Keadaan rumah sudah sepi. Beberapa lampu sudah dimatikan, hanya ada penerangan dari lampu-lampu kecil yang berada di sudut ruangan. Dimas segera menuju kamarnya. Berganti pakaian dan beristirahat. Pikirannya kacau mengingat omongan papanya setelah rapat tadi. Sebenarnya hanya obrolan ringan, namun sungguh menyita pikirannya. “Dimas, duduk. Papa mau bicara.” Dimas yang sudah bangkit dari kursinya terpaksa kembali duduk mengikuti perintah papanya. “Ada apa, pa?” “Papa nggak mau bertele-tele. Tolong jauhi perempuan yang sedang dekat denganmu itu.” “Luna? Tapi kenapa?” “Papa tau dia perempuan yang baik, tapi papa nggak suka dengan keluarganya,” Kata papa Dimas. “Papa sudah mencari tau tentang keluarganya. Semua dituntut untuk sempurna, termasuk anaknya.” “Tapi pa, Dimas cuma temenan sa

