Devano kembali dari dapur dengan membawa dua kotak s**u cokelat dan dibawanya ke tempat Emily berada. Gadis kecil tersebut duduk di pinggiran kolam renang sambil memeluk lutut, tidak peduli seberapa panasnya sinar matahari yang mulai menyengat.
“Jenong.”
Emily menoleh ketika nama sayang dari Devano disebut. Bukan tanpa alasan, Devano menyebutnya begitu karena Emily memiliki kening yang cukup lebar jika rambut pirangnya terikat ke belakang.
“Minum ini dulu, biar enggak sedih terus,” kata Devano lagi seraya memberikan satu s**u cokelatnya. Emily menerimanya dengan ekspresi mukanya yang murung.
“Aku enggak sedih.”
Walau menjawab demikian, raut wajah Emily tetap murung. “Terus apa dong, namanya?”
Emily terdiam.
“Gara-gara si Aksayton? Elaaah, omongan Aksa jangan dimasukin ke pikiran. Dia kalau ngomong udah kayak kentut asal bunyi. Cukup pikirin yang penting-penting aja, sekolah misalnya.”
“Tapi tetep kepikiran juga. Setiap kali Kak Aksa ngomong, semuanya pasti bener. Aku cuma jadi beban aja, mungkin emang sebaiknya aku pulang ke Jerman.” Emily tertunduk, menyembunyikan wajah di balik lengan, begitu juga kesedihannya.
“Kamu di Jerman mau sama siapa?”
“Papa Yasa.”
Devano menghela napas, kemudian mengusap kepala adiknya. Dalam keadaan begini, dia merasa menyesal karena tidak bisa mengendalikan sifat buruk Aksa.
“Di sini lebih baik, Nong. Percaya kakak, pada dasarnya Aksa itu baik, kok. Dia cuma belum tau cara bersikap baik sama kamu. Kalau kamu sabar, dia pasti bisa menerima kamu apa adanya,
“Aku putus asa.”
“Loh, jangan dong. Mending kamu lawan aja dari pada putus asa begitu. Jangan mau kalah kalau Aksa lagi menindas kamu. Kakak pasti dukung!”
Emily baru mengangkat wajah mendengar perkataan itu. “Masa dilawan? Kak Aksa kan, udah besar. Aku pasti kalah.”
“Kakak kasih fasilitas pentungan satpam komplek bila perlu!”
“Ih, jangan dong. Pentungan satpam buat apa? Kak Vano bercanda melulu, deh. Nanti Kak Aksa denger, kalian ribut lagi.”
Devano terkekeh kecil. “Loh, ribut sama Aksa doang, mah kecil. Siapa berani?!”
“Siapa takut, Kak!” Emily tertawa renyah.
Devano lega, tawa itu masih ada walau mungin sisa-sisa kesedihan itu masih meninggalkan jejak.
“Kak Vano ...!” teriakan Hana menggema, senyumnya mengembang seraya melambaikan tangan pada Devano dan Emily yang cukup terkejut dengan kehadirannya.
“Baby?” Hana berjalan cepat ke arahnya, Devano masih duduk menunggu. “Kamu datang, kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Aku datang mengunjungi tetangga baru. Enggak salah, dong?” Hana duduk di dekat mereka tanpa disuruh lagi.
“Enggak, tapi—“
“Hai, Cantik. Gimana kaki kamu? Udah diobatin, belum? Liat, kakak bawa buah-buahan sama cokelat yang dibawa papa dari London. Ini enak banget, coba deh.”
Devano menghela napas pendek. Hana mengabaikan pertanyaannya untuk bertahan di sini, pintar sekali.
Hana menyerahkan barang bawaannya kepada Emily berupa parsel buah dan sekotak cokelat berbentuk karakter kartun Disney. Jelas saja Emily langsung tertarik, siapa anak-anak yang akan menolak makanan secantik itu?
“Ini buat aku?!” tanya Emily memastikan dengan senyum semringah. “Beneran?”
Hana mengangguk. “Suka?”
“Suka!”
“Nanti kakak bawain lagi kalau kamu suka. Kamu mau mesen karakternya juga bisa, kakak beliin!”
“Beneran? Kakak kok, baik banget sih.” Emily melebarkan senyum, dia tampak bahagia dan benar-benar melupakan kesedihannya tadi. “Kakak pacarnya Kak Vano, ya?”
“Kok tau?”
“By, jangan mulai. Ini masih pagi, kamu udah mandi apa belum? Siapa tau tadi ke sini bawa-bawa iler,” kata Devano meledek. Hana hanya mencebik, tapi terlihat tidak peduli.
“Kalau gitu aku juga mau ngasih hadiah buat Kakak, tunggu sebentar ya. Aku ambil dulu.” Emily pun beranjak dari tempatnya.
“Eh, emang kakinya udah enggak sakit?” tanya Hana.
“Sakit, sih. Tapi ini nggak kekilir, kok. Cuma luka biasa aja, Kakak tunggu di sini, yah. Jangan ke mana-mana.” Emily pun mulai berjalan pelan walau kakinya belum sepenuhnya pulih.
“Baiklah, hati-hati di jalan ....”
Devano yang terdiam sejak tadi tidak terasa memerhatikan setiap tingkah Hana yang mengalirkan energi positif. Pembawaannya ceria, seakan-akan dunia ini selalu menyenangkan baginya.
“Sendirian datang ke sini? Bodyguardnya mana?” tanya Devano iseng.
“Bodyguard? Emang aku punya bodyguard?”
“Iya, itu yang tadi bareng kamu tuh, siapa namanya ... lupa. Dia enggak ngikut kamu sampe sini?”
“Oh, Kak Aslan maksudnya. Dia masih ada di rumah aku, pas aku ajak ke sini dianya enggak mau, makanya datang sendiri,” jawab Hana apa adanya.
“Jalan kaki?”
“Terbang, kan aku bidadari bersayap yang udah pasti menuju ke Kakak ....” Hana tersipu sendiri, dua sudut di bibir tipisnya tertarik alami setelah tidak bosan menggoda Devano.
Sementara yang digoda malah tertawa renyah, dia menganggap semua ucapan yang dikeluarkan Hana adalah pembawaan dari sifatnya yang masih kekanak-kanakan.
“Kamu itu, apa kamu enggak ada kegiatan lain hari ini, huh? Jalan sama pacar misalnya, cuaca lagi cerah begini cocok buat jalan,” kata Devano lagi usai berhenti tertawa.
“Emang Kakak mau pergi jalan-jalan?” tanya Hana kembali.
“Loh, kenapa tanya kakak?”
“Kan, pacarnya ada di depanku sekarang ... aihhh.”
Lagi-lagi Hana menggodanya, sangat polos. Namun, itu sama sekali tidak mengganggu Devano. “By! Nakal, ya, lama-lama. Sini coba nyebur kolam dulu biar bangun!”
Hana beranjak dan langsung berlari menghindar. “Sekarang lagi mimpi aja udah indah banget, apalagi kalau bangun ... Kak Vano pasti udah jadi suamiku!”
“Baby Kriwil! Jangan lari kamu, ini air kolam udah melambai-lambai pengen mandiin kamu, nih!” Devano juga ikut beranjak mengejar Hana yang berlari kecil mengelilingi sekitar pinggiran kolam renang.
“Maunya Kakak yang mandiin!”
“Eh, kecil-kecil pikirannya m***m terus!”
Hana tertawa riang, dia terus berlarian menghindari kejaran Devano padanya. Sampai beberapa detik kemudian, kakinya tersandung dan dia tercebur ke kolam betulan.
“Aaah ... Kak Vano!” teriak Hana.
Kali ini Devano yang tertawa melihat kesialan Hana pagi ini. “Nah, kan. Kualat jadinya,” kata Devano yang berdiri di tepian kolam.
“Kak Vano, tolong. Kaki aku keram!” Hana gelagapan di air, berusaha untuk tetap bisa bernapas.
“Jangan bohong, itu cuma akal-akalan kamu aja biar kakak ikut nyebur juga, ‘kan?” Devano tidak percaya begitu saja, hingga dia baru mulai khawatir saat Hana tidak nampak ke permukaan air. “By? Aduh, tenggelem beneran dia? Baby!”
Hana benar-benar tidak tampak lagi. Tanpa berpikir panjang, Devano menceburkan diri ke kolam, dia mencari-cari di dalam air untuk menyelamatkan gadis itu, tapi di mana Hana? Dia tidak ada di titik tempatnya tenggelam tadi.
Devano pun berbalik arah, dia mengira Hana sudah naik ke seberang. Namun, dia hampir saja kena serangan jantung mendadak karena Hana muncul di belakangnya seperti hantu dengan senyum lebar. Kedua tangan gadis itu menunjuk ke arah Devano, kemudian jemari lentiknya membentuk hati.
Jelas saja Devano langsung muncul ke permukaan bersamaan dengan Hana yang berhasil ditangkapnya.
“Baby! Kamu bikin kakak ikut nyebur ke kolam karena itu doang?!” ucap Devano bernada tinggi.
“Akhirnya bisa mandi bareng.” Hana malah tersenyum tanpa dosa setelah sukses membuat Devano basah kuyup.
“Jaga pikiran kamu, huh.” Devano menunjuk kening Hana dengan dua jarinya.
“Masalahnya enggak bisa! Kita enggak akan pernah bisa mengendalikan perasaan walau itu bertentangan sama kenyataan, walau Kakak nyuruh aku berulang kali juga hasilnya sama aja. Aku suka berada di deket Kakak, dan menurunkan harga diriku buat melakukan hal yang bahkan enggak bisa ku kendalikan.”
