Hari ini aku harus ke rumah sakit untuk menebus obat milik Ayah. Ini sudah menjadi rutinitas sejak penyakit Ayah sering kambuh. Aku tinggal datang membawa resep, membayar, lalu selesai. Ngomong-ngomong, Ayah dan Ibu belum jadi menyidangku. Mungkin karena momennya selalu kurang tepat. Pulang dari warung makan sudah lelah, pasti inginnya istirahat. Bukannya malah memarahiku— yang kemungkinan besar akan terjadi perdebatan panjang. Ya, untuk saat ini aku tinggal siap-siap saja. Kapan pun itu, aku pasrah. “Terima kasih banyak, Bu,” ujarku pada petugas potek yang notebene seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Meski begitu, beliau masih tampak cantik. “Sama-sama, Mbak.” Setelah mendapatkan obat, aku bersiap pulang. Aku tidak ada acara lagi. Paling aku tinggal masak untuk makan malam. Aya

