Bab 29: Finally, Lombok! Gue enggak pernah berharap memiliki kantung doraemon yang bisa mengabulkan apa saja yang gue inginkan. Enggak juga berkhayal punya pintu kemana saja yang mungkin bisa gue gunakan untuk mengelilingi ratusan negara. Pun belum pernah membayangkan bagamana rasanya jadi orang tajir melintir kayak Sean. Tapi, di atas semua itu gue benar – benar bersyukur, bahwa pada kenyataannya di saaat seperti ini gue masih dikasih kesempatan bernapas. * * * * * Gue merentangkan tangan selebar - lebarnya saat kedua tungkai kaki menapaki anak tangga terakhir dari garbarata --- atau mungkin kalian lebih akrab menyebutnya tangga belalai yang berdinding dan beratap, berfungsi untuk menghubungkan badan pesawat dan ruang tunggu. Setelah duduk manis di dalam kabin selama satu jam e

