Bab 7

1460 Kata
Bab 7: Hari Pertama tempat kerja itu kayak lapangan tembak, tempat orang berperang. namanya juga kantor ya kan ... nggak semua orang bakalan baik ke lo. inget aja itu bukan kantor bapak lo. jadi nggak mungkin bakalan ada yg baik sama lo even lo punya orang dalem. mau tau apa yang lebih ampas dari pada bos rese yang suka ngasih pekerjaan? yup! ketemu senior rese yang bacotnya minya banget di cabein. lo kebayang nggak sih gimana nyebelinnya mereka itu? ah ... tapi penderitaan lo belum seberapa .. kecuali lo ketemu yg kayak senior gue ini. bangsul sebangsul bangsulnya orang bangsul! * * * * * * Gue enggak menyangka, setelah bertapa naik turun gunung, minta sesajen ke sana-sini, dan meratapi ratusan purnama yang terlewat … akhirnya gue mulai kerja. Kali ini benaran kerja. Pertama kalinya dalam sejarah, gue datang ke kantor yang sama lebih dari dua kali. Apakah seperti ini cara kerja ‘jalur teman’ yang selama ini Lena bicarakan? Walah, kalau tahu semudah ini, udah gue palak dia dari jaman jebot. Bukan cuma gue saja yang senang dengan pekerjaan ini, tapi Eyang juga. Enggak henti-hentinya Eyang ngasih wejangan, sampe gue berasa kayak masuk TK lagi. Hari ini gue aman, berangkat dari rumah pukul setengah tujuh enggak mungkin banget bikin gue telat. Kecuali kalau ada pawai mobil tinja yang buang muatan sembarangan, otomatis ojol gue berhenti mendadak dan butuh banyak waktu untuk memutar jalan. Oke, ini masih pagi. Mari lupakan tentang tinja, ini adalah hari pertama gue masuk kerja. Jadi, semoga cuma ada hal baik yang menghampiri. Sekarang gue magang, besok karyawan tetap, lusa jadi bos—yakin gue, lo semua pasti enggak yakin,’ kan? Sama, gue juga. “Oit, ada anak bau!” suara bariton dari cowok berpotongan cepak itu menggema begitu gue masuk bersama Bu HRD. “Kenalin, gue Reza. Bukan Reza Rahadian, tapi gantengnya sebelas dua belas, lah.” “Hai, Kak. Gue Shanie, dan udah mandi jadi enggak bau.” Gue cengengesan, menjabat balik tangan cowok bernama Reza itu. “a***y, retjeh.” komentarnya, “Le, Des, sini dulu! Kenalan sama anak bolu, eh baru.” Gue melongok, dari pintu ada ruangan lain yang mengarah dalam cubicle simple modern bergaya minimalis yang tertata rapi. Dua orang cewek keluar dari sana, yang satu berambut panjang bergelombang, cantik dan pakaiannya sangat rapi. Satu lagi berambut pendek, lebih mungil, dan wajahnya manis. “Halo, gue Dessy. Salam kenal, ya.” perempuan berkulit putih bersih itu mengulurkan tangannya, dan langsung disusul oleh si manis rambut pendek di sebelahnya. “Gue Lesley, panggil aja Lele.” Gue tersenyum lebar lalu menjabat tangan mereka satu per satu, “Gue Shanie, anak magang baru di sini. Mohon bantuannya, ya, Kakak-Kakak.” Lesley dan Dessy saling berpandangan, kemudian mereka tertawa satu sama lain. “Welcome to the jungle, Shanie!” Perasaan gue tiba-tiba enggak enak, Gengs. Kayak ada aura-aura kegelapan Nini Lampir gitu. Lalu beberapa saat kemudian seorang cowok keluar dari salah satu ruangan di cubicle itu. Sumpah, kesan pertama gue ketika melihat dia bawaannya deg-degan. Kayak pas lagi ngeliat polisi di lampu merah, sedangkan gue lupa pake helm. Horor! “Nah, Shanie, ini Suga. Senior level satu, sekaligus orang yang akan menjadi pembimbing kamu selama magang di sini. Semua pekerjaanmu nantinya akan berada dibawah kontrol Kakak ini, ya.” Bu HRD yang sedari tadi berdiam diri akhirnya nyerocos juga, tapi dengan penjelasan yang membuat gue auto mengelus d**a. Tuhan, dari semua senior di kantor ini, kenapa harus titisan lucifer yang membimbing gue? “Sa—salam kenal, ya, Kak.” Entah kenapa gue jadi gagap tiba-tiba. “Na—nama gue … Shannie. Sory, ya, buat yang waktu itu.” Gue mengatupkan bibir, menunggu dia menanggapi perkenalan gue yang pastinya super canggung itu. Detik demi detik yang berlalu terasa lama banget, ibaratkan sekumpulan tempe jadinya tak ada yang tahu kapan ini semua berakhir. Terlihat jelas kalau cowok sipit pucat berwajah sombong ini dominan. Ah, memangnya apa, sih, bagusnya orang ini? “Pertama, saya tidak suka kamu.” Pemuda dingin yang dipanggil Suga itu menarik napas sambil bersedekap. “Kedua, saya benar-benar tidak suka kamu.” ia melanjutkan, “dan yang terakhir … saya sungguh tidak suka kamu.” Hening. Baik Reza, Desy, maupun Lesley sama-sama terpaku di tempatnya—menunggu kalimat Suga yang berikutnya. Gue cuma sangat menyayangkan, kenapa mereka semua ini pada takut sama micin yang dikasih nyawa begini. “Saya tidak mau menerima kamu, silakan konfirmasi ulang ke HRD.” Suga berbalik, dan entah keberanian dari mana gue berhasil menahan tangannya. “Tunggu, Kak!” Cowok itu terhenti, dia menoleh malas ke gue dan yang bisa gue lakukan cuma nyengir gaje. Duh, dasar mochi isi rawit, nyusahin aja kerjaannya. Sorot matanya itu lho, beneran minta gue colok. Andai dia ini bukan senior gue, bukan pembimbing gue, bukan orang penting dalam hidup gue yang bisa mencegah Eyang ngusir— “Pintu keluarnya di sana.” Dia bicara lagi dengan nada yang dingin dan tegas. “Lepaskan, atau saya panggil keamanan.” “Enggak bisa gitu, dong, Kak!” Gue berseru sewot. Enggak ada angin atau hujan, tapi mulut gue emang dasar lemes. Gatel rasanya kalau enggak ngelawan, apalagi kalau enggak ghibah … mungkin bisa borokan. “Kenapa tidak? Saya punya wewenang.” dia membalas cepat. “Attitude kamu juga bermasalah.” “Fine, Kak, kalau yang lo—eh, Kakak permasalahkan adalah kelakuan barbar enggak berakhlak, gue ikhlas. Tapi gue juga punya hak juga untuk menolak diusir dari sini.” gue enggak mau kalah juga, dong. “Saya bahkan tidak yakin dengan kemampuan kamu. Lebih baik kamu menyerah saja.” Cowok bernama Suga itu mendengkus. “Kami tidak menerima orang-orang seperti kamu.” “Memang apa yang salah dengan gue?” lantang gue menantang si mochi dibedakin ini. “Gue punya hak untuk setidaknya menyelesaikan masa magang gue selama tiga bulan. Kakak bilang gue enggak berakhlak, tapi Kakak sendiri kenapa semena-mena sama anak magang kayak gue? Kesempatan pun enggak mau ngasih, padahal Bu HRD sudah meminta Kakak membimbing gue.” “Oke, begini.” Si Sugar Glider ini akhirnya mengalah. “Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan saya, maka saya akan mengakui kamu sebagai anggota tim. Tapi, kalau seandainya tidak … maka silakan duduk di meja paling ujung itu dan bersikaplah seolah kamu tidak ada. Paham?” Gue sebenarnya takut, tapi sudah kepalang basah. Masa iya gue menjilat ludah sendiri? Enggak banget. Pepatah bilang sepandai-pandainya tupai melompat, lama-lama berenang ke tepian. “Apa yang harus dilakukan oleh anggota tim bila menemukan kejanggalan terhadap laporan keuangan?” Gue belum siap, belum tempe mau jawab apa, dan tahu-tahu Suga si s**u Gantung itu sudah melempar pertanyaan saja. Syaland! Sial, begitu mendengar pertanyaan lucknut itu otak gue langsung buntu. Enggak pake lama, langsung saja gue melemaskan otot-otot kaki dan lutut. Maklum, gue punya otak cadangan. Kalau yang di kepala enggak bisa dipakai, gue masih punya stok otak yang di dengkul. Kasian, ‘kan otak gue kelamaan berdiri, alhasil pegal deh. Jadi enggak bisa mikir, ‘kan tuh. Hmmm …. “Kenapa? Tidak bisa jawab?” Eh, buset dah! Ini mulut orang gercep banget reaksinya, persis kayak PNS merengek minta THR. Belum juga gue pemanasan otak buat mikir, sudah main serobot saja. Muka boleh bebelac, tapi kok, ya mulut tiada beda sama samyang nuklir? “Sabar, Kak. Jangan anarki kayak pendemo bayaran, dong.” Gue menarik napas, “Kalau memang ada kejanggalan yang harus diselidiki sampai tuntas. Itu, ‘kan gunanya auditor?” Hening. Perasaan gue makin enggak enak, dan gue lihat si Reza cungpret sibuk mengulum senyum. Menahan tawa dengan kekuatan penuh. Ah, dasar apes banget gue! “Kita ini auditor, bukan tim forensik kepolisian atau gugus tugas Densus 88. Jadi sebaiknya kamu tidak berlebihan dengan mengaudit segala sisi. Kamu pikir pekerjaan auditor cuma nongki di cafe lalu dapat gaji?” Suga menarik napas, kemudian memijat pelipisnya lelah. “Dari jawabanmu, sudah pasti kamu tidak cocok bergabung dengan kami. Sudahlah, duduk saja di meja ujung sana sampai tiga bulan kedepan.” Tanpa sadar gigi gue mengancing, gemas sekaligus geram pada manusia lucknut bernama lengkap Soehardjo Galang ini. Demi makhluk milenial penggemar micin, sumpah, pengin banget gue mencubit ginjalnya pakai tang. [] * * * * * Hai guys~ bersambung lagi, ya! Wkwkwk Gimana kabar tudey? Baik lah, ya? Wkwkwk. PSBB mulai di hapuskan dan akan di danti dengan New Normal. Apapun yang terjadi, please stay save! Semoga Suga tobat, ya, jangan ngeselin terus wkwkwkwk. Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN