Mall SKY Bintang

1131 Kata
"Rame banget hari ini." ucap Ayu yang melihat di sekitarnya. "Jelaslah, karna sore ini, Mall SKY mengadakan pemotongan pita untuk meresmikan cabang SKY yang ada di jepang." Linda memberi tahu informasi yang ia dapatkan. "Emm.. Jadi bener hari ini ada diskon besar-besaran." ucap Ayu antusias. "Iya, bener." jawab Linda. "Yaudah, yuk kita keliling, cari isi perut dulu." ajak Lily, Ayu mengangguk dan menggandeng tangan Lily, Linda pun berjalan di samping Lily. "Kita makan di sana yuk." tunjuk Linda di sebuah lestoran menyediakan makanan khas korea. "Di sana makananya enak-enak loh." imbuhnya lagi. "Ayuk." jawab Lily, dan Ayu pun mengangguk antusias. "Kalian di sini juga." terdengar suara renyah dari sosok pria yang sangat Lily kenal. "Eh.. Kak Jino, rupanya, kirain siapa tadi." "Hai kak." sapa Linda yang memang sudah beberapa kali bertemu dengan Jino. "Hai, juga Linda." jawab Jino sambil membalas lambaian tangan Linda. "Kalian ngapain disini?" "Ya main dong kak, bosen tau kerja mulu." Ayu menjawab mewakili kedua temannya. "main, apa mau borong yang lagi diskon?" goda Jino sambil tertawa kecil. "Ah.. Kak Jino tau aja." jawab Linda. Ayu mencolek tangan Jino dan mengarahkan pandangannya ke sosok pria yang berdiri di samping jino. "Siapa tu kak, kenalin ke kita dong." "Eh... Hampir aja lupa, kenalin dia temen aku, dan kami bertetanggaan." "Aku Ayu." "Ferdi." jawab Ferdi sambil membalas jabatan tangan Ayu. "Aku Linda." "Aku Lily." "Yaudah, yuk kita makan dulu." usul Linda "Bareng aja, kami juga baru pesan." jawab Jino. Mereka berlima menyantap makanan yang ada di atas meja, sambil sesekali bercanda dan tertawa ria. Tanpa sengaja, manik mata Lily bertemu dengan sosok pria yang memakai jas hitam di dalam lift yang belum tertutup sempurna. Pria itu tersenyum manis kepada Lily, gadis itu mengabaikan dan kembali menikmati makanannya. Ponsel Liky bergetar, ternyata sebuah notif chat wa masuk, Lily membukanya kemudian ia terdiam, tubuhnya bergetar, ia mengedarkan pandangannya. "Lo kenapa?" tanya Ayu yang merasa aneh dengan tingkah Lily. "Ah... Enggak pa-pa kok." Lily kembali menyimpan ponselnya di dalam tas. "Gue ke toilet dulu ya." imbuh Lily sambil bangkit dari duduknya "Perlu temen nggak?" usul Linda. Lily tertawa. "Kau pikir aku anak kecil." Lily berlalu meninggalkan mereka. Di dalam toilet khusus wanita, Lily membasuh wajahnya di wastafel, ia masih memikirkan isi pesan yang ia dapat dari nomor tidak di kenal. "Siapa sebenarnya pria penguntit itu, dan apa maksud pesan yang ia kirim." Lily bertanya pada diri sendiri sambil mengambil ponselnya, melihat kembali nomor yang mengirim chat wa kepadanya, dan melakukan panggilan. Hampir sepuluh kli Lily menelepon nomor itu, tetapi tidak ada jawaban. "Penguntit sialan." rutuknya sambil menggenggam erat ponselnya. Lily berjalan santai menghampiri teman-temannya. "Lo kemana sih, kenapa lama banget?" tanya Ayu sewot. "Ngeluarin bom kali." Linda meledek sambil tertawa kecil. Lily memukul kecil lengan Linda. "Yee... Lo pikir gue apaan." dengusnya kesal. Mereka berempat pun tertawa ria melihat reaksi kesal di wajah Lily. "Udah yuk, kita keliling-keliling cuci mata, mana tau dapet cogan." ucap Ayu sambil tersenyum. "Tu kepala isinya cogan mulu." ledek Jino. "Tau ah.. Sibuk aja sama urusan orang." omel Ayu kesal. "Udah dong, jangan berantem, keburu malam tau." Linda melerai perang kata antara Ayu dan Jino. Lily dan Jino berjalan di belakang ketiga temannya, sambil sesekali bercanda, Lily tertawa riang tanpa beban sambil sesekali memukul lengan Jino. Jino pun tidak sungkan-sungkan untuk merangkul Lily, gadis itu pun tidak menolak, dan sejenak melupakan ancaman yang tadi ia dapatkan. "Ini cantik untuk mu Ly." ucap Jino sambil menunjukkan sebuah dress selutut berwarna merah. "Cantik, tapi aku nggak suka warnanya kak." jawab Lily santai. "Kamu suka warna apa? Pilih aja, kakak yang bayarin." "Eh,, nggak usah kak." "Udah nggak pa-pa, nggak usah malu-malu gitu." "Beneran, nggak usah kak." Jino terus memaksa, dan akhirnya Lily pun menuruti kemauan Jino, ia mengambil baju kemeja berwarna lavender. "Ini aja kak." Lily memberitahu yang ia inginkan. "Kok cuman satu? Pilih lagi yang kamu inginkan." "Nggak usah kak, udah ini aja." tolak Lily yang merasa tidak enak, karna Jino merupakan pria yang baik. "Wah... Lily di beliin, akunya enggak." ujar Ferdi yang baru datang dan merangkul Jino. Jino melepas rangkulan Ferdi. "Apaan sih Lo." Lily menggelengkan kepalanya, kemudian ia dan temannya meninggalkan dua pria itu, dan kembali mengelilingi setiap sudut Mall SKY yang di padati manusia saat ini. Barra yang sedari tadi memantau Lily merasa geram melihat kedekatan antara Lily dan jino, saat ini Barra melihat Lily tengah berada di depan toko perhiasan. "Kamu suka klung itu?" tanya salah satu pria yang berdiri di samping Lily. Lily terkejut dan melihat asal suara, siapa gerangan batinnya. "Ah, tidak, hanya mengagumi kecantikan kalung itu saja." "Jika kau mau, ambillah, aku akan membelikannya untuk mu." "Eh,, tidak usah, aku tidak terlalu menyukainya." "Anggap saja ini hadiah di pertemuan kita yang kedua." "Maksudnya?" tanya Lily bingung. "Apa kau sudah lupa dengan wajahku." Lily mengernyitkan keningnya mencoba mengingat. "Maaf." ucapnya pelan. "Ternyata kau benar sudah lupa, aku lelaki yang tidak sengaja bertabrakan dengan mu tempo lalu." ucapnya mengingatkan. "Ah.. Iya aku ingat, pria yang menolongku mlam itu ternyata, kamu." "Kita belum kenalan kan, nama ku Billy." Lily meraih tangan Billy. "Nama aku Lily." "Boleh aku berteman dengan mu?" "Tentu saja boleh." Billy menyodorkan ponselnya. "Boleh aku meminta nomormu?" Awalnya Lily sedikit ragu, tetapi ia tetap menulis nomornya di ponsel Billy. Sejenak Lily terdiam memperhatikan wajah Billy dan menyusuri pandangannya ke tubuh Billy dari atas sampai kebawah. Apa dia pria penguntit itu, tetapi tingginya aku rasa cukup berbeda, pria yang aku temui itu lebih tinggi darinya, dan rambutnya terpangkas rapi, sedangkan Billy memiliki rambut yang agak panjang. Lily menggelengkan kepalanya, menepis fikirannya yang dapat memusingkan dirinya sendiri. "Apa kau baik-baik saja?" "Iya, aku baik-baik saja." Tampak sosok pria penuh amarah di balik dinding. Ya, pria itu adalah Barra, saat ia ingin menemui Lily, ternyata Billy terlebih dahulu berada di sana. Barra berulang kali mendengus kesal dan meninju dinding yang tidak bersalah itu. Anak buahnya yang menyaksikan merasa takut dan tidak berani bertanya, mereka hanya menutup akses tempat itu, agar tidak ada yang melihat kemarahan Bosnya. Akhirnya Barra memutuskan untuk pulang kerumah. "Lihat saja kamu Baby, aku akan memberikan pelajaran untuk mu, karna kau berani dekat dengan pria lain." gumam Barra sambil berlalu pergi. Bersambung. ___iklan__ Netizen: si bara kenapa nggak langsung di temukan sama si Lily sih thor? Author:sabar dong?semua kan ada prosesnya? Netizen: eh thor, tu tanda kepemilikan yang Barra buat di leher Lily, temen-temennya kok nggak ada yang tau sih? Author: baju yang Lily pakai nutup sampai leher, jadi nggak kelihatan? Netizen: pande bener tu sih Barra milih baju?makin emes sama dia. Author: bet dah?kan gue yang nulis ceritanya, nape lo muji-muji Barra? Netizen: ?habis lu nyebelin thor?kang nulis ada yang gini. Author:seterah lu pada?et tolong dong, kencengin lovenya??karna udah cukup panjang ni nulisnya??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN