Di sebuah kota, di dalam Manssion mewah nan megah itu, seorang wanita tengah mengandung, di perkirakan usia kehamilannya saat ini telah menginjak tujuh bulan.
Gaun yang ia kenakan membulat di bagian perutnya, kebahagiaan yang ia nantikan selama ini tidak lama lagi akan ia rasakan.
Dan saat mendengar kabar dari anak buahnya, membuatnya meremas kedua tangannya dengan kuat, tubuhnya terhuyung ke sandaran sofa, wajahnya memerah karna menahan amarah.
"Kau sedang bermain dengan ku Barra, setelah apa yang sudah aku korbankan untukmu." Gumamnya lirih penuh emosi yang menyulut api di dalam perkataannya.. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada jal*angmu itu."
Vonda bangun dari duduknya, sambil mengusap perutnya yang membuncit, ia berjalan mendekati bodyguard kepercayaannya itu.
"Bawa aku kesana, aku akan memberi pelajaran kepada jal*ang yang telah berani menggoda suamiku." Ucapnya menahan emosi yang akan meledak.
Bodyguard Vonda mengangguk, dan mempersilahkan Vonda untuk masuk kedalam mobil.
*******
Vonda menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, bangunan mewah dan penjagaan ketat di berikan oleh Barra kepada jal*ang yang menggoda suaminya itu.
Rahang Vonda mengeras, wajahnya merah padam, rasanya ia sudah tidak sabar melihat seperti apa wajah wanita itu, hingga suaminya bisa tergoda padanya. Karna yang Vonda tahu, setelah percintaan one night yang sudah ia rencanakan dengan kedua orang tuanya, Barra tak pernah menyentuhnya, bahkan bermain dengan wanita lain saja tidak pernah, tetapi siapa wanita jala*ng itu, yang mampu menaiki ranjang Barra, dan menghabiskan waktu bersama dan di beri vasilitas bak putri kerajaan.
Vonda berjalan dengan anggun, meskipun perutnya saat ini sedang membuncit, tatapannya susah di artikan, dan pandangannya lurus dengan khas keangkuhannya.
Tampak para Bodyguard yang berjaga di sana terkejut belihat istri Bosnya datang ke Manssion ini, dan dua Bodyguard yang berjaga di depan pintu menghalangi langkah Vonda untuk masuk.
"Maaf Nyonya, anda di larang masuk." Salah satu Bodyguard itu memberitahu perintah Bosnya
Bibir Vonda menganga, tidak percaya dengan perlakuan special Barra kepada wanita itu membuat Vonda terkejut dan nyaris sesak di dadanya, rasa penasarannya pun semakin dalam.
"Apa kalian buta, aku istri Barra, aku berhak masuk kedalam Manssion ini." Bentak Vonda dengan suara melengkingnya.
"Maaf Nyonya, Bos tidak memperbolehkan siapapun masuk, termasuk Nyonya."
Mendengar keributan di luar sana, mengusik pendengaran Barra, ia pun memutuskan untuk melihat siapa yang berani mengganggu ketenangannya di kediamannya ini.
Mata Barra terbuka lebar, melihat wanita dengan perut buncitnya itu berdiri di hadapanny. "Vonda." Gumamnya pelan.
Vonda yang melihat pintu utama terbuka, dan menampilkan Barra di sana, ia langsung menatap sinis pria itu, dan langsung memakinya. "Oohh.. Ohh.. Ohh.. Begini ternyata perlakuan suami terhadap istrinya, melarang istri masuk ke dalam Manssion yang menyimpan wanita jala*ng di dalam sana."
Barra telah merubah mimik wajahnya, kini ia terlihat santai dan menangkupkan kedua lengannya kedepan. "Apa kamu bilang, istri? Pernikahan kita hanya pernikahan sirih, dan apa kau bisa membuktikan kalau anak yang kau kandung itu adalah darah dagingku." Ucap Barra dengan meremehkan. "Dan asal kau tau, kau juga merupakan jal*ang liar yang mengorbankan apa pun demi uang."
"Tutup mulut mu Barra." Bentak Vonda tidak tahan karna Barra selalu saja melontarkan kata-kata kasar padanya.
Lily yang baru menyelesaikan mandinya, dan hanya menggunakan kimono berjalan keluar menghampiri Barra, rasa penasaran membuatnya berjalan semakin mendekati Barra. "Ada apa Barra?" Tanya Lily yang ikut bergabung di sana dengan handuk yang menggulung rambut panjang basahnya dan tubuh yang di tutupi kimono berwarna pink.
Barra terkejut saat melihat Lily berdiri di sampingnya, ia belum siap menjelaskan akan status Vonda di dalam hidupnya. Dan tiba-tiba ucapan Vonda membuat harapan Barra pupus, akan sulit meluluhkan hati Lily kedepannya dan mempercayai kembali ucapannya.
"Oohh,,, ternyata ini wanita jala*ng itu, yang menggoda suami orang, dan lihat lah.." Tunjuk Vonda kepada Lily sambil menatap merendahkan. "Bahkan di siang hari begini mereka baru menyelesaian percintaan panas." Vonda dengan cepat menghampiri Lily dan langsung menamparnya.
Barra yang melihat Lily terjatuh kelantai dan mendapatkan darah di ujung bibirnya membuat ia geram dan mendorong Vonda hingga tubuh wanita itu terhuyung, untung saja salah satu Bodyguard Barra menangkapnya, jika tidak maka akan di pastikan Vonda mengalami kelahiran prematur.
Lily menatap Barra dengan penuh pertanyaan, matanya yang bening kini telah di penuhi butiran jernih. "Apa maksud perkataan wanita itu Bar?" Tanya Lily lirih.
"Lily, aku bisa jelasin ke kamu."
Lily menggeleng, ia tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi, ia menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain, dengan keadaan istri yang tengah mengandung darah daging pria yang tinggal bersamanya beberapa hari ini, dan dengan kasarnya ia mendorong istrinya sendiri. Butiran bening yang sedari tadi ia tahan kini telah berlabuh di pipinya, ia tidak sanggup membayangkan jika dirinya di posisi wanita yang tengah mengandung itu.
Lily menepis dengan kasar tangan Barra, "jangan sentuh aku Barra, kau pria brengsek." Celetuknya. "Aku benci telah masuk kedalam permainanmu." Tanpa pikir panjang Lily langsung berlari keluar Manssion itu, tangisannya pecah seiring langkahnya, sesak di dalam dadanya mulai merongga, ia tidak menyangka selama ini pria yang menguntitnya dan memberikan segalanya yang ia butuhkan, menjanjikan kehidupan yang nyaman, dan mirisnya telang merenggut kesuciannya, sosok pria yang telah memiliki istri. Lily menggelengkan berulang kali kepalanya, ia tidak percaya dengan kejadian ini, ia berharap ini adalah mimpi.
Lily terus berlari, entah sudah berapa kilo meter ia berlari, dan kini baru ia menemukan jalan yang di lintasi banyak kendaraan, tubuh Lily melemah, rasa lelah yang terus berlari membuatnya terjatuh, dalamnya keberadaan Manssion Barra, yang berada di pinggirin hutan, membuat tenaga Lily habis terkuras, untungnya wanita itu dapat lolos dari sana.
Bersambung...