Bab 5: Apes Pangkat Tiga
Pada akhirnya aku menggenggam fatamorgana dan dia jadi kenyataan . Gurun yang pernah kutakuti berubah menjadi laut dengan darah, keringat, dan air mata kami.... Namun, rasa takut di antara semua kebahagiaan ini apa ? Kami semua tahu dengan baik tempat ini aslinya gurun.
* * * * *
Akhirnya setelah melewati hari interview yang melelahkan, gue sampai juga di rumah. Sebenarnya ini masih sore, tapi energi gue rasanya sudah tersedot sampai titik darah penghabisan. Mungkin karena seluruh otot dan sendi di tubuh gue udah berkarat, saking enggak pernah bergeraknya. Alhasil sekarang gue cuma bisa goleran di kasur, bahkan tanpa sempat ganti baju. Sejak semalam gue enggak rela meninggalkan ketampanan Kim Seo Joon di layar kaca, sudah gue duga akan terjadi hal-hal diluar keinginan. Cuma, ya, tetap saja enggak gue sangka bakalan apes banget seharian ini. Datang hampir telat, antre lift menggadaikan harga diri, dan terakhir dapat masalah baru sama salah satu pegawai senior di sana. Apes pangkat tiga, ini mah!
“Han, kamu ndak makan dulu, tho?” Suara Eyang menggema sampai ke sini, dan gue cuma melirik tanpa minat, lupa menyahut. “Han? Budeg, tho, awakmu iki?” [Han, tuli ya kamu ini?
“Ngantuk, Eyang!” gue berseru tak kalah heboh, mungkin bacot kebanggaan gue ini bisa masuk MURI.
“Eyang tanya makan, kenapa jawabmu ngantuk, sih, Nduk?” Kepala Eyang akhirnya menyembul dari balik pintu, dan gue cuma menatap nanar.
“Nyawa Hani tersedot habis, Eyang.” Gue mencebik sok imut. “Sekarang ngantuk dan capek banget.”
“Baru interview, kok sudah seperti orang sekarat.” Eyang cuma menggeleng pasrah, “Ya sudah, istirahat.”
Gue menarik napas saat Eyang keluar dari kamar sambil menutup pintu. Begitu pintu ditutup, pikiran gue langsung melayang kemana-mana. Ah, sial, tapi masa gue malah teringat sama kejadian tadi, sih. Entah kenapa gue masih ingat si mata sipit yang berusaha keras melotot itu. Dipikir-pikir, heran juga. Padahal mata cowok itu cuma segaris, kalau adu melotot juga pasti lebih besar mata gue, tapi gue ciut banget waktu ditatap tajam kayak tadi. Sorot matanya seperti elang mencari mangsa, tajam dan mengintimidasi. Kalau seandainya kami berada di lab milik Tony Stark, pasti dari tatapan cowok itu sudah berubah jadi laser dan membunuh gue seketika. Kejadian tadi pagi membuat gue sadar bahwa muka bedak Johnson bisa seram juga. Hii!
“Pak .. eh, Kak, tunggu!” Gue mengekor cowok yang ketumpahan kopi karena tabrakan tadi. “Ini saya ada tis—”
Ucapan gue terhenti, tepat saat lelaki muka bebelac tapi galak ini menepis kasar tangan gue, lalu cepat-cepat bangkit berdiri. Emang sih, gue bego pake banget. Belum apa-apa sudah bikin masalah dan menyiram pegawai senior dengan segelas kopi, yang untungnya tanpa ampas. Entah sudah berapa kali gue lihat orang ini mendengkus sambil berdecak, sekaligus menghela napas panjang. Tuh, ‘kan, minimal gue harus cari kasih dia tissue dong. Mungkin tindakan kayak gini bisa membuat dia memaafkan perempuan bar-bar setengah umbi busuk macam gue. Begitu dia bangun, gue secepat kilat beranjak dari sini. Gue lalu merogoh tas dan mencari tisu, lalu menariknya asal beberapa lembar.
Cepat-cepat gue menghampiri lelaki yang sedang bertanduk itu. “Pak—eh, Kak! Sebentar dulu, ini saya ada tis—”
“AW!”