“Baby ....” Devano ingin berkata-kata, tapi penampilan Hana yang basah membuat pikirannya traveling. Pakaian basah Hana layu hingga menampilkan setiap lekuk tubuhnya tanpa terkecuali. Kulit putih bersihnya berkilat kecil terkena pantulan sinar matahari, gadis itu benar-benar terlihat cantik di mata Devano sekarang.
Devano benar-benar benci pikirannya sekarang.
“Kakak berdua ngapain ada di kolam?”
Suara Emily mengagetkan Devano dan Hana, mereka berdua pun memisahkan diri dan langsung naik ke tepian kolam. Hana pun sedikit memeras rambut dan sudut pakaiannya agar tidak terlalu menimbun banyak air.
“Ya, ampun. Pakaian Kakak jadi basah semua, nanti aku minta bibi ambilin handuk di dalem,” kata Emily.
“Uuuh, kamu udah cantik, baik banget lagi. Makasih, Sayang.”
“Iyalah, baik. Emangnya kamu, usil,” kata Devano. Dia juga sama mengeringkan sebagian pakaiannya tanpa melihat ke arah Hana. Namun, alasan terbesarnya adalah menghindari pandangan dari kemolekan tubuh gadis itu.
“Aku enggak usil, cuma jujur. Kalau apa-apa dipendam sendiri nanti timbul jerawat. Kalau aku jerawatan, mustahil Kakak mau sama aku.”
“Tuh, kan, mulai lagi. Baru aja nyebur kolam, kirain pikirannya udah bersih, eh masih tetep aja travelling.”
Hana terkekeh kecil.
“Oh, ya. Sebelum aku ngambil handuk, aku mau ngasih hadiahnya ke Kakak sekarang,” kata Emily. “Ini spesial dariku buat Kak Hana!”
Hana menoleh ketika Emily menyodorkan serangkai bunga-bunga segar tepat ke hadapan wajahnya. Namun, Hana malah mematung, responsnya sedikit lambat dan merugikan diri sendiri sebenarnya.
Sekarang hidungnya baru terasa gatal dan mengganggu, hingga dia bersin keras tepat mengarah ke wajah Devano di depannya.
“Eh, buset disemprot umbel!” Devano terkejut, ingus dan air liur Hana menyiprat ke wajahnya. Sangat menjijikkan.
“Eh, maaf, maaf. Aku nggak sengaja ... aku alergi serbuk bunga.” Hana merasa bersalah, tapi dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak bersin-bersin.
***
Hana turun dari motor ketika Devano mengantarkannya sampai depan sebuah rumah mewah berlantai tiga yang katanya baru selesai direnovasi, dan Devano jadi tahu di mana tempat tinggal gadis itu.
Devano yang sengaja meminjamkan pakaiannya, melihat tubuh gadis itu hampir tenggelam oleh pakaian itu sendiri.
“Keliatannya makin parah, udah dibilang periksa dulu ke klinik. Biar kamu dapet resep obatnya,” kata Devano sebab hidung Hana jadi kemerahan karena terlalu sering bersin.
“Enggak usah, aku nggak suka pergi ke klinik. Lagian udah ada persediaan obat di rumah. Sebentar lagi juga baikan, kok,” jawab Hana.
“Beneran?”
Hana mengangguk.
“Sorry, kakak enggak tau kalau kamu alergi. Kalau ada apa-apa langsung telepon aja, kakak akan tanggung jawab sama sakit kamu.”
Hana tersenyum simpul, lalu mengangguk pelan.
“Kakak anter sampe dalam, ya. Biar bisa jelasin ke mama kamu kalau ditanya penyebabnya.”
“Eh, jangan!” Hana melarang tegas.
“Kenapa?”
“Di rumah lagi ada papa. Papa enggak pernah suka aku bawa temen laki-laki ke rumah.”
“Kamu takut dimarahin?”
“Aku dimarahin udah biasa. Aku cuma khawatir papa marahnya ke Kakak. Jadi enggak papa, cukup sampe sini aja. Nanti aku kabarin Kakak lagi kalau ada apa-apa.”
Devano menghela napas pelan. “Baiklah kalau itu mau kamu. Sekarang masuk ke dalem, gih. Ganti baju, jangan lupa diminum obatnya.”
“Oke!” Hana tersenyum lebar, dia senang sekali mendapat perhatian begitu dari Devano. Dia pun langsung berbalik arah dan ingin masuk rumah.
“Baby!”
Baru beberapa langkah diambil Hana, Devano memanggil sampai dia menoleh lagi.
“Kenapa? Masih kangen, yah?” tanya Hana.
“Bukan, tapi itu helm kakak jangan dibawa.” Devano menunjuk ke arah helmnya yang masih dipakai Hana.
“Kak Vano, ih!” Hana buru-buru melepas helmnya, lalu berlari masuk rumah. Tidak bisa dibayangkan lagi seberapa merah wajahnya sekarang, atau betapa malunya dia di hadapan Devano.