“Kamu bisa lihat sendiri, kan, kalau Ayah sesuka itu sama pie buatanmu?” Aku langsung mengangguk. Karena memang benar, Pak Alam terlihat sedang makan pie, lagi dan lagi. Entah itu sudah bungkus ke berapa, aku tak menghitungnya. Belum lagi, ekspresi beliau saat memakannya tampak lahap. Seolah-olah, pie itu memang sangat enak. Jujur, aku jadi tersanjung karena ini. Ngomong-ngomong, aku jadinya sedikit memodifikasi resep dari Risa. Tesktur lebih padat tak masalah, tetapi varian dan topping kubuat lebih beragam. “Tadi gimana rasanya ngobrol sama Ayah, Ma?” tanya Mas Gala lagi. “Nano-nano, Mas .” “Nano-nanonya itu gimana?” Aku menoleh, mata Mas Gala langsung menyipit. “Bentar! Matamu, kok, agak sembab, Ma? Apa Ayah nyakitin kamu? Kalau iya, biar aku—” “Ih, enggak!” Mas Gala yang sudah b

