“Ya ampun, Ma. Wajahmu itu belepotan!” Teguran dari Ibu membuatku refleks berlari ke arah kaca terdekat. Aku langsung tertawa begitu melihat wajahku kotor terkena tepung. Aku sama sekali tak menyadari ini. Mungkin karena sejak tadi aku terus sibuk bekutat dengan adonan. “Kayaknya gara-gara enggak sengaja ngusap wajah, ini, Bu. Jadi belepotan.” “Kamu sibuk terus dari tadi. Bikin apa, to?” Ibu mendekat. “Harum banget. Dari luar aja udah kecium.” “Aku bikin pie ala Risa.” “Buat siapa?” “Pengen makan aja.” Sebenarnya, pie ini untuk Mas Gala. Aku minta resep pie dari Risa karena aku ingat betul saat perpisahan kelompok Stase Bedah, Mas Gala sangat menyukainya. Dia mengatakan enak sampai berulang kali di grup. Pie itu memang approved dari semua orang. Saat itu kami semua kompak bilang k

