Pertama Kalinya

1010 Kata
"Mintalah dengan lembut sayang." Ucap Barra sambil terus membelai tubuh sensitif Lily. Lili mengerang, ia benar-benar sudah tidak tahan. "Penguntit sialan, cepat lakukanlah, aku sudah tidak sanggup." Barra tersenyum senang. "Baiklah, tapi apa kau tidak menyesalinya Baby?" Tanyanya tanpa rasa bersalah. "Apa aku perlu menjawab pertanyaan konyolmu itu." Barra mencium Bibir ranum Lily yang terasa manis seperti gulali baginya. Ciuman Barra turun ke leher jenjang Lily dan tangannya perlahan membuka kancing baju Lily. Saat Barra berhasil membuka seluruh baju Lily, terlihat tubuh putih mulus Lily terekspos, membuat Barra semakin tidak tahan. Nafsu di tubuh Barra semakin memburu, ia meluma*t habis gunung kembar milik Lily, gadis itu hanya bisa menarik rambut Barra dan sesekali mencakar punggung Barra. Barra menatap wajah Lily yang memerah, kini tubuh Lily tidak menggunakan sehelai benang pun. Lily memejamkan matanya, menahan gejolak yang ada di tubuhnya, Barra hanya memperhatikannya sambil tersenyum. Lily tidak merasakan sentuhan dari pria yang menimpa tubuhnya itu, ia pun perlahan membuka matanya. "Apa yang kau tunggu, cepat lakukanlah." Pinta Lily yang memang sudah tidak sanggup menahan reaksi dari obat yang di beri Barra. Barra mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Lily. "Ini akan terasa sakit." "Aku akan menahannya." "Baiklah, jika kau memaksaku." Barra memainkan area sensitif Lily, kemudian ia melancarkan aksinya. Terlihat Lily mengerang kesakitan, tangannya yang menarik seprai dengan kuat. Barra menghentikan sejenak permainannya, melam*t bibir Lily agar mengalihkan rasa sakit di bawah sana. "Ah.. Sakit," "Aku susah melakukannya dengan lembut." "Tapi ini masih sakit." "Tahan saja, nanti rasa sakitnya perlahan menghilang." Permainan Barra semakin memanas, rasa sakit di bawah sana berubah menjadi kenikmatan, Lily menikmatinya dan terus mengerang. "Panggil namaku Baby." "Apa kau gila, aku belum mengetahui nama mu." Jawab Lily di sela erangan kenikmatannya. "Barra, panggil Aku Barra Baby." Lily pun menuruti ucapan Barra dan berulang kali memanggil namanya di setiap kenikmatan yang Barra ciptakan. "Kau cukup menggemaskan dan menggodaku Baby." Bara terus memacu permainanya tanpa henti, entah sudah berapa kali ia membuat Lily terlulai lemas, nafsu yang selama ini ia tahan, rasanya ia lampiaskan semua malam ini. Malam yang tadinya di penuhi bintang, kini berubah menjadi awan gelap, rintikan hujan perlahan turun membasahi bumi. Membuat Barra semakin menikmati permainan yang ia ciptakan. Begitu pula dengan Lily, suasana yang mendukung, membuat ia melupakan segalanya dan terus mengikuti kemana arah permainan Barra. Kini jam menunjukkan pukul 04.00 pagi, Barra bangun dari tidur sejenaknya, ia membangunkan Lily yang terlulai lemas karna perbuatannya, entah berapa jam tadi malam Barra menghabisi Lily, kini Barra kembali memintanya, rasa puas yang tadi malam ia ciptakan nyatanya belum sepunuhnya mengobati rasa haus yang sudah lama ia tahan. "Singkirkan tangan mu Barra, kau sudah membuatku setengah mati," tolak Lily dengan suara lemah. "Tapi aku masih menginginkannya Baby." "Aku sudah tidak sanggup lagi." Barra tidak memperdulikan ucapan Lily, ia kembali merangs*ng Lily dengan menyentuh area sensitifnya, tentu saja membuat wanita itu menggeliat.. "Hentikan Barra, aku benar-benar tidak sanggup." Barra tidak memperdulikannya dan terus melancarkan aksinya. "Akhhh... Akhhh. . Barra, kau benar-benar maniak s*x." Ucap Lily di sela erangannya. "Aku akan