“U-ulangi, Mas. Mas Gala ngajak aku pacaran? Serius?” Sungguh, aku tidak berekspektasi sedikit pun kalau Mas Gala akan mengatakan ini. Mana kalimatnya terdengar sangat santai. Apa dia sedang bercanda? Atau ajakannya ini tak terlalu berarti baginya? “Kenapa kamu kaget, Ma? Aku bahkan pernah mengajakmu menikah.” “I-iya juga, sih. Tapi, kan, terakhir aku dulu yang ngajak.” Entah kenapa, ajakan menikah malah terdengar lebih biasa saja dibanding ajakan pacaran. Mungkin karena aku merasa kalau ajakan pacaran terasa lebih rasional. Kalau ajakan menikah dadakan, bisa dipastikan ada maksud terselubung. Dan ya, jika ada maksud terselubung, jangan berharap lebih— atau kalu nekat, maka sama saja menyengaja kecewa. “Kamu ngajak karena aku pernah ngajak duluan. Siapa yang ngajak lebih dulu udah b

