“Aku tanya … kalian ngapain di sana?” Sekali lagi Arindi mengulangi pertanyaannya sambil melotot menatap mereka.
“Eng … ga pa-pa …cuma … mau lihat-lihat aja” Pembantu itu melirik sambil menggamit temannya, “iya kan Cici?”
Cici salah seorang pembantu itu segera mengangguk, “i-iya … kita cuma mau lihat-lihat!” lalu melirik temannya. “Ayo Rima kita keluar aja, pemiliknya sudah datang tuh!”
“Yuk ah …!” Mereka pun melenggang pergi sambil mendelik ke Arindi dengan senyum mengejek. Arindi hanya menatap mereka tanpa ada niat untuk berkomentar atau pun memarahi mereka.
Setelah mereka keluar, Arindi pun segera menutup pintu kamarnya lalu masuk dan berbaring di atas kasurnya yang usang. “Haaahhh nasib … nasib … kenapa begini, hadeehhh tapi aku harus tegar demi mempertahankan harga diri, mereka pikir aku akan menyerah, hahaha tidak akan pernah, mereka belum tahu saja siapa Arindi, hihhii!”
Tiba-tiba dia teringat dengan kopernya yang tadi sempat dipegang-pegang oleh para pembantu itu, sehingga dia langsung bengkit dan segera memeriksanya. Saat melihat angka-angka pada kopernya sudah berubah, Arindi pun tersenyum miring, "Heehh mereka pikir aku seceroboh itu, mau mencuri uangku? Jangan pernah berharap!” Ririn tersenyum puas kemudian membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Kebiasaan yang tidak pernah bisa dihilangkan dari diri seorang Arindi. Malam itu Arindi menikmati malam pertamanya dengan sendirian di gudang yang pengap tanpa AC, setelah mematikan lampu di dalam gudang itu.
Sementara itu, Evan kini tengah sibuk merayu pacarnya di telepon yang sekarang tengah bermuram durja setelah mengetahui bahwa Evan ternyata sudah menikah dengan wanita lain, bukan dirinya.
“Sindi … maafkan aku ya sayang, semua ini terjadi tanpa aku sengaja. Ini semua karena kamu yang menyuruhku datang ke Villa itu, tapi malah kamu yang tidak datang, dan saat aku melihat ada perempuan yang tidur di atas ranjang, aku langsung berpikir itu kamu, makanya aku sampai kebablasan!”
Sindi, pacar Evan tidak berkomentar apa-apa selain hanya suara isak tangisnya yang terdengar, hal itu membuat Evan makin merasa bersalah. “Sayang … ayo dong bicara, maafin aku ya, sayang … bicaralah … tolong maafkan aku!”
Sindi masih saja terdiam dan suara sesenggukannya makin keras terdengar. “Sindi … aku janji, kita akan tetap menikah, walaupun dia ada di rumahku, tapi hanya kamu yang ada di hatiku, kita akan segera menikah sayang, biar dia semakin menderita sampai menangis memohon untuk diceraikan, aku bersumpah!”
“Hiks … hiks … bernarkah, apa kamu tidak berbohong? Kamu ga lagi mencoba merayu aku doang kan sayang, Cuma mau dimaafin doang?”
Evan langsung sumbringah begitu mendengar suara Sindi pada akhirnya. “Tentu saja tidak sayang, aku janji, dan sebagai buktinya aku akan segera mengajak kamu tinggal bareng di rumahku, sekalian kamu bisa melihat bagaimana aku akan memperlakukannya, karena bagiku, dia bukan istriku tapi hanya pajangan semata!”
“Baiklah … aku maafin kamu, tapi janji ya … kamu benar-benar akan tetap menikah dengan aku dan mengutamakan aku meskipun aku yang kedua?”
Evan menarik napas lega smabil tersenyum. “Hhhmmpp hhhaaaahh … tentu sayang, pasti … pasti akan aku jadikan kamu ratu dalam rumahku dan tidak akan ada yang boleh menentang kamu, aku janji!”
“Ya sudah kalo gitu, sebaiknya kamu istirahat aja ya sayang, kamu pasti capek banget habis menyetir seharian, daah … I love you!”
“I love you to!”
Evan mematikan ponselnya setelah berhasil merayu Sindi, lalu berteriak kegirangan. “Iiy-yes … yes … haahh rasanya lega deh … akhirnya Sindi mau menerimaku lagi, ahhh … hehe!” Evan segera melompat naik ke kasur empuknya yang besar. Sambil terus tersenyum dia memejamkan matanya hingga tak sadar mimpi telah membawanya menikmati malam sampai akhirnya malam telah berganti pagi.
Arindi yang sudah terbiasa bangun lebih awal, kini telah bersiap hendak membersihkan diri di kamar mandi, namun sayang, Cici melihatnya dan buru-buru mendekatinya. “E-e-ehh mau ngapain? Mau mandi? Heh maaf ya, tidak ada fasilitas di rumah ini yang bisa kamu pakai termasuk mandi di kamar mandi, kecuali buang air, soalnya aku tidak mau kalau harus membersihkan kotoran kamu!”
Arindi mencoba acuh terhadap Cici, dan tetap saja berlalu hendak masuk ke kamar mandi, namun Rima segera mencegatnya di depan pintu. “Jangan harap kamu bisa lewat, no way …!”
Belum lagi Arindi berucap sesuatu, Cici sudah menariknya dengan keras hingga tersentak ke belakang, “heh dibilangin jangan ngeyel … ih tanja’na koe!” Dia menatap Arindi dengan gusar.
Arindi sedikit kesal dan berniat melawan, namun demi mempertahankan posisinya di rumah itu, dia terpaksa menahan emosi, dia tidak mau membuat masalah yang akhirnya akan diperkarakan. Akhirnya dia memilih mengalah dan berbalik kembali ke kamarnya.
Melihat Arindi berlalu pergi tanpa kata, mereka lalu saling pandang dan tertawa. “Hahahaha … hahaha takut dia sama kita, haha ternyata hanya segitu nyalinya, terus banyak tingkahnya, pake menjebak orang buat menikah sama dia!”
Arindi tidak mau menghiraukan ledekan dan cemoohan mereka, dan segera menutup pintu kamarnya dengan keras. Segera dia mengganti handuk yang dikenakannya, lalu segera meraih tas ransenya kemudian memasukkan tas berisi uang maharnya yang cukup banyak.
Sebelum dia beranjak pergi, sekali lagi Arindi memeriksa kembali isi tas yang akan dibawanya. “Ponsel … dompet … uang … kunci koper … emm kayaknya sudah deh semua, oke aman!” Arindi pun segera menggendong ranselnya di punggung lalu keluar dari kamar gudangnya.
Para pembantu yang kini tengah sibuk membuat sarapan hanya bisa memandanginya dengan tajam sambil memperhatikan kemana Arindi menuju, sampai-sampai mereka mengendap-endap mengikutinya dari belakang.
Arindi yang mengetahui kalau sedang dibuntuti, tidak menggubris dan membiarkannya saja sambil terus berlalu keluar dari rumah entah kemana tujuannya.
Nyonya Fahmi dan Evan kini telah keluar pula dari kamar mereka dan segera menuju ke ruang makan, dimana Cici dan Rima tengah sibuk menyiapkan saapan untuk mereka. Begitu mereka sampai di depan meja, mata Evan mencari-cari keberadaan Arindi.
“Cici … mana dia? Apa dia sudah keluar? Apa dia minta makan?”
Dengan cepat Cici menggeleng sambil tersenyum, “Tidaklah … karena kami tidak akan pernah memberinya kesempatan, seperti yang kamu perintahkan sama kami, iya kan Rima!”
Rima yang baru saja datang membawa minuman hangat langsung mengangguk, meski tidak tahu masalahnya. “Iya benar!” seraya meletakkan nampan di atas meja lalu menghidangkannya.
“Jadi apa dia masih di sana sekarang?” Nyonya Fahmi pun ikut menyela seraya melirik ke belakang.
Cici dan Rima langsung saling tatap dengan wajah sedikit takut. “E-ehh itu … i-iya … Nyonya, dia keluar pagi-pagi sekali karena kami melarangnya mandi di kamar mandi!”
Mendengar pengakuan pembantunya, Evan tersenyum miring, “Hehh … biarkan saja, biar dia tahu gimana rasanya jadi istri Evan Munandar, hehehhe!”
Saat Evan dan Mamanya sedang asik menikmati sarapannya, Arindi malah sedang antri di depan sebuah toilet mesjid raya. Dia terpaksa keluar mencari tempat yang aman untuk mandi dan membersihkan badannya.
Setelah selesai membersihkan badan, dia pun segera keluar mencari makan di pinggir jalan, dimana banyak makanan khas Makassar yang dijajakan. Karena sejak semalam perutnya menangis minta diisi nasi, maka Arindi segera memilih membeli nasi kuning dan menikmatinya di tempat itu, sambil menikmatai semilir angin pagi yang masih segar.
Hampir seharian itu, Arindi terus saja berkeliling di sekitar kota untuk menghabiskan waktunya agar tidak segera kembali dan bertemu dengan orang-orang menyebalkan itu. Hingga sore sudah hampir berganti malam, Arindi baru pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, Nyonya Fahmi sudah menantinya dengan wajah seram. Tatapan matanya lekat memandangi Arindi yang baru muncul dari balik pintu ruang utama. “Dari mana saja seharian?”
Arindi langsung kaget mendapat pertanyaan yang tidak mengenakkan itu tiba-tiba. “Eh … aku habis menyetor uangku, soalnya semalam ada maling yang berusaha mencurinya dari koperku, jadi buat jaga-jaga aja, aku menyetornya di bank!” Arindi pun terus berlalu tanpa menoleh apa lagi menatap wajah mertuanya itu. Kelakuan cueknya itu membuat Nyonya Fahmi semakin naik pitam.
“Hey … dasar perempuan tidak tahu malu, tidak punya aturan kamu ya! Maen lewat aja seperti anjing, sama sekali tidak ada sopan santunyya!”
Arindi langsung berbalik dan menatapnya tajam. “Aku menghargai orang yang punya perangai yang baik, dan aku menurut pada orang yang berhati nurani dan ramah, maaf ... seperti Nyonya tidak menganggap saya sebagai menantu, seperti itu pula aku tidak bisa menganggap Anda sebagai mertua!” Arindi pun segera berlalu masuk tanpa mau tahu apa yang dikatakan lagi oleh mertuanya itu.
Nyonya Fahmi langsung naik pitam dan segera meraih bantal sofa lalu melempar punggung Arindi dengn kuat. Meskipun bantal itu telak mengenai punggungnya, namun Arindi tetap saja berlalu masuk tanpa menoleh apa lagi menatap mertuanya itu lagi.
Teriakan dan gerutuan Nyonya Fahmi sampai terdengar dari gudang tempat Arin yang kini tengah berbaring melepas lelah.