Hari demi hari berjalan baik, hubungan Valeria, Varel, dan Gara pun juga mulai akur. Gara sudah mau memanggilnya Bunda, dan mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan sebaik mungkin walau nyatanya masih tersimpan seribu luka, dan masih mengganjal di hati wanita itu, karena sang suami masih belum bisa melupakan mendiang istrinya. Valeria sadar diri posisinya sebagai pihak yang tak dicintai, namun ia hanya meminta agar kehadirannya dihargai sebagai istri, dan Varel juga harus belajar mencintainya jangan terpaku pada cintanya untuk Dara, almarhumah istrinya. Terkadang diamnya Valeria bukan karena ia baik-baik saja kala suaminya masih memikirkan peremphan lain, Valeria hanya mencoba menerima keadaan dan bersabar, dan ia berharap suatu saat nanti Varel bisa mencintainya dengan tulus. Seper

