Bab 4

3038 Kata
Bab 4: Kenangan Sunny Itu merupakan sesuatu yang mengejutkan. Hal yang membuatku bertanya - tanya tentang apa yang terjadi disekitarku. Perihal apa saja yang mungkin bisa menjadi landasan kemarahan dan emosiku. Namun, lagi - lagi ... entah dari mana asalnya, aku justru kembali terpaku. Menatap pada serpihan masa lalu yang tak kunjung menghilang dari ingatan. Memaksa semua yang ada di dalamnya untuk turut andil dalam suatu permainan yang di namakan berhenti dan sembunyi. Haruskah aku juga melakukan hal - hal seperti itu? * * * * * Rahangku terjun bebas, sementara mataku sibuk memperhatikan dengan panik tatapan orang-orang yang menatap dengan air muka mengejek. Sial, secara otomatis tanganku jadi meraba resleting celanaku sendiri, yang sialnya lagi … tertutup rapat. Perasaan kesal bercampur lelah semakin menambah pundi-pundi emosi yang sudah tertahan sejak kemarin dalam dadaku. Pun begitu, pada akhirnya cuma satu embusan napas pendek yang keluar, tapi setelahnya gigiku mengancing. Menahan gejolak yang rasanya hampir meledak sebentar lagi. Rasanya jadi pengin makan orang, ck! Walau sedang kesal setengah mati, terpaksa aku tetap berdiri di sana dan menunggu lift berikutnya. Sebenarnya bukan masalah besar sekalipun aku baru naik lima belas menit lagi, saat kerumunan orang-orang ini mulai buyar, dan berkurang drastis. Namun panggilan dari Pak Soe, manajer yang tampaknya tak sabar digampar tumpukan dokumen, membuatku terpaksa naik sekarang juga. Mata terasa berat, pikiran masih kacau, ditambah ada perempuan gila yang menyulut emosi. Masih pagi bukan dapat sarapan bergizi, melainkan dapat asupan rasa benci. Lengkap sudah kepenatanku hari ini. “Mas, resletingnya terbuka.” Reza tiba-tiba muncul di belakangku sambil cekikikan. “Anju banget itu cewek, hahaha.” Si Masokis labil satu ini memang minta ditelan hidup-hidup, kalau bercanda selalu tidak melihat kondisi, situasi, dan ukuran emosi lawannya. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melirik horor pemuda di sampingku itu. “Za, banyak waktu ya?” “Err ….” Reza tiba-tiba salah tingkah. Perasaannya pasti jadi tidak enak, dan sepertinya baru sadar kalau ia salah bercanda. Tapi sudah terlambat, aku terlanjur menjadikannya target pelampiasan emosiku. “Selesaikan rekap revenue Indogood sampai bulan ini sebelum makan siang.” Aku tersenyum kecil, lalu menepuk pundak Reza sambil menunggu elevator berikutnya. “Saya tunggu.” Reza cuma bisa menepuk jidat. Dia salah langkah. Lagi-lagi ia termakan guyonan sendiri. Mungkin niat hati mau menghibur, tapi yang dihibur malah sensitif kayak p****t bayi. Padahal cowok itu sudah tau se-lucknut apa kemarahan Soehardjo Galang, tapi mulutnya memang lemes. Rekapitulasi revenue Indogood seharusnya masih bisa dikumpulkan minggu depan, aku tahu itu. Namun, karena niat bercanda yang salah tempat, kini kutumbalkan Reza untuk mengerjakan semuanya dalam waktu empat jam. Semoga aku tidak kualat. Tak berapa lama lift berikutnya turun, aku dan Reza langsung masuk sebelum diserobot lagi untuk kesekian kali. Kami berada di lantai empat belas, tidak terlalu tinggi memang. Namun, mengingat banyaknya pegawai WWG Group, mau tidak mau harus antre juga. Apalagi kalau memasuki detik-detik krusial seperti sekarang. Banyak uang makan yang dipertaruhkan kalau sampai telat lebih dari lima belas menit. * * * * * Sejak pertemuan terakhir dengan Sunny, aku merasa bahwa duniaku benar-benar runtuh sekarang. Oke, ini mungkin terdengar berlebihan. Ini bukan berarti Soehardjo Galang adalah bucin sejati. Melainkan fakta menunjukkan bahwa setelah beberapa kali menyangkal bahwa aku akan baik-baik saja, nyatanya tidak begitu. Cuma orang gila yang menganggap kehilangan semangat hidup selama beberapa hari terakhir sebagai indikasi dari ‘baik-baik saja’. Aku tidak tahu kenapa lelaki setengah alang-alang di luar sana bisa dengan bebasnya bersenang-senang setelah putus. Ah, mungkin aku memang sudah terserang virus bucin Sunny. Well, namanya juga cinta—nah, aku mencari pembenaran lagi. Waktu berjalan cepat sekaligus lambat. Kontradiksi, tapi benar adanya. Sehabis makan siang aku mulai merasa seluruh konsentrasiku buyar. Otak dan tubuh sama sekali tidak sinkron. Pikiranku melanglang buana kemana-mana. Bukan cuma sekali aku terpaksa mengetik ulang laporan audit interim yang harus selesai hari ini. Tak terhitung sudah berapa kali jari ini terpeleset dan mengakibatkan typo berkesinambungan. Bahkan ada beberapa laporan yang harus aku ulang pengerjaannya. Waktu berjalan cepat saat aku semakin kesal dengan tumpukan dokumen yang lambat sekali berkurangnya. Padahal besok harus diserahkan pada Pak Soe pagi-pagi. Juga, sudah tak terhitung berapa kali aku menarik napas dan menghelanya dalam embusan panjang pada jam-jam berikutnya. “Ga, ini masih perlu revisi? Gue lihat mereka udah oke buat deduction AR-nya⑴.” Reza menyodorkan setumpuk berkas, sementara aku lagi-lagi cuma menarik napas sambil menunjuk bagian kosong di meja. Sebentar lagi pulang, semoga ayam jago karbitan ini tidak menambah pekerjaanku. Dari gerak-geriknya saja Reza sudah tahu kalau mood-ku sedang tidak bagus, dan ia terlihat sama sekali tak mau mencari masalah dengan aku yang sedang kesal. Salah-salah, aku mungkin malah mengamuk Reza tanpa sebab. Jadi, lelaki itu cuma meletakkan dokumen di tempat yang aku tunjuk, dan kembali secepat mungkin ke mejanya. “Kak, gue mau tanya soal cash flow-nya⑵ Indogood—” “Kita lanjut besok, Le.” Aku menyela begitu saja meski juniorku belum selesai bicara. Tanganku bahkan menunjuk pada jam dinding yang jarum pendeknya sudah bertengger di angka lima. “Dari tadi kemana aja? Mepet jam pulang baru sibuk nanya.” Lesley berdecak menahan kesal, sementara aku tidak mau ambil pusing dan langsung mengambil tas, lalu pulang. “Itu beruang bunting kenapa sih? Sensi amat.” Aku menghela napas, mengabaikan tingkah Dessy yang menggeleng heran. Sementara Reza dan Lesley cuma mengedikkan bahu. Ku langkahkan kaki cepat-cepat menuju parkiran, meninggalkan tumpukan data client dan dokumen audit interim yang harus selesai besok pagi. PT. Indogood Indonesia memang client kelas kakap. Mereka biasanya meminta proses auditnya dicicil pada bulan berjalan sebelum akhir tahun. Maklum, kalau sudah menyentuh tanggal 31 Desember, biasanya semua perusahaan akan kalang kabut tutup buku. Perusahaan besar yang memiliki banyak subsidiaries⑶ seperti Indogood umumnya memilih audit interim⑷ sebagai solusi. Pun begitu, aku sama sekali tidak