Oh, no! Gue terperanjat, sementara cowok itu memejamkan mata rapat-rapat sambil ditutupi dengan tangan. Padahal ia baru berniat membalik tubuh, tapi entah bagaimana caranya tangan lucknut gue malah menoyor wajah sekaligus mencolok sebelah matanya. Bencana, gue benar-benar dalam bencana besar! Mungkin akan ada banjir bandang sebentar lagi.
“KAMU SENGAJA, YA?!”
Gue kaget, beneran deh no kaleng-kaleng. Cowok ini terlihat benaran marah. Suara bariton bernada tinggi itu sampai menggema di lorong panjang yang kosong ini. Maklum, kayaknya ini lorong emang cuma arah toilet dan gudang. Jadi, sudah pasti sepi yang berlalu lalang. Kecuali pada sembelit atau kebelet pipis berjamaah, pasti penuh.
“Lebih baik sekarang kamu kembali ke ruang tunggu HRD. Duduk diam dan terima kegagalanmu, atau ….” Dia bicara sambil mengatur napasnya yang tanpa sadar terengah-engah, terbawa emosi. “Atau saya akan minta security untuk mengamankan kamu.”
Hening.
Gue enggak tahu mau menjawab atau bereaksi seperti apa. Takut malah melakukan kesalahan lain. Jujur, gue bukan tipe orang yang dendaman, gue enggak mungkin segitu niatnya mencolok mata si senior galak ini. Lagian, matanya udah sipit, kalo gue colok dengan sengaja, bisa-bisa hilang itu mata. Cowok itu kelihatan antara menahan marah, tapi kesal, tapi juga enggan mencari masalah. Dia kayak bingung, dan gue juga ikut bingung. Yah, gue emang bar-bar dari lahir kali, ya. Enggak heran kalau orang ini kelimpungan. Akhirnya dia cuma berbalik dan melangkah cepat ke toilet tanpa bicara apa-apa.
BLAM.
Pintu toilet ditutup kasar, menelan sosok lelaki berpunggung lebar yang masuk ke dalamnya. Begitu dia masuk toilet, gue langsung menghela napas lega. Tanpa sadar barusan gue sampai menahan napas saking takutnya. Kalau dipikir-pikir sekarang, gue bego juga, ya. Ngapain tadi itu pake nahan napas segala. Untung dia langsung pergi, kalau setengah jam lagi kayak tadi kan gue bisa mati karena lupa napas. Gue akhirnya membuyarkan lamunan unfaedah itu, lalu berbalik memeluk guling. Capek banget rasanya, dan kayaknya gue mau tidur aja.
Eyang, doain Hani, dong, jangan sampai dapat atasan kayak gitu. Bisa-bisa mati jantungan cucu kesayangan Eyang, huft.
* * * * *
Ini hari kedua gue datang ke kantor Lena, cikal bakal kantor gue juga sih … kalau diterima, muehehehe. Kemarin gue cuma interview dan menjawab beberapa soal psikotes, dan hari ini adalah penentuannya. Gue balik lagi ke ruangan tes HRD, masih di tempat yang kemarin. Tepat pukul dua belas, segala tes memusingkan itu akhirnya selesai. Hasilnya pun langsung keluar, dan gue maklum dengan score yang enggak bisa dibilang bagus itu. Tadinya gue berpikir udah mau ngelamar di bagian cleaning service kalau gagal.
Anehnya, meskipun hasilnya memang kurang baik, tapi karena divisi audit memerlukan banyak tenaga tambahan, gue tetap diterima. Katanya sebagai karyawan magang dengan masa percobaan tiga bulan. Yah, gue enggak bisa protes, apalagi sok menolak. Otak gue emang enggak lebih dari ampas tahu yang lembek dan tak kenyal ... bisa tulul kalau dipaksa mikir tiba-tiba. Lumayan deh biar pun masa percobaan atau apapun. Pasalnya kalau bukan disini, gue mau kerja dimana lagi? Alpamaret? Big No! Bukan cuma kantor ini yang membutuhkan pegawai tambahan, tapi diri gue sendiri juga butuh pekerjaan agar tidak ditendang Eyang.
“Shanie!”
Suara nyaring Lena langsung membahana begitu gue keluar dari ruang tunggu HRD. Senyumnya merekah, bak anak anjing bertemu induknya, eh, enggak deng. Kalau dia anak anjing, lalu gue induknya … berarti kami sama-sama hewan lucu yang suka menjilat, dong? Jangan, deh, enggak bagus jadi penjilat. Gue mengerjap beberapa kali, dan Lena—dengan setelan khas kantoran yang selalu rapi itu—mengernyit seketika saat melihat sahabatnya ini.
“Lo kenapa? Test-nya susah?” Lena bersedekap, menatap wajah gue yang menurut dia pucat setengah pasrah.
Sebenernya gue lemas kayak gini bukan karena test-nya susah, tapi kelaparan. Toh, hasilnya sudah keluar juga. Gue diterima dengan banyak banget notes improvement dan penekanan bahwa gue cuma magang percobaan. Syaland, ‘kan … kayak merendahkan gue banget gitu, emang sih gue belum pernah kerja. Otak gue juga enggak cerdas-cerdas amat, tapi jangan diperjelas juga kebodohan gue dong. Gue udah rendah, tanpa perlu di rendahkan, Bu HRD!
“Shan, lo baik-baik aja, ‘kan?” Lena mengulang pertanyaannya. Mungkin muka gue sekarang persis kayak teletubbies sesak napas. Bego-bego unyu.
“Enggak apa-apa, Len,” gue menyanggah kekhawatiran Lena yang overdosis itu, “gue cuma laper. Makan, yuk.”
“Yaelah, kelaperan, toh!” Lena menarik napas gemas, mungkin dia pengin nyentil usus gue. “Terus hasilnya gimana?”
“Dukun lo mantul.” gue melirik malas.
Kening Lena mengernyit, mungkin dia belum terbiasa kembali dengan kebobrokan isi kepala gue. “Kok dukun?”
“Iya, nilai gue jelek, tapi tetap diterima.”
Lena mengerjap beberapa kali sebelum berseru heboh, “Anjir, lo pasang pelet di mana?!” cewek itu melanjutkan, “Shanie, kok bisa lo lolos dari penilaian Bu Betty?”
“Hah? Siapa?”
“Elo!”
“Yang nanya.”
Gue cekikikan, sementara Lena cuma menoyor kepala gue sambil memasuki lift. “Eh, jangan noyor, dong. Entar gue makin bego, gimana?”
“Makanya beli otak yang banyak!” Lena sewot.
“Otak-otak, dong.”
Gue cuma cengengesan, sementara Lena kayaknya kesal maksimal. Lift mulai turun, tapi tidak langsung kebawah. Ada beberapa kali kami berhenti karena banyak pegawai yang sama-sama mau turun.
“Lena.”
Suara bariton yang terdengar sedikit serak dan husky membuat gue kicep seketika. Tawa gue langsung lenyap begitu melihat sesosok manusia mata laser yang tiba-tiba memanggil Lena. Keduanya lantas saling menatap sebelum akhirnya menoleh bersamaan. Lena tersenyum sopan, sedangkan gue … pura-pura bego tentunya.
“Saya tadi ada kirim file rekomendasi team member untuk field work⑴ Orang Tau Group.” Cowok itu mengangguk kecil pada Lena, lalu melirik gue sekilas dengan tatapan lasernya lagi.
Gue masih merasa bersalah, malas ribut, dan lagi pula orang ini kelihatan nyeramin. Jadi gue diam dan memilih mundur. Singkat kata, gue menciut gengs! Enggak pakai lama, gue pun langsung bersembunyi di belakang Lena. Berharap cewek yang lebih tinggi tiga sentimeter ini bisa melindungi gue dari tatapan laser si Sipit.
“Oke, Kak. Nanti aku bilang sama Bu Hilda, ya.” jawab Lena masih dengan senyum simpulnya.
“Ini teman kamu?”
Mampus, dia menatap sinis gue. Kayaknya dia mau balas dendam. Mana kayaknya berpangkat lebih tinggi dari Lena, pula. Demi k****t yang basah kesemprot selang … please jangan apa-apain gue.
Lena ikut memicing, mengekor ujung mata sang Senior yang asyik menatap gue. Sementara gue sendiri ya tetap … bertahan main petak umpet dan bersembunyi di belakang Lena. Hm … mau tidak mau sobat gue satu ini kayaknya jadi auto mencium bau-bau masalah. Please, Len, lo boleh marah nanti. Sumpah, gue enggak berniat punya masalah sama titisan dewa dari neraka ini.
“Kalian saling kenal?” Lena mundur dua langkah, memberikan ruang bagi gue dan lelaki untuk saling menatap satu sama lain.
Canggung. Gue dan dia tiba-tiba kompak, tidak bicara sama sekali sampai beberapa menit kemudian.
Wahai lantai, tolong hisap gue sekarang juga.
“Apa teman saya ada salah dengan Kak Suga?” Lena bersuara lagi setelah hening beberapa saat. Oh, si Sipit nan galak ini namanya Suga? Gaya benar, sudah merasa mirip member boyband, dia? Hiih!
Cowok yang bernama Suga itu akhirnya melirik Lena sekilas. “Enggak, cuma heran.”
“Kenapa?” Lagi-lagi Lena yang bertanya.
Suga tampak berpikir sejenak, kemudian dari mulutnya meluncur sebuah kalimat yang bikin gue ternganga. Rasanya kesal banget, mau marah tapi enggak bisa. Bayangin, dia bilang begini dengan penuh penekanan, “Temanmu ini sepertinya enggak punya otak.”
“Hah, maksud Kakak?”
Lena kayak kaget gitu, tapi gue yakin dalam hati pasti dia setuju dengan ucapan Suga Markoja ini. Mereka diam-diam bersorak dalam hati, bikin pesta terselubung, nyanyi-nyanyi pakai bahasa kalbu, dan gue enggak diundang. Padahal gue tau, kalau gue emang enggak pinter.
“Mohon maaf, nih, Pak Bos, kemarin otaknya gue gadai, terus lupa nebus.” Duh, mulut gue terlanjur gatel buat enggak menanggapi mulut hot jeletot orang ini. Sorry-sorry to say, nih, biar kata otak gue masih di pegadaian, tapi mulut gue kaga bakal lepas landas—eh, lepas kendali kalau gak ada penyebab.
“Oh, pantas … kelihatan, sih,” Suga membalas sambil tersenyum. “Kosong.”
Si anying ini kok kayaknya pengin banget di kepang, ya, ususnya. Gue jadi kesal, rasa takut yang tadi menguap entah kemana. Ingin rasanya gue menghujat balik Beruang Kutub sialan ini, tapi Lena keburu menahan dan menggenggam tangannya kuat. Pertanda bahwa cewek itu tidak ingin gue mencari masalah lebih lanjut dengan orang ini. Ah, Len … ngapain, sih, lo nahan-nahan gue? Tanpa lo tahan juga gue bakalan kabur dengan sendirinya. Biar bagaimanapun dia ‘kan senior—a f*****g senior, huh!
“By the way … udah mau setengah satu. Mending kita langsung ngantin, deh.” Lena menginterupsi perdebatan yang hampir meledak itu. “Kami duluan, ya, Kak.” Perempuan itu menyeret paksa gue. “Yuk, Shan.”
Kami keluar dari lift, dan dengan sudut mata gue yang jangkauannya seluas samudera ini—oke, lebay, skip. Intinya gue melihat bahwa si Suga astaga naga itu mengangkat sebelah alisnya sambil melayangkan tatapan laser itu ke gue. Sebenernya bisa jadi itu bukan ditujukan ke gue, sih … tapi masa gue segitunya enggak peka. Tatapan kayak gitu bukan menandakan kalau dia kayaknya dendam kesumat deh. But, ya … masa dia enggak profesional banget, pakai acara dendam-dendam segala.
Ah, kok perasaan gue jadi enggak enak ya? []
* * * * *
Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!