Malam kian larut tapi Evan masih saja terjaga, rasa besalahnya akan kedua orang tuanya dan juga kekasihnya membuat dia tidak mampu memejamkan mata. Walaupun dia telah berguling kiri dan kanan tapi belum juga bisa menepis wajah cantik kekasihnya.
Perlahan dia bangkit meraih ponselnya lalu menatap photo wanita cantik yang sengaja dijadikan wallpaper di layar ponselnya. Air matanya kembali berlinang sambil mencium layar ponselnya. Di dalam hatinya rencana jahat telah bersarang, dengan senyum kebencian dia menatap lurus ke dinding.
Entah pikiran jahat apa yang ada di kepalanya, tidak ada yang keluar dari mulutnya, hingga akhirnya rasa kantuk pun datang pula dan bertengger di pelupuk matanya.
Akhirnya dia terlelap hingga malam yang sunyi telah berganti dengan ramainya cericit burung yang merdu.
Model rumah panggung yang dindingnya terbuat dari papan tipis yang disusun rapi bejejer ke atas, namun tetap saja menyisakan celah-celah tipis diantara susunannya, hingga mentari pagi yang cerah pun menyusup masuk ke dalam kamar yang dihuni oleh Evan.
Seakan hendak membangunkan Evan yang tengah lelap begitu pulasnya. Sinar mentari yang hangat pun menyapu mata Evan yang tengah terpejam. Evan perlahan menggeliat hendak menghindari cahaya terang di matanya, perlahan dia membalikkan badan, kemudian kembali tertidur pulas.
Sementara di dalam rumah, Arindi tampak sibuk di dapur dibantu oleh Ibu dan Andini. Mereka membuat sarapan untuk keluarganya pagi ini. Biasanya yang membuat sarapan selalu Bu Hasna sendirian, tapi karena ada tamu special hari ini, maka mereka membuat sarapan bersama.
“Arin…!”
Arindi langsung menoleh mendengar namanya dipanggil. “Ya Bu!”
“Evan sudah bangun belum?”
Arindi pun menoleh menatap Andini yang baru saja keluar membersihkan ruang tamu dan ruangan lainnya. “Din, Evan sudah bangun belum?”
Andini angkat bahu, “entah … soalnya kamarnya masih tertutup, aku juga tidak memeriksanya!”
Bu Hasna hanya mengangguk dan Arindi pun melanjutkan pekerjaannya menyeduh teh dan kopi sebagai teman sarapannya pagi ini.
Setelah semuanya sudah selesai, menu sarapan itu pun dibagi menjadi dua porsi lalu diangkat keluar untuk dinikmati bersama-sama.
Andini segera menggelar karpet di ruang tengah dan Arindi meletakkan nampan berisi teh dan satu porsi pisang goreng tepung dan seporsi lagi dibawa keluar ke ruang tamu untuk bagian laki-laki.
Setelah semua siap, Bu Hasna pun memanggil suaminya yang tengah sibuk di belakang rumah memberi makan ternaknya. Andini sendiri masuk ke kamar Andri untuk membangunkannya.
Arindi yang mendapat giliran membangunkan Evan harus berdiri dengan perasaan was-was di depan pintu. Mengingat kemarin sejak kembali dari kantor Desa, wajah Evan sangat tidak bersahabat saat menatapnya.
Setelah menarik napas, Arindi pun perlahan membuka pintu kamar, begitu dilihatnya evan masih terlelap dalam tidurnya, terbit sedikit perasaan ragu untuk membangunkannya. Sampai Ayahnya datang dan menegurnya, “Arindi…! Biar Ayah yang bangunin dia!”
Arindi hanya mengangguk lalu beranjak pergi digantikan oleh Ayahnya. “Van … Nak Evan … bangun nak sudah pagi!” Sembari mengguncang-guncang bahu Evan.
Perlahan mata Evan terbuka, sambil memicingkan sebelah matanya, dia menatap Pak Ramli sembari mengangkat kepalanya sedikit. Setelah merasa pasti, dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan guna memastikan lagi akan waktu. Dan benar saja, di luar rumah sudah tampak sangat terang terlihat dari sela-sela dinding papan.
“Oh sudah pagi ya ternyata!” gumamnya.
Pak Ramli tersenyum “ya, sudah pagi, sekarang kamu bangun karena kami semua sudah menunggu kamu untuk sarapan!”
Evan mengangguk pelan. “Baik Om!”
Pak Ramli pun berbalik dan keluar kamar, sementara Evan masih menguap lebar namun dia berusaha menepis rasa kantuknya yang masih terasa. Dengan malas dia bangkit dan turun dari ranjang. Setelah memeriksa wajahnya di cermin, dia pun keluar dari kamar.
Setelah membersihkan wajahnya di kamar mandi, Evan kembali ke ruang tamu untuk sarapan bersama dengan keluarga Arindi. Banyak hal yang mereka perbincangkan pagi itu sembari menikmati sarapan yang terhidang. Rasa pisang goreng tepung yang begitu manis dan krispi dipadu dengan kopi s**u yang nikmat, membuat suasana makin mencair. Tanpa disadari, Evan menyantap pisang krispi di depannya dengan lahap.
Sarapan pagi telah selesai dan kopi pun telah tandas, Pak ramli segera pamit hendak ke sawah untuk memberi pupuk tanaman padinya, tak lupa mengajak Andri untuk membantunya membawakan pupuknya. “Andri, bantu Ayah bawa pupuk ke sawah ya Nak!”
“Baik Yah, eh … dari pada tinggal bengong di kamar, mending Kak Evan ikut kita ke sawah, sekalian menikmati suasana persawahan, biasanya orang kota kalau dengar kata sawah tuh selalu antusias banget ya kan?” Matanya melirik Evan.
Evan tidak menanggappinya, karena dia sangat enggan untuk berbaikan dengan keluarga Arindi. Akan tetapi Pak Ramli malah mengajaknya. “Ayo Nak Evan ikut kami, sekalian olah raga pagi, ayoo!”
Evan hanya bisa mengangguk dengan malas. Dia pun bangkit dari kursi dan segera mengikuti mereka keluar rumah. Evan hanya bisa mengekor tanpa membawa apa-apa, walaupun Pak Ramli dan Andri tampak kerepotan dengan membawa setengah karung pupuk di pundaknya.
Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak diantara rimbunnya pohon kakao yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Mata Evan tidak pernah lepas memandangi setiap pemandangan yang ada. Sesekali ada burung kecil yang terbang rendah kemudian hinggap di dahan pohon kakao di depannya dan begitu mereka mendekat, burung-burung itu pun terbang lagi.
Setelah agak lama menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan kakao, akhirnya ,mereka pun keluar dari rimbunnya pohon kakao. Semilir angin pagi yang begitu segar langsung menyapa wajah mereka. Aroma wangi pepohonan dan bunga-bunga liar yang tengah bermekaran, begitu menghanyutkan.
Seakan baru merasakan udara bersih, Evan langsung berhenti dan segera menghirupnya dalam-dalam, hingga terasa menembus rongga dad*nya sampai merasuk ke dalam paru-parunya lalu turun ke dalam perutnya.
Evan tidak sadar jika Pak Ramli dan Andri telah pergi semakin jauh, meninggalkan dirinya yang tengah asik menikmati udara persawahan yang asri. Dengan cepat Evan mengejar mereka yang telah memasuki areal persawahan dan tengah meniti pematang sawah.
Cepat-cepat Evan mengerem kakinya karena baru sadar jika jalanan yang akan dilaluinya agak sempit. Baru saja dia hendak melangkah di atas pematang sawah, hamparan hijau dari pohon padi yang luas bagaikan permadani itu, seakan menghipnotis matanya.
Sambil terus melihat kiri-kanan ke hamparan hijau di sekelilingnya, Evan terus saja melangkah perlahan-lahan karena takut tergelincir di bibir pematang. Akan tetapi begitu melihat Pak Ramli semakin jauh, Evan pun mempercepat langkahnya.
Evan tidak tahu jika tidak jauh di depannya, jalanan berlumpur terbentang memanjang karena pemilik sawah di situ tengah membersihkan parit. Karena tidak hati-hati, Evan langsung tergelincir dan jatuh terduduk diatas lumpur itu.
“Akkhhhh!” Evan meringis merasakan sakit di pant*tnya. Dengan perlahan dia bangkit hendak berdiri akan tetapi karena lumpur yang licin, kaki Evan lagi-lagi tergelincir, namun kali ini dia tergelincir ke samping dan tak ayal lagi, tubuh Evan terperosok masuk ke dalam areal persawahan yang tengah rimbun dengan padi dengan tanah yang berlumpur. “Aaaahhhhh!”
Teriakan Evan yang keras membuat pemilik sawah langsung menoleh dan langsung kaget begitu melihat ada orang yang jatuh ke dalam sawah. Dengan cepat orang itu bangkit dan menghampiri Evan yang sudah tercebur dalam lumpur.
"Eh siapa tuh yang jatuh?" Dia pun segera mendekat dan langsung tertawa. "Hahaha ngapain di lumpur Dek, melamun sambil jalan ya?"
Evan hanya bisa bangkit sembari menatapnya dengan sendu dan malu sembari mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan lumpur.
Begitu jelas siapa yang terjatuh di lumpur, petani itu kaget. "Eh ... loh bukannya kamu calon menantunya Pak Ramli?"
Evan cuma tersenyum sembari mengangguk pelan. "Oh ya ampuun!" Orang itu pun segera menoleh ke arah Pak Ramli yang sudah makin jauh.
"Oiii ... Pak Ram ... Li ... Woiii!" Orang itu berteriak kencang dengan harapan Pak Ramli masih bisa dengar.
Akan tetapi sia-sia belaka. Pak Ramli dan Andry tidak mampu mendengarnya karena semilir angin berhembus berlawanan arah ke arah petani, hingga suaranya tidak bisa sampai ke Pak Ramli yang semakin jauh.
"Haahh maaf ya, sepertinya mereka tidak bisa dengar!"
Evan hanya tersenyum "ga pa-pa Pak, ekhhh!" Evan menyeringai begitu melihat kondisi tubuhnya yang lepek berlumpur. "Aduuh ... maaf Pak, ini bersihinnya di mana ya?"
"Oh ke sana tuh, terus saja ikuti jalan yang dilewati Pak Ramli tadi, nanti ada sungai di sana!"
Evan mengikuti arah telunjuk petani itu masih dengan wajah menyeringai jijik. Setelah dia yakin dengan arahnya, Evan pun berjalan perlahan sembari melebarkan kedua tangannya agar badannya bisa seimbang berjalan di pematang yang sempit. Rasa dingin menyeruak masuk ke dalam sum-sum tulangnya begitu angin semilir yang sejuk menghembus, menyapu wajah dan seluruh tubuhnya. Dia pun harus menggigil kedinginan.
Nun jauh di sana, Pak Ramli dan Andry yang sudah sampai di sawahnya langsung kaget saat Evan belum tampak batang hidungnya.
"Lho ... Andry ... mana Evan? Kok belum muncul? Sana cepat susul dia, jangan-jangan dia tersesat!"
"Yaahhh ... dasar orang kota, pasti tidak tahu jalan di pematang, oke deh Ayah aku lihat dulu!"
Andry pun segera berlari menyusuri pematang sawah yang sempit. Tangannya sesekali dilebarkan untuk menjaga keseimbangan. Dan begitu dia bertemu dengan Evan yang sudah basah kuyup penuh lumpur, rasa gelinya muncul tak tertahankan.
"Bwaahahaha, ya ampun Kak Evan ... hahaha, ini tuh sawah bukan sungai hahaha!"
"Haaah aku tahu, aku juga masih waras kali, tapi tanahnya yang licin makanya kecebur lumpur, dari pada ketawa, bukannya lebih baik kalau kamu antarkan aku membersihkan diri, gara-gara kamu loh ini pake ngajak ke sawah!" Evan menatap dirinya yang belepotan dengan bau tidak enak.
"Hahaha oke ayo kita ke sungai hahahaha, ha-hahaha!" Dia lalu berbalik dan segera berjalan. Evan segera mengikutinya di belakang.
Andri yang sudah terbiasa berjalan di pematang begitu cepat saat berjalan, membuat Evan kesulitan menyusulnya. "Weyy bisa pelan-pelan ga jalannya, aku tidak bisa cepat nih!" Evan berteriak karena Andry sudah mulai menjauh.
Mendengar teriakan Evan, Andry pun menoleh dan begitu melihat Evan ketinggalan jauh, Andry lagi-lagi tertawa. "Hahaha Kak Arin harus tahu cerita ini hahaha!"
Evan yang terus berjalan menunduk karena berusaha memperhatikan jalan, langsung mendongak begitu mendengar omongan Andry. "Waah jangan dong, malu aku nanti!"
"Hahaha oke deh ayo cepat, hahaha!"
"Ga bisa cepat ini, kamu yang tungguin!"
Andry tidak bisa menahan gelinya melihat Evan yang begitu kewalahan berjalan. Tawanya terus meledak sepanjang jalan hingga sampai di tepi sungai.
Mata Evan langsung melebar dengan mulut menganga kagum melihat pemandangan di sana. Suasana sejuk dengan rindangnya pepohonan di atas kepala. Air sungai yang begitu bening hingga dasar sungai tampak jelas di permukaan.
"Waahhh kereen ..." Mata Evan berbinar melihatnya.
"Ayo tunggu apa lagi? Terjun aja langsung!" Andry pun sudah mendorong tubuh Evan hingga mau tak mau Evan langsung melompat turun di dalam sungai. Rasa segar langsung terasa di tubuhnya.
"Wuuuhhh segarnya, hahaha uuhhh hhuuhuhu!" Evan berenang kesana-kemari sambil berseru dengan riang. Andry hanya melihatnya dengan tersenyum-senyum sendiri.
"Kak Evan ...!" Evan langsung menoleh begitu mendengar Andry memanggilnya. "Aku pulang ke sawah dulu ya, mau bantuin Ayah menebar pupuk, Kak Evan nikmati saja berenangnya, kalau sudah selesai, langsung ke pondok aja di sana ya!"
Evan hanya mengangguk menanggapi teriakan Andry, sembari melambaikan tangan tanda mengerti dan setuju. Andry pun segera berbalik dan pergi.