Bab 9: Terlalu Barbar
Gue tahu ini senior emang bete sama gue. Tapi, ya nggak gini juga kalee boss! Mana bisa dia memperlakukan gue seakan - akan gue andtara ada dan tiada gini? Emang dia pikir gue apaan? Najir banget dah ini orang. Betein banget ga sih. Haish! Emang ya bener kata orang. Kadang, cowok kalo udah resek tuh lebih lebih dari cewek. fix, valid no debat. terbukti sekarang kalau cowok emang nyebelin. Atau .... cuma si suga yang tak dirindukan ini aja ya?
* * * * *
Sudah tiga hari gue dianggurin begitu saja, kayak seonggok kanebo kering di atas meja. Oh, jelas gue enggak terima. Bukan mau sombong atau sok rajin bekerja, melainkan sudah bosan banget rasanya duduk di samping mesin fotokopi macam celengan semar. Setiap ada yang mencetak atau mengkopi dokumen, getaran mesinnya sampai ikut menggetarkan hati gue juga. Please, lah, masa hati gue tergeraknya karena mesin fotokopi. Berasa makhluk jantan di muka bumi ini sudah musnah saja. Lagi pula, kelamaan duduk di sini gue bisa-bisa dinobatkan sebagai Hajjah Bolot, alias Haji Bolot versi ciwik emesh. Gimana enggak, coba? Selain bergetar, mesin fotokopi ini juga rajin ‘nguing-nguing’ manja.
“Wuih, asoy banget, nih!” Reza lewat di depan gue, membawa setumpuk dokumen yang akan difotokopi. “Ternyata cewek sss kayak lo bisa anteng juga, ya?” Cowok itu tertawa dengan semena-mena. Ah, syaland! Ini pasti gara-gara si Beruang Kutub.
Gue melirik pada meja yang tadinya ditempati Suga, dan sekarang kosong. Karena si empunya tengah berada di dalam ruangan milik Pak Manajer.
“Enggak usah ngelirik sampe segitunya, kali.” Reza cengengesan, membuat gue jadi bernafsu untuk melemparkan seperangkat sol sepatu.
“Eiy, jangan cemberut. Bukan makin cakep, udah butek makin jelek nanti.” Reza sekarang berdiri di depan meja gue. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini orang apa bajing, jadi ngebet pengin mukul!
“Kak, gue bukan indigo, tapi gue tahu mana setan, mana teman.” Gue menarik napas. “Please jangan bikin gue berdoa, lalu tusuk boneka atas nama Reza.”
“Eits, sabar, Non. Gue Reza, enggak pakai baju merah. Jangan nyeruduk gitu, dong, ‘kan lo bukan banteng.” Reza cuma mengangguk-angguk enggak jelas, sementara gue memisahkan lembar terakhir dari kertas bekas atas suruhan si Suga yang tak dirindukan itu.
Gue malas menyahut, dan pasti terlihat jelas kalau muka gue lagi ditekuk. Karena si cepak resek ini langsung mengomentari dengan wajah menyebalkan. “Muka jangan ditekuk, dong—”
“Kak, pilih ngajarin gue, atau gue aduin ke Kak Suga kalau dari tadi lo enggak kerja?” Gue bersedekap, memasang muka serius sambil melirik pada meja kosong milik si mulut samyang.
“Ah, curang!” Reza berseru lebay, “memang apa, sih, yang mau lo pelajari?”
“Ya, tentang audit, lah.” Gue menjawab cepat, “enggak mungkin gue minta ajarin cara menghitung nomor togel.”
“Ya kali! Kalo tembus empat angka, bagi dua sama gue.”
Ampas!—maki gue dalam hati.
Gue pun beranjak dari meja goyang di sebelah mesin fotokopi itu, lalu mengekori Reza hingga ke mejanya. Sebenarnya cowok itu memang terlihat sibuk, begitu pula dengan dua Kakak cantique—yang sama sibuknya. Terbukti dari tumpukan dokumen yang menggunung di meja mereka. Gue jadi mikir, apa ini yang dilakukan Lena setiap hari, dan akan gue lakukan juga kalau seandainya diterima jadi karyawan tetap nanti? Duh, kok gue mumet duluan, ya, melihatnya. Rasanya kayak balik lagi ke zaman fir’aun—eh, maksudnya ke zaman waktu kuliah dulu. Pusing-pusing menghitung total kekayaan suatu perusahaan, giliran sudah ketemu ada selisih gopek diantara angka 2M. Mampus, ‘kan, di mana coba, gue harus nyari gopek itu?
“Shanie. Ikut saya, sekarang.”
Gue menoleh, tak lupa menguap dulu karena bosan setengah mati mendengar penjelasan panjang lebar Reza soal hutang piutang. Sebagai orang yang cash flow-nya selalu rata sama dengan nol, gue mana paham dengan aturan rumit dan sekelumit perjanjian perusahaan soal pinjam meminjam uang? Punya duit goceng buat beli cireng saja gue sudah bersyukur, itu pun minta dulu ke Eyang. Seringnya, giliran duitnya sudah gue pegang, si abang cireng kabur duluan.
“Mau kemana?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari lambe kepo gue.
“Saya akan membawa kamu untuk meeting dengan perwakilan klien dari PT. Wingis.” Suga yang baru saja keluar dari ruangan Pak Manajer menatap lurus ke gue, sementara Reza tampak menarik napas lega.
Lalu setelah empat puluh lima menit terlewat ….
Sekarang, di sini gue berada. Pada lobi sebuah gedung perkantoran yang tak kalah mewah dari WWG Tower. Gue dan Kak Suga sudah duduk sekitar lima belas menit. Ternyata tadi itu dia serius dengan ucapannya. Entah ada angin apa, dia membawa gue meeting dengan klien.
