bc

Secret Charm

book_age18+
169
IKUTI
1K
BACA
possessive
drama
sweet
ambitious
city
office/work place
lies
secrets
gorgeous
passionate
like
intro-logo
Uraian

Pria tampan itu tiba-tiba memasuki hidupnya, membuatnya terpesona padahal untuk mendapatkan cintanya sang pria telah menggunakan cara yang cukup licik. Tapi pesonanya tak bisa begitu saja diabaikan, dia akhirnya terjerat pada permainan cinta yang dalam. Dunia yang tak pernah dia ketahui sebelumnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Coffee
Di sebuah cafe yang cukup temaram, sesosok gadis cantik sedang menghidangkan pesanan kopi dari para pelanggan. Cafe itu cukup laris, tapi karena hujan mengguyur seharian, hanya ada dua meja yang terisi. Anya, nama gadis itu, masih berstatus mahasiswi di sebuah universitas negeri. Gadis berparas cantik menarik, dengan rambut bergelombang melewati bahu, mata bulat dan jernih juga senyum memikat. Dia saat ini bekerja part time di Cafe Teraase yang dimiliki oleh abang sepupunya. Di sudut cafe terlihat dua pria sedang berbincang serius, hujan deras di luar, tidak begitu terdengar sampai ke dalam. Anya menghidangkan pesanan mereka, espresso dan long black. Pria pemesan espresso memiliki mata tajam dan berwajah sangat tampan, Anya hampir menumpahkan kopi itu saat melihat wajahnya dalam remang cahaya. Benar-benar membuatnya tertegun, dia buru-buru merasa berdosa karena telah begitu terpesonanya pada pria lain selain kekasihnya. Pria itu menatapnya, menyadari betapa kikuk Anya saat mengalihkan pandang. Pria pemesan long black memesan lagi onion ring dan french fries. Anya mengangguk. Dia tertawa seperti menangkap basah Anya memandangi temannya. Memalukan, pikir Anya, buru-buru meninggalkan meja itu. Anya meminta waitress lain untuk mengantar pesanan onion ring dan french fries. Dia terlalu malu untuk kembali. Anya menuju meja brewing untuk memperhatikan sang barista menyeduh kopi, dia selalu suka wanginya sekalipun belum tertarik untuk mencoba mesin kopi itu. Pria espresso mendatangi mereka, dan bersalaman dengan barista. Anya langsung kaget. Pria itu tersenyum tipis dan menyeret kursi bulat, duduk memperhatikan barista dengan aktivitasnya. Anya ingin pergi tapi jelas terlalu terlihat, jadi dia memutuskan untuk tetap di sana. "Gimana kopinya, Van?" tanya barista. "Seperti biasa, pahit." Pria itu menjawab. Barista tertawa. "Kalau ingin manis, kamu coba favoritnya Anya, Coffee latte." "Halo." Pria itu tersenyum simpul. "Aku Devan, panggil saja Evan. Kamu?" "Mmh ... Anya, panggilannya juga Anya." Dia menjawab kikuk. "Kalau kata Anya, espresso akan terasa pahit kalau orang yang minum hatinya benar-benar sakit." Barista masih terus membicarakan Anya. Pria itu mengangkat alisnya. "Kamu pernah mengalami itu?" Dia bertanya. "Aku kurang suka espresso," sahut Anya gugup. Sebenarnya Anya telah mengetahui pria itu kerap datang bersama teman-temannya ke cafe mereka. Tapi baru tadi dia berkesempatan untuk melayaninya secara langsung. Pria itu adalah pelanggan tetap. Barista menyuguhkan coffee latte dengan motif angsa di atasnya pada Anya. "Kesukaan dia." Barista tersenyum. Evan memperhatikan Anya. "Kalau gitu aku pesan itu juga. Jadi dia ada teman minum." Barista itu tertawa dan mengiakan, "Anya penyemangat kerja, aku rela gajiku dipotong untuk menghadiahkan dia secangkir latte tiap hari." "Hmm. Tidak boleh minum saat bekerja," tegur Anya tersenyum tipis sembari meminum latte yang diberikan oleh barista tadi. "Boleh saja kalau curi-curi," ejek Barista. "Aku jadi ingin merasakan saat di mana espresso tidak pahit," kata Evan. Anya tertegun, "Sebaiknya jangan." "Kenapa?" "Hanya jangan," jawab Anya sekenanya. Evan berbincang dengan barista, sangat santai malam ini memang jarang terjadi. Mereka bicara tentang ekspor impor kopi, juga kopi terbaik citarasa lokal maupun non lokal. Anya tak ingin beranjak dari sana, rasa keingintahuannya memang tinggi, sekalipun dia lagi-lagi merasa bersalah karena tertegun menikmati keindahan paras pria lain selain kekasihnya. °°°° Setelah malam itu, hampir tiap malam Evan datang, padahal sebelumnya dia hanya datang saat weekend. Pojok favorit tempat dia duduk telah berpindah ke meja dekat barista. Dia bahkan selalu mengajak Anya berbincang, abang sepupu Anya pemilik cafe itu dengan sumringah meminta Anya menemani Evan berbincang. Selain menjadi pelanggan tetap, Evan selalu memberi tip dalam jumlah besar. Evan bekerja di perusahaan offshore, wajah tampan dengan penampilannya yang menarik juga tubuh atletis, terlihat dia pandai menjaga bentuk tubuhnya tetap ideal, membuatnya menjadi bahan pembicaraan para waitress. Malam ini dia datang sendiri. Evan telah meminta Anya duduk bersamanya di meja. Anya sebenarnya ingin menolak, tapi berbincang dengan Evan sangat menyenangkan. Evan juga tidak terlihat seperti pria perayu, mereka berbincang ringan seputar masalah kampus Anya dan pekerjaan Evan. Lagipula, Anya pikir perlu untuk mencari relasi sejak bangku kuliah untuk memuluskan jalan saat magang atau kerja nantinya. Bulan ini memang musim hujan, pengunjung cafe lagi-lagi tak seramai biasa, Evan memesankan Anya salad buah dan latte favoritnya. Berkata pada abangnya untuk meminjam Anya sebagai teman bicara. Dengan seringai aneh, abang sepupu Anya mengangguk. Firasat Anya, dia ingin menjodohkan Anya dengan Evan. Apa dia lupa, Anya telah memiliki kekasih di kampus? Anya bukanlah tipe gadis yang mau berselingkuh. Evan menawarkan diri untuk mengantar Anya pulang karena derasnya hujan. Anya sejenak berpikir, kekasihnya jelas tidak mungkin datang karena hujan deras itu. Biasanya Anya akan nebeng dengan abangnya tapi kadang dia merasa sedikit kurang enak karena abangnya terpaksa memutar jauh kalau mengantar Anya kekosan. Anya akhirnya mengangguk. Anya meminjam payung di cafe dan bersama Evan berjalan menuju parkiran. Sebuah mobil terlihat melaju kencang dan membuat Evan menarik Anya dalam dekapannya. Anya terpekik kecil. "Ah maaf," kata Evan. "Nggak apa. Terimakasih." Evan diam saja sepanjang perjalanan, membuat suasana menjadi canggung. Padahal dua minggu belakangan mereka telah berteman akrab. "Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Evan menoleh seperti tersadar, "Tidak, sama sekali tidak," sahutnya. "Jadi kenapa diam-diam seperti ini?" "Sepertinya aku sedikit grogi karena menyetiri kamu." Evan tertawa dan itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan bernada merayu. Anya membalasnya dengan tertawa. Sudah pukul sepuluh malam, kos-an Anya tidak ada jam malam dan bebas, karena pemilik kos tidak tinggal di sana. Mereka membawa kunci masing-masing. Penghuni kos beberapa telah bekerja dan beberapa mahasiswa yang memang punya aktivitas lebih dari biasa seperti bekerja part time ataupun doyan clubbing hingga malam. Anya mengucapkan terima kasih, jantungnya berdesir saat melihat senyuman Evan, benar-benar menggoda, walau dia yakin Evan tidak bermaksud menggodanya. Anya melambai saat Evan berlalu. Anya mendorong gerbang rumah kosnya. Bajunya basah, payung kecil tidak bisa menutupi tubuh mereka berdua padahal Anya yakin tubuh Evan yang tadi lebih banyak terkena hujan. "Kehujanan, Beb." Teman satu kos sedang menikmati mie rebus panas di meja. Anya mengangguk, sepertinya dia punya pizza di kulkas nanti kalau lapar tinggal dipanaskan saja di microwave. Anya melilitkan handuk ke kepala, dia melihat pesan w******p-nya. Alaric, kekasihnya telah menelpon berkali-kali. Anya pun menelponnya. Wajah Aric, begitu dia biasa dipanggil terlihat di layar itu. Sudah setahun Anya menjalin hubungan dengan Aric. Awalnya saat masuk kuliah, Anya tidak begitu tertarik untuk berpacaran karena waktu SMA dia pernah pacaran dua kali. Banyak yang mengejar-ngejar Anya saat itu, tapi Aric yang paling gigih. Aric juga mahasiswa baru di fakultas yang