Bab 6

1562 Kata
Bab 6: Terpaksa Happy Ending Pada akhirnya, akan ada surga di mimpimu. Katanya semua cerita cinta akan berakhir manis meski itu sudah berakhir. Tapi tidak bagiku. Itu bukanlah sesuatu yang mudah dan aku tidak tahu apakah memang benar kejadiannya seperti itu. Bagaimanapun juga dunia nyata berbeda dari yang dijanjikan. Kita perlu berlari, kita perlu menginjak yang lainnya, ketika isyaratnya sulit. Kau bahkan tidak punya tujuan. Mungkin sama sepertiku. Tak ada pemandangan, tak ada masa depan. Ketika kau kehabisan nafas. Kau perlu untuk berhenti sejenak. It’s alright to stop. Bahkan jika jamh ragu atau tidaj tahu ke mana arah dan tujuanmu .... itu benar - benar tak apa utnuk berhenti. Its allrigt to stop. * * * * * Aku menarik napas, menatap pada tumpukan dokumen yang sudah mulai menipis di atas meja. Sinar jingga sudah menerobos masuk melalui tirai yang memiliki celah jarang-jarang. Jam yang bertengger di dinding sudah menunjukkan pukul delapan belas lewat dua puluh, sementara yang tersisa di ruangan hanya tinggal dua orang. Dessy menatap sang senior takut-takut, kelihatannya mau pulang tapi kalau nyelonong tiba-tiba takut dikira tidak sopan. Mau izin pulang, tapi kalimat itu tak kunjung terucap sejak tiga puluh menit yang lalu. Pada akhirnya, ia mengurungkan niat. “Kalau mau bertanya, sekarang. Jangan nanti ketika saya sudah mau pulang, kamu baru sibuk tanya ini-itu.” Aku memijat pelipisku yang terasa penat. “Atau, kalau mau pulang, langsung saja. Memang sudah jam pulang. Jadi enggak perlu izin segala. Kita di kantor, bukan di sekolahan.” Dessy mengangguk langkahnya terseret pelan sebelum meletakkan berkas terakhirnya di mejaku. Detik berikutnya ia mulai membereskan meja dan perlengkapan kecil pribadinya ke dalam tas. “Kak, saya—” “Iya, sampai ketemu besok.” Aku memotong cepat, terlalu cepat. Selepas kepergian Dessy, tinggal aku yang tersisa di ruang cubicle ini. Lampu di ruangan manajer sudah padam sejak pukul lima tadi, sementara benda pipih berteknologi canggih yang berkedip itu menarik perhatiannya. Kamu di mana? Aku lembur nih, mungkin setengah jam lagi. Sekali lagi aku menarik napas, penatku semakin menjadi. Barusan ada sederet pesan yang kuterima dari nomor Sunny. Aneh, rasanya seperti angin segar, tetapi membuatku sangsi juga. Pasalnya sejak putus wanita itu tak pernah lagi mengirimi pesan singkat, jangan-jangan …. Eh, sorry, salah chat. Belum selesai aku menduga-duga dan satu pesan lainnya muncul, memupuskan harapanku. Benar dugaanku barusan. Salah sambung. Akhirnya aku meletakan ponsel kembali ke atas meja tanpa membalas satu pun pesan Sunny. Mood-ku mendadak berantakan, dan tumpukan kertas kerja yang tersisa semakin memancing kekesalanku. Sebenarnya aku sendiri juga heran, mengapa diriku bisa sehancur ini hanya karena ditinggal seorang gadis? Oke, anggaplah perempuan itu adalah cinta pertamaku, wanita yang paling lama berada di sisiku, serta orang yang pertama kali mendukung mimpiku. Satu hal yang sama sekali tidak kumengerti adalah … setelah semua penolakan itu, mengapa hati ini masih berharap? Apa yang sebetulnya membuat aku begitu tergila-gila pada sosok Sunny? Aku menghela napas lagi, entah sudah yang keberapa kali. Belakangan ini hobiku sudah berganti menjadi menghela napas, sepertinya. Setelah satu jam berkutat dengan berkas-berkas yang harus diselesaikan, akhirnya aku bisa pulang. Lembur kali ini tidak ekstrem, dan sekarang pun masih cukup sore. Baru pukul tujuh, belum pukul sebelas seperti yang sudah-sudah. Mungkin seharusnya pekerjaan itu bisa selesai dari tadi, kalau saja Sunny tidak terus menerus memenuhi kepalaku. Namun, perut yang keroncongan membuatku terpaksa mampir ke foodcourt yang terletak di sebelah gedung kantor. “Soto daging satu, pakai nasi. Minumnya teh tawar hangat.” Aku memesan pada salah satu pedagang yang letak gerobaknya paling luar. Melihat pengapnya kondisi foodcourt saat itu membuatku urung untuk masuk terlalu jauh ke dalam. Apalagi kalau malam begitu ada tukang sate madura yang entah mengapa posisinya di paling pojok. Membuat suasana semakin pengap saja. Baru saja aku berbalik untuk mencari tempat duduk, akan tetapi mataku malah menangkap sosok Sunny di salah satu meja. Beberapa kali berkeliling, akhirnya aku menarik napas pasrah. Pasalnya tidak ada lagi meja kosong selain di tempat Sunny duduk. “Sendirian?” Akhirnya aku duduk di depan Sunny, dengan wajah datar seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Sunny mengangguk, melanjutkan makan dalam kecanggungan yang tiba-tiba datang. “Baru pulang?” Giliranku mengangguk, lalu mulai makan dalam diam. Kalau saja makannya tidak terlanjur datang, pasti aku sudah membatalkan niat untuk makan malam di foodcourt ini. Terletak di antara gedung kantorku dan Sunny, menjadikan tempat ini bersejarah bagi hubungan kami berdua. Setidaknya sejak kedua aku dan Sunny mulai bekerja. Hening. Sama sekali tidak ada pembicaraan apa-apa lagi di antara kami. AKu sibuk dengan makananku, sementara Sunny tampak asyik dengan ponselnya. Kutebak, dia sedang menunggu seseorang. Perasaanku tidak enak, jadi sebaiknya aku cepat-cepat menyelesaikan makanku dan pulang ke rumah. Aku akan segera bebersih diri, mandi, kalau perlu mencukur rambut—atau apa saja, yang penting dapat menghilangkan bayang-bayang perempuan ini dari kepalaku. “Hai, sorry, ya aku telat banget, Bae.” Suara yang terdengar berat dan maskulin itu menggelitik telingaku, tapi aku sama sekali tidak mengangkat kepala. Justru terus melanjutkan makan tanpa mempedulikan sekitar. Meskipun begitu, aku tidak bisa membohongi diriku. Sebab sekeras apapun aku berusaha acuh, sudut mataku tetap menaruh atensi pada Sunny—dan seorang pria yang baru saja menghampirinya. Di mana besar kemungkinan bahwa lelaki ini adalah penyebab Sunny menolak lamaranku. Ah, dasar sial. Apa stok keberuntunganku sudah habis? Kenapa aku terus-terusan sial sejak kemarin? “It’s okay, mau makan apa? Aku baru pesan minum aja.” Suara Sunny terdengar jernih dan diselingi tawa kecil. Aku mempercepat makanku, berusaha mengabaikan mereka. Padahal dulu cuma aku yang diperlakukan seperti ini oleh Sunny, tapi sekarang tidak lagi. Pria yang baru datang ini sudah merebut tempatku dengan semena-mena, dan mengambil semua perhatian Sunny dariku. Pun begitu, aku tetap tak bisa menyalahkan mereka. Mungkin memang aku yang salah. Bisa jadi kesalahan terbesarku selama ini adalah mencintai Sunny. “Teman kamu?” Lelaki itu menatapku ramah, bibisnya tersenyum tipis tapi atensinya tetap pada Sunny-ku, ups, mantan Sunny-ku. Gadis itu mengangguk, “Kenalin, namanya Suga.” Pacar baru Sunny tampak sumringah, tapi aku sama sekali tidak berniat kenalan. “Suga.” “Deffan.” Ia menjabat tanganku. Kami pria, memang cuma sesingkat itu perkenalan para lelaki. Seperti pada umumnya. Satu-satunya yang tidak umum adalah aku yang berada di antara sepasang kekasih. Plak, nyamuk. Hebatnya wanita ini adalah mantanku, sementara pacar barunya duduk tepat di sampingku. Tuhan, kenapa tidak kau cabut saja nyawaku. Lebay? Iya, lalu kenapa? Bukan masalah kalian, ’kan? “Sudah berapa lama pacaran?” Mulutku langsung terkatup rapat begitu pertanyaan itu terlontar. Sial, sial, sial! Seharusnya aku bisa menahan diri dengan lebih baik. Ada apa denganmu, Suga? Ayolah, jangan— “Baru, kok.” Lelaki bernama Deffan itu menjawab sambil mengumbar senyum. Tatapannya fokus pada Sunny yang entah kenapa air mukanya terlihat aneh. “Bulan depan kamu anniversary.” lanjutnya. Aku cuma mengangguk paham, dan sekarang Sunny malah menghindari tatapanku. “Oh, sebulan?” “Bukan,” Deffan menjawab cepat, “setahun.” Aku bergeming, kemudian mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menarik napas panjang. “Well, selamat. Semoga kalian langgeng dan bahagia, ya.” Suapan terakhir daging sotoku menjadi pertanda usainya sandiwara antara aku, Sunny, dan Deffan. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Namun, ada satu fakta yang membuatku cukup tercengang. Mereka sudah berpacaran hampir setahun, itu artinya— Aku berhenti tiba-tiba tepat di belakang Deffan. Saat lelaki itu sibuk dengan ponselnya untuk membalas pesan yang masuk berderet. Aku tidak tahu keseluruhannya, tapi ada satu kalimat dari pesan itu—yang kebetulan terbaca olehku—dan mengindikasikan bahwa Deffan bukanlah pria yang baik. Setidaknya jauh dari kata baik untuk perempuan sebaik Sunny. Fan, aku hamil—begitu isi pesannya. “Sunny, bisa bicara sebentar?” Sontak Sunny dan Deffan memandangku bersamaan. Aku menarik napas, lalu melanjutkan, “ada pesan dari Kak Kasya yang mau saya sampaikan. Katanya nitip untuk mama kamu.” Deffan memperhatikan kami berdua, yang langsung ditanggapi dengan lugas oleh Sunny. “Kami tetangga dulu, jadi terkadang Kak Kasya—Kakak Suga, sering pesan kue ke Mama.” Lelaki itu cuma mengangguk, sementara Sunny menghampiri aku yang berdiri di belakangnya. “Saya bayar dulu.” Setelah menjauh dari Deffan, aku langsung memburu Sunny dengan pertanyaan. “Kamu yakin dengan dia? Kenapa sebelumnya kamu enggak pernah bilang apa-apa soal hubungan kalian?” “Aku bukan anak kecil lagi, Ga.” Sunny menarik napas. “Oke, fine, aku minta maaf soal selingkuh dibelakang kamu selama hampir setahun, tapi aku yakin kalau Deffan itu the one aku.” “Dia enggak baik untuk kamu, Sunny.” Aku menarik napas, ucapanku tertahan. “Deffan itu—” “Dia baik, dan enggak sepicik kamu yang menjelek-jelekan orang lain seperti ini.” Sunny memotong ucapanku. “Tolong biarin aku bahagia.” Aku belum sempat bicara apa-apa lagi, sementara Sunny sudah beranjak pergi. [] * * * * * Hai gengs, bersambung dulu ya~ Jadi, gimana? Ada kah dari kalian yang penasaran sama pesan di HP Deffan? Atau seneng kalau Suga galau? WKWKWK si Galang ini emang bener-bener! Tunggu sampe dia ketemu Shanie di kantor, pasti ambyar! Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN