“Ini dia anaknya,” Kata Dimas yang tiba-tiba muncul di hadapan Luna. “Abis ada kelas?” Luna menghela napas. Ia sedikit kesal saat Dimas rela hampir setiap hari menunggunya sampai selesai kuliah, padahal Luna tahu Dimas memiliki banyak kegiatan di luar sana. Dimas merelakannya hanya untuk pulang bersama Luna. Jujur saja, Luna senang karena ia merasa dihargai dan dilindungi oleh seseorang. Namun di sisi lain ia kesal karena Dimas jadi mengabaikan kegiatannya yang lain. Luna sudah sempat bicara soal ini, namun Dimas selalu bersikeras kalau ia menjemput Luna saat waktu luang saja. Sedangkan ia menjemput Luna hampir setiap hari. “Nggak, gue abis bimbingan.” Kata Luna. “Oh, ya—APA, LUN? BIMBINGAN?” Luna mengangguk dengan memasang wajah polosnya. “Kenapa?” “Bahkan gue judul skripsi aja belum

