Di Rumah calon Mertua

2258 Kata
Sebagaimana dengan keinginan Pak Ramli, kini Evan terpaksa harus mengikuti mereka untuk pulang ke kampung Arindi. Dengan ditemani oleh Andri dan Arindi, Evan menyetir mobilnya dengan mengikuti mobil Pak Ramli dari belakang. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa ada yang saling menegur. Hanya sesekali Arindi mencuri pandang pada Evan, yang tengah sibuk mengarahkan setir lewat kaca spion di samping atas kepala Evan. Senyumnya terbit sekali-sekali mana kala dia memikirkan bagaimana nanti dia akan bercerita kepada teman-temannya, mengenai pernikahannya dengan pria yang dijodohkan oleh orang tuanya, sebagaimana dulu dia beralasan sewaktu ketahuan putus dengan Arman. Di dalam benaknya telah bersarang berbagai ide-ide cemerlang untuk membuat bumbu cerita yang maksimal, agar kelihatan bahwa pernikahan itu sungguh membahagiakan. Arindi tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaiman dia akan menjalani kehidupan kelaurganya, dia hanya memikirkan tentang apa dan bagaimana tanggapan teman-temannya terhadap berita pernikahannya kelak. Arindi memandang keluar jendela mobil sambil menggigit bibirnya menahan senyum. Bila waktu Arindi pergi berlibur wajahnya cemberut dan sedih, kini dia pulang dengan wajah kegirangan dan senyum mengembang. Berbanding terbalik dengan Evan, ketika dia pergi wajahnya begitu bahagia, akan tetapi justru merana saat meninggalkan pantai itu. Perjalanan yang panjang dan melelahkan itu sungguh menguras tenaga. Mobil yang ditumpangi oleh Pak Ramli tampak berbelok masuk ke sebuah warung makan. Evan pun mengikuti saja, dan berbelok pula masuk ke area warung makan. Dalam pikiran Evan, mereka mungkin telah sampai, tapi saat menyadari lokasi yang dimasukinya adalah sebuah warung, raut wajahnya menyiratkan kecewa. Cepat-cepat dia menoleh ke Andri yang sudah bersiap untuk turun. “Ngapain kita di sini, sudah sampai atau gimana nih?” Andri yang telah membuka sedikit pintu langsung menoleh, bukannya menjawab malah tersenyum geli seraya melirik Arindi di belakang yang tengah mengambil tasnya. “Kak, kira-kira kita mau ngapain, hahaha?” Arindi langsung mendongak, “Aaa … ya … makanlah, emang kalian ga lapar? ini udah siang loh!” Mendapat jawaban dari Kakaknya, Andri langsung mengangguk ke Evan sambil tetap tersenyum, “laper kan?” Evan hanya menarik napas berat dan kesal. Dia benar-benar merasa canggung dan enggan bersama dengan keluarga itu. Baru saja dia melepas sabuk pengaman, ponselnya tiba-tiba berdering. Terpaksa Evan mengurungkan niatnya untuk turun. “Halo” “Halo Pak, maaf saya baru lihat ponselku, aku tidak tahu kalau Bapak sudah menelpon!” Demikian suara yang terdengar dari seberang. Karena sebelumnya, saat Arindi telah meninggalkan Kamar Evan pagi tadi, Evan segera menghubungi asistennya, sayang telponnya tidak terjawab. “Iya ga pa-pa, aku cuma mau minta tolong sama kamu, maaf kalau aku mengganggu liburmu!” “Oh ga pa-pa juga kok Pak, apa yang harus saya lakukan untuk Bapak?” ‘Heemmppphhh,” sesaat Evan menggigit bibirnya karena merasa berat untuk bercerita. “Emm begini … gimana ya ngomongnya? Emm kamu ada waktu ga besok atau mungkin lusa?” “Iya Pak ada, aku ada waktu kok Pak, memang ada apa?” “Eeee … nantilah aku kasi tahu kamu harus apa, kamu siap-siap saja ya, begitu nanti aku butuh kamu, kamu harus bisa datang, okey!” “Baik Pak, aku siap!” Arindi yang menyadari Evan tidak menyusul turun, berbalik lagi ke mobil hendak mengajak Evan. “Hai … Bang …” senyum grogi tersirat di wajahnya. “Kamu ga bermaksud mogok makan kan?” Evan yang sedang menelpon itu langsung kesal dengan pertanyaan Arindi. Ingin sekali dia melabraknya, tapi