menunjukkan keperk*saanku padamu Baby, agar kau tidak memikirkan pria lain." Barra mengganti posisi permainannya, kini Lily yang mengambil alih permainan itu. Lily sudah cukup dewasa untuk mengerti hal itu, dan ia pun mulai pandai memainkan permainan, membuat Barra tersenyum senang. "Kau semakin menggemaskan jika berada di atasku Baby." "Aku akan mengkummu jika aku sudah sadar." Barra tertawa. "Aku menantikan itu sayang." Barra kembali mengambil alih dalam permainan, ia terus menghentakkan senjatanya kedalam lobang kenikmatan. "Apa kau menikmatinya Baby?" Tanyanya di sela desahan. "Tentu saja, manusia gila juga kan menjawab hal yang sama bila merasakannya." "Kau memang wanitaku, kau cukup pandai mengerti aku Baby." Barra semkin cepat melajukan permainannya. "Aku akan mencapai puncak sayang." "Ahh.. Ahh.." Mereka mengerang bersama dan mencapai puncak kenikmatan, Lily kembali terlulai lemas. Barra menarik selimut menyelimuti tubuhnya dan Lily, ia memeluk gadis itu dan mencium bibir mungilnya. "Aku tidak akan melepaskanmu sayang." Gumamnya kemudia ikut tertidur menyusul Lily kealam mimpi. ?????? Matahari yang sudah condong, sinarnya yang memberi kehangatan masuk dari jendela yang tadi malam tidak sempat Lily tutup. Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, tetapi dua insan itu masih terbaring lemas di atas kasur, Lily mulai memerjabkan matanya karna silau terkena sinar matahari. Lily bangun dari ranjang, tapi rasa sakit di bawah sana membuat ia terjatuh. Barra yang mendengar suara terjatuh sontak bangun, ia melihat Lily yang berbalut selimut terduduk di lantai. "Kau tidak pa-pa?" Tanyanya sambil menggendong Lily dan kembali menidurkannya di ranjang. Lily menatap wajah Barra tanpa berkedip, pria itu yang terus di tatap pun bertanya ada apa. "Kau pria kejam." Jawab Lily sambil membenarkan dudukannya di kasur. "Aku kejam, tapi kau menyukai permainanku." Perkataan Barra sontak membuat Lily malu, gadis itu menundukkan pandangannya, dan itu membuat Barra gemas. Barra membawa tubuh lemah Lily kedalam pelukannya. "Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku." Ia merenggangkan pelukannya. "Kamu diam di sini, aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi." Imbuhnya kemudian bangkit dan menuju kamar mandi. Lily memalingkan pandangannya, karna Barra berjalan tidak menggunakan apaun tanpa rasa malu, "Hufftt... Aku harus bersyukur atau menangis sekencang-kencangnya, tapi menangis pun aku rasa percuma, semua sudah terjadi, apa aku bisa mempercayaimu sebagai pelindungku, atau aku harus pergi dari kota ini, dan kau pasti akan menemukanku kembali, entahlah, jalani saja semestinya, mudah-mudahan akan baik-baik saja sampai akhir." Gumam Lily yang terus menghela nafas kasar. Lily sudah rapi dengan baju rumahannya, ia pun sudah duduk di kursi meja makan, menompang wajahnya dengan kedua tangan, memperhatikan sosok pria yang tengah bergulat menyiapkan sarapan untuknya. Lily membuang nafas kasar sebelum ia memulai perkataannya. Bersambung Woeyy... __iklan__ Netizen: lah kok di gantung thor? Author: capek we, keriting ni jari gue ngetik terus? Netizen: buat gue makin penasaran aja lu thor?nggak tanggung jawab bener? Author: et dah? sabar nape, entar juga gue lanjutin, ?apa gue tamatin aja sekalian? Netizen: jangan dong thor, gak seru, masak tamat tapi ceritanya nanggung gitu? Author: yaudah pada diem dah?entar gue sambung lagi?gue rehat bentar woke? Netizen: seterah lu? Jangan lupa LIKE, KOMEN dan kasih LOVE ya kawan???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN