“Sesuai dugaan awal, Mas, Ayah sama Ibu keberatan.” Mas Gala langsung mengangguk. Dia menyesap kopinya, sementara aku membuang muka ke luar. Kutatap jalanan depan yang tampak lengang. Ya, malam ini aku langsung mengabari Mas Gala perihal respon Ayah dan Ibu yang kurang berkenan dengan hubungan kami. Ini hanya jeda beberapa hari setelah dia datang ke rumahku. Tidak ada gunanya menunda-nunda. Mas Gala memang harus segera tahu. “Lalu menurutmu, aku harus gimana, Ma? Apa langsung menemui mereka lagi, menunggu dulu, atau Ayah dan Ibuku langsung datang aja?” “Nunggu dulu, kayaknya. Sambil aku ngobrol pelan-pelan sama Ayah dan Ibu. Siapa tahu mereka berubah pikiran. Minimal banget, aku berharap mereka agak melunak.” “Oke. Sambil aku bolak-balik ke Jakarta buat ngurus ujian akhir.” “Mas Gal