“Halo, selamat siang!” Sapaan ramah itu tertuju pada kami, “Pak Suga dan Bu Shanie, ya?”
Tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara bariton super ramah yang menyapa kami berdua. Orang ini sangat rapi, memakai setelan formal dan sama sekali enggak terlihat abal-abal. Bibirnya tersenyum ala iklan pasta gigi, kemejanya rapi sekali seperti contoh produk pelicin pakaian. Begitu ia menghampiri, bau wangi menguar ke sekeliling kami.
“Betul sekali, Pak Wibby,” Suga tersenyum lebar dan wajahnya terlihat ramah. “Bagaimana? Apa kontrak mengenai audit fee-nya sudah bisa kamu bawa?”
Wow, gue terkedjoed! Demi anak dajjal yang bunting sama ikan paus … sejak kapan Beruang Kutub ini tahu bagaimana caranya tersenyum dan menyapa orang lain dengan ramah? Gue kira Kak Suga itu titisan iblis neraka. Bayangin, dari awal ketemu gue belum pernah sekali pun melihat deretan gigi yang tampak lucu saat gummy smile-nya muncul itu.
“Wah, soal itu maaf banget, nih, Pak.” Pria yang menyapa kami itu terlihat gusar menyampaikan beritanya. “Tapi sepertinya kami tidak jadi pakai jasa WWG Grup, deh.”
“Boleh saya tahu, apa pertimbangannya?” Suga masih menjaga senyumnya agar tidak luntur. Lelaki itu mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah pena dari saku kemejanya. “Mohon dijelaskan agar saya bisa menyusun laporan pembatalan kepada representative officer kami.
“Waduh, Pak, sebetulnya kami suka sekali dengan service yang diberikan. Namun, karena tahun ini cadangan pendapatan berkurang untuk membayar dividen, jadi budget kami agak berkurang sedikit. Audit fee WWG Grup jadi terlalu tinggi untuk kami.” Pria berpakaian rapi itu menjelaskan dengan hati-hati, sementara gue lihat Kak Suga sibuk mencatat.
Sebenarnya gue agak bingung, tapi kalau secara gamblang bisa diartikan bahwa perusahaan ini tidak jadi memakai jasa audit WWG Grup karena harganya terlalu mahal. Itu artinya, kami kehilangan satu klien besar. Masalahnya … kenapa si Bapak ini harus membatalkan kontrak saat gue yang pergi meeting, kenapa?
“Pak, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?” Entah kekuatan dari mana, gue tiba-tiba menginterupsi. Tatapan laser itu langsung mengarah tepat di mata. Kak Suga pun menginjak kaki gue. Aw!
“Mohon maaf, Bu, keputusan manajemen sudah bulat. Mungkin kami akan kembali menggunakan jasa WWG tahun depan.” Bapak bernama Wibby ini mengangguk sopan.
“Kalau dapat potongan harga, apa pihak manajemen perusahaan ini akan berubah pikiran? Diskon 50% barangkali?” Gue enggak menyerah, tapi kaki gue di injak lagi untuk yang kedua kalinya. Bahkan lebih keras daripada yang tadi.
“Ma—maaf, bagaimana Bu Shanie?”
Gue baru mau membuka mulut, tapi Kak Suga keburu menyerobot. “Baik, kami mengerti Pak Wibby. Tolong jangan pikirkan ucapan Shanie barusan. Dia masih harus banyak belajar.”
“Baik, Pak, Bu. Terima kasih atas kehadirannya hari ini.”
Gue memicing tajam, dan dibalas langsung dengan mata sipit melotot ala Suga. Namun, di luar dugaan, ternyata si bacot boncabe ini enggak marah sama sekali. Dia cuma diam sambil memijat pelipisnya beberapa kali.
“Kak, kenapa lo biarin mereka lepas begitu saja?” Gue akhirnya enggak tahan untuk tetap diam.
“Kamu tidak mengerti situasi macam apa yang tadi. Lain kali tolong jangan bertindak sembarangan.” Suga menarik napas. “Ucapanmu itu bisa saja membuat perusahaan merugi, tahu!”
“Gue enggak ngerti. Padahal gue berusaha untuk membantu perusahaan, tapi lo malah bilang gue bisa merugikan.” Mulut gue tahu-tahu nyerocos begitu saja. “Siapa yang lebih begok, lo atau gue?”
“Kalau kamu enggak suka, silakan berhenti sekarang juga.”
Hening.
Kalimat barusan itu enggak diucapkan dengan nada marah, tegas, kesal, atau pun penuh emosi. Sebaliknya, malah terdengar dingin dan datar. Sekaligus membawa aura keseriusan yang lebih kuat daripada janji seorang pria yang mau melamar pacarnya. Duh, gue salah ucap. Mampus!
“Kenapa diam?”
Gue enggak menjawab. Sumpah, ini aura kegelapannya kuat banget. Untuk sekadar mengangkat kepala saja sulit rasanya.
“Begini, ya, Shanie.” Kak Suga menarik napas, kemudian melanjutkan ucapannya. “Setiap perusahaan punya protokol masing-masing. Suka atau tidak, jika kamu berada di dalamnya maka wajib mengikuti. Sekarang, saya tidak akan basa-basi lagi. Kamu mau stay atau out?”
Gue cuma bisa menelan saliva yang tersangkut di kerongkongan. Kayaknya gue terlalu barbar, deh.
* * * * *
Catatan Kaki:
Cash Flow, Arus kas (cash flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.
* * * * *
Bersambung di 1467 kata. Betewe ada yang tahan kah kalau punya senior segalak suga benaran? Wkwkwk.
Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!