Apa Maharnya?

1205 Kata
Sementara itu di rumah, Arindi yang kini tinggal sendirian, setelah ditinggal belanja oleh Ibu dan Adiknya ke pasar, dibuat penasaran dengan suara deringan ponsel di kamar Evan. Karena rasa penasaran yang tidak terbendung, akhirnya dia memaksakan diri untuk mengintip si penelpon. Mata Arindi menyipit tatkala melihat nama yang tertera di layar adalah Rudi, dengan sangat pelan, dia mengangkat dan menjawabnya. Lama Arindi terdiam, hingga terdengar suara dari seberang. "Halo ... Pak aku sudah di sekitaran kota Maros ini, bisa tolong dishare lock, biar aku cepat sampai?" Mata Arindi terbeliak senang. "Oh maaf ini aku, Arindi calon istrinya, bentar ya aku kasih lokasinya!" "Oke makasih ya!" Arindi pun segera mematikan panggilannya, lalu dengan segera mengirim lokasi lewat aplikasi chat di ponsel Evan. Arindi pun tersenyum bahagia, menghayalkan sebentar lagi dia akan meng-apload photo pernikahannya di sosmed, agar semua temannya tahu kalau dia sudah menikah. Kini dia semakin merasa lega, kebohongannya tentang perjodohan itu, akan segera tertutupi. Sambil berdendang kecil dengan senyum merekah, Arindi keluar dari kamar dan segera kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak untuk keluarganya. Arindi yang sendirian harus bekerja ekstra untuk persiapan acara makan siang nanti, soalnya sesuai rapat kecil keluarganya semalam, mereka akan mendatangkan seluruh sanak keluarga terdekat untuk membicarakan soal pernikahan. Semakin lama semakin banyak juga orang yang datang membantunya memasak dan mengerjakan hal lainnya, baik dari tetangga maupun dari pihak handai taulandnya. Saat sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang tetangga datang dengan tergopoh-gopoh. "Arin ... ada yang cari Evan di bawah!" Sontak Arindi mendongak "Oh ... itu tamannya Evan, bisa tolong tangani ini sebentar? Aku mau samperin dia dulu!" Ibu itu pun tersenyum dan mengangguk cepat lalu duduk menggantikan tugas Arindi. Dengan cepat Arindi keluar dan melongok ke bawah, demi dilihatnya seorang pria dengan setelan rapi, dia pun tersenyum lalu kembali bergegas menuruni anak tangga. "Hai kamu ... Rudi?" Ririn ingin memastikan lagi tamunya. Pria itu pun tersenyum sambil mengangguk pelan, "iya saya Rudi!" Ririn pun segera mempersilahkannya naik ke rumah, "mari Pak, silahkan!" Sambil berjalan diikuti oleh Rudi di belakangnya. "Silahkan duduk Pak, aku mau masuk dulu sebentar!" Rudi hanya mengangguk lalu duduk di sofa. Sedangkan Ririn segera berlalu masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, Arindi kembali sambil membawa nampan berisi minuman hangat untuk Rudi, juga beberapa penganan ringan untuk menemani minuman hangatnya. Telah beberapa lamanya mereka duduk terdiam tanpa banyak bicara, bahkan minuman dan penganan yang disediakan Arindi pun sudah tandas, hingga akhirnya suara Pak Ramli terdengar di bawah kolong rumah. Tidak lama setelahnya, suara tawa orang-orang yang tengah sibuk di situ terdengar riuh, entah apa yang mereka tertawakan. Rudi dan Arindi hanya bisa saling tatap mendengarnya. Tidak lama kemudian, Evan muncul di pintu dengan pakaian yang setengah basah kuyup. Rudi langsung berdiri dengan kaget melihat keadaannya. "Lho Pak, apa yang terjadi, kok basah semua?" Dia memperhatikan tubuh Evan dari atas ke bawah kembali lagi ke atas. Evan pun ikut menatap dirinya, "Ini ... tadi aku tercebur ke lumpur, jadi terpaksa mandi di sungai, yaah basah semualah ... oh ya aku ke kamar dulu buat ganti!" Rudi hanya mengangguk dan Evan pun segera berlalu masuk ke kamar. Melihat Evan sudah datang, Arindi pun segera pamit dan masuk ke dalam. Sedang menunggu kedatangan Evan yang tengah berganti, Rudi jadi tersenyum sendiri mendengar suara hiruk-pikuk Ibu-ibu dari dalam yang begitu jelas tengah mengatur hidangan perjamuan makan siang untuk tamunya. Rudi yang juga berasal dari kampung itu, sangat paham bahasa daerah yang mereka gunakan. "Anunnapi tuhe, anrianna ... kajunnato depa gaga, agattiko pa malupu i tauwe!" "Iya, iya tajenni, laoni mala, dena nametta, aja mua muapperri-perri, dema na elo laro magatti!" Rasa geli menggelitik Rudi sehingga tidak mampu menahan senyumnya. Pak Ramli kini telah datang pula dari bagian dalam rumah. Sambil tersenyum ramah, dia duduk di depan Rudi sambil menjabat tangannya. "Ahh maaf ya Nak, sudah membuat kamu menunggu lama!" Rudi hanya tersenyum, "Ga pa-pa Pak, aku juga belum lama di sini!" Evan yang selesai berganti segera pula bergabung dengan mereka, sambil menatap Rudi. "Bagaimana berkasnya, siap semua?" Rudi mengangguk dengan cepat, "Iya Pak, semua sudah aku siapkan!" Tiba-tiba Arindi datang sambil tersenyum, Pak ... makan siang sudah siap, silahkan!" Pak Ramli pun mengangguk lalu menatap kedua tamunya. "Sepertinya makan siang sudah siap, sebaiknya kita makan dulu, habis itu kita langsung ke KUA!" Evan dan Rudi hanya bisa mengangguk tak bersuara dan segera berdiri mengikuti Pak Ramli yang sudah melangkah masuk ke ruang keluarga. Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, mereka pun berangkat ke KUA. Dan kini, Evan dan Arindi sudah duduk berdua di depan petugas KUA, sementara Pak Ramli dan Rudi hanya melihatnya dari kursi tunggu. Banyak hal yang ditanyakan oleh petugas itu, termasuk maharnya. "Apa maharnya?" Sontak Ariel tercengang sejenak mendengarnya. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal itu, karena keluarga Arindi sendiri tidak pernah memintanya. "Eem ... mahar? Apa itu harus?" Petugas itu tersenyum menahan tawanya sejenak lalu menarik napasnya. "Iyalah harus ada, jika memang Anda tidak punya apa-apa, cukup hanya seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Mendengar ucapan petugas itu, Evan langsung merasa tertantang, "Seratus juta dibayar tunai!" Petugas itu langsung mendongak menatapnya dengan sedikit tercengang. Ini karena jumlah tersebut masih terbilang sangat langka di daerah itu. "Oh seratus ... juta?" "Iya, dibayar tunai!" Evan menjawab cepat. Petugas itu pun segera menuliskannya, namun lagi-lagi dia kembali menatap Evan, "Ada berupa barang atau aset berharga lainnya yang bisa disertakan dalam maharnya?" Evan mengerutkan keningnya, "Apa masih kurang yang tadi?" Rudi yang menonton saja sejak tadi segera berdiri dan berteriak. "Sepuluh persen dari seluruh saham milik Pak Evan, Bu!" Mendengar teriakannya, sontak Evan langsung menoleh menatapnya dengan mata melotot. "Rudi kamu ...!" "Bagaimana Pak, apa ini saya tuliskan juga?" Evan segera menoleh menatap petugas itu lagi sambil tersenyum grogi, berat hatinya menyerahkan asetnya pada Ririn, karena pernikahan itu hanyalah terpaksa lagi pula dia sangat membenci wanita di sampingnya itu. Tapi untuk menolak, ia pun sangat gengsi karena tadi sempat merasa direndahkan."I-iyaa ... jadi ... hhaaah!" Suara helaan napas beratnya begitu jelas terdengar. Petugas tadi segera menuliskannya di atas formulir pendaftaran pernikahan itu seraya melirik Arindi penuh rasa kagum. Selain mahar, petugas itu juga menanyakan soal wali dan saksi-saksi yang akan menghadiri pernikahan nanti, dan semuanya dicatat dalam formulir pendaftaran itu. Setelah semua selesai, mereka pun segera pulang ke rumah. Karena Rudi menjadi salah satu saksi pihak Evan, maka terpaksa dia harus menginap dan sekamar dengan Bosnya. Kini dia harus tertunduk lesu karena Evan tampak sedang menatarnya. "Kamu ngapain pake menyebutkan soal sahamku di depan petugas!" Rudi mendongak sejenak menatap Bosnya lalu kembali menunduk, "maaf Pak, aku pikir tidak apa-apa, karena kan kalian akan segera menjadi satu keluarga juga, milik Anda adalah milik dia juga!" Tanpa sadar Evan meninju udara di depannya membuat Rudi bergidik ketakutan. "Iikh ... kalau saja pernikahan ini antara aku dan Sindi tidak apa, tapi ini ... dia bukan wanita yang aku cintai dan tidak akan pernah!" Evan menatap Rudi dengan wajah merah padam. Rudi hanya diam tidak bergerak melihat kemurkaan Bosnya itu. Dia yang tidak mengerti persoalan yang sebenarnya hanya bisa bingung dan bertanya-tanya dalam hati, karena tentu saja, dia takut untuk bertanya lebih jauh. Evan tidak bisa lagi berkata-kata, yang ada di kepalanya hanyalah rasa kesal dan juga sedih, bila mengingat nasib cintanya dengan Sindi, jika pada akhirnya dia tahu kalau Evan nanti sudah menikah dengan orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN