Bab 2: Kegalauan Suga yang Hakiki
Aku masih bertanya-tanya, sebuah kisah yang indah. Masih bertanya-tanya, sebuah bagian terbaik. Aku masih mengembara menuju kisah yang selanjutnya. Aku ingin menjadikanmu sebagai milikku. Hatiku sedih karna aku tlah kehilangannya. Gambar yang muncul sepersekian detik itu. Aku menyesalinya, berharap bahwa sepersekian detik itu akan datang kembali. Aku berharap kamu kembali dan tidak pernah pergi lagi. Jika bisa, Aku ingin kamu kembali padaku. Tolong jangan pergi ....
* * * * *
Aku melangkahkan kaki perlahan, menyambangi dari satu stan ke stan lain. Lampu gemerlap yang berpendar redup memberikan kesan estetik, sementara deretan stan beretalase mungil itu didominasi oleh warna putih. Sambil menarik napas, sudut mataku bergerilya untuk mencari jenis benda yang aku butuhkan. Lantai marmer berukuran besar mengkilap berpasangan dengan atap berbentuk cembung yang besar dan megah. Disanggah oleh tiang-tiang kokoh yang membentuk beberapa lantai berkesan luxury, dan dilapisi kaca sehingga terangnya siang terlihat jelas walau dari lantai dasar. Harus aku akui, kalau mall berkonsep mixed use development ini memang cukup nyaman.
“Silakan, Kak, dilihat dulu. Kita lagi ada promo, untuk pembelian mendekati valentine akan ada diskon khusus.”
Mall yang terletak di daerah Kuningan ini menjadi salah satu tempat yang kudatangi secara mendadak siang ini. Ketika tiba-tiba bagian personalia di divisi kami membutuhkan beberapa ATK sebelum client visit. Masih ada setengah jam, cukup untuk melihat-lihat sebentar. Lagi pula ini masih awal minggu, tidak terlalu ramai dan suasananya tampak tenang. Persis kesukaanku.
“Kami sedang ada program undian juga, lho, Kak. Khusus untuk pembelian model terbaru, dari hari ini sampai tiga hari kedepan.”
Aku melirik sekilas, menatap pada sosok SPG mungil yang tersenyum amat lebar padanya. Ia berdiri di depan sebuah stan bertuliskan Sseamond & Co. Di etalase mungilnya terdapat beberapa model perhiasan dan batu permata. Namun, dari semuanya netra kelamku itu malah menaruh atensi pada sebuah cincin polos bertahtakan berlian mungil yang terletak di sudut.
“Halo, lagi sibuk enggak?” Senyumku sumringah saat panggilan telepon yang buru-buru aku buat terangkat. “Aku lagi di Mega Kuningan, kamu bisa ke sini sebentar, ‘kan, Sunshine?”
SPG yang berdiri di depanku menunggu dengan sabar, sampai akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada salah satu perhiasan yang dipajang di etalasenya. Masih tersenyum lebar, lantas aku menunjuk pada cincin yang kumaksud. “Iya, cuma sebentar. Ada sesuatu yang mau aku sampaikan. Oke, see you.”
Hanya butuh sepersekian detik bagiku untuk memutuskan bahwa aku akan membeli cincin untuk melamar Sunny. Ini memang mendadak, sangat. Anehnya, hampir segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu selalu membuatku sangat impulsif. Selalu begitu. Seolah kepalaku sudah di-setting hanya untuk Sunny, sang Matahari.
“Tolong dibungkus.”
Gadis penjaga stan itu dengan segera melakukan pekerjaannya untuk membungkus perhiasan pilihanku. Sementara aku malah asyik hanyut dalam kenangan puluhan tahun silam. Pertama kali aku mengenal Sunny adalah saat usiaku lima tahun. Ketika Kak Kasya tidak bisa menjemput diri kecilku karena sibuk bekerja. Adalah Sunny dan Mamanya yang dengan sukarela mengantarku sampai ke rumah, dan rupanya kami bertetangga. Mengenal pujaan hati sampai selama ini, aku yakin bahwa pernikahan kami nanti akan baik-baik saja.
Sesuai kesepakatan, aku menunggu Sunny di sebuah kafe kecil dekat pintu keluar. Tempatnya cozy dan tidak terlalu berisik. Hanya ada beberapa meja, dan cuma aku satu-satunya pelanggan di sana. Beberapa menit kemudian sosok Sunny terlihat dari arah pintu masuk. Meskipun berbeda instansi, tapi lokasi kantor kami persis di seberang Mega Kuningan Mall, dengan tower yang bersebelahan. Jadi, tak butuh waktu lama bagi Sunny untuk menghampiriku di sini.
“Udah lama?” Sunny langsung duduk di hadapanku, lalu menyeruput Bubble tea yang sudah kupesan sebelumnya. “Jadi … ada apa?”
Aku menarik napas, sudut mataku menelisik ke dalam manik coklat terang milik Sunny. Entah hanya perasaan atau bagaimana, tapi aku yakin bahwa ada sesuatu yang lain dari sorot matanya. Dia seperti Galang, salah satu admin di divisiku, yang takut ketahuan saat mengklepto bolpoin dari meja sebelah—yang juga menjadi alasan kenapa aku menolak dipanggil Galang saat hari pertama masuk kerja. Ah, kembali ke Sunny.
“Kamu sakit?” Aku mengerjap pelan, dan Sunny justru menarik napas panjang.
Aku menatapnya intens, akan tetapi ia justru mengedarkan pandangannya kemana-mana. Mungkin tatapanku terlalu mengintimidasi Sunny. Apa memang ada yang salah dengan mataku?Ia tampak salah tingkah, persis seperti dugaanku. Sunny mungkin tengah merasa sangat gugup. Bisa jadi ada sesuatu yang mau ia sampaikan juga, tapi masih ragu. Bukan sekali dua kali aku mendapati gerak-gerik ini. Sunny terlihat berusaha keras untuk mencoba bicara, tapi nyatanya sampai detik ini maksud dan tujuannya belum diutarakan sama sekali. Hingga akhirnya cuma gelengan kecil yang bisa dia tujukkan untuk menjawab pertanyaanku.
“Tinggal lima belas menit, Sugar.” Sunny berucap pelan, “apa yang mau kamu bicarakan?”
Aku menyesap kopi yang mulai mendingin di meja, sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan Alisku terangkat sebelah, dan Sunny terlihat semakin tidak yakin. Satu-satunya hal yang mereka lakukan cuma duduk, minum, dan saling menatap. Canggung sekali. Jadi seperti ini rasanya mau melamar anak gadis orang, ya?
“Sunny, sebenarnya aku—”
“Jadi, aku mau bilang—”
Kami saling menatap, tepat saat awalan kalimatku dan Sunny terucap bersamaan tanpa sengaja. Sunny semakin gelisah, dia menghela napas pendek beberapa kali. Aku memalingkan wajah sejenak. Menenangkan jantungku yang hampir meledak. Ternyata aku memang sebucin itu. Sekali lagi kutarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus, sebelum aku akhirnya menatap gadis di depanku lekat-lekat.
“Kamu duluan.” Aku menyembunyikan tangannya di bawah meja, menyiapkan hadiah yang baru saja kubeli tak sampai enam puluh menit lalu.
Sunny menarik napas, seolah menyakinkan dirinya sendiri sebelum berucap, “Sugar, I’m sorry. I think … I can’t be with you anymore.”
Hening.
Diam-diam aku menutup kotak perhiasan di tanganku, mengepalnya kuat sebelum memasukkan benda itu ke dalam saku celana. Satu tarikan napas panjang yang keluar dari diriku terasa berat, sementara Sunny cuma menunduk dalam-dalam. Aku menatapnya dengan tatapan terluka. Entah apa yang ada di benak Sunny, tapi ini adalah pukulan keras untukku. Tak pernah kubayangkan kalau ternyata wanita impianku akan mengucapkan kalimat seperti itu. Atmosfer di sekitar kami berubah dingin dan kaku. Lalu kecanggungan semakin merayap masuk, menyelimuti diri masing-masing.
“Kenapa?” Cuma satu kata itu yang lolos dari bibirku setelah beberapa saat larut dalam keheningan. “Apa aku melakukan kesalahan?”
“No, kamu sempurna dengan caramu melimpahkan semua perhatian itu, Sugar.” Sunny menggigit bibir bawahnya, gelisah. “Sampai saat ini kamu adalah pacar terbaik yang pernah aku miliki. Tapi aku enggak bisa lagi membohongi perasaanku.”
“Aku terlalu mengekang?” Aku masih menatapnya dengan sorot mata terluka. “Atau aku terlalu baik untuk kamu?”
Sunny terhenyak, aku memang tidak suka basa-basi. “Kamu yang terbaik.”
“Lalu?”
“Sayangnya hatiku—”
“Ah, kamu punya laki-laki lain?” Aku memotong dengan nada suara datar dan tatapan lurus. Lebih serius dari sebelumnya. “Apa aku benar?”
Sunny mengangguk.
Terpaksa aku mengangguk paham, “Padahal hari ini aku berniat melamarmu, Sunshine.”
“So, sorry. I can’t.” Gadis itu terlihat kepayahan menelan saliva yang tersangkut di kerongkongan. “Aku rasa kebersamaan kita terlalu lama untuk disebut cinta.”
“Maksud kamu?” Sebelah alisku terangkat lagi. “Jadi selama ini cuma aku yang excited,begitu?”
“Aku memang nyaman banget sama kamu, Sugar. Tapi kenyamanan itu enggak selalu berarti cinta.” Sunny membela diri. “Selama ini aku merasa berteman dan pacaran enggak ada bedanya.”
“Jadi kamu lebih memilih cinta yang enggak membuatmu nyaman?” Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dalam sekali embusan. “Lalu kenapa kamu enggak mencoba untuk belajar mencintai aku?”
“Andai hati bisa memilih, Sugar. Kayaknya kita sahabatan aja, seperti dulu.” Sunny kukuh.
“But I love you, I wanna be with you till the end of my life.” Aku berucap pelan, dengan nada tegas dan dingin. Gigiku mengancing, rasa kesal bercampur patah hati sudah menggerogotiku sejak tadi. Namun, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. “Kalau kamu memang lagi jatuh cinta sama cowok lain, aku akan tunggu.”
“Sugar ….”
“Enggak bisa kamu pikirkan lagi?” Aku bersedekap, mencoba mengabaikan kekecewaan yang sudah menyelinap masuk ke dalam diriku entah sejak kapan. “Hubungan ini sudah berjalan cukup lama, Kak Kasya dan orang tuamu pasti bingung.”
“It’s okay, kami cuma perlu pendekatan keluarga, sementara Kak Kasya … aku harap kamu bisa jelaskan ke dia.” Sunny membuang muka, aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Mungkin perasaannya campur aduk, tapi ia merasa harus menyudahi hubungan ini sekarang juga. Entahlah, spekulasiku terlalu negatif.
“Kamu berubah, dan aku baru sadar hari ini.” Aku menghela napas lagi, entah sudah yang keberapa kali. “Aku memang bodoh, karena tidak menyadarinya sejak lama.”
Sunny mengelak, “Itu karena aku mencintai orang lain, Sugar. Semua yang selama ini aku rasakan ke kamu, sekarang aku sadar kalau itu bukan cinta.”
“Kelihatannya kamu enggak akan berubah pikiran.”
“Aku berencana menikah sama dia.”
Cukup. Aku tidak tahan lagi, kurasa ini sudah saatnya aku menyerah. Kulirik jam tangan sebelum mengangguk kecil, “Oke, aku paham.”
Laki-laki harus kuat. Pria sejati tidak boleh menangis. Pemuda itu harus membanggakan, tegas, dan tidak boleh menye-menye. Kata siapa? Persetan dengan semua itu. Mentang-mentang jantan, tidak boleh patah hati, ya? Sialnya, kenapa aku juga terjebak dalam stigma sialan itu? Ah, kebodohan ini harus segera disudahi. Akhirnya aku memilih pergi. Tanpa melihat Sunny tanganku bergerak mengambil beberapa benda milikku dan beranjak. Namun, ada satu hal yang terlupakan. Cincinnya.
“Cincin ini aku beli untuk melamarmu, tapi kamu punya pria lain.” Suga berucap tenang, dengan tatapan sendu yang penuh luka, “Sekarang ... aku jadikan dia hadiah perpisahan kita. Semoga bahagia.”
Sunny menatap nanar saat aku kembali, membuka sebuah kotak beludru dan memberikan cincin itu padanya. Benda yang tadinya mau aku gunakan untuk melamar gadis itu. Setelahnya aku benar-benar pergi. Bersamaan dengan sorot mata lurus Sunny yang terasa menatapku lurus. Mungkin dia juga sedang mencuri pandang cincin yang aku geletakan di atas meja. []
* * * * *
Bersambung lagi ya gengs, haha.
Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!