenapa enggak bawa sendiri aja, si? Kasian Emily harus ngikutin kamu begitu. Dia jadi enggak bisa main sama temen-temen nya.”
“Loh? Dianya aja nggak keberatan.”
“Iya, nggak papa, Kak. Aku enggak keberatan, kok,” kata Eemily. Tentu saja pengakuannya itu semakin membenarkan pertanyaan Aksa.
“Bagus, sekarang beliin minuman yang dingin sana. Minuman ini udah enggak dingin lagi,” kata Aksa seraya melempar botolnya kepada Emily.
“Mineral atau—“
“Kamu pikir? Emangnya kalau olahraga raga begini harus minum es jeruk, gitu? Kamu mau bikin saya gemuk apa gimana?”
“Aku kan, cuma tanya ....” Emily cemberut.
“Ya, udah, cepetan sana beli!”
“Iya, iya. Bawel, ih!” Emily langsung berlari memenuhi perintah Aksa padanya.
Devano menggelengkan kepala pelan. “Kamu itu kenapa susah banget buat dibilangin, sih? Kalau mau minta tolong, ngomong baik-baik aja, jangan ngegas begitu. Kasian dia udah cape harus lari-larian lagi kayak begitu demi memenuhi kemauan kamu,” ujarnya kemudian memberi nasehat.
“Dia yang cape, bukan urusan Aksa.”
“Emily itu adek kamu, pengertianlah sedikit! Kakak juga sering merintah kamu, tapi enggak pernah seserius itu—“
“Jadi ceritanya kita mau olah raga debat?”
“Ya, bukan begitu maksudnya. Kakak cuma ngingetin kamu supaya bersikap layaknya seorang kakak.” Devano berusaha menjaga pembicaraan mereka agar tidak terjadi perdebatan, dia sadar skill debat Aksa tidak kalah darinya. Akan memakan waktu dan berujung tanpa penyelesaian jika itu terjadi.
“Nasehat yang bersangkutan sama Emily nggak penting buat Aksa,” jawab Aksa. “Udah, ah. Aksa mau lanjut lari lagi.” Dia pun meneruskan olahraga yang sempat terjeda, mengabaikan nasehat Devano.
Devano yang masih berdiri di tempatnya sungguh tidak habis pikir kenapa sikap Aksa tidak pernah berubah. Emily Walther adalah anak adopsi kakek mereka--Tuan Karl, di Jerman. Setelah Tuan Karl meninggal, ayah mereka memutuskan untuk membawa Emily ke Indonesia.
Nayla yang kebetulan begitu ingin anak perempuan sangat menyambut dengan baik keputusan itu. Emily diperlakukan selayaknya anak dari keluarga Ulrich Walther. Namun, sepertinya tidak semua orang menerima keputusan itu. Sikap Aksa selalu kasar bahkan setelah ribuan kali Devano dan Yasa memberi nasihat padanya selama bertahun-tahun.
***
Lima belas menit berlalu, matahari semakin tinggi di langit. Suhu udara tidak lagi sehangat tadi, tapi Emily belum juga kembali. Devano dan Aksa duduk di kursi taman menunggu kedatangan adik mereka dengan perasaan masing-masing.
“Udah ditanyain Emily ada di mana?” tanya Devano pada Aksa. Dia ingin menanyakan keberadaan Emily, tapi sayang sekali ponselnya tertinggal di rumah.
“Udah, katanya sebentar lagi nyampe,” jawab Aksa seraya menyandarkan punggungnya. “Paling lagi maen dulu,dia kan emang begitu. Selalu nggak becus ngerjain apa-apa.”
Devano melirik dengan tatapan tajam. “Kayaknya ini sendal pengen terbang ke kamu, Sa. Kamu bebas pilih ini sendal mendarat di muka apa di pantat.” Ucapannya tidak keras, tapi Aksa sudah mengerti kemarahannya ini sudah tidak main-main.
“Ya, terus Aksa mesti ngapain?”
“Cari!” jawab Devano lebih galak yang membuat Aksa terkejut.
“Males.”
“Oh? Males beneran?” Devano mulai mencopot sendalnya, tapi Aksa lebih dulu menghindar.
“Iya, iya. Aksa cari!” Aksa beranjak dari kursi karena malas mendapat masalah.
Devano juga ikut beranjak, dia cukup khawatir karena kepergian Emily sudah terbilang lama. Kalau Emily bersedih dan pulang ke rumah, itu tidak terlalu buruk. Kekhawatiran Devano adalah saat Emily sudah terlalu tersinggung dan memilih kabur dari rumah, dia pasti akan mendapat masalah dengan Yasa dan Nayla.
“Emily?” Devano bergumam memperhatikan seorang anak perempuan yang berada di punggung laki-laki bertubuh jangkung tidak jauh dari tempatnya. Itu benar Emily.
Dia pun menyusul Aksa yang juga sudah mengenali adiknya bersama orang lain. Namun, Devano baru sadar bahwa gadis di samping laki-laki itu ternyata adalah Hana. Dilihat dari gaya pakaiannya yang casual, sepertinya Hana juga sedang berolahraga.
“Kak Vano?!”
Hana langsung bersemangat melihat kedatangan Devano dan Aksa.
“Baby? Kamu—“ Devano heran kenapa Hana dan Aslan ada di sekitar perumahan ini, padahal sebelumnya dia tidak pernah melihat mereka.
“Kak Vano... hiks. Kaki aku sakit,” kata Emily yang berada di punggung Aslan. Sampai dia diturunkan, Emily masih menangis.
“Ya, ampun. Lukanya lebar begini, kamu habis ngapain, Emily?” Devano membantu Emily berdiri karena Aksa di sebelahnya terlihat tidak peduli. Terdapat baret-baret cukup lebar di lutut Emily.
“Tadi dia jatuh di depan toko makanan, kakinya juga kayaknya keseleo, makanya kami mau anterin pulang,” jawab Hana yang mewakili Emily. “Apa ini adiknya Kak Vano?”
“Iya, dia adikku. Terima kasih karena kalian udah mau repot-repot bawa dia sampai sini.”
“Ah, enggak! Aku enggak merasa direpotin, kok. Aku malah seneng bisa bantu. Engggak nyangka juga kalau Emily adiknya Kakak, mungkin ini yang dinamakan jodoh nggak akan lari ke mana.” Hana menjawab dengan nada menggoda.
“Jangan ganjen. Dia udah ketemu abangnya, ayo, pulang,” ajak Aslan ketus seraya menarik tangan Hana yang ingin menghampiri Devano.
“Kenapa harus buru-buru? Katanya tadi mau nemenin aku keliling perumahan ini, kebetulan ketemu tetangga baru, enggak ada salahnya buat mampir, ‘kan?”
“Enggak ada mampir-mampir ke rumah orang asing. Kakak nemenin kamu bukan untuk itu,” protes Aslan. Dia lantas menarik lengan Hana dan mengajak pergi secepat mungkin.
Sebelum benar-benar menjauh, Hana menoleh lagi ke arah Devano. “Sampai ketemu lagi, tetangga baru! Jangan lupa mampir, rumah baruku ada di sana!” teriaknya bersemangat sambil melambaikan tangan.
Devano tersenyum kecil, Hana memang mengatakan akan pindah ke rumah lamanya yang baru saja selesai direnovasi. Namun, dia tidak menyangka rumah baru Hana ternyata ada di sekitar sini.
“Udah, jangan nangis lagi. Sekarang kita pulang, ya. Biar mama obati lukanya,” kata Devano yang kembali fokus pada Emily.
“Iya.” Emily menyeka air matanya dan berhenti menangis. “Ini minum yang Kakak pesen tadi, maaf lama. Ini salahku,” kata Emily seraya menyodorkan sebotol air putih yang masih dingin.
Aksa menerima botol airnya, tapi botol itu dilempar nya jauh-jauh dengan ekspresi datar. Bahkan sikapnya jauh lebih dingin dari suhu air pesanannya tadi.
“Aksa!”
Devano hampir saja hilang kesabaran jika Aksa tidak langsung bertindak membawa Emily di punggungnya.
“Hidup kamu emang selalu nyusahin saya, ya? Jangan geer, saya ngelakuin ini karena males bangunin gorila item ngamuk,” kata Aksa kepada Emily, tapi pandangan matanya tertuju pada Devano saat bibirnya menyebut gorila hitam.
Devano mengelus d**a seraya menghela napas, menurunkan emosi yang bisa saja meledak-ledak karena sikap Aksa pagi ini.
“Nasehatin Aksa sama dengan nasehatin batu.”