Bab 3

1504 Kata
Mungkin gue emang nggak berbakat kerja. Mana tau ya kan, gue itu punya darah orang kaya. Alias emang bukan babu - babu korporat club. Tapi, ya tetap aja meskipun gue ini calon orang kaya, gue butuh kerja biar nggak diusir sama eyang. Andai aja gue enggak bego, pasti gue juga bisa jadi bu.dak korporat yang baik macam si Lena. Alamak, Tuhan ... tolong Shanie plisss! * * * * * Berkali-kali gue melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Begitu turun dari ojol gue buru-buru gue melesat ke pedestrian area perkantoran WWG tower. Jangankan merapikan diri, helm si abang ojol pun hampir kebawa sama gue kalau enggak diteriaki doi. Sekilas gue takjub. Bola mata gue menari kesana-kemari. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi itu tampak mewah, sedangkan orang-orang yang lewat terlihat classy dan sibuk. Sebenarnya masih pengin melihat-lihat, ah, tapi ‘kan gue enggak punya banyak waktu untuk dibuang-buang. Bak masyarakat mall, cepat heran, gampang kagum. Ke sana wah, ke sini juga wah. Eh, tapi tanpa sadar gue juga ikutan. “Duh, Shan, norak lo hilangin dulu.” Gue bergumam pada diri sendiri. Sepatu hitam mengkilat gue mulai menapaki area lobby, tak lupa gue melirik jam tangan lagi. “a***y, udah tujuh lewat lima empat aja!” Sambil menukar KTP dengan kartu akses, gue merapikan rambut. Berulang kali gue sisir dengan tangan agar tidak ada helai yang menggumpal, mencuat, dan keriting kayak sarang burung walet. Di belakang meja resepsionis ada sebuah lorong panjang yang berisi enam elevator yang saling berhadapan. Enggak ada waktu lagi, gue harus naik sekarang juga sebelum benar-benar terlambat. “Silakan, Mbak. Lift ke langsung ke lift nomor dua, ya.” Resepsionis itu mengangguk sopan, lalu memberikan kartu akses pada gue sebagai ganti KTP yang diserahkan langsung. Pokoknya gue buru-buru, titik. Saking sok sibuknya, gue bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Langkah kaki gue terpacu cepat menuju lift. Namun, perjuangan ini jelas belum berakhir. Terlebih saat mata gue melihat kerumunan orang-orang yang tengah mengantre di depan pintu elevator yang sama. Duh, demi kucing bunting, kenapa juga semalam gue pake acara gadangin drakor sampe jam tiga pagi. Ini pasti gara-gara Kim Seo Joon terlalu ganteng. Fix, gue bakal tuntut dia kalau sampe gagal interview pagi ini! Tanpa sadar gue menarik napas, mencoba mencari sedikit celah tapi enggak bisa. Be like … orang-orang ini sudah berpengalaman rebutan lift. Pasalnya dari cara berdiri mereka kelihatan strong, macam banteng yang siap menyeruduk. Untung gue enggak pakai baju merah. Senggol bacok, ini mah. Jangankan digeser sedikit, di-jorokin pun masih ngebatu. Bahkan kalau nekat men-sledding mereka, kayaknya malah gue yang nyungsep. Layar persegi yang ada di atas pintu menunjukkan bahwa elevator akan segera turun. Lalu gue malah semakin sangsi, muka-muka horror di depan elevator ini kelihatannya pejantan dan betina tangguh. Mana mau mereka mengalah. Sial, begitu lift sampai di lobby beberapa orang keluar dari samping. Gue yang berdiri di pinggiran pintu terhempas jauh karena terdorong langkah kaki orang lain. Padahal tiga menit lagi pukul delapan. Bisa tamat riwayat gue kalau begini. Bakalan apes banget kegagalan gue, Eyang pasti makin semangat mengusir, hiks! Yah, tapi bukan Shanie namanya kalau enggak punya seribu akal. Melihat pasukan yang merangsek masuk ke lift dan hampir memenuhi space, gue akhirnya membuat sebuah keputusan penting sekaligus genting. Cepat-cepat gue mengambil botol minum dari tas. “Air panas, air panas!” Gue ngebacot tanpa tahu malu, “Mbak, maaf ya, air panas, air panas!” Persetan dengan kemaluan. Urat malu gue pasti sudah putus sejak zaman kuda gigit besi. Atau, mungkin pas mengantre pembagian urat malu, gue datang belakangan. Masa bodo, gue harus naik lift sekarang juga. Orang-orang ini menatap gue aneh, tapi jadi bergeser sedikit. Gue jadi pusat perhatian hanya dalam beberapa menit! Emejing! “Misi ya, Mbak, Mas. Air panas.” Cengiran garing itu tersungging di bibir gue, bodo amat, yang penting kebagian tempat. Iya, air panas, dalam termos, di rumah masing-masing. Gue kembali fokus, masih ada tempat untuk satu orang lagi. Tapi ada pemandangan tak sedap. Bola mata gue tiba-tiba membulat, tepat saat seekor pejantan hampir masuk ke lift. Si anying, seenak jidat aja ini orang mau nyelak. Oho, tidak semudah itu Pulgoso! “Mas, sorry, resleting celananya terbuka.” Jeng-jeng! Gue mengambil langkah cepat dan masuk ke dalam lift sebelum pintunya menutup rapat. * * * * * “Mbak, misi, Mbak. Air panas, sorry!” Gue menoleh cepat saat mendengar suara bariton itu kedengaran sok kenal sok dekat. Baru banget gue keluar dari ruang