Tiga tahun berlalu, sesuai janjinya.. Jouis membawa istri dan anaknya ke rumah yang ia bangun di kota kelahirannya. Rumah itu begitu besar dengan halaman yang luas, pagar yang menjulang tinggi ditumbuhi dengan bunga-bunga mawar. Marvella melompat kegirang saat ia memasuki pagar, terpukau oleh indahnya taman yang Jouis siapkan untuk menemani waktu bersantai di sore hati. “Indahnya!” gadis kecil yang telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa itu memeluk suaminya manja. Mulai berceloteh tentang rencana-rencananya ke depan. Mereka bahkan belum membuka pintu depan, tapi Marvella sudah begitu bersemangat. Jouis tak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum melihatnya. “Kyaa! dalamnya lebih indah lagi! Kamu pintar deh dekor rumah!” jeritan itu makin lantang ketika mereka memasuki ruang t

