Arindi tercekat mendengar ancaman Evan padanya, belum lagi sempat dia bernapas, pembantu itu langsung mendorongnya masuk ke dalam rumah dan terus masuk ke dalam. Di ruang tengah, sudah tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan angkuhnya menatap kedatangan Arindi.
Sudah bisa dipastikan oleh Arindi bahwa itu adalah Ibu mertuanya, sehingga dia pun langsung tersenyum sembari mencoba mendekatinya hendak bersalaman dan cium tangan. Namun saat Arindi mengulurkan tangannya, wanita itu malah membuang muka, dan menarik tangannya menjauh.
“Tidak perlu sok akrab, aku sama sekali tidak butuh kesopanan kamu!”
Arindi terpaksa menarik kembali tangannya yang terulur dan segera menegakkan punggungnnya. Wajahnya langsung berubah kecut dan masam. Rasanya sangat sakit dan mengiris kalbunya, namun dia segera menyadari diri kalau itu adalah kesalahannya sendiri dan harus bersiap menerima resiko dari perbuatannya sendiri. “Maaf kalo gitu Bu!”
Wanita itu langsung mendongak menatap Arindi dengan geramnya, “Nyonya, panggil aku Nyonya!”
Arindi menatapnya sejurus seakan tidak percaya dengan pendengarannya, namun segera dialihkannya dengan menunduk, “Baik Nyonya!”
Wanita itu pun tersenyum miring dengan angkuhnya, dan dari arah luar, Evan ikut mendekat sambil tersenyum sinis pula. “Hem … jangan pernah berpikir kamu akan diperlakukan dengan baik di keluarga kami seperti keluargamu memperlakukan aku, sama sekali tidak akan pernah, jangan pernah berharap!”
Arindi terdiam sambil menarik napas panjang lalu tersenyum kecut, “ga pa-pa, sudah dibiarkan masuk saja aku sudah berterima kasih, dan terima kasih juga sudah disambut seperti ini, kalau begitu bisa aku masuk dan istirahat?”
Wanita itu langsung menegakkan punggungnya yang semula bersandar di sofa dengan mata melotot tajam, demikian juga Evan .”Kamu … benar-benar ga ada malunya ya jadi perempuan, dasar wanita penipu!”
“Bawa dia masuk ke gudang sana!” Evan ikut membentak sambil tersenyum angkuh penuh kemenangan.
Arindi melangkah masuk ke dalam melewati ruang makan dan dapur yang cukup luas, matanya tidak berhenti menapaki setiap sudut di ruangan yang ia lewati, hingga akhirnya pembantu yang mengantarnya berhenti di depan sebuah ruangan di bagian paling belakang.
Pembantu yang mengantarnya itu langsung berbalik dan menatapnya, setelah membuka pintu, “sana masuk! mulai sekarang, kamu akan tidur di sini, makan di sini, dan hanya bisa beraktifitas di sini, itu perintah dari Evan dan Nyonya!” pembantu itu mencebik sambil bersedekap.
Ririn menatap bagian dalam ruangan di sana sebentar lalu menarik napas panjang sampai-sampai bahunya terangkat lalu menghembuskannya dengan kuat hingga bahunya yang terangkat langsung turun. Perlahan dia melangkah masuk ke dalam sambil mengedar pandangannya ke seluruh ruangan hendak mencari sakelar lampu, karena ruangan itu tampak remang-remang.
Saat Arindi telah menemukan letak sakelanya, dia pun menyalakan lampu hingga ruangan itu pun terang benderang. Sementara pembantu itu hanya melihatnya dari luar tanpa berniat untuk membereskan barang-barang yang ada di dalam sana.
“Dengar ya … penipu, kamu tidak diizinkan untuk mengambil atau menyentuh barang-barang di luar ruangan ini, mulai dari makanan hingga apa pun itu!” Setelah berkata demikian, pembantu itu pun segera pergi meninggalkan dirinya di ruangan itu.
Kini tinggallah Arindi dengan perasaan yang tidak menentu, sambil terus memperhatikan setiap sudut ruangan. Tidak ada tempat yang kosong, semua lantai penuh dengan barang yang berserakan, sementara lemari yang ada di situ pun sudah penuh sesak dengan barang-barang.
“Haahhh sudahlah Arin … jangan sedih ya … semua ini demi menyelamatkan harga diri kamu yang sudah dihilangkan olehnya, jadi setidaknya kamu aman aja dari kebohongan kamu kali ini, lagian siapa juga yang akan tahu kalau kamu tinggal di gudang!” Arindi mencoba menghibur dirinya sendiri agar bisa lebih tegar menjalani nasibnya, nasib yang dengan sengaja dibuatnya tanpa sadar.
Pandangannya pun tertumbuk pada peralatan kebersihan di sudut ruangan di belakang pintu, dengan cepat Arindi melangkah ke sana untuk mendapatkannya. Sambil tersenyum dia menarik napas lagi untuk memupuk semangat juangnya. “Hemmpp … haaah Ayo Arin … kita bekerja!”
Dia pun bekerja dengan penuh semangat membereskan barang-barang di sana hingga menyisakan sebuah tempat yang agak leluasa untuknya bisa beristirahat dan tidur. Sebuah kasur usang yang teronggok pun segera dibersihkannya lalu di letakkannya di tempat yang sudah dia bereskan.
Arindi berdiri sambil berkacak pinggang menatap hasil kerjanya dengan tersenyum puas. Sambil mengangguk-angguk kecil, dia mendekati kopernya lalu segera membukanya. Sebuah selimut hadiah dari tantenya pun dikeluarkan dari koper, lalu digelarnya di atas kasur usang itu hingga tampak sangat cantik dan rapi, kasur usangnya kini sudah terlihat seperti baru lagi.
Arindi segera merebahkan tubuhnya yang letih setelah berkendara demikian jauh, ditambah harus kerja keras membereskan gudang sendirian. Sambil berbaring telentang berbantalkan lengan, Arindi menatap langit-langit gudang itu sambil tersenyum sedih. “Hem … nasibku kok begini menyedihkannya ya? Sudah kehilangan orang yang aku sayangi, kini harus menjadi tawanan suami dan mertua sendiri, yaaah aku sadar juga sih, semua ini salahku juga sudah menjebaknya, haahhh tapi kenapa harus sejahat ini sih sama aku? Padahal dia juga punya salah sama aku, gara-gara dia aku batal menikah dengan Arman!”
Arindi terdiam sejenak sambil terus menatap langit-langit, “Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata dia menyimpan dendam padaku, haahhh biarlah … dia pikir aku akan menyerah gitu, hehh jangan pernah berpikir aku akan menangis darah dan mengemis, tidak akan pernah!”
Perlahan Arindi bangkit dari tidurnya lalu bersandar di dinding, “kita lihat saja nanti, siapa yang akan merengek minta cerai, apakah aku, atau kamu sendiri yang akan menceraikan aku tanpa diminta, hehhee!” Senyum miring penuh kelicikan terpampang di wajahnya.
Rasa lapar pun sudah menyerang perutnya, namun karena teringat akan kata-kata pembantu tadi, Arindi terpaksa menahan lapar. Sementara hari telah berganti menjadi malam, dan para pembantu kini terdengar sibuk saja di dapur menyiapkan makan malam untuk keluarga itu. Aroma masakan dari dapur yang tidak jauh dari tempatnya berada menyerang indra penciumannya hingga menyasar lambungnya, membuat rasa laparnya makin meronta dan berteriak-teriak minta makan. Sambil menelan ludah, Arindi hanya bisa mengelus-elus perutnya yang keroncongan itu.
“Sabar ya perut sayang, sabar … besok kamu akan aku isi kok, anggap saja kali ini kita sedang berpuasa ya … sabar …!”
Setelah puas menyabarkan perutnya namun tetap saja merengek minta diisi, Arindi pun berusaha mengalihkan perhatiannya dengan membaca novel di aplikasi novel onlinenya. Pada awal membaca, rasa laparnya masih terasa, namun setelah agak lama dan kian larut dalam drama cerita, ia pun mulai lupa dengan rasa laparnya.
Hingga suara hiruk-pikuk pembantu yang membereskan ruang dapur dan ruangan lainnya di sekitar gudang kini terdengar sepi dan senyap, barulah Arindi mencoba mengintip keluar. Keningnya langsung berkerut begitu melihat hampir semua lampu telah dimatikan, perlahan dia masuk kembali sambil menutup pintunya.
Begitu kembali duduk di atas kasurnya, Arindi meraih ponsel hendak melihat jam, matanya langsung terbelalak begitu melihat waktu telah menunjukkan bahwa malam semakin larut. Perlahan dia meletakkan ponselnya lalu segera membuka lagi kopernya, diraihnya perlengkapan mandi hendak membersihkan diri terlebih dahulu.
Tatkala dia meraih peralatan mandi, tiba-tiba matanya terbentur pada tas hitam di dalam koper. Perhatiannya pun langsung teralihkan. Perlahan dikeluarkannya tas itu lalu dibuka. Tampak tumpukan uang ratusan ribu menyembul dari dalamnya, uang itu adalah mahar yang telah diberikan Evan padanya, yang sebagian dari keseluruhan uang itu sudah diserahkan ke orang tuanya dan sebagian lagi dibawanya.
Arindi mengelus permukaan uang itu, “Haaah seharusnya aku mengembalikan uang ini, tapi setelah mereka mengataiku penipu, hem jangan harap akan aku kembalikan, lagian mereka benar-benar tidak memberiku makan, jadi mending uang ini aku simpan saja buat makan!” Arindi pun mengangguk pasti untuk menguatkan dan meyakinkan lagi rencananya itu.
Sambil tersenyum puas, dia menutup kembali tasnya lalu mengeluarkan alat mandinya. Saat hendak beranjak keluar, tiba-tiba pikirannya mengingatkan dirinya untuk segera mengunci koper terlebih dahulu. Setelah dirasa aman, dia pun keluar dengan sangat perlahan agar tidak terdengar oleh orang-orang.
Ketika kembali dari kamar mandi yang terletak di samping dapur, tiba-tiba matanya terbelalak lebar saat mendengar ada suara wanita yang tengah berbisik-bisik di dalam gudang tempatnya. Dengan cepat dia membuka pintu, dan betapa kagetnya dia saat di dalam sana, telah duduk berdekatan kedua pembantu rumah itu. “Kalian ngapain di sana!”
Teriakan Ririn sontak membuat mereka langsung berdiri dengan kaget dan wajah yang tegang.