tunggu HRD, setelah akhirnya dapat lift dengan cara agak maksa tapi pake banget. Hoki, gue datang on time. Pas banget waktu nama gue dipanggil, ini tangan sudah bisa ngacung kayak beberapa calon magangers lain. Gue lihat cowok itu tadi muncul belakangan, sambil meledek si Mas yang resleting celananya gue bilang melorot. Uhuk, senjata makan tuan, nih! “Calon anak baru ya?” Cowok itu bertanya lagi, dan gue cuma nyengir kuda. “Gimana, air panasnya udah adem?” Gue masih nyengir gaje, sementara dia menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah gue. Mendapati pemandangan absurd cowok tinggi resek—tapi berpakaian rapi dengan gaya rambut cepak—tersenyum usil, gue jadi auto pengin pesan santet online. Sial, kok gue jadi salah tingkah, tapi yang jelas bukan naksir. By the way, ini membuktikan bahwa ternyata urat malu gue masih nyambung sedikit. Iya, sedikit demi sedikit, sambil menyelam minum air. Eh, kembung dong gue! Intinya … saat orang itu menyapa iseng, gue langsung merasa tersindir. Yah, semoga gue enggak tenar. Repot ‘kan kalau harus ngasih tanda-tangan buat orang sekantor. Cowok itu tampak cengengesan, mungkin senang karena sudah berhasil memelonco calon anak baru, dasar nyebelin! Eh, tapi kok perut gue melilit yah, aduh. Padahal masih pagi. “Kak, toilet di mana, ya?” Gue cepat-cepat tanya sebelum orang resek itu kabur. Ah, ini pasti gara-gara kopi yang gue minum sehabis cek kehadiran. Duh, kayaknya masih ada waktu sebelum tes, gue harus ke toilet. “Lurus, belok kiri. Jangan ke kanan. Air panas.” Si Mas resek masih cekikikan. Muka gue udah nyengir bercampur kaku, menahan desakan mules kebelet boker. “Iya, thanks. Kalau ke kiri, es teh manis?” “Toilet, lah!” cowok itu berlalu, hilang ditelan pintu masuk otomatis setelah men-scan jempolnya. Syaland, kau Mas! Berani-beraninya ngeledek dedek yang—ah, udah lah gue harus ke toilet. Mengabaikan ketidakjelasan obrolan dengan cowok tadi, gue memutuskan untuk langsung menuju ke arah toilet. Harusnya gue memilih teh, bukan kopi. Perut gue emang selalu bergejolak ngebet ngeluarin ampas setelah minum segelas. Jarak toilet enggak jauh-jauh banget, tapi perut yang semakin cekit-cekit bikin kaki gue gemetaran. Entah ada angin apa, tepat sebelum gue berbelok, seorang pria muncul mendadak dari sana. Sial. Gue kaget, dan cowok itu melotot. Sepersekian detik berikutnya terjadi hal di luar kendali. Salahkan gravitasi tanpa toleransi dan rem kaki yang enggak berfungsi. Kami bertabrakan dan gelas kertas berisi kopi yang sedari tadi gue pegang melayang ke udara. Mendarat tepat di atas kepala cowok itu. Mampus, tamatlah riwayat gue setelah ini. Apakah sesungguhnya dosa gue di kehidupan sebelumnya? Apa dulu gue pernah nyabutin bulu kaki Siliwangi sampai dia kelojotan? Duh … apa gue kualat karena tadi sempet mau nuntut Kim Seo Joon? Oppa mianhae, hiks. “Pak—eh, Kak—eh ... aduh sorry, gue benaran enggak sengaja. Sumpah!” Gue membekap mulut. Pokoknya, syok, kaget, herman, hormon, herder, keder, semua jadi satu. Shan, bener kata Lena, begok lo sampe ke tulang macam ayam kalasan. Tulul lo mengalir sampe jauh kayak rucika. Hadeh! Gue terkesiap, auto menunduk ketika sorot mata hitam kelam yang setajam tatapan sinis mertua itu mengarah ke gue. Ambyar, sial kuadrat ini namanya. “Sa—saya, saya benar-benar minta maaf.” gue berucap lirih, mungkin hampir berbisik. “Enggak kedengaran. Kalau sadar kamu salah, minta maaf yang benar.” Suara bariton cowok itu menusuk telinga gue, tajam, tegas, dan sarat akan kekesalan. Gendang telinga gue sampe berasa disodok cotton bud saking dinginnya itu nada suara. Ini manusia apa es balok dari air kali, sih? “Sa—saya minta maaf, Pak. Saya benaran enggak sengaja.” gue mengulang permintaan maaf itu dengan ucapan yang lebih tegas. Yah, emang gue salah, mau ngeles macam bajaj ngepot juga tetap salah. “Kamu itu bencana. Saya harap HRD enggak milih kamu.” Lelaki itu menarik napas, kelihatan sekali menahan kesal sambil berucap penuh penekanan. “Semoga kita tidak pernah bertemu lagi.” Gue menciut. Rasa mulas di perut menghilang seketika, keinginan untuk segera menuntaskan hajat ambyar sudah. Saking takutnya gue pada cowok yang tengah menatap setajam silet. Auranya berubah kaku, suhu AC sentral makin terasa sedingin es Kutub Utara di sini. Gue gemas mau jawab, tapi harus tahu diri. So, gue pun memutuskan merunduk semakin dalam. Kalau bisa gue lipat ini kepala sampai menyatu sama tulang leher. Eh, tapi jangan deh. Seram. “Karena kalau iya, saya jamin kamu akan menderita.” dia melanjutkan ucapannya, kali ini pakai trik mengancam ala-ala tokoh jahat sinetron. Hiks, Eyang … kenapa Hani sial banget, sih! [] * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN