Dua bulan telah berlalu sejak perkenalan Anya dengan Evan. Sekalipun mereka kerap bercengkerama, tapi Anya tetap menjaga batasan hanya sebagai teman. Lagipul, Evan juga tak menunjukkan tanda-tanda kalau dia ingin lebih dari teman.
Aric meneleponnya dan bertanya jam berapa dia pulang part time hari ini. Juga meminta maaf karena dia ada pertemuan club game dan tidak bisa menjemput Anya. Anya, selama ini tidak terlalu bergantung pada Aric, sekalipun Aric selalu siap sedia kalau Anya minta.
"Cintakuuuu ... muach muachh ..." Seorang gadis memeluk dan menciumnya saat Anya sedang mengoleskan CC cream favorit ke wajahnya, gadis itu Olga, sahabat Anya dari SMA. Mereka berbeda kampus tapi Olga kos bareng Anya.
"Kenapa lagi nih, kesurupan?" tanya Anya.
"Semalam gue udah nyicipin body Deron." Olga meloncat ke ranjang Anya. Anya menegurnya. Deron itu kekasih Olga. Sepertinya sudah sekitar tiga bulan mereka menjalin hubungan. Olga, sahabatnya itu memang sedikit berbeda dari Anya, gaya pacarannya juga bebas sejak SMA dulu. Walaupun ada cerita di balik sikapnya.
"Gila ajaaa, kebalik kali, dia yang nyicipin lo." Anya bersungut.
"Pokoknya, gue nggak bisa lupain moment tadi malam." Olga menoleh ke arah Anya. "Si Aric gimana?"
"Apaan?"
"Hebat juga tuh cowok, kalo gue jadi, dia udah gue jarah habis-habisan lo." Olga terkekeh.
"Stres!" Kalau orang lain mendengar ucapan Olga, pastilah akan geleng-geleng kepala. Olga sangat terbuka pada Anya.
Olga tertawa, "Alah si Aric, tampangnya udah mupeng gitu paling bentar lagi nagih dia."
"Males ah obrolan kayak gini," rutuk Anya kesal.
"Oke manisss. " Olga mencubit pipi Anya dan beranjak keluar.
Dasar Olga, bener-bener barbar tuh anak. Kalau orang tua Olga tahu kelakuan anaknya, bisa-bisa diseret balik dia. Anya menyempatkan diri menelepon mama, tampaknya mama juga sibuk bekerja. Mama seorang manager purchasing di perusahaan consumer goods tingkat nasional, papa Anya telah meninggal sejak lama, saat Anya SD malahan, tapi mama tampaknya tidak berniat untuk menikah lagi.
Anya memikirkan ucapan Olga, seandainya Aric mengajaknya 'melakukan' apa yang harus dia katakan? Apa dia sudah siap? Jawabannya jelas belum.
Anya memulas lipstik ke bibirnya yang tipis juga mengenakan blush on samar. Dia mengenakan blazer kasual berwarna salem dengan dalaman tanktop hitam juga rok jeans sedikit di atas lutut. Penampilan Anya benar-benar menarik, walaupun tidak penting dia mau berdandan dan mengenakan baju sebaik apapun karena di cafe tetap saja dia akan menggunakan seragam waitress cafe yang selalu tersimpan di loker.
Anya sampai di cafe dan telah ada pengunjung.
Barista menyapanya. "Haloo sunshine."
Anya tertawa, barista telah menikah dan punya anak, makanya Anya selalu tidak menggubrisnya karena walaupun dia kerap mengganggu Anya, Anya bisa membedakan mana pria yang benar-benar penyayang keluarga dan mana yang bukan. Dia tau barista hanya basa basi saja.
Anya berganti seragam waitress dan duduk di depan barista.
"Pemuja rahasiamu nggak datang?" kata Barista.
"Siapa?"
"Evan."
"Ada-ada aja. Sejak kapan dia jadi pemujaku?"
"Mana ada lelaki yang nggak jadi pemujamu."
Anya tertawa lagi. Aric mengiriminya video sedang bersama teman sesama gamer, memasang wajah konyol. Malam itu cukup cerah, kerlip bintang terlihat di langit malam saat Anya sesekali keluar ke teras cafe. Evan juga tak terlihat, sudah seminggu dia tak muncul. Rindu juga bercerita dengannya, Evan selalu punya cerita yang menarik terkait pengalamannya bepergian. Mereka selalu berbincang di dekat meja barista, teman Evan yang bernama Ricco sesekali bergabung bersama mereka. Ricco berwajah dan bertubuh menarik, kata teman waitress Anya, mereka seperti pasangan gay.
Anya kemudian mengecek w******p miliknya, pesan dari nomor tak dikenal.
Pacarmu membawa wanita ke apartementnya.
Kalimat yang singkat tapi bagai halilintar. Tangan Anya bergetar, apa dia harus percaya pesan ini? Anya buru-buru meminta izin untuk keluar dan berganti pakaian.
Di atas ojek online Anya terus gemetar, sebenarnya dia tak ingin mudah percaya tetapi ... bagaimana dia bisa mengabaikan pesan itu? d**a Anya bergemuruh dia bahkan salah memencet lantai di lift seharusnya 7 tetapi terpencet 5.
Anya menekan kode apertemen Aric, lampunya memang menyala tapi belum tentu Aric ada di dalam. Hatinya bergemuruh berharap itu hanya pesan iseng. Anya berjalan sangat pelan ke kamar Aric, kamar yang biasanya mereka bermesraan dan dia berada dipelukan Aric menghabiskan waktu.
Anya membuka pintu kamar itu pelan, dari punggungnya Anya tahu itu Aric, sudah hampir setahun mereka menjalin kasih. Aric sedang bersama seorang wanita---, mereka terengah dan mendesah liar. Telanjang. Pemandangan yang belum pernah dia saksikan, hanya sekali itupun dari video yang diperlihatkan Olga padanya karena sempat viral. Anya menjerit.
Aric berbalik, "Anya!"
Anya berlari sekalipun kakinya mati rasa, dia berlari dan berlari tanpa mengindahkan apapun. Menahan agar air matanya jangan tumpah.
Tangannya ditarik seseorang, Anya menjerit. Sebuah suara yang familiar tapi ternyata bukan Aric. "Anya."
"E-Evan," rintih Anya.
Evan membawa Anya ke mobilnya. Anya langsung menangis seketika dan tersedu-sedu. Evan memberikan tisu padanya. Evan menghentikan mobilnya di sebuah coffeeshop.
"Mau kopi?"
Anya mengangguk masih terus tersedu-sedu. Evan menyodorkan cup kertas itu.
"Rasanya?" tanya Evan.
"Pa-hit ..."
"Berarti belum terlalu sakit hatinya," kata-kata Evan menghentikan tangis Anya, dengan pipi yang basah oleh air mata dan mata berkaca dia menatap Evan. Tangis Anya akhirnya berhenti, Evan tidak bertanya apapun soal kenapa dia menangis, syukurlah karena Anya tak ingin menjelaskan pada lelaki itu.
"Mau pulang ke kos?"
Anya mengangguk.
Dia mengirimkan pesan ke Olga, "Ga kamu di mana? I need you right now. Pulang ya magirl :'("
Evan membukakan gerbang kos Anya dan mengantarnya sampai ke dalam, Olga telah menunggu dan merangkulnya cepat. Olga mengucapkan terimakasih pada Evan sambil memandangi Evan dari kepala hingga kaki. Evan pun berpamitan.
Di kamar, Anya mulai menangis lagi. Olga mengusap pipinya lembut. "Tell me, what's going on, Baby?"
"Aric ... dia selingkuh," isak Anya.
Olga mengerutkan kening, masa sih? Si Aric? Olga jelas tau bagaimana dulu Aric mengejar-ngejar Anya.
"Kamu yakin?"
"Gue liat sendiri, Ga-gue bahkan ..."
Olga menunggu kata-kata Anya yang terbata. Anya melanjutkan, "Melihat mereka bercinta, Ga!" Anya menjerit histeris.
"Gosh!!! Sialan!" Betapa shock-nya Olga mendengar pernyataan itu.
"Heii." Anak kos yang lain mengintip ke kamar Anya. "Ada pacar Anya tuh di depan."
"Aku nggak mau ketemu dia, Ga," kata Anya. Olga mengangguk.
Aric mondar mandir di ruang tamu kosan, "Ga, mana Anya? Gue harus ketemu dia."
Olga memukul wajah Aric, "Brengsekkk!!! Jangan berani-berani datang dan ketemu Anya lagi lu b******n!"
"Ga, denger dulu penjelasan gue."
"Minggat nggak lo! Kalo gak gue panggil security."
"Plis Ga, lu tau sendiri gimana sayangnya gue sama Anya."
"Ya dan ternyata lu nyakitin hati dia. Minggat sono!!" Teriak Olga keras. Akhirnya Aric mengalah dia tau situasi saat itu sedang tidak kondusif.
Olga tidur di kamar Anya malam itu. Dia mencoba menghibur Anya, "Udah lupain Aric, lelaki itu sok polos taunya b******k juga." Anya diam saja. "Masih banyak laki-laki lain yang bakal ngantri buat dapetin lo, Byy. Contohnya yang nganter tadi gila, hot banget tuh laki."
"Ga ..." Anya berkata lemah.
"Oke, By, istirahatlah bobok," ujar Olga.
°°°
Evan kembali ke kantor walaupun jam telah menunjukkan pukul 10 malam, kantorpun telah sepi hanya ada penjaga malam yang bertugas. Dia memasuki ruang kerjanya, menunggu seseorang. Seorang pria berusia empat puluhan memasuki ruangan. Pria itu orang kepercayaan Evan.
"Rencana berhasil, Pak, Nona Anya telah memergoki perselingkuhan pacarnya."
"Aku tau. Transfer sisa pembayarannya dan tambahkan bonus untuk wanita itu," kata Evan.
"Baik, Pak." Pria itu meninggalkan Evan.
"Lelaki tolol." Evan menyeringai licik, tersenyum penuh kemenangan.
Dia menelepon Ricco, terdengar suara Ricco yang terengah-engah menjawab telepon di seberang.
"Wanita mana lagi yang sedang lo garap heh?" tanya Evan. Ricco terkekeh. "Temui gue di Tave Club sekarang," lanjut Evan.
Evan memesan Absolut Vodka sambil menunggu Ricco. Ricco datang setengah jam kemudian menuang vodka ke gelas dan menenggaknya.
"Gue habis nganterin Anya balik. Nggak tega liatnya." Evan menghela nafas.
"Lo pasti udah ngelakukan hal yang licik." Ricco terkekeh. Dia selalu bisa membaca rencana Evan.
"Bukan salah gue kalau pacarnya brengsek."
"Siapa yang lo hire?" Ricco tak perlu bertanya karena dia sudah tau.
"Ivy."
Ricco tertawa, "Mana ada laki-laki normal yang nggak tergoda pada Ivy."
"Ada. Gue," sahut Evan.
"Emang lo normal?" Ricco menyipitkan matanya.
"Sial." Maki Evan. "Gue butuh bantuan lo."
"Nggak salah nih lo minta bantuan gue." Ricco tertawa geli, tapi dia melanjutkan. "Tenang Van, gue pasti selalu dukung lo sekalipun seluruh dunia memusuhi gue."
"Thanks brother." Evan menepuk pundak Ricco.
"Btw, besok malam pinjam kolam renang lo ya." Ricco mengangkat alisnya dengan smirk smile.
Evan menggelengkan kepala melihat tingkah Ricco tau arti raut wajah Ricco itu. Ricco tertawa lagi geli melihat sahabatnya itu.