Ayah dan Ibu rupanya tak menyerah. Meski aku sudah bilang tidak ingin, mereka masih terus merayu. Belum lagi, mereka juga semakin sering mempersilakan Mas Rendra datang ke rumah. Membuatku semakin kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kalimat minta putus kemarin rasanya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak benar-benar sampai hati. Nyatanya, Mas Rendra tetap datang dan bertindak seolah-olah aku tidak pernah mengatakan kalimat itu. Mau terlalu mengabaikan, aku masih tak sampai hati. Alasannya masih sama dengan yang sebelumnya kusinggung— yakni, karena pada kenyataannya dia belum berbuat jahat apa pun. Kalau aku tiba-tiba menuduh, itu akan lebih aneh. Apalagi kalau aku sampai menyinggung tentang fenomena yang kualami. Yang ada, aku akan dicap tak waras. Lagi pula, sam

