"Kalian berdua Ambu perhatikan dari kemarin berantem melulu, apa ada masalah?" Tanya Ambu dari tempat duduknya.
"Ini Aa nyebelin banget, sengaja nyenggol tapi tidak mau ngaku," Amira ngomong dengan rasa kesal.
"Aa memang tidak sengaja," elak Arbian yang tidak mau ngaku.
"Tuh Ambu, kelihatan kan tidak mau ngakunya." Amira menunjuk pada Arbian pakai piring yang dipegangnya.
Amira lalu menaruh dua piring berisi kupat tahu untuk Abah dan Ambunya. Arbian duduk di sebelah Abah, dia tidak peduli dengan tatapan permusuhan dari Amira.
"Kalian berdua itu lama-lama klop juga," celetuk Abah dengan sengaja.
"Klop dari hongkong, yang ada anjing dan kucing, Bah," tolak Amira.
Arbian tersenyum pongah pada Amira dan bikin Amira makin kesal melihatnya. Entah kenapa melihat Amira yang kesal membikin Arbian semakin senang mengerjainya.
Daripada melihat wajah nyebelinnya Arbian mending Amira bergabung bersama Zaina yang sedang duduk di ruang tengah.
"Kalian pulang hari ini?" Tanya Ambu pada Arbian.
"Iya, tapi paling sore," jawab Arbian sembari tangannya mengeluarkan surabi dari styrofoam untuk makanan.
"Terus Adek gimana?"
"Minggu depan saja mulai tinggal di sini, bajunya kan masih di sana."
"Aa minggu depan nginap lagi saja sekalian ngantar Adek."
"Iya, Ambu."
Amira tiba-tiba keingetan sama ajakan Arbian kemarin untuk mengajaknya jalan. Takutnya dia salah, ajakan jalannya itu tadi saat ke gasibu atau tidak jadi atau gimana?
Amira melirik Arbian, namun Arbian tidak melihatnya karena sedang makan surabi. Amira melirik lagi, tetap Arbian tidak melihatnya karena sedang ngobrol dengan Abah. Beberapa detik kemudian Amira melirik lagi, Arbian yang merasa sedang dilihat langsung menoleh pada Amira namun keburu mata Amira melihat ke arah HP-nya.
Arbian melirik Amira namun Amira masih fokus melihat HP, semenit kemudian Amira melirik Arbian dan Arbian yang menunggunya dari tadi akhirnya mata mereka saling bersirobok pandang.
"Apa?" Tanya Arbian pada Amira dengan tanpa suara. Amira hanya diam, mau nanya malu jadi milih diam.
Abah dan Ambu memperhatikan keduanya, mereka saling mengkode dengan saling nendang kaki di bawah meja.
Pandang Amira beralih melihat acara gosip di televisi. Arbian jadi penasaran karena ulah Amira tadi. Saking penasarannya sampai Arbian pindah duduk di sebelah Amira.
"Tadi ngelihatin Aa terus kenapa?"
"Siapa juga yang ngelihatin Aa, geer," ucapnya dengan ketus.
"Aa tahu Neng bohong."
"Siapa juga yang bohong, tadi Neng ngelihat Abah dan Ambu yang sedang makan."
"Yakin?" Arbian bertanya dengan memicingkan matanya.
"Yakin banget," jawab Amira.
Arbian percaya? Tentu saja tidak, secara mereka sudah bersama dari Amira bayi jadi Arbian tahu gesture Amira berbohong.
"Apa Aa ada salah ngomong?"
"Tidak ada."
"Apa Aa ada salah sikap yang biking Neng tersinggung?"
"Tidak ada."
Zaina melihat Papi dan Tantenya sampai menahan tawa, mereka berdua seperti ABG lagi pacaran dengan pacarnya yang sedang ngerajuk.
"Terus apa dong?"
"Au ah, pikirin saja sendiri." Amira beranjak berdiri, meninggalkan Arbian yang masih penasaran.
Padahal Amira cuma tinggal nanya, 'A, jadi tidak jalannya?' gitu saja tapi susah amat.
Tapi pada dasarnya Amira yang masih mode kesal ke kakaknya jadi gengsi.
Arbian melongo melihat Amira yang sudah masuk ke dalam kamar dengan meninggalkan dirinya yang masih penasaran.
Di dalam kamar, Amira kesal sendiri pada kakaknya tidak peka.
"Dasar Aa, selalu lupa sama omongannya sendiri," gerutunya sendiri.
Amira yang dari kecil suka sekali diajak jalan-jalan dan main sama kakak-kakak sepupunya, secara dia anak tunggal dan Abahnya sibuk bekerja, Ambu sibuk giat juga mengurus pelatihan ini bagi semua anggota persitnya. Jadi kebanyakan waktunya bersama tiga kakak sepupunya, Arbian dan kedua adiknya.
Amira yang suka dimanja Arbian dan Arbian yang tidak suka dicueki Amira. Klop deh.
Arbian mengambil HP dari saku celananya untuk mengirimkan pesan pada Amira.
[Neng, bilang ke Aa atuh Aa punya salah apa?]
[Aa ingat tidak waktu ngomong di tempat bakso kemarin?]
[Memangnya Aa ngomong apa?]
[Aa lupa deh]
[Karena Aa lupa makanya Neng kasih tahu Aa]
[Aa kemarin bilang mau ngajak jalan, atau tadi ke gasibu itu sudah ngajak jalan? ]
"Ya ampun, lupa sama itu," Arbian bergumam sendiri dan membikin Abah, Ambu dan Zaina menoleh padanya.
"Papi kenapa?" Tanya Zaina.
"Ini Papi kelupaan sesuatu," tentu jelas Arbian berbohong.
"Oh!"
Arbian beranjak berdiri, naik ke atas tangga, masuk ke dalam kamarnya untuk menelpon Amira. Bukannya Arbian tidak mau ke kamarnya Amira langsung atau menelpon di bawah, tapi entahlah, Arbian mendadak ingin sembunyi-sembunyi dari siapapun.
Zaina pindah duduk di depan Ambu di kursi makan.
"Nin, apa Papi dan Ateu sering berantem?"
"Iya, kenapa?"
"Tapi kok rasanya aneh deh!"
"Aki juga curiga."
"Nin juga sama."
"Apa boleh keduanya menikah, Ki?"
"Tentu saja boleh, mereka bukan mahram. Kenapa Adek nanya begitu?"
"Ya, Adek sih Papi menikah lagi. Pengennya menikah sama Ateu, Ateu baik juga sayang sama Adek," lirihnya.
"Gimana kalau kita comblangi mereka diam-diam?" Usul Ambu.
"Gimana caranya, Nin?"
"Nah itu dia, Nin juga belum kepikiran caranya."
Selagi ketiganya memikirkan ide, di masing-masing kamar Amira dan Arbian, keduanya sedang mengobrol lewat telepon.
"Aa ngapain sih pakai telepon segala?"
"Neng kok gitu? Aa hanya memastikan saja yang tadi Neng bilang. Maaf, jujur saja Aa lupa. Minggu depan saja gimana?"
"Aa selalu gitu, pasti lupa terus."
"Faktor usia atuh, Neng. Aa kan harus pulang sore, Minggu depan saja gimana? Kan minggu depan Aa mau nganterin barang Adek. Neng mau ke mana? Aa hayuk saja."
"Aa yang ngajak kok malah Aa yang nanya Neng mau ke mana?"
"Ya Neng maunya ke mana?"
"Terserah Aa saja." Senjatanya wanita kalau ditanya pasti jawabnya selalu terserah.
"Mau makan atau nonton atau keduanya?"
"Aa ngajak kayak ngajak orang ngedate pacaran saja," Amira keceplosan dan selanjutnya membikin keduanya terdiam.
"Neng--"
"Aduh, sudah azan zuhur. Neng mau salat dulu. Dah yah, A." Amira memutus sambungan telepon duluan, maksudnya ingin menghindar dari Arbian.
Arbian melihat jam di pergelangan tangannya, baru juga jam sepuluh. "Azan zuhur dari mana? Ngigau ni anak. Neng... Neng.. " Arbian pun baru sadar ternyata sambungan telepon sudah diputus duluan.
Arbian tersenyum, baru kepikiran kalau dia mengajak Amira seperti mau mengajak ngedate. Senang hatinya, karena Amira bermanja padanya, sudah lama tidak memanjakan seorang wanita itu rasanya gimana gitu?
Amira salah tingkah sendiri di kamar, mengingat salah ngomong tadi. Betapa malunya dia nanti akan ketemu kakaknya.
Waktu sudah menunjukkan jam dua belas siang, setelah salat zuhur Amira membuka pintu kamarnya dengan celah sedikit untuk mengintip keadaan di luar kamarnya seperti apa. Serasa tidak ada siapa-siapa dia pun keluar kamar untuk menyiapkan makan siang.
Di dapur, Amira bekerja dengan sepi, sengaja agar tidak menimbulkan suara agar Kakaknya tidak turun ke dapur. Dia hanya memasak tumis kangkung pakai sambal dan ayam goreng yang sudah diungkap, tinggal digoreng saja. Nah, masalahnya bikin sambal kan harus diuleg jadi auto ribut dong. Tapi biarlah, Amira kalaupun ketemu Kakaknya lagi pura-pura Amnesia dengan apa yang dia katakan tadi.
Zaina yang tadi sedang di kamar, mendengar ada yang mengulek, langsung Zaina keluar kamar.
"Ateu sedang masak apa? Mau dibantu?" Tanyanya sekalian menawarkan diri.
"Tolong siapkan piring saja, ini tinggal tumis kangkung saja."
"Nasi sudah masak yah, Teu?"
"Sudah."
Zaina menyiapkan piring makan buat semuanya.
Wangi masakan begitu menyengat hingga ke kamar Arbian. Perutnya mendadak lapar, padahal tadi perutnya masih merasa kenyang.
Arbian keluar kamar, turun ke bawah, melihat Amira dan Zaina sedang di dapur. Melihat Amira jadinya Arbian senyam senyum sendiri. Tanpa sadar Arbian duduk di ruang tengah masih dengan senyam-senyum.
"Papi kenapa? Apa ada yang lucu? Televisi mati jadi Papi senyum kenapa?" Suara Zaina mengagetkan Arbian.
"Memangnya Papi senyum gitu?"
"Iya, kalau tidak percaya tanya saja sama Ateu, Ateu juga melihat Papi."
Arbian menoleh ke Amira, Amira yang baru membuka kulkas langsung pura-pura sibuk mencari sesuatu di kulkas.
Arbian melihat Zaina. "Ateu ngelihat Papi senyum tadi?" Arbian nanya pada Amira.
"Iya, malah Ateu yang ngasih tahu Adek," Zaina yang tidak tahu apa-apa hanya menjawab jujur apa adanya.
Arbian menoleh lagi ke arah kulkas, sayangnya orang yang dicari malah pura-pura mencuci piring yang sama sekali tidak kotor.
Senyuman smirk terlihat di bibirnya Arbian.