12. Polemik Tanah Warisan

2016 Kata

Malam ini, aku sengaja mengajak ketemu Mas Rendra. Aku mengajaknya ke café yang sama dengan saat aku bertemu Mas Gala— yakni café Pawon Kinanthi. Mas Rendra langsung mengiyakan. Mungkin tahunya aku sedang berinisiatif lebih dulu. Padahal, aku ingin minta pertanggungjawabannya atas apa yang telah dia lakukan pada Mas Gala kemarin. “Ma …” Aku mendongak, Mas Rendra sudah datang. Aku langsung mempersilakan dia duduk. “Maaf, perempatan ujung sana itu macet. Jadi aku agak telat.” “Enggak papa. Mas Rendra mau minum apa? Biar aku pesenin.” “Enggak usah. Sebelum ke sini, aku udah pesen. Habis ini paling diantar.” “Oke.” Hening sejenak. Yang terdengar hanyalah suara live music yang lokasinya agak jauh dari tempat kami duduk. Kalau waktu itu aku duduk di lantai dua, kini di lantai satu. “Tum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN