Acara pernikahan mereka pun telah berlangsung dengan sangat sederhana dan hanya mengundang orang terdekat, karena waktu yang begitu mepet.
Mahar sebesar seratus juta itu kini tengah ditatap dengan penuh rasa kagum oleh seluruh keluarga Arindi. Selain itu surat pernyataan penyerahan saham sepuluh persen sudah berada di tangan Arindi pula.
Setelah mendapat wejangan dan nasehat dari kedua orang tua dan para tetua dari keluarga Arindi, kini mereka telah bersiap untuk berangkat ke kota Makassar di mana rumah Evan berada.
Selama perjalanan, Arindi terus saja tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Betapa tidak, photo pernikahannya kini dibanjiri komentar dari semua teman-temannya, termasuk Putri dan Sesilia.
Hal yang paling membuat Arindi sangat puas, adalah saat Arman memberi tanggapan super untuk photonya. Tapi tidak seorang pun yang mengenali wajah Evan, karena Arindi memberi caption love di tengah photonya.
Evan meliriknya sesekali sambil memasang muka yang tidak senang.
Mobil terus berjalan bagaikan anak panah yang meluncur dari busurnya, seakan menggambarkan rasa tidak senangnya hati pengemudinya. Saat mobilnya berbelok di sebuah tikungan tajam, Arindi yang tidak siap, langsung terbanting ke samping hingga kepalanya membentur dinding mobil.
"Aakh ...!" Arindi mengelus-elus kepalanya sambil menoleh menatap Evan dengan kesal. "He Bang ... kamu sengaja ya, ikh ga ikhlas banget sih nyetirnya, idedeehh!" (Bentuk umpatan rasa tidak senang ala Bugis-makassar)"Santai moko Bang, jangko marah-marah begitu bela!"
Evan tidak menggubris umpatan dan makian Arindi, dan tetap saja memasang wajah dingin dan masam.
Melihat Evan tetap diam, Arindi membuang mukanya menatap keluar jendela. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia pun melipat kedua tangannya di depan d**a, lalu kembali menatap keluar jendela.
Setelah cukup lama berkendara, kini mereka memasuki area kota Makassar yang agak mampet dengan lalu lalang kendaraan yang seakan tidak ada habisnya.
Arindi segera menoleh menatap Evan, "Eh aku turun di rumah kontrakan aku aja ya, aku ga usah ikut ke rumah kamu, ini kan cuma pernikahan yang tidak kamu inginkan, sama dengan aku, hehe, makasih udah mau tanggung jawab ya, tapi emm ... sorry aku ga serius amat kok, aku cuma butuh pembuktian aja, kalau aku benar-benar sudah menikah!" Tatapan santai dan senyuman cuek darinya membuat Evan langsung naik pitam. Amarahnya yang sudah dipendam kini sudah mencapai ambang batasnya. Dengan segera dia menepi lalu menatap Arindi dengan geram.
"Heh dengar ya, apa kamu pikir apa yang terjadi ini hanya sebuah mainan buat kamu? Asal kamu tahu, orang tuaku harus kehilangan muka gara-gara anaknya dituduh melecehkan anak orang, dan dipaksa menikah! Dan sekarang, kamu mau aku membiarkan ini seakan tidak pernah terjadi apa-apa pada kita?"
Arindi mencebik sambil mengangkat bahu, "Emm ... terus kamu maunya apa? Mau bawa aku ke rumah kamu padahal kamu tidak menyukai aku, dan aku pun tidak menyukai kamu? Untuk apa juga?"
Evan mengepalkan tangannya dan langsung menggebrak setir mobilnya. "Dengar ya ... kamu suka atau tidak suka, kamu harus dengar dan menurut sama aku, karena kamu itu sudah resmi menjadi istriku, dan aku mau kamu tinggal di rumahku seperti kemauan aku, aku sudah menuruti semua yang kamu dan keluargamu inginkan, dan sekarang giliran aku yang melakukan apa yang aku inginkan, dan jangan pernah berpikir untuk lepas dari genggamanku, karena mulai sejak ijab kabulnya aku ikrarkan, sejak itu pula kamu akan terus terjebak di dalam pernikahan kita, sampai kamu menangis darah pun aku tidak akan pernah mau menceraikan kamu ... se-la-ma-nya!"
Arindi lagi-lagi mencebik dan mengangkat bahunya makin santai saja. "Heemm terserah deh, ga ada urusan, mau dicerai, mau tidak, aku ga masalah kok, toh aku juga ga ada keinginan untuk menikah lagi!"
Evan mengeratkan gigi sambil mengepalkan tangannya lalu kembali memukul setir mobil. "Lihat saja nanti, aku pastikan kamu akan menangis darah meminta cerai tapi aku tidak akan menceraikan kamu, heh!" Dia pun membawa mobilnya dengan kecepatan melewati batas, hingga akhirnya mereka memasuki kawasan kompleks perumahan yang mewah dan berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Seorang satpam yang bertugas di depan rumah segera berlari membukakan pintu untuk mereka.
Mobil Evan pun perlahan bergerak masuk ke dalam.
Begitu Evan turun, bukannya membuka pintu untuk Arindi, malahan melenggang pergi dan masuk ke dalam rumah tanpa mengajak atau mempersilahkannya.
Arindi hanya bisa mencebik sambil bersungut turun dari mobil.
Sementara itu, Pak Satpam yang kini sibuk menurunkan barang langsung kaget begitu Arindi datang mendekat.
"Eh ... kamu siapa?"
Arindi tersenyum sambil menatap Pak Satpam, "Aku istrinya Evan Pak!"
Mata Pak Satpam terbelalak, "Haah istrinya? hee kukana a'lampai liburang, angapa na nia baine naerang, idendeee! Nampa tena naricini sama Amma na siagang Manggena, ante kammanjo?" Pak Satpam langsung menutup mulutnya dengan tercengang.
Arindi yang tidak mengerti bahasa Makassar itu hanya tersenyum grogi dibuatnya. "Hehe ... maaf ya Pak, aku mau ambil koperku!" Arindi menunjuk miliknya.
"Oh yang ini? Tidak usah Bu, janganmi saya pi bawakanki Bu, kan kita istrinya Bos, jadi kita Nyonya Bos juga Bu, masuk maki saja, nantipi saya antar i, saya kan Satpam di sini, jadi selain menjaga keamanan rumah, saya juga mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, seperti angkat barang atau yang lainnya seperti koper ini!"
Arindi hanya tersenyum mendengarnya. "Ooh begitu kah? Makasih banyak pale di Pak, saya masuk mi peng dulu, maaf di' kalau saya merepotkan!"
Pak Satpam hanya tersenyum sembari mengangguk dengan sedikit membungkuk.
Arindi melenggang senang mendapat perlakuan terhormat dari Satpam rumah itu. Sambil memutar-mutar tas di tangannya, dia terus saja mengitari sekitar rumah itu dengan tatapan kagum . Perlahan Arindi berjalan menuju pintu hendak masuk ke dalam rumah.
Belum lagi dia mengetuk pintu, dua orang pekerja rumah tangga sudah menyambut kedatangannya dengan tatapan tidak ramah. "Jadi inimi istrinya Evan, Emdedeee ... tidak cantik ji lagi, apanya bede itu bagus, lihatmi gayanya, kampungan sekali to ikh!"
"Iyo de'e, ikkh tanjana koe ... patipu-tipu, kentarana mau pakattang, mentang-mentang na tahu bilang orang kaya itu Evan, jadi na carikan cara supaya maui dinikahi!" Mereka terus saja mencerca dan menyindir Arindi dengan tatapan sinis penuh kebencian.
Arindi hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan tidak enak dari para pekerja rumah tangga itu. "Maaf dii, bolehka masuk kah? Saya istrinya Evan!"
Mereka saling tatap lalu kembali menatap Arindi. "Iye kutahu ji kau istrinya, tapi hem ... bukan ji istri pilihan, ciniki mami sinampe, nutahanji kah mantang atau tena, tooh hahaha!"
"Jelami itu iyya, kalo istri pilihan, tidak mungkin to Evan marah-marah seprti itu, hahaha!"
Mereka tertawa bersama sambil berjalan melaluinya keluar dari rumah menuju halaman, dimana barang-barang Evan tengah digiring oleh Pak Satpam.
"Deng Anto ... tea mako erangi ntuu koperka, passammi dia tommo erangki, nalarangki Evan nah!"
"Iyyo Deng, kopernya tommo Evan mu bawa, sini, jangan mi bantu-bantui, mau mentong itu dikasi pelajaran!"
Salah seorang pembantu itu mengambil koper di tangan Deng Anto, lalu segera membawanya memanggil Arindi. "Weeii patipuu ... inie kopermu ambilki sendiri, tidak ada pembantumu di sini nah!"
Mendengar teriakan pembantu itu, Arindi pun segera menoleh, begitu melihat Arindi menoleh, pembantu itu langsung mendorong kopernya hingga menabrak kaki Arindi. Dengan cekatan dia menangkapnya lalu mendongak menatap pembantu yang sangat kurang ajar itu.
Begitu melihat dirinya ditatap dengan kurang enak, pembantu itu malah tersenyum miring. "Kenapa lihat-lihat, ini baru permulaan, heehh asal kamu tahu ya, kami begini, itu karena dapat perintah langsung dari Evan!"
"Kalian ngapain masih di sana, sebaiknya bawa dia segera masuk ke dalam, ingat, langsung bawa masuk ke gudang, dan tidak perlu repot-repot kasi makan, biar dia sendiri yang usahakan mau makan apa!" Teriakan Evan membuat Arindi yang sedang terbungkuk memegangi kopernya, langsung tegak dan segera menoleh, "Kau ... maksud kamu apa, haah?"
Evan tersenyum sinis, "Heehh jangan pernah bermimpi akan hidup enak di rumah ini, seperti kamu menjebakku, aku pun akan membuatmu seperti di neraka!"