Aku terbangun ketika merasakan panas menusuk pipi kanan. Begitu membuka mata, rasa silau langsung menyerang. Di saat yang sama, aku menyadari kalau aku bangun di sebuah kamar luas yang ventilasinya cukup banyak. Aku memejamkan mata lagi. Itu karena kepalaku agak pusing. Kubiarkan aku tetap diam selama beberapa saat. Setelah membaik, baru aku kembali membuka mata. “Di mana, aku?” Aku mengedarkan pandangan, kamar ini tampak seperti kamar sebuah hotel. Aku celingukan, kosong. Aku menatap bawah, bajuku masih lengkap. Jaket yang kukenakan pun resletingnya masih mengait sampai ujung atas. “Bukannya semalam aku sama Mas Gala—” Kalimatku terputus ketika tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Mataku langsung mendelik begitu melihat Mas Gala masuk membawa satu paper bag warna coklat. Aku refle