sama, berwajah tampan dan dia sering bertingkah lucu membuat Anya selalu tertawa. Setahun lamanya, Aric mendekati Anya sampai akhirnya Anya pun luluh dan mulai memiliki perasaan pada lelaki itu. Aric meminta maaf karena tidak menjemput Anya dari kerja part time-nya dan berjanji akan melayaninya sepenuh hati besok. Kata-kata Aric membuat Anya tertawa. Sesaat Anya membandingkan Evan dan Aric. Evan berusia 25 tahun dan Aric sebayanya. Evan tidak sehumoris Aric yang kerap kelebihan dosis. Tapi Anya selalu nyambung kalau bicara dengan Evan, sekalipun mereka berada di dunia yang berbeda. Lagi-lagi Anya segera berhenti berpikir, tidak pantas rasanya membandingkan Aric dengan pria lain. Anya tertidur dengan handuk masih melilit di kepalanya. °°° Aric tertawa lebar saat melihatnya di kampus, Aric tersenyum membentangan tangannya, "Halo dewiku." "Siapa dewi?" Anya memasang wajah manyun. "Kamu, ya." Aric menjentikkan jari ke hidung Anya. "Woi Ric, balik sana, pagi-pagi udah nongkrong di kelas orang." Teriak teman sekelas Anya. Aric satu fakultas tapi beda jurusan. Aric mengejeknya sambil tertawa. "Hari ini kuliah sampe jam berapa sih?" Aric bertanya. "Jam 1, kan." "Pulangnya ke apartemenku, ya? Nanti sore aku anterin ke cafe." "Bukannya kamu juga ada kuliah?" "Dibatalkan tuh." Aric nyengir. Aric tinggal di apartemen, perekonomian keluarga Aric jauh lebih baik dari Anya. Sebenarnya Anya juga tidak susah sekalipun ibunya single parent, beliau punya jabatan cukup tinggi di perusahaan di kota asalnya. Anya sudah terbiasa mencari uang, waktu SMA dulu dia berjualan dompet kerajinan etnik. Saat ini bekerja di cafe pun karena memang dia menyukainya, sekalipun Aric memintanya berhenti agar mereka lebih banyak memiliki waktu bersama. Anya tipe orang yang tidak suka menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan. Di kampus, Aric dan Anya mendapat predikat couple goals, bagaimana tidak, mereka memang sangat serasi, terlebih Aric selalu mudah berinteraksi dengan orang lain. Bahkan dia meminta saran dengan dosen atas hubungannya dengan Anya. Memalukan kadang kelakuan Aric. °°° Aric membonceng Anya dengan motor gedenya dan melaju ke Apartemen Aric. Belum lagi Anya masuk ke dalam Aric telah merangkul dan menciuminya. "Uh Aric. Nanti ada yang lihat." "Biarin, pacar sendiri ini." Anya sendiri tak tahu sejak kapan Aric menciuminya seperti itu." Anya jarang membalasnya hanya sesekali. Mereka pertama berciuman saat pacaran dua bulan, Aric juga yang menjadi ciuman pertama Anya. Aric mendekap tubuh Anya. Masih terus menciumnya. "Mmh rindu berattt," bisik Aric. "Apa sih, tiap hari ketemu di kampus." "Tapi sudah tiga hari aku nggak cium kamu." "Aric, aku laper." Anya tertawa. "Perusak suasana." Aric mengerling, matanya menatap Anya penuh perasaan. "Aku order dulu, mau apa?" Apartemen Aric selalu bersih dan rapi, Aric adalah putra bungsu dari pemilik perkebunan di Kalimantan. Aric saja mengajak Anya untuk tinggal bersamanya di apartemen, toh, ada lebih dari satu kamar di sini. Tapi Anya menolaknya dengan cepat, dapat dipastikan apa yang akan di lakukan Aric setiap hari. Aric saja sudah memberitahukan Anya password apartemennya. Setelah makan pun mereka masih terus bermesraan, mencium Anya tak pernah cukup kata Aric. Sekalipun Aric selalu menciuminya dengan liar dan menggerayangi tubuh Anya dengan jemarinya, mereka belum sampai ke tahap yang lebih jauh. Kata Aric, cuma soal waktu dan Anya langsung menjitak kepalanya. Aric mengantar Anya ke cafe pukul 5 sore dan dia segera berlalu, ketimbang nongkrong di cafe, Aric lebih memilih bermain game bersama teman-teman club-nya. Aric telah direkrut oleh club gamer profesional dan beberapa kali mengikuti kompetisi ke luar negeri. Ada yang berbeda malam itu, Anya mencari sosok Evan yang biasanya selalu hadir tapi sampai cafe tutup lelaki itu tak muncul.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook