Bab 8

1255 Kata
Bab 8: MOS Anak Magang aku melihat bagaimana orang orang tidak pernah mau berusaha. mereka itu seperti orang di dalam toples. terlalu nyaman dengan dunianya yg sempit dan enggan berubah. tak peduli apa yang kulakukan, dia selalu berkata bahwa akulah yang salah karena telah menyuruh nyuruh anak seperti dia. itu jelas membingungkan. karena di sini akulah seniornya. dia tidak berhak mengatakan hal hal remeh dan seharusnya hanya menjalankan tugas yang diberikan saja. pernah kalian mendapat anak magang bodog yang bikin darah tinggi? kalau belum ... sini cobak saya kasih! * * * * * Ujung mataku memicing. Menatap pada sesosok perempuan muda yang baru saja bergabung dengan tim audit kami. Sungguh mengejutkan, apakah dunia memang sesempit ini, ataukah takdir tengah mempermainkan kami, aku tidak tahu yang mana. Benar kata orang, terkadang dunia hanya selebar daun kelor. WWG Grup memiliki lebih dari tujuh ratus team audit yang tersebar di seluruh Indonesia, dan dari semua itu … wanita barbar nan menyebalkan ini malah masuk ke dalam tim auditku. Sebenarnya agak kasihan juga melihat dia murung di meja pojokan. Padahal tempat si Anak Magang seharusnya bukan di situ, melainkan sharing dengan Dessy, Lesley, dan Reza secara bergantian. Kebetulan saja set meja yang ia tempati ada di situ, tadinya berfungsi sebagai meja printer kalau saja tidak rusak. Ah, seharusnya aku tempatkan dia di dekat pintu masuk dan keluar. Agar gadis itu bisa berkonsultasi dengan keset, berbagi pengalaman bagaimana rasanya diinjak-injak. Haha! “Le, tolong sampaikan ke tim audit nomor 388. Bilang kalau semua data sudah kita kerjakan. Tahun ini mereka cuma perlu melakukan audit lanjutan terhadap PT. Sempurnah.” Aku memberikan setumpuk berkas pada Lesley, sambil melihat perkembangan si gadis barbar di ujung sana. “Kak, gue—” “Kamu cukup diam disitu seperti bayangan.” Aku berucap tegas tanpa menatap gadis itu. Dia melengos, kembali merebahkan kepala di atas meja tanpa melakukan apa-apa. Ah, kalau kuingat-ingat … belum pernah sekalipun aku memanggil nama si Anak Magang dengan benar. Shanie Rahwana, nama yang unik. Membuatku teringat pada kisah cinta Rama dan Dewi Shinta, juga sosok Raksasa Rahwana yang menyeramkan tapi tulus. Namun, bukan itu penyebab aku tidak bisa memanggil namanya, melainkan karena Anak Magang itu memiliki penyebutan nama yang sama dengan Sunny. Ya, terkutuklah aku karena tidak kunjung lepas dari bayang-bayang perempuan itu. * * * * * “Kak, please, udah tiga hari.” Aku meletakan bolpoin di tanganku ke atas meja, kemudian membuka kacamata sambil memijat pelipis yang mulai penat. Kini wajah Shanie tepat berada di depanku. Bola mata coklatnya yang jernih dan besar itu menatapku dengan saksama. Ada tatapan minta dikasihani saat aku membalas langsung sorot mata itu dengan netra kelamku. “Kamu bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mudah, bagaimana bisa—” “Gue akan berusaha!” Shanie memotong ucapanku, kemudian berseru heboh sambil mengepalkan tangannya penuh semangat. “Ayolah, Kak, kalau lo—eh, kalau Kakak enggak bergerak … yang lain enggak mau ngajarin gue pegang kerjaan.” “Toh, saya tidak menyuruh kamu untuk mengerjakan apa-apa. Tugasmu cuma duduk diam di sana sampai tiga bulan kedepan.” Aku menarik napas, menatap wajah merajuknya yang mulai menjengkelkan. “Kak—” “Coba kamu pisahkan dulu kertas bekas di mesin foto copy. Mana yang masih bisa dipakai, susun di keranjang warna hijau.” Akhirnya aku memberikan pekerjaan yang tidak berguna, lebih baik dari pada tidak, ‘kan? Kulihat Dessy dan Lesley sedang sibuk dengan setumpuk dokumen yang bertengger di meja mereka masing-masing. sementara itu Reza tampak sibuk menelepon bagian perpajakan untuk memastikan perhitungan pajak klien. Lihat, kami semua tidak punya waktu untuk mengajari kadal betina cara menanam padi. “Kak ….” Shanie merajuk lagi. Aku menarik napas panjang, kemudian berdecak dan mendengkus sekaligus. “Kamu ini maunya apa, sih?” “Kerjaan ….” “Itu sudah saya kasih kerjaan paling mudah, cukup pisahkan mana kertas bekas yang masih bisa dipakai dan tidak.” Aku mengembuskan napas kasar, mencoba untuk tidak menggunakan nada tinggi dalam nada suaraku. “Tolong kasih gue—” “Suga, bisa bicara sebentar?” Aku menoleh dan mendapati pria tua itu memanggilku ke dalam ruangannya. Untunglah Pak Soehardjo membutuhkanku di saat-saat genting seperti ini. Mulut cerewet Shanie langsung terkatup rapat, sementara aku buru-buru bangkit dan menghampiri manajer kami di ruangannya. Kulihat anak magang itu mulai beranjak ke mesin copy, mengambil sisa-sisa kertas dan membereskannya. “Gimana, Ga?” Pak Soehardjo membuka pertanyaan. Aku menatapnya lurus, “Gimana apanya, Pak?” “Anak magang itu.” Dari dalam ruangan kami melihat Shanie yang tampak serius memisahkan kertas. Ruang manajer dilengkapi kaca satu arah, jadi Pak Soehardjo pasti bisa memantau semua aktifitas kami selama bekerja di cubicle. Sementara ini ada empat tim yang dipegang oleh lelaki yang hampir pensiun ini. Jadi dalam satu ruangan terdapat empat blok cubicle yang diperuntukkan bagi tim yang berbeda. Ada lebih dari tujuh ratus team yang diidentifikasi dengan nomor kelompok. “Sudah diajari apa saja?” Manajerku bertanya lagi, dan aku cuma menggeleng pelan. “Sepertinya masih awam dengan audit.” Pak Soehardjo mengangguk paham. “Kalau begitu bawa dia, ya.” “Bawa ke …?” “Itu lho, client meeting PT. Wingis.” Ia kembali fokus pada layar laptop. “PT. Wingis itu klien tim 123, ‘kan, Pak?” tanyaku memastikan. “Iya, tapi katanya Aldo tidak bisa client meeting. Kamu wakilkan saja. Sekalian memperkenalkan anak baru itu sama dunia audit.” “Oh, kapan?” Pak Soehardjo menatapku malas, “Nanti kalau bumi sudah berbentuk kubus. Ya, sekarang, tho, Cah bagus!” Aku menjeda sebelum menjawab, kemudian langsung menoleh ke kaca besar satu arah, dan mendapati Shanie sedang berada di meja Reza. Sementara si playboy cap kuda liar itu tengah bicara panjang lebar, sepertinya menjelaskan sesuatu. Begitu sudut mataku bergeser pada mesin fotokopi, ada setumpuk kertas yang tersusun di atas keranjang hijau. “Gimana, Ga?” Suara Pak Soehardjo barusan menyadarkanku dari aktivitas mengamati anak baru itu. “Memang bahasannya tentang apa, Pak?” tanyaku pada akhirnya. “Cuma penyerahan berkas persetujuan fee audit saja.” Bapak manajer malah menggosok-gosok janggutnya. Aku menatap lagi Shanie yang masih lengket dengan Reza, lalu tiba-tiba ide jahil muncul begitu saja. Ah, apa kujadikan babu berjalan selama seharian penuh? “Baik, Pak.” Senyumku tiba-tiba saja tertarik sedikit. [] * * * * * Catatan Kaki : Fee Audit / Audit Fee : Fee audit adalah besarnya bayaran yang diberikan oleh klien kepada Kantor Akuntan Publik (KAP) atas jasa yang diberikan yaitu berupa pemeriksaan terhadap laporan keuangan (Iskak, 1999). Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menerbitkan Surat Keputusan No. KEP.024/IAPI/IAPI/VII/2008 mengenai penentuan besarnya fee audit. Panduan dikeluarkan untuk seluruh anggota IAPI yang memiliki atau melakukan praktik akuntan publik mengenai besaran imbalan jasa audit yang sewajarnya dan pantas diterima auditor dalam melakukan jasa profesionalitas sesuai dengan standar akuntan publik yang berlaku. Kode etik akuntan publik juga mengatur bahwa penentuan fee audit berdasarkan kesepakatan antara Akuntan Publik dengan entitas kliennya yang tertuang dalam surat perikatan yang dimaterai, sebagai bukti adanya kesepakatan fee audit antara kedua belah pihak tersebut. * * * * * Bersambung di 1154 kata. Jadi ... ternyata Suga punya rencana jahat untuk Shanie. Apakah akan berhasil guys? Wkwkwkwk. stay toon, ya~! Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN