Melihat Amira yang terlihat kikuk sendiri membikin jiwa iseng Arbian terbangun. Sebelum mendekati Amira, Arbian terlebih dahulu celingak celinguk melihat Zaina di mana. Zaina entah di mana, serasa aman Arbian mendekati Amira.
"Eheeem," deheman Arbian menyadarkan Amira.
Amira yang hendak kabur dihalangi sama Arby. "Awas, A."
"Pembicaraan kita tadi belum selesai, Neng."
"Apaan? Pembicaraan apa? Kita dari tadi tidak bicara."
Amira mendorong tubuh Arbian, sayangnya Arbian bergeming, Amira tidak kehilangan akal, berjalan ke arah lain namun lengannya dipegang Arbian.
"Aa, apaan sih?"
"Kita bahas yang tadi dulu, Neng."
Boleh tidak sih kalau Amira menjedotkan kepala Arbian ke tembok agar Amnesia? Biar tidak ingat sama yang mereka obrolkan tadi di telepon.
"Bahasan yang mana, A?" Desis Amira agar tidak ada yang mendengar apa yang keduanya obrolkan di dapur.
"Mau Aa ulangi yang tadi?" Cibir Arbian.
Amira pun mulai panik. "Tidak usah, sudah tahu. Sudah lepasin dulu." Amira berusaha melepaskan tangan Arbian, Arbian tetap menahannya.
"Jawab dulu, baru Aa lepasin."
"Jawab apa sih, A? Pertanyaannya sendiri apa?" Amira terjebak dalam permainannya Arbian.
"Ck, Aa ulangi dari awal apa yang Neng bilang di telepon tadi."
"Oke, terserah Aa saja deh. Aa mau jawaban apa? Ya sudah itu jawabannya." Amira pun pasrah.
Cengkraman tangan Arbian pun lepas di lengan Amira.
"Neng tidak bertanya pertanyaan Aa apa?"
Ah, iya.. Amira jadi kepikiran, jadinya kan dia penasaran.
"Emangnya pertanyaan Aa apa?" Tanyanya penasaran.
Amira sudah terjebak dan Arbian tidak akan melepaskannya.
Arbian berdiri di samping Amira, bibirnya dekat dengan telinga Amira. "Nanti malam Aa kasih tahu," bisiknya dan bikin Amira merinding disko dibuatnya.
Zaina yang sedang bersembunyi di balik tembok senyam senyum sendiri melihat tingkah Papinya yang terlihat ngebet banget dan Ateunya yang malu-malu meong.
"Bikin gemes saja melihatnya," Zaina bergumam sendiri.
"Aa nyebelin deh! Kenapa tidak kasih tahu sekarang saja sih?"
"Nanti malam baru Aa cerita setelah di rumah."
"Cerita sekarang saja A."
Arbian pergi meninggalkan Amira yang penasaran. Arbian tersenyum puas telah membikin Amira penasaran.
"Aa, paling juga Aa lupa lagi. Sudah biasa kalau Aa amnesia," Amira berteriak karena Arbian sudah berjalan ke ruang tamu, mengabaikan Amira yang berteriak.
Abah dan Ambu keluar dari kamar karena mendengar Amira teriak.
"Neng, ada apa? Berantem lagi sama Aa?" Tanya Ambu.
"Tidak, Mbu."
Daripada Amira nanti ditanya lagi, mending Amira pura-pura menyibukkan diri mencuci piring kembali.
Zaina datang menghampiri Ambu yang baru duduk di kursi makan, Zaina membisikkan sesuatu di telinga Ambu, Ambu sampai senyam senyum sendiri mendengarnya. Jadi serasa dia yang merasakan muda.
"Ada apa sih, Mbu?" Abah jadi penasaran.
"Nanti Ambu cerita di kamar."
"Sekarang saja Ambu, Abah penasaran banget."
"Ntar, Bah. Itu orangnya datang." Ambu mengkode pada Abah lewat mata.
Arbian datang langsung duduk di depan Ambu, Amira mengambilkan nasi pada Abah, Ambu dan Arbian. Tugas Zaina menyiapkan minuman pada mereka semua.
"Dek, setelah makan kita pulang yah!"
"Oke."
Zaina cepat duduk di sebelah Ambu agar Ateunya duduk di sebelah Papinya.
Semuanya makan dengan semua hidangan Amira yang memasaknya.
Selesai makan, Amira mencuci piring dan Zaina membersihkan meja makan. Arbian duduk di ruang keluarga bersama Abah dan Ambu.
"Dek, biar Ateu yang bersihkan semua. Adek persiapan saja pulang sama Papi."
"Ya, Teu." Zaina meninggalkan Amira yang sedang meletakkan piring di raknya.
Zaina masuk ke dalam kamar cuma sebentar untuk mengambil hasil belanjaannya tadi.
Amira sudah selesai mengerjakan semuanya tapi enggan bergabung bersama orang tua dan Arbian di ruang keluarga, dia duduk di kursi makan sendiri.
"Ateu, ini ada kemeja yang tadi Adek beli buat Ateu dan Papi." Zaina menaruh kresek di atas meja makan.
"Kemeja? Kemeja apaan?"
"Ish, Ateu lupa. Tadi kan Adek beli kemeja coupelan Ateu sama Papi."
"Eh, kagak ada yah coupelan segala," protes Amira.
"Ada apa, Neng?" Ambu bertanya dari ruang keluarga.
Amira mau ngomong keburu didahului sama Zaina, "Ini, Nin. Tadi Adek beli kemeja bagus buat Ateu sama Papi tapi Ateunya malah nolak, padahal kemejanya bagus sekali."
"Coba Nin lihat dulu, Dek."
Zaina menyerahkan dua kemeja pada Ambu.
"Cakep ini kemejanya, bagus ini dipakai Ateu sama Papimu, Dek."
Lihatlah, Amira kesal melihat Arbian yang tersenyum senang, senyum yang menyebalkan di mata Amira.
"Simpan Neng kemejanya, cuci dulu kemejanya sebelum dipakai."
"Itu bukan punya, Neng," protes Amira.
"Neng, itu ponakanmu sengaja belikan buat Ateunya, hargai dong."
"Ya deh." Amira mengambil kemeja dari tangan Ambu.
"Punya Aa juga cucikan yah, Neng. Tolong taruh di kamar Aa." Amira langsung mendelik tajam pada Arbian.
"Awas jodoh, uhuk," Abah pura-pura batuk.
Amira jadi sebal sama semua orang, kemeja yang dipegangnya di taruh di ember khusus baju kotor.
"Dek, ayo kita pulang sekarang," ajak Arbian pada anaknya.
"Let's go, Papi."
Amira sama sekali malas mengantarkan Aa dan ponakannya keluar, ceritanya dia masih kesal pada anak dan bapak tersebut.
Amira duduk diam sendiri di kursi makan saat semuanya sudah di luar, dia minum air dingin yang diambilnya dari kulkas.
"Aa pulang dulu yah!" ucap Arbian sambil memegang pucuk kepala Amira.
Amira langsung tersedak karena sedang meneguk minuman. Dikirain Arbian sudah pergi dari tadi, tapi ternyata Arbian masuk lagi ke dalam rumah dengan alasan mau pip1s dahulu, yang padahal mau pamit pada Amira.
"Tunggu telepon dari Aa ntar malam yah!"
Amira hanya diam, otak sama hatinya sedang tidak bisa diajak kerjasama, apalagi detak jantungnya.
Setelah tersadar ternyata orangnya sudah keluar.
"Aa tuh makin lama makin nyebelin deh," Amira ngomong dengan rasa kesal.
Mending Amira masuk kamar, ngademin diri sendiri setelah kakaknya pergi. Arbian pergi, rasa kesalnya pun pergi.
HP yang dichargernya diambil di meja, baterai HP seratus persen full terisi.
Mata Amira mendadak melotot melihat notifikasi instagaram, ada yang baru ngefollownya dan yang ngefollownya adalah yang orang yang selama ini ditunggunya yaitu Rendra. Bahkan Rendra sendiri sudah menyetujui permintaan follow dari Amira.
"Oh my god, oh my wow. Ini bukan mimpi kan?" Sampai Amira mencubit pipinya sendiri karena tidak yakin.
Rasa terkejutnya tadi belum hilang, ada notifikasi lagi yang bikin Amira makin terkejut. Rendra baru mengirimkan direct message atau pesan pada instagaramnya Amira.
DM Amira sebelumya yaitu [Assalamualaikum, hai salam kenal]
Dibalas Renda [Waalaikumsallam, salam kenal kembali]
Betapa bahagianya Amira membaca DM dari Rendra, guling-guling di kasur dia saking bahagianya.
DM masuk kembali dari Rendra [Namanya siapa?]
Padahal sudah jelas di akun pribadi Amira itu nama Amira langsung tapi yang namanya basa-basi Amira maklumkan.
[Nama saya Amira]
[Saya Rendra] cepat sekali Rendra balas karena Rendra sedang online.
Amira bingung mau melanjutkan obrolan apa lagi.
Rendra kirim pesan lagi [Maaf yah pesannya baru saya baca sekarang karena saya lupa password sama emailnya, maklum sudah tua agak gaptek nih. Ini juga dibantu anak saya untuk bisa pakai instagaram lagi]
"Oh, ternyata begitu, padahal aku sudah nyerah setengah metong mengharapkan dia," gumam Amira sendiri.
[Apa saya ganggu?] Kembali Rendra mengirim pesan.
[Tidak sama sekali]
[Apa ada yang marah jika saya mengirim pesan padamu? Suami mungkin?] Amira tersenyum kecut membacanya.
"Suami? Nikah saja belum," ucapnya sendiri.
[Saya tidak punya suami, belum maksudnya]
[Syukurlah]
Amira mengangkat kedua alisnya membaca pesan Rendra.
[Kalau ybs sendiri gimana? Saya takut diseruduk istrinya] Amira bingung memanggil Rendra apa, mau manggil Mas, Abang, atau apapun itu takut orangnya keberatan.
[Saya duda, panggil saja Mas] Sepertinya Rendra bisa menebak jalan pikiran Amira.
[Oke]
[Boleh saya tahu nomor HP-nya Amira? Biar lebih enak ngobrolnya di telepon daripada di sini]
[Ngobrol di sini saja dahulu] Amira harus terkesan jual mahal dong.
[Oke deh! Maaf, memangnya sebelumnya kita apa pernah saling kenal?] Rendra yang bertanya.
[Sepertinya tidak]
[Kok bisa follow instagaram saya?]
[Lihat di instagaram ada suggested follow, iseng saja follownya juga. Lumayan nambah yang difollow] Tentu saja Amira berbohong, tidak mungkin juga Amira bercerita mencari tahu si duda dari akun anaknya.