ada asistennya dalam telepon, terpaksa dia menahan diri. “Udah ya, nanti aku telepon lagi!” “Baik Pak!” Evan segera menutup teleponnya lalu menatap Arindi tidak senang. Melihat gelagat itu Arindi langsung angkat bahu sambil mencebikkan bibir. “Sorry … lagi teleponan sama Ayangnya yah, aku duluan kalau gitu!” seraya melenggang pergi. “Aarrrrrgggghhhhh!” Evan meninju sandaran kursi untuk melampiaskan amarahnya. Setelah dirasa agak reda, barulah dia turun lalu berjalan pelan dengan kepala menunduk menuju rumah makan. Evan sedikit bingung begitu sampai di pintu rumah makan yang agak luas. Karena bayaknya tamu, dia kesulitan menemukan tempat duduk keluarga calon istrinya. Hingga ada orang yang memanggilnya. “Hai Baang … di sini!” Segera dia menoleh ke asal suara, dan disana sudah tampak Arindi dengan senyumnya yang manis. Sesaat Evan jadi pangling melihat senyum arindi yang ternyata cukup cute. Bibirnya yang tipis berwarna merah delima begitu alami, ditambah lesung pipit kecil di kedua ujung bibirnya, menambah manis senyumnya. “Ayo Nak kemari, jangan Cuma berdiri di sana!” Evan yang sedikit terpana menatap Arindi, langsung gelagapan mendengar suara calon Ibu mertuanya. Baru saja dia hendak melangkah, sebuah tepukan di pundaknya mengagetkannya. Segera dia menoleh ke belakang. Andri sudah tersenyum di belakangnya. “Kaget ya, sorry, ayuk sini, jangan cuma bengong!” Evan Cuma bisa mengangguk pelan sambil mengikuti Andri yang telah mendahuluinya menuju meja keluarganya. Suasana canggung pun terjadi, Evan dan Arindi bergantian saling menoleh. Sementara yang lain lebih senang menikmati makannya tanpa ada suara. Hanya sesekali Bapak atau Andri meminta sesuatu untuk diambilkann, entah lauk atau air minum. Setelah acara makan siang selesai, arindi pun pergi ke kasir hendak membayar makanan. Evan sendiri bingung tidak tahu harus berbuat apa, karena baginya, seharusnya dia lebih bisa membayar semua makanan itu, tapi dia juga enggan untuk mengatakannya. Akhirnya dia hanya bisa diam tak bergeming. Perjalanan kembali dilanjutkan, ada keinginan di hati Evan untuk mampir sejenak di rumahnya, karena rute perjalanan ke kampung Arindi, ternyata melewati kota Makassar juga, namun segera diurungkannya. Dia takut disangka akan kabur oleh keluarga Arindi. Dengan hati pasrah, dia pun tetap setia mengikuti mobil Bapak Arindi, yang terus melaju membelah jalanan yang sedang ramai, maklum karena sudah memasuki area kota Makassar yang terkenal dengan kemacetannya. Mobil terus merangkak perlahan bagaikan kura-kura yang sedang berbaris. Sampai akhirnya mobil mereka berbelok dan mengambil jalur di pinggiran kota agar terbebas dari kemacetan. Evan yang tidak pernah melewati jalur tersebut menjadi sedikit keheranan, ternyata masih ada di sekitar kota Makassar area yang mirip pedesaan. Suasana sejuk begitu terasa, saat Arindi langsung membuka jendela mobil. “Matikan saja ACnya Bang, ini lebih segar dari pada AC loh!” Evan hanya bisa menoleh sebentar pada Arindi kemudian mematikan AC mobilnya tanpa banyak tanya. Perlahan Evan ikut pula membuka sedikit jendela di sampingnya. Terdengar desiran angin yang cukup kencang menyapu wajah dan tubuh Evan. Sejenak Evan menarik napas agak panjang utuk menghirup udara yang sejuk dan bersih itu. Hawa dingin yang masuk ke dalam mobil, ternyata memang jauh lebih segar di banding dengan dinginnya AC. Evan yang selama ini tidak pernah merasakan suasana kampung itu, begitu menikmati suasana. Sebenarnya, perjalanan dari Pantai pun melewati area perkampungan, namun karena Arindi melihat suasana hati Evan masih kurang mengenakkan, sehingga dia enggan untuk menyuruhnya mematikan AC. Barulah saat ini begitu Evan tampak lebih rileks dan santai. Lain halnya dengan Evan yang telah terbiasa dengan hawa panasnya kota Makassar, sehingga dia selalu menyalakan AC dan tidak pernah terpikir bahwa AC alam lebih segar dan nyaman. Suasana hati Evan semakin mencair dengan segarnya udara dan hijaunya pemandangan. Arindi tersenyum lega melihat suasana hati Evan yang semakin mencair. Hal itu terlihat dari wajah Evan yang semakin cerah. Mobil pun terus meluncur di jalanan yang sepi dari lalu-lalang kendaraan. Hanya sesekali mereka berpapasan dengan mobil angkot atau motor yang membawa hasil pertanian. Mereka pun sampailah di rumah tujuan. Mobil yang dikendarai Evan segera menepi begitu mobil Pak Ramli juga menepi. Andri yang duduk di dekat Evan langsung menegurnya. “Eh langsung masuk pekarangan aja, luas kok di dalam!” Evan yang sudah terlanjur berhenti menoleh menatap Andri. “Tapi kan … itu … Bapak Kamu!” Sambil menunjuk mobil di depannya. “Iya kan itu mobil sewaan, jadi ya ga masuk ke dalam, kan nanti langsung pergi juga!” Evan hanya bisa mengangguk pelan, dan kembali menyalakan mobilnya lalu memutar dan masuk ke halaman rumah. Tanpa basa-basi lagi mereka semua turun dari mobil dan segera menurunkan semua barang bawaan mereka. Evan yang tidak pernah repot membawa barang apalagi membantu orang, tapi cukup menyuruh saja, hanya mengambil kopernya tanpa membantu kaluarga Arindi yang sibuk mengangkat barang-barang. Sambil menunggu acara angkut-mengakut selesai, Evan memilih duduk di kursi panjang ayang ada di teras rumah. Arindi yang melihatnya hanya bisa memasang wajah kesal tanpa bisa berkata apa-apa. Di dalam pikirannya, Evan pasti masih kesal sama keluarganya hingga tidak mau membantu. Karena barang bawaan tidak begitu banyak juga, sehingga kegiatan angkat barang itu selesai juga. Setelah semua barang diangkut ke dalam rumah, Pak Ramli meminta Evan untuk duduk di ruang tamu. “Mari Nak silahkan masuk!” Evan hanya mengangguk pelan sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di sofa. Sementara kopernya ikut dibawa serta di dekatnya. Melihat koper Evan, Bu Hasna meminta Andri membawanya. “Ndri … coba kamu bawain kopernya ke kamar tamu sana!” “Iya Bu!” Andri pun segera menarik koper itu masuk ke dalam kamar tamu. Kemudian bergegas masuk ke kamarnya dan berbaring telentang. Arindi dan Andini sendiri sudah masuk ke ruang keluarga. Mereka segera merebahkan diri di atas karpet di depan televisi. “Maaf Nak, kalau boleh Bapak tahu, siapa nama kamu? Soalnya tidak enak ini kalau bahkan nama saja kita tidak tahu?” “Evan Om!” Singkat dan pendek jawabannya. Bu Hasna yang sedari pagi sudah penasaran dengan siapa dan apa serta dari keluarga bagaimana calon mantunya, sudah tidak sabar lagi dan langsung bertanya pula. “Terus kamu kerja apa, bagaimana keluarga kamu?” Mendengar pertanyaan istrinya, Pak Ramli segera menoleh menatap istrinya, “Bu … ga perlu ditanyakan hal itu, ga penting, yang penting dia harus tanggung jawab, dan kita ga punya banyak waktu, libur Arindi kan cuma seminggu!” Istrinya Cuma bisa mengangguk kecewa. Pak Ramli kembali menatap Evan. “Jadi nak Evan, mumpung sekarang baru lewat tengah hari, jadi sebaiknya istirahat sebentar ya, nanti jam 3, kita ke kantor Desa!” Evang langsung kaget mendengar dirinya di suruh ke kantor Desa. “Kantor Desa? Ngapain Om, kenapa bukan langsung ke KUA aja?” Pak Ramli tersenyum, “Ya nanti kita ke KUA, tapi sebelum itu ke kantor Desa dulu ambil surat pengantar nikah!” “Ohh.” Evan hanya mengangguk –angguk sambil Nampak berpikir. “Jangan lupa, minta sama keluarga kamu untuk menyiapkan surat pengantar juga dari kelurahan sana, sebagai perlengkapan berkas pernikahan kalian!” “Apa yang harus saya siapkan Om!” Evan mengernyit menatap Pak Ramli. “Kartu keluarga sama KTP, itu saja!” “Baik Om, nanti saya kasi tahu teman saya!” “Ya sudah, Bapak tinggal dulu ya ke belakang, soalnya Bapak mau istirahat dulu, kamu … kalau mau istirahat, boleh tuh di situ …!” seraya menunjuk kamar tamu yang ada di samping mereka. “Ibu juga masuk ya, ke dalam, Nak Evan silahkan istirahat dulu, pegel kan habis duduk setengah hari!” Evan hanya menganguk tanpa keinginan untuk menyahuti mereka. Begitu mereka telah hilang di balik gorden ruang tengah, Evan segera mengelus kasar rambutnya ke belakang dengan kasar. Matanya dipejam menahan perasaan dongkol yang campur aduk. Kesal, marah sedih dan kecewa dengan dirinya sendiri. Akhirnya Evan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Perlahan dia bangkit hendak masuk ke dalam kamar, tapi tiba-tiba Arindi datang membawa minuman hangat untuknya. Evan langsung berhenti. Arindi yang melihat Evan hendak ke kamar pun berhenti pula dengan cangkir di tangan “eh … mau … istirahat ya? Ya … udah deh, emm minumnya aku taruh di meja aja ya, emm na-nanti kalau … kamu bangun langsung di minum aja okey!” Evan tidak menanggapinya dan hanya terdiam menatap Arindi yang tampak grogi berjalan menuju meja sofa dan meletakkan cangkirnya. Setelah meletakkan cangkirnya, Arindi pun bermaksud hendak masuk ke dalam, tapi Evan buru-buru mencegatnya. “Tunggu!” Arindi yang grogi langsung berhenti mendadak, sampai-sampai ia salah mengira sandaran sofa ada di sampingnya dan bermaksud untuk berpegangan di sana. Namun sayang, sofa sedang berada agak jauh darinya dan itu membuatnya oleng hampir jatuh. Dengan sigap, Evan menangkap tangan Arindi yang teracung ke udara karena berusaha menyeimbangkan tubuh. Evan dengan kuat menarik tangannya hingga tubuhnya yang oleng tersentak ke samping. Tak Ayal tubuh Arindi menabrak d**a bidang Evan. Dengan satu kakinya, Evan berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjungkang ke belakang. Dan karenanya, tubuh Arindi bersandar nyaman di d**a Evan dalam pelukan hangatnya. “Akkhhh!” Arindi menjerit tertahan karena kaget dan langsung menatap Evan yang juga sudah menatapnya dengan tidak kalah kagetnya. Saat kedua pasang mata itu bertemu, buru-buru mereka saling melepaskan pegangannya. “Maaf aku masuk dulu!” Arindi langsung bergegas masuk dengan wajah sedikit memerah. Tinggal Evan yang mematung karena tidak sempat menyampaikan maksudnya. Akhirnya dia pun masuk ke dalam kamar. Begitu berada di dalam kamar, dia segera menghubungi asistennya. “Ya halo Pak!” “Ya halo Rud, tolong kamu tanyakan deh di Kantor Kelurahan situ, kira-kira apa yang harus dipersiapkan untuk mengurus pernikahan?” “Menikah? Siapa yang mau menikah Pak?” Terdengar suara kaget dari seberang. “Aku!” “Lho kok bisa, bagaimana ceritanya? Terus sama siapa Pak?” “Panjang ceritanya, pokoknya, sekarang juga kamu ke Kantor Kelurahan, minta surat keterangan atau apalah, aku mau hari ini, biar pernikahan ini dipercepat, aku tidak tahan di sini!” “I-iya Pak, segera saya lakukan!” Tanpa permisi lagi, Evan mematikan teleponnya lalu melemparnya begitu saja di atas kasur. Seperti kebiasaannya, Evan langsung melempar tubuhnya di atas kasur. Tapi sayang, kasur di rumah Arindi cuma terbuat dari kapuk dan tidak seempuk springbed, hingga punggung Evan cukup sakit karenanya. “Oouuggghhh!” Evan langsung membusungkan dadanya menahan sakit. Perlahan dia menoleh menekan kasur di bawahnya. “Iih ini kasur apa batu sih, iih keras amat!” Akhirnya dia memperbaiki posisi tubuhnya begitu perlahan dengan wajah tidak senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN