Waktu menunjukkan jam 02.30 siang, Pak Ramli sudah siap hendak ke Kantor Desa. Sementara Bu Hasna tengah menghidangkan minuman buat suaminya. Karena Evan belum keluar dari kamar tamu, Pak Ramli pun mengetuk pintu. “Nak Evan, ini sudah sore, ayo kita siap-siap ke kantor Desa sekarang!”
Evan yang memang tidak sedang tidur, dengan malas bangkit dari pembaringannya lalu membuka pintu. “Iya baik Om!”
Pak Ramli pun berbalik ke sofa, menghadapi hidangan di sana. “Mari Nak minum dulu!”
Evan tidak menyahut lagi dan langsung bergabung dengan mereka. Tidak lama kemudian, Arindi juga datang dan bergabung.
“Sudah siap Rin?” Bu Hasna menatap Arindi yang sudah duduk manis di Sofa.
“Iya Bu!”
“Sudah menyiapkan berkas-berkas yang Bapak minta tadi?” Pak Ramli ikut mengingatkan Arindi. Dimana sebelum ke luar di ruang tamu, Pak Ramli telah memintanya mengambil berkas perlengkapan surat pengantar nikahnya.
Arindi mengangkat ranselnya sambil tersenyum, “sudah Pak!”
Melihat senyum Arindi, Evan kembali terkesima, tapi buru-buru dialihkannya. “Ekhem!”
Pak Ramli langsung menatapnya. “Ada apa Nak?”
“O-oh … ga ada apa-apa Om!” Evan gelagapan jadinya. Segera dia melempar pandangannya ke bawah. Lalu mengambil cangkir minumnya yang tadi belum sempat diminumnya.
Pak Ramli pun segera menghabiskna minumnya lalu bersiap berangkat. “Ayo kita pergi sekarang, sebelum kantor Desa tertutup!”
Evan hanya mengangguk demikian juga dengan Arindi. Lalu mereka segera berdiri dan bergegas keluar mengikkuti Pak Ramli. Bu Hasna hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan sedih campur senang. Sedih karena Putri sulungnya yang telah menjadi penopang keluarganya harus mengalami insiden memalukan, tapi senang karena tampaknya calon menantunya orang kaya.
Andini yang mengintip sedari tadi dari ruang tengah, segera keluar menemui Ibunya. “Bu, I-Bu …”
Ibunya yang tengah menatap kepergian suami dan Anaknya itu langsung menoleh. “Ada apa Din?”
Andini tampak tersenyum senang, “Bu, Kak Arin calon suaminya kaya ya, mobilnya aja keren gitu!”
“Haahhh, kaya sih kaya, tapi kecelakaan, jadi tidak enak sama orang nanti, antara senang dan kecewa ini Ibu!”
Andini memegang tangan Ibunya dengan lembut. “Bu sini deh, kita bicara di dalam yuk, ada yang mau aku omongin!”
Bu Hasna cuma bisa menurut saat tangannya ditarik ke dalam. Mereka pun duduk di sofa dengan posisi duduk miring setengah berhadapan. “Bu, dengar nih, tadi waktu semua orang lagi istirahat di kamar, Kak Arin bisikin aku sesuatu!”
Bu Hasna langsung mengerutkan dahi. “Apa itu?”
Andini memperbaiki posisi duduknya, “begini Bu, tadi Kak Arindi bilang, kalau nanti ada yang bertanya ‘kenapa tiba-tiba banget nikahnya’ kita tinggal bilang aja, ‘mereka semua sibuk, jadi percepat aja kalau bisa’ gitu Bu, kan tidak ada orang lain juga yang tahu kan selain kita?”
Bu Hasna menatap anaknya intens sambil mencerna omongannya. Kemudian dia pun menarik napas pelan tapi berat. “Hemmppphhh, yaahh mau gimana lagi, emang cuma begitulah caranya, tidak ada yang lain lagi Nak!” Andini pun hanya bisa tersenyum lesu.
Sementara di kantor Desa, para pegawai yang kenal dengan Arindi jadi bertanya-tanya melihat kedatangannya dengan seorang pria asing. “Hai Rin … waahh siapa tuuhhh?” Goda salah seorang dari mereka. Arindi hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.
Pak Ramli kemudian segera mengutarakan maksudnya. “Kami mau membuat surat pengantar nikah!”
Sontak mereka jadi riuh. “Oooh calon too, waaah selamat ya selamat!”
“Lama menghilang, begitu nongol eh langsung nikah, berkah nih di tinggal di kota!”
“Iya ya, emang ya kalau tinggal di Kota itu cepat dapat jodohnya!”
Arindi tidak bisa berkata apa-apa mendengar kelakar mereka. Hanya senyum yang terukir di bibir tipisnya. Senyum manis yang membuat Evan terpana dan terpaksa membuang muka. Kebahagiaan jelas terpampang di wajah Arindi.
Lain halnya dengan Evan yang tampak sedikit lesu dan tidak bersemangat. Akan tetapi hal itu tidaklah menimbulkan pertanyaan, sehingga Arindi semakin bernapas lega.
“Maaf Pak, surat keterangan dari pihak laki-laki sudah ada?” Tanya petugas yang menangani bagian surat menyurat.
“Oh itu …” Pak Ramli segera menoleh ke Evan yang hanya terdiam sedari tadi.
“Oh e… besok, besok berkas saya diantar kemari!” Evan gelagapan jadinya.
“Wah harus ada surat pengantar dari sana dulu Pak, baru dibuat di sini lagi”
Sesaat mereka saling pandang. “Emm boleh ga kalau misalnya suratnya dikirim lewat chat Bu, nanti aslinya menyusul besok?”
“Boleh, kalau bisa!”
“Oh iya, sebentar!” Evan segera menghubungi asistennya. “Maaf saya menelpon sebentar!”
“Iya silahkan!”
Evan segera keluar mencari tempat yang leluasa untuk menelpon, dan tidak lama kemudian, dia pun kembali lagi, sebentar ya Bu, sementara diproses!”
Setelah menunggu agak lama, sebuah nada pesan masuk di ponsel Evan. “Nah sekarang sudah masuk Bu, ini!”
Petugas itu segera menerimanya lalu memeriksa dengan cermat kemudian mencatat identitas Evan yang tertera di dalam sana.
“Jadi kapan pernikahannya diadakan?”
“Emm itu …”
“Empat hari lagi Bu, ya empat hari lagi!” Arindi memotong ucapan Bapaknya tanpa persetujuan. Pak Ramli hanya bisa menoleh menatap Arindi dengan dahi berkerut. Arindi hanya tersenyum garing.
“Lho cepat sekali, dari KUA kayaknya tidak bisa secepat itu deh menyelesaikan surat nikahnya, kalau tidak salah harus minimal seminggu setelah pendaftaran, karena ada beberapa prosedur yang harus dijalani!”
Pak Ramli manggut-manggut “ya lihat saja nanti Bu, kalau memang harus begitu yaaah mau apalagi, dijalani sajalah!”
Evan hanya bisa menoleh menatap Arindi yang masih tetap tersenyum, seakan tidak bisa menghapus senyum di wajahnya itu. Hati Evan sangat gemas dibuatnya. Rasa geram tiba-tiba berkecamuk di dalam sana. Dia merasa seperti dipermainkan oleh Arindi.
Seolah-olah Arindi tengah merayakan kemenangannya. Akhirnya Evan hanya bisa menarik napas berat sambil mendongak menatap langit-langit kantor untuk meredakan kesalnya.
“Baiklah Pak, ini suratnya, nanti silahkan langsung dibawa ke kantor KUA ya, jangan lupa membawa pas photo 3x4 dan 4x6 ya, tapi nanti setelah surat keterangan dari pihak laki-laki juga sudah ada ya, jadi sekalian tidak perlu bolak-balik lagi Pak!”
Pak Ramli menerima map berisi surat keterangan yang diperlukan “terima kasih banyak ya Bu, kami permisi dulu!”
“Iya Pak, sama-sama!”
Arindi dan Evan pun sudah berdiri dan segera mengikuti Pak Ramli yang telah berjalan lebih dahulu.
Berita pernikahan Arindi yang mendadak, membuat gempar para tetangga, membuat Bu Hasna jadi sibuk menerangkan alasannya. “Yaah mereka kan sama-sama sibuk, jadi maunya disegerakan, mumpung ada waktu cuti seminggu jadi yaah kalau bisa dipercepat ajalah!” Dan para tetangga pun cuma bisa manggut-manggut tanpa komentar apa-apa.
Sementara Evan lebih banyak di dalam kamar. Setelah ada panggilan buat makan atau urusan barulah dia keluar kamar.