peduli. Seandainya pun Pak Soehardjo—manajer yang bernama sama denganku—meminta berkas diselesaikan malam ini, pasti kutolak mentah-mentah dengan seribu alasan. Prinsipku adalah selalu bertanggung jawab penuh pada setiap client, tetapi kalau keadaan mood dan pikiranku sekacau ini ... sudah pasti aku juga tidak mau ambil resiko. Pasalnya mengaudit memerlukan dedikasi dan fokus yang tajam. Namun, pria 27 tahun yang sekarang patah hati ini belum bisa memberikan seluruh atensi pada laporan keuangan client. “Ya, Kak?” Aku langsung menekan tombol earphone untuk menjawab panggilan telepon dari Kak Kasya, Kakak perempuan sekaligus satu-satunya keluargaku yang tersisa. “Gimana kabarmu? Udah pulang? Jangan kebanyakan mantengin laporan keuangan, nanti jereng.” “Iya, hari ini pulang cepat. Sudah hampir sampai. Lusa Kakak jadi ke sini?” Cowok itu membelokkan setirnya, memasuki gerbang salah satu apartment tower yang berada di kawasan Permata Hijau, Jakarta Barat. “Oh, tumben. Biasanya tengah malam. Kayaknya enggak. Abang iparmu galau, mungkin tunggu Eza dan Elya libur sekolah.” Aku mengangguk paham. “Oke.” “Respon kamu gitu amat, sih, Ga. Lagi badmood? Kenapa? Berantem sama Sunny?” “Enggak, cuma lagi capek aja, Kak.” aku berkilah, “cuma masalah kecil.” “Ya udah, percaya, deh. Jangan lupa makan dan istirahat ya. Titip salam buat Sunny.” Aku tidak menjawab, tetapi langsung memutus sambungan telepon dengan Kak Kasya. Kini langkah lebar-lebar yang kuambil semakin cepat. Tak butuh waktu lama bagiku untuk melewati beberapa pintu akses, menuju lift, lalu berakhir di unitku sendiri. Ada sebuah pigura foto kecil yang terletak di nakas depan pintu, tepat di sebelah rak sepatu. Aku menarik napas sebelum memutuskan untuk menelungkupkan benda persegi itu. Entah kenapa melihat wajah Sunny, atau mengingat hal-hal yang berhubungan dengan perempuan itu selalu membuat hatiku semakin gegana, galau bin gundah gulana. Halah. Begitu masuk, aku langsung membanting tubuh di bed sofa depan TV. Sambil memijat pelipis yang terasa pening dan berat, tanganku yang lain membuka kancing teratas kemeja yang aku kenakan. Bola mataku menatap fokus pada langit-langit sambil sesekali beredar ke sekitar. Lantas lagi-lagi aku melayang pada ingatan paling kuat tentang Sunny. Yaitu saat pertama kali mengungkapkan perasaan pada gadis itu. Sudah sekitar enam tahun sejak kami memutuskan untuk menjajaki hubungan yang tingkatannya lebih tinggi dari sekadar sahabat. Tidak ada yang salah selama kami berpacaran sebetulnya. Namun, entah mengapa Sunny malah bertindak diluar dugaan. Padahal cinta seorang Suga sudah terlanjur dalam, apalagi mengingat kalau kami sudah saling mengenal sejak TK. Aku ingat, sebuah kenangan manis yang membawa Sunny menjadi kekasihku. Berawal dari coffee shop tengah malam yang to be continued sampai esok paginya. “Ga, serius, ngapain sih lo pake acara mampir tengah malam?” Sunny menelungkupkan wajah ke meja, sejurus kemudian ia menopang dagunya ke meja dengan kedua tangan sambil menyedot iced cappuccino lewat sedotan. Saat itu aku tersenyum masam, siang hariku memang sudah tidak lagi diperuntukkan bagi Sunny, apalagi kalau hari kerja. Pekerjaan sebagai auditor⑷ sungguh menyita banyak waktu, rentan lembur, bahkan tak jarang pulang subuh. Bisa menemui si cewek koala sebelum jam dua belas malam saja sudah bagus, terlebih mengingat bulan Desember ini peak season-nya⑸ para auditor. “Protes mulu, Sun, kayak netizen negara ber-flower.” Aku menyesap hot americano milikku, saat itu gaya bicara kami non formal, anti lebay, dan tidak pakai aku-kamu segala. “Coba, siapa yang dari kemarin merengek minta diajari PSAK 14⑹, hah?” “Iya, tapi enggak tengah malam juga, Malih!” Sunny merapikan anak rambutnya yang jatuh tak beraturan dari cepol yang super berantakan. “Ya udah, sih, lagian juga lo udah molor dari jam tiga sore, ‘kan, ngaku deh!” Sepertinya sejak dulu emosiku memang bermasalah, waktu itu juga aku mendengkus. “Padahal gue udah bela-belain datang, lho, atas nama persahabatan.” Perempuan bersurai ikal sebahu itu rebah setengah badan di meja, hampir memeluk meja bulat kecil tempat kami duduk. Aku menggeleng lemah, benar-benar tak habis pikir pada kengantukan maksimal Sunny. Padahal cewek itu sudah tidur dari pukul lima belas, terlihat dari balasan chat yang menggantung tak berlanjut. Berteman dari TK membuat kami lengket sedari bocah. Sejak rekonstruksi jalan oleh developer, rumah kami yang awalnya bersebelahan terpaksa dipindah. Sekarang jaraknya tiga blok dari rumah Sunny. Masih dekat, sih ... tapi megap-megap juga kalau jalan kaki. Warung kopi elit bermerek Setarbaks itu menjadi satu-satunya tempat yang buka 24 jam di komplek, dan cukup mendukung suasana belajar. The only one things that not fit me is … makhluk betina pelor di depanku. “Sun, coba jelasin isi PSAK 14 menurut pemahaman lo.” Aku menegapkan duduk Sunny dan membuka kitab akuntansi paling mutakhir di depan cewek itu. “PSAK 14 … kayaknya bahas aset tetap, deh.” Sunny menguap lebar, berusaha berpikir. “Eh, apa bukan ya? Aset tetap itu PSAK 17⑺, bukan sih? Kalau 14 itu … gue enggak tahu, Ga.” Aku menarik napas, pasrah sekaligus lelah. Kebebalan Sunny terulang lagi. Selalu. “PSAK 14 itu bahas pengakuan persediaan, Sunny,” tukasku pelan, “sumpah, udah tiga kali lo ngulang kompre gara-gara enggak bisa jelasin pasal-pasal PSAK*.” Sunny memperlihatkan cengiran kuda. “Ya sorry ... otak gue, kan, memang bebal dari awal kalo bahas ginian.” Cewek itu melanjutkan, “Gue masuk accounting, 'kan, karena iming-iming sialan lo juga, sekaligus biar bisa kuliah bareng lo. Mana gue tahu kalo lulusnya setengah mati.” Yah, aku bungkam. Memang benar yang dikatakan Sunny barusan, dulu aku memang sering sekali membagikan cita-citaku bekerja di KAP Big Four⑻. Lalu tanpa sadar malah jadi menjerumuskan anak gadis orang ke kubangan mahasiswa pengulang sidang komprehensif. Sementara cewek itu masih kelihatan mengantuk. Wajar, dia bisa hibernasi sampai tiga belas jam kalau hari libur, mau saingan sama koala katanya. Sunny menjatuhkan kepalanya pada tebalnya buku PSAK⑼, kemudian matanya terpejam erat. “Heh, bangun. Besok lo sidang kompre, Koala Kucel!” Aku mengguncang pelan pundak gadis itu. Mata Sunny masih terpejam. “Hm, biarin. Kalau masih gagal, ya tinggal ngulang lagi.” “Bangun, ini bukan rumah lo, Woy!” “Hm.” Hening. Aku akhirnya menyesap lagi kopi di meja sambil menatap wajah Sunny lamat-lamat. Ada sensasi aneh yang menjalariku waktu itu, rasanya hangat dan nyaman. “Sun, gue yang paling paham kebegoan lo. Juga yang paling sabar menghadapi betapa lemotnya otak bebal lo menerima teori akuntansi. Bahkan mungkin satu-satunya yang ketularan ketololan lo sampe bela-belain ngajarin manusia yang lebih memilih tidur daripada berjuang buat kompre.” Ku tatik napas dalam-dalam, sementara Sunny kelihatan pulas. “Padahal gue tahu, lo itu mandi cuma sekali sehari, makan kayak kuli, terus kalo ngupil ditempel di kolong meja.” Aku melanjutkan, “Apa pun yang berhubungan sama lo pasti bikin Gue auto gercep, kayak hari ini contohnya. Kurang bego apalagi Gue, balik lembur hampir midnight, tapi masih khawatir sama kompre lo. Niat ngajarin, malah berujung ditinggal tidur. Tapi kenapa ya, semakin kesini gue selalu deg-degan kalo ada di sekitar lo? ” “Lo itu enggak ada bagus-bagusnya, tampang juga pas-pasan, rambut awut-awutan, kulit juga kinclongan gue. Nama Matahari bahkan enggak cocok banget di lo. Tapi … gue suka.” Aku malah ikut menyandarkan kepala di meja, menatap Sunny yang pulas. Hening. “Kalo lo emang suka, ya udah, kita jadian aja. Gimana?” Bola mata kecoklatan milik Sunny tiba-tiba terbuka, menatap netra kelam pemilik nama lengkap Soehardjo Galang ini. Aku terperanjat, tapi pura-pura tidak terjadi apa-apa. “Gue juga heran, kenapa bisa betah sama cowok mulut cabe kayak lo, Ga.” Cewek itu melanjutkan, “Tapi … gue juga suka.” “Elah, ini betina pelor masih sadar rupanya.” Saat itu aku benar-benar salah tingkah, dan alhasil hanya bisa berpura-pura berdecak sebal. “Kalo lo emang ngantuk banget, ya udah kita pulang aja sekarang, Sun.” “Lo enggak jadi suka sama gue?” Sunny mengerjapkan matanya. “Enggak, lo kan belum lulus. Ogah gue jadian sama cewek pemalas yang hobi mengulang sidang.” “Heh, labil banget, sih, mulut cabe lo!” cewek itu langsung berdiri, membereskan semua bukunya. “Gini deh,” AKu melanjutkan, “besok pagi-pagi lo liat ke jendela jam enam lewat dikit, gue mau ngasih tahu lo sesuatu yang udah bikin hati gue anget selama ini.” “Ih, apa banget, Cabe!” Sunny memutar bola matanya malas. “Yeh, ‘kan tadi lo protes pas gue enggak jadi suka?” Suga tersenyum miring. “Pokoknya lihat besok pagi. Jangan telat, terus telepon gue.” Sunny mengerutkan kening, sementara aku masih asyik mengulum senyum sepanjang perjalanan mengantarnya pulang. Keesokan paginya cewek itu benar-benar bangun pukul enam saking penasaran. Dia membuka jendela sambil meneleponku tepat pukul enam pagi. “Gimana, udah tau jawabannya?” Suaraku menyapa langsung. “Apaan sih, enggak ada apa-apa juga. Cuma tukang jamu di depan, sama mataharinya silau banget, anjir.” Sunny mengedarkan matanya, mencari-cari yang kubilang semalam. “Sialan, lo ngerjain gue ya?” “Emang gue kurang kerjaan banget apa, Sun?” aku mendengkus di telepon, “Lihat ke atas.” “Silau! Panas!” Sepertinya Sunny langsung menyongsong matahari pagi, lalu menghalangi sinar mentari itu dengan tangan. “Iya, matahari itu yang selalu bikin mata gue silau dan hati gue anget. Mau enggak, ya, Matahari jadi cewek gue?” [] * * * * * Catatan Kaki: ⑴ Deduction AR = AR adalah singkatan dari Account Receivable alias Piutang. Pengurangan piutang setelah audit biasanya timbul karena adanya selisih antara hasil pemeriksaan dan nilai piutang yang berada di laporan keuangan. Umumnya disebabkan oleh perbedaan cut off perhitungan piutang dalam satu periode. Jadi, misalnya ada piutang 10M, yang sudah bisa diakui menurut akuntansi hanya 8M, maka sisanya sebesar 2M harus dikurangi/dikeluarkan dari laporan keuangan. Deduction berlaku juga untuk item laporan keuangan lain. ⑵ Cash Flow = Laporan Arus Kas, yaitu pencatatan arus keluar masuk kas perusahaan yang bertujuan untuk mengetahui informasi pengeluaran dan pemasukan kas. ⑶ Subsidiaries = Anak perusahaan. Biasanya induk perusahaan seperti MNC Group, PT. Indofood atau perusahaan raksasa lainnya memiliki banyak anak perusahaan. Anak perusahaan ini bergerak secara mandiri, beroperasi sendiri dan memiliki laporan keuangan sendiri, tapi masih dalam payung besar induk perusahaannya. ⑷ Audit Interim = Merupakan audit pendahuluan yang dilakukan sebelum audit atas laporan keuangan dilakukan. Secara sederhana, audit dilakukan bersamaan dengan bulan berjalan. Alias auditnya nyicil, jadi misal laporan keuangan biasanya diaudit saat tutup buku per 31 Des, audit interim sudah mulai sejak bulan Juli. Laporan keuangan dari Januari-Juli di-review terlebih dahulu. ⑸ Auditor = Profesi untuk orang-orang yang pekerjaannya melakukan audit/pemeriksaan terhadap laporan keuangan. Mereka bergerak di bawah KAP (Kantor Akuntan Publik) yang tersertifikasi. ⑹ PSAK 17 = Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 tentang Akuntansi Penyusutan. Sederhananya pasal ini mengatur cara menghitung pengurangan nilai aktiva (aset + modal), yang nominalnya akan terus berkurang karena dipakai atau ditelan waktu. ⑺ PSAK 14 = Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Akuntansi Persediaan. Pasal ini mengatur perhitungan dan pengakuan persediaan, yang nominalnya harus diakui sebenar-benarnya. Salah satu tolak ukurnya adalah dengan melakukan Stock Opname (hitung manual jumlah real persediaan di gudang). ⑻ KAP Big Four = kelompok empat firma Jasa profesional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan swasta. Firma Empat Besar adalah sebagai berikut, dengan data terakhirnya : Deloitte, PwC (PricewaterhouseCoopers), Ernst & Young (EY), KPMG. PartnerShit menggunakan KAP fiktif yaitu WWG (World Wide Group) Consulting Indonesia yang menempati posisi keempat. ⑼ PSAK = Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau PSAK adalah sebuah kerangka prosedur rujukan dalam membuat laporan keuangan akuntansi. PSAK berisi aturan-aturan yang berhubungan dengan kegiatan mencatat, menyusun, melakukan, dan juga menyajikan sebuah laporan keuangan. Dibuat dan disusun oleh IAI atau Ikatan Akuntansi Indonesia. Standar yang ada pada PSAK dan masih berlaku ini wajib diikuti oleh para akuntan dalam membuat berbagai hal ataupun laporan yang berhubungan dengan bidang keilmuan akuntansi. Jadi, bisa dibilang bahwa PSAK ini adalah pedoman yang harus diikuti oleh para pekerja di bidang akuntansi di Indonesia. * * * * * Bersambung dulu ya gengs~! Kira - kira adakah yg penasaran dengan kelanjutan ceritanya Suga dan Sunny? atau prefer Suga sama Shannie? Staytoon ya, pelan - pelan akan kita uangkap segera ya, gimana sih hubungan diantara mereka. by the way